Aster Veren

Aster Veren
Episode 08




-Aster-


Hari itu juga turun hujan seperti saat ini. Hujan yang tak seberapa perlahan menderas seiring berjalannya waktu, lalu gemuruh petir mulai berdatangan bersamaan dengan sesak napas yang ku alami akibat cengkraman erat seseorang di leherku.


Kalau tidak salah saat itu aku baru terlelap dalam tidurku, namun detik berikutnya aku terbangun karena merasakan cekikan erat dileherku.


Aku tidak bisa bernapas, tidak bisa melihat sosok pria yang mencekik leher ku dihari itu karena pemadaman listrik. Aku hanya tau dia pria dewasa dari kedua tangannya ... juga suaranya.


Kenapa aku melupakan kejadian mengerikan itu? Batinku sambil menyentuh leherku dan berusaha untuk menelan ludahku saat merasakan tenggorokanku mengering.


"Kita sudah sampai nona." Suara pak supir mengejutkanku, dengan cepat aku keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk kedalam rumah paman merah.


"Selamat datang As–ter ... ada apa dengan lututmu?" Ucap paman merah segera berjalan kearahku.


"A–ah ini ... tadi Aster jatuh pas lari kedepan gerbang sekolah, hehe ...." Jelasku berusaha untuk tetap tertawa supaya tak membuatnya khawatir.


Ah ya, aku ingat. Pria itu ... dia kerabat jauh nenek yang datang untuk merawatku di rumah bi Siti setelah kepergiannya. Lanjutku dalam hati saat mengingat sosok pria yang mencekik leherku itu.


"Ayo aku akan merawat lukamu itu, lain kali berhati-hatilah ...." Tutur paman merah segera meraih tanganku dan menggandengku menuju tempat duduk yang tersedia di ruang tamu.


Kemudian paman memintaku untuk duduk menunggunya selagi dia mengambil kotak P3K di kamarnya.


Tak lama kemudian paman kembali bersama kotak P3K ditangannya dan duduk disampingku. Lalu dengan cekatan paman membersihkan luka di lututku dan membalutnya dengan plester.


"Sudah selesai." Ucap paman membuatku segera mengulas senyum tipis padanya untuk menyembunyikan ringisanku.


"Terima kasih paman." Tuturku membuatnya tersenyum hangat dan tangan kanannya segera meraih puncak kepalaku.


"Lain kali harus hati-hati ya ...." Tuturnya kemudian bersamaan dengan ketukan pintu rumah yang menarik perhatianku dan paman.


"Siapa yang bertamu jam segini?" Gumam paman segera berjalan kearah pintu, "ah Aster, pergilah mandi setelah itu kita makan bersama." Lanjutnya sebelum membuka pintu.


Tanpa banyak bicara, akupun segera pergi ke kamarku untuk membersihkan diri.


***


Selama makan malam berlangsung, mendadak paman menjadi begitu pendiam. Padahal malam itu paman banyak berbicara menanyakan banyak hal padaku. Tapi malam ini, dia malah membisu setelah bertemu dengan seseorang sore tadi.


Aku juga tak bisa memberitaunya soal acara sekolah lusa nanti. Yah lagipula paman bukan kerabatku, untuk apa aku memberitaunya? Dia juga tak akan datang kan? Meski aku sempat senang karena paman mau menjadi waliku. Tapi aku tidak bisa terus merepotkannya kan?


Ku pejamkan mataku berusaha untuk pergi kealam mimpi, namun bayangan menakutkan itu kembali hadir bersama rintik hujan yang kembali berjatuhan setelah sempat mereda sore tadi, untungnya tak ada suara petir seperti kemarin malam.


Aku tidak bisa tidur sekarang .... Batinku sambil berbalik kesisi kanan membelakangi jendela kamar yang begitu besar dengan tirai putih yang menutupi kaca jendelanya.


"Tidak bisa, pokoknya aku harus tidur." Gumamku kembali memejamkan mataku mencoba untuk menghilangkan bayangan menakutkan itu dalam kepalaku.


Untuk beberapa menit aku berhasil terlelap namun kembali terbangun saat bayangan pria itu muncul kembali dalam mimpi buruk ku. Sudah lama aku tak memimpikan hal mengerikan itu, tapi malah kembali memimpikannya.


Tangan besar yang mencengkram leherku dengan kuat, tatapan tajam dan suara beratnya yang membuatku ketakutan setengah mati.


"Kak Hana belum pulang ya?" Gumamku sambil beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keluar dari kamarku berniat untuk mengambil air minum dari dapur.


"Aster, kamu belum tidur?" Suara paman merah mengejutkanku.


"Pa–paman?" Gumamku sambil berjalan mendekatinya yang juga sedang mengambil air minum di dapur.


