Aster Veren

Aster Veren
Episode 248




-Arsel-


Setelah acara makan malam selesai, semua orang segera berpamitan saat melihat raut wajah ayah perlahan berubah karena tuan Ian terus menggodanya.


Aku yang terus kepikiran dan merasa khawatir pada ayah hanya bisa melangkahkan kaki ku menuju kamar ayah setelah mengantar semua orang pergi.


Entahlah, jika dilihat dari ekspresi ayah yang setengah murung, nampaknya ayah tengah mengkhawatirkan sesuatu. Tapi aku tidak tau apa yang ayah khawatirkan. Berkali-kali menerka pun aku tidak mendapatkan jawabannya, maka dari itu aku memutuskan untuk menemui ayah.


"Ku harap bukan sesuatu yang besar dan hanya perkara pekerjaan saja ...," gumamku saat memikirkan kekhawatiran ayah.


Sesampainya di depan pintu kamar ayah, aku langsung mengetuk pintunya sebanyak tiga kali sebelum memanggil nama ayah.


"Ayah, ini aku. Boleh aku masuk?"


Hening, tak ada jawaban yang ku dengar dari dalam kamar. Apa ayah sudah tidur?


"Ayah?" Ucapku sekali lagi, barulah aku mendengar suara ayah yang mempersilahkan ku untuk masuk.


Dengan perlahan ku buka pintu di hadapanku dan menutupnya kembali saat aku sudah masuk ke dalamnya.


Lalu ku lihat punggung ayah yang terlihat kokoh dengan bahu merosot memperlihatkan rasa sedihnya, di tangan kanannya aku melihat bingkai foto yang ayah genggam dan dengan perlahan ayah menoleh ke padaku membuat pandangan kami bertemu.


Tak ada suara yang keluar dari mulut ayah saat pandangan kami bertemu, tapi dilihat dari raut wajahnya, aku benar-benar paham jika ayah sangat sedih sekarang. Dengan hati-hati ku langkahkan kaki ku mendekati ayah dan meraih tangannya selembut mungkin.


"Ada apa ayah? Kenapa ayah terlihat sedih seperti ini?" Tanyaku kemudian setelah mengumpulkan seluruh keberanianku.


"Aku tidak sedih ... mungkin sedikit." Jawabnya sambil memperhatikan bingkai foto di tangannya yang menarik perhatianku. Ku lihat ayah sedang memperhatikan foto kami? Kenapa?


Apa karena pembicaraan saat makan malam tadi? Bukankah ayah terlihat senang juga? Meskipun hanya di bagian awal pembicaraannya saja.


Ah aku mengerti sekarang, ibu sudah lama tiada, nenek dan kakek juga. Dan keluarga ayah yang tersisa hanya aku dan paman. Lalu beberapa hari lagi aku akan menikah dan pergi dari kediaman Veren, apa mungkin ayah sedih karena hal itu?


"Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu dan menghabiskan banyak waktu sampai tinggal di Singapura bersama. Tapi sekarang, tiba-tiba di depan mataku, putriku sudah bertumbuh dengan cantik dan dewasa. Lalu beberapa hari lagi putriku satu-satunya akan menikah. Secepat itu kah waktu berputar?" Tutur ayah dengan tatapan sendu menatap foto di tangannya, membuat genangan air mataku ikut berkumpul di pelupuk mata.


Mendengar penuturan ayah yang terdengar lembut juga sedih itu, membuatku ikut merasakan rasa sedih yang ayah alami sekarang.


"Ayah hiks, haruskah aku batalkan penikahanku?" Tanyaku tak kuasa menahan air mataku lagi.


Ku lihat ayah sudah menoleh padaku dan tertawa ringan sambil meraih tubuhku ke dalam pelukannya, "tidak harus sampai seperti itu, aku mengatakan hal itu bukan untuk menggoyahkan keputusanmu untuk menikah dengan Carel. Aku hanya menyayangkan waktu kebersamaan kita yang terasa singkat. Dalam waktu itu, aku bahkan sempat melukai hatimu. Aku—"


"Aku sudah memaafkan hal itu bukan? Jadi jangan bahas lagi." Potongku mempererat pelukanku.


"Haha, maafkan aku."


"... setelah menikah nanti jadilah istri yang baik untuk suamimu, jangan melupakanku dan sering-seringlah berkunjung. Lalu, ayah akan terus mendo'akan kebahagiaanmu. Jadi berbahagialah Aster." Lanjut ayah benar-benar menumpahkan sisa air mataku yang sejak tadi ku bendung.


"Hwaaa ayah ...."


"Haha, kenapa menangis? Aku mengatakan hal-hal baik untukmu loh. Lihatlah putrimu ini Helen, ternyata dia mudah sekali tersentuh ya?" Tawa ayah sebelum mengelus rambutku dan membalas pelukanku dengan hangat.


Aku tidak tau jika perasaan sayang ayah padaku akan sebesar ini, bahkan dari suara dan perlakuan hangatnya aku bisa tau jika ayah benar-benar menyayangiku lebih dari yang aku tau. Padahal dulu, aku hanya bisa melihat perlakuan dingin dan canggung darinya.


Jika diingat lagi, ternyata perjalananku dan ayah sudah sangat jauh sampai aku merasa ayah sudah hidup bersamaku jauh sebelum kami pertemuan pertama kami.


"Ayah jangan khawatir, aku pasti akan sering mengunjungi ayah. Kalau perlu aku akan datang setiap hari untuk menemui ayah." Ucapku sambil menengadah menatap manik merah ayah yang terlihat teduh.


"Apa maksud ayah? Ayah kan akan kesepian tanpaku."


"Hahaha, itu benar. Tapi aku juga memiliki pekerjaan yang harus ku selesaikan, kalau kamu berkunjung setiap hari bukankah—"


"Ayah bukankah kau sudah menandatangani surat penyerahan kerja padaku dan Carel?" Potongku mengingatkan perjanjian yang sudah ditandatangani oleh ayah.


Dalam surat itu ayah menyerahkan posisinya padaku sebagai penerus keluarga Veren berikutnya dan Carel sebagai wakilnya. Meskipun tadinya aku ingin menjadikan Carel sebagai pemimpinnya, tapi dia menolaknya karena dia pikir hal itu akan bagus untuk ku dan dia.


Yah lagipula aku hanya akan memimpin sampai usia Khael memenuhi usia dewasa untuk menerima tanggung jawab keluarga Veren sebagai pemimpin berikutnya. Jadi aku merasa itu bukan hal besar, tapi jika harus dipikirkan lagi, bukankah setelah menikah nanti aku akan menjadi sangat sibuk? Bisakah aku mengatur waktu untuk berkunjung kerumah ayah setiap hari?


"Meskipun aku pensiun, aku masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus ku lakukan. Kamu tau? Perusahaan yang ayahmu kelola bukan hanya perusahaan keluarga Veren saja tau. Ayah juga punya perusahaan ayah sendiri yang ayah bangun dari nol." Jelas ayah dengan wajah menyebalkannya.


"Ya itu benar tapi ...," gumamku membuat ayah mengernyit, tapi aku tidak berniat untuk melanjutkan ucapanku saat melihat ayah lebih tenang dari sebelumnya.


Dengan perlahan aku hapus air mataku dan menghela napas panjang, lalu kembali memeluk ayah dengan erat sambil berteriak "aku menyayangi ayah" seperti orang bodoh.


Aku harap dengan ini aku bisa menenangkan perasaan ayah meskipun sedikit. Aku juga tidak akan senang jika ayah terus murung karena aku akan segera meninggalkan rumah setelah acara pernikahanku nanti. Maka dari itu, sebelum hal itu terjadi, aku ingin membuat beberapa momen bersama ayah untuk menenangkan hati ayah.


Ibu, apa dulu ibu juga merasakan hal yang ku rasakan sekarang? Apa kakek juga bersikap seperti ini pada ibu? Aku tidak tau bagaimana perasaan kakek dan ibu saat itu, tapi sepertinya aku sedikit mengerti dengan apa yang ayah takutkan. Ibu jangan khawatir, aku akan terus menjaga ayah meski aku sudah menikah nanti. Percayakan semuanya padaku. Tuturku dalam hati masih memeluk tubuh ayah yang terasa hangat dan menenangkan.


***


Malam-malam setelah pembicaraan ku dengan ayahpun berlalu, dan hari yang di nantipun tiba.


Saat ini semua pelayan sangat sibuk membantuku bersiap, bahkan Hana pun ikut membantuku mengenakan gaun pernikahan yang paman buatkan untuk ku. Sedangkan Mila, dia sibuk merias wajahku dan menata rambutku.


"Sudah selesai." Ucap mereka semua membuatku menatap pantulan diriku di cermin.


Melihat sosok ku yang terpantul di sana benar-benar membuatku pangling, aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri sekarang. Aku tidak tau jika kemampuan merias Mila sudah meningkat jauh, dan lagi gaun putih yang ku kenakan juga terlihat sangat cantik meski sedikit berat di tubuhku.


"Sudah selesai?" Suara ayah mengejutkanku, ku lihat ayah sudah berdiri di ambang pintu dengan setelannya yang terlihat modis dan berwibawa.


"Ayah." Jawabku sambil tersenyum menoleh ke arah ayah berdiri, lalu dengan hati-hati aku berjalan mendekati ayah untuk menerima uluran tangannya.


"Putriku benar-benar cantik."


"Haha, tentu saja ibunya saja cantik dan ayahku juga sangat tampan. Tentu putrimu harus cantik juga bukan?" Tawaku berusaha menggoda ayah untuk meredakan sedikit rasa gugupku yang sejujurnya sudah sangat menggangguku dari semalam.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang? Carel sudah menunggumu di bawah." Tanya ayah membuatku mengangguk, aku juga ingin segera bertemu dengan Carel.


Dengan langkah hati-hati aku berjalan menuruni anak tangga bersama ayah, menarik perhatian semua tamu undangan. Bahkan perhatian Kalea, Sarah dan teman-temanku yang lainnya tidak luput dariku. Mereka benar-benar memperhatikanku dengan matanya yang berbinar.


"Aster." Suara Carel menarik perhatianku saat aku menginjakan kaki ku di anak tangga terakhir. Lalu ku lihat tangan kanannya sudah terulur kepadaku dengan senyuman tipis dan tatapan hangatnya yang menyentuh hatiku.


Ku lirik sosok ayah di sampingku dan dengan tenang ayah menganggukan kepalanya dengan senyum tipisnya, membuatku meraih uluran tangan Carel.


Mulai dari sini perjalanan baru ku bersama Carel dimulai. Dengan hari pernikahan kami sebagai permulaannya.


.


.


.


End~