
-Kalea-
Waktu sudah menunjukan pukul 04:30 sore, kelas sudah berakhir satu jam yang lalu. Dan saat ini aku masih duduk dibangku perpustakaan dengan setumpuk buku yang ku abaikan dihadapanku.
Pikiranku benar-benar campur aduk setelah mendengar gosip yang beredar selama jam istirahat. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih setelah melihat artikel soal ibu dan nenek yang ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan berencana pada nenek Marta.
Tau-tau sekarang aku sudah berada diperpustakaan untuk menenangkan pikiranku. Tapi bukannya tenang, aku malah semakin mencemaskan ibu dan nenek.
Aku benar-benar tik mengerti kenapa mereka bisa melakukan hal sejahat itu pada nenek Marta. Apa yang sudah mereka pikirkan sampai merencanakan pembunuhan berencana seperti itu? Ada dendam apa ibu dan nenek kepada nenek Marta? Aku benar-benar tidak bisa memahami semuanya.
Meski begitu, aku ... ada rasa khawatir yang tak bisa ku jelaskan, tapi aku tidak bisa menghilangkannya. Aku bahkan tidak tau berita itu benar atau tidak, aku tidak bisa menanyakannya pada ibu. Lalu, Aster ... aku merasa takut untuk menemuinya sekarang. Dia juga pasti sudah mendengar beritanya, apa yang harus ku katakan saat bertemu dengannya? Batinku tak bisa menghilangkan rasa khawatirku.
Aku jadi benar-benar memikirkan segalanya, semua kebaikan yang sudah diberikan Aster padaku dan semua kebaikan yang pernah ku terima dari ayah. Tapi, untuk pertama kalinya aku merasa setakut ini untuk berhadapan dengan Aster. Aku juga tidak berani memanggil paman Ansel dengan sebutan ayah lagi.
"Sebenarnya kenapa ibu dan nenek melakukan hal sebesar ini?" Gumamku merasakan kebingungan yang tak bisa ku jelaskan.
Aku bahkan tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Sean dari kepalaku. Biar bagaimanapun dia saudara tiriku, dan dia pasti merasa syok berat saat membaca artikel itu. Dan lagi, perhatian semua orang sedang tertuju padanya karena kasus ibu dan nenek.
... bisa-bisanya aku mengkhawatirkan orang lain dan keluarga yang sudah mencampakanku. Batinku sambil menghela napas dalam, berusaha menepis semua pikiran negatifku. Tapi tidak semudah yang ku pikirkan, bahkan tanpa sadar air mataku mulai menetes sekarang.
"Kenapa?" Lanjutku bergumam, merasakan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Rasanya saat ini aku ingin berlari pada ibu dan menanyakan kebenarannya, tapi ibu sudah mengatakannya. Bahwa aku harus bersikap seperti orang asing jika bertemu dengannya secara tidak sengaja.
Tapi, meskipun begitu ... tetap saja dia itu ibuku. Sejelek apapun sifat dan kepribadiannya, dia itu tetap ibuku. Bagaimana bisa aku bersikap seperti orang asing padanya? Lalu berpura-pura tidak memperdulikan masalahnya saat ini. Anak macam apa aku ini? Batinku sambil menghapus air mataku yang belum juga berhenti mengalir.
"Hah, ternyata kau memang bersembunyi disini ya?" Suara Teo mengejutkanku, dengan cepat aku menoleh kearahnya yang tengah berdiri dengan napasnya yang tak beraturan. Bahkan penampilannya terlihat acak-acakan.
Dengan cepat ku palingkan wajahku darinya dan kembali menghapus air mataku, "ka–kau mencariku?" tanyaku berusaha berbicara senormal mungkin, meski terdengar sedikit bergetar. Mencoba untuk menahan diriku sebaik mungkin.
"Sepertinya kau sudah mendengar beritanya ya?" Tuturnya menghentikan aktifitasku yang sedang membenahi semua buku dihadapanku.
Apa dia juga tau? Ya, sudah pasti kan? Lagipula semua orang di akademi membicarakannya, mana mungkin dia tidak mendengarnya. Aster juga pasti sudah mendengarnya .... Simpulku dalam hati.
"Aku–" Lanjutku terpotong saat merasakan telapak tangan Teo diatas puncak kepalaku. Untuk pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini oleh lawan jenisku.
Rasanya seperti ... aku tidak yakin, tapi aku merasa semuanya akan baik-baik saja jika ada orang lain yang mengkhawatirkanku seperti dirinya.
"Tidak perlu menahan diri Lea." Singkatnya berhasil melelehkan air mataku kembali.
"Aku ... hiks," ucapku tak bisa melanjutkan perkataanku, entahlah rasanya begitu berat sampai mulutku tak bisa berbicara lagi. Yang ku inginkan saat ini hanyalah kehadiran papa, sekarang aku merasa sangat-sangat ini dipeluk oleh papa.
"Jangan khawatir, aku yakin Carel bisa menjelaskan situasinya pada Aster." Tuturnya sambil meraih tubuhku kedalam pelukannya, berusaha untuk menenangkanku.
"... Kenapa?" Tanyaku setelah membisu beberapa saat karena terkejut dengan pelukan mendadak Teo.
"Kenapa? Bukankah kau takut hubunganmu dengan Aster kembali memburuk?" Jawabnya masih memeluk tubuhku, bahkan tangannya sudah menepuk-nepuk pelan punggungku.
Aku benar-benar tak mengerti dengan ucapannya, aku bahkan tidak percaya kalau Carel benar-benar mau melakukan hal merepotkan untuk ku. Dan lagi Teo bilang, Carel akan menjelaskan semuanya pada Aster? Kenapa?
"Karena Aster sudah memaafkanmu kan? Dan kalian sudah menjadi teman sekarang, jadi kau juga temanku dan Carel. Tentu saja kami harus membantu teman kami kan?" Jelasnya dengan ekspresi datarnya, namun manik hijaunya itu terlihat begitu hangat menatapku. Lalu tak lama kemudian senyum tipisnya mulai mengembang, membuatku tak bisa berkata-kata.
Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan perasaan ini, membuatku bernostalgia dan ... merindukan saat-saat itu. Batinku mengingat senyuman orang-orang disekitarku saat aku sedang bersedih. Bahkan aku bisa mengingat senyuman lebar Nadin saat dia sedang menghiburku.
"... aku bahkan belum pernah meminta maaf dengan benar pada Aster," gumamku saat mengingat semua pertemuanku dengannya.
***
-Teo-
"Kemana perginya anak itu?" Gumamku merasa khawatir pada Kalea.
Entahlah, aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa aku bisa mengkhawatirkannya. Padahal selama ini aku tidak pernah memikirkannya sekalipun, jika berpapasanpun, aku selalu mengabaikannya.
Tapi sekarang, untuk pertama kalinya aku merasa khawatir dan kasihan padanya. Jika harus mengingat perlakuannya dulu, aku memang tidak menyukainya. Tapi setelah melihat semua kesulitan dan penderitaan yang dia terima selama ini, bukankah semua itu sudah membayarkan perlakuan buruk dia pada Aster dulu? Dalam arti lain, dia sudah mendapatkan karmanya sendiri.
Jadi, sudah cukup kan aku berpura-pura tidak mengetahui apapun tentangnya? Padahal selama ini aku melihatnya menderita karena dikucilkan oleh teman-teman SMP-nya dulu. Aku bahkan diam saja saat Nadin mempermalukannya dihadapan kak Nathan dan teman-temannya.
Tapi kali ini, entah kenapa aku tidak bisa bersikap seperti biasanya? Aku tidak bisa berpura-pura tidak tau lagi tentangnya. Aneh bukan?
"Perpustakaan," ucapku sambil berlari kearah perpustakaan saat menyadari hanya tempat itu yang belum ku periksa.
"Arrgh, sial! Rasanya sangat melelahkan berlarian mengelilingi akademi hanya untuk mencari anak itu." Lanjutku merasa sangat lelah.
Aku benar-benar merasa tubuhku akan terasa pegal-pegal besok. Kenapa? Tentu saja karena berlarian seperti orang gila tanpa melakukan pemanasan terlebih dulu.
Sesampainya di depan perpustakaan, dengan napasku yang tak beraturan ku buka pintu perpustakaan dihadapanku dengan sisa tenangaku. Lalu berjalan menyapu seluruh sudut perpustakaan sampai ku temukan sosok Kalea yang tengah melamun dibangku perpustakaan.
Dengan cepat ku langkahkan kakiku menghampirinya yang mulai terisak, "hah, ternyata kau memang bersembunyi disini ya?" Ucapku mengejutkannya, dengan cepat dia menoleh kearahku yang tengah berdiri dengan napasku yang tak beraturan. Rasanya masih sulit untuk mengatur napasku setelah berlarian kesana-kemari, mengelilingi akademi dengan seluruh tenagaku.
"ka–kau mencariku?" tanyanya sambil memalingkan wajahnya dariku, ku dengar suaranya sedikit bergetar. Sepertinya Kalea mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak menangis dihadapanku sebaik mungkin.
"Sepertinya kau sudah mendengar beritanya ya?" Tuturku menghentikan aktifitasnya yang sedang membenahi semua buku dihadapannya.
.
.
.
Thanks for reading...