"Ada apa?" Tanyanya membuatku sedikit gemetar.


"A–aster haus." Jawabku membuatnya tersenyum.


"Mau paman buatkan coklat panas?" Tanyanya membuatku tergiur dan refleks menganggukan kepalaku sambil tersenyum lebar padanya.


Rumah paman benar-benar luas ya ... sayang sekali yang tinggal di rumah sebesar ini hanya empat orang. Batinku sambil meraih bantal sofa yang sudah ku duduki.


"Coklat panasnya sudah jadi." Ucap paman yang sudah berdiri dihadapanku sambil menyimpan cangkir putih diatas meja, dan itu benar-benar menarik perhatianku. Pandanganku tak bisa beralih dari cangkir itu.


"Tunggu sampai hangat ya, masih terlalu panas untuk diminum." Lanjut paman sebelum duduk disampingku, sepertinya dia mengetahui isi pikiranku sekarang.


"Kenapa paman belum tidur?" Tanyaku sambil menengadah kearahnya.


"Masih ada pekerjaan yang harus paman selesaikan ...." Jawabnya sambil menyalakan televisi berukuran besar dihadapan kami.


"Paman sangat sibuk ya, jangan sampai jatuh sakit." Tuturku berusaha memberikan senyuman terbaik ku.


"Bagaimana tadi sekolahnya?" Tanya paman setelah membalas senyumanku dan mengangguki ucapanku.


"Menyenangakan seperti biasanya, Aster juga punya banyak teman baik disekolah. Lusa nanti juga–" Jelasku berbohong dan segera menghentikan ucapanku saat aku hampir keceplosan memberitau paman soal acara sekolah lusa nanti.


"Lusa? Ada apa dihari itu?" Tanyanya membuatku salah tingkah.


"Ti–tidak ada, lupakan saja hehe ...." Jawabku segera meraih cangkir putih dihadapanku dan segera menyeruput coklat panas didalamnya.


"Enak." Lanjutku kembali menikmati coklat panas itu.


"Aster," suara paman membuatku menoleh kearahnya, ku lihat paman sudah memandangiku dengan tatapan seriusnya.


"Katakan pada paman dengan jujur, ada acara apa pada lusa nanti?" Lanjutnya masih memandangiku.


"Itu ... bukan acara penting ko, paman jangan khawatir." Jawabku kembali memasang senyuman bodohku, aku hanya tak mau merepotkannya lebih jauh lagi.


"Katakan saja, biar aku yang menilainya itu penting atau tidak. Kamu tidak perlu menyembunyikan apapun dari paman, ingat? Sekarang ini aku adalah walimu, dan kita adalah keluarga." Tutur paman sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut.


Tangan besarnya benar-benar hangat, berbeda dengan tangan orang itu. Batinku kembali mengingat mimpi buruk ku.


"Aster?" Suara hangat paman kembali meruntuhkan lamunanku.


"Bukan apa-apa paman," jawabku kembali menoleh kearahnya sebelum meminum habis coklat panas dicangkir putih yang ku pegang.


"Kalau begitu Aster pergi tidur sekarang. Terima kasih coklat panasnya, selamat malam paman." Lanjutku segera pergi ke kamarku.


***


-Arsel-


Ada apa dengan anak itu? Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu .... Batinku bertanya-tanya saat melihat gerak-gerik mencurigakannya.


Padahal aku ingin memeluknya, tapi tetap saja tidak bisa ... aku juga ingin mengatakan padanya kalau aku benar-benar pamannya. Adik dari ayah kandungnya. Tapi tidak bisa ku lakukan juga, payah! Lanjutku masih dalam hati sambil menghela napas lelah.


"Ibu juga sudah mengetahui soal diriku yang mengadopsi seorang anak, bahkan dia sampai mengirim seseorang untuk terus mengawasi Aster. Sepertinya aku memang harus memberitau kakak soal anak itu secepatnya." Gumamku saat mengingat kedatangan Tomi sore tadi.


Dia memang datang untuk mengunjungiku atas perintah dari ibuku, awalnya dia datang untuk membujuk ku pulang ke rumah ibu. Tapi ujung-ujungnya Tomi memberitauku soal ibu yang terus mengawasiku dan sampai mengetahui soal Aster yang ku adopsi. Yah, ibu memang sangat cepat dalam mencari informasi. Jadi tidak heran kalau dia berhasil mengetahui informasi tentangku yang mengadopsi Aster.


Semoga saja ibu tidak menemukan identitas Aster yang sebenanya, aku takut dia akan menolak cucunya. Aku juga khawatir dengan perasaan Aster jika dia mengetahui keluarganya tak mau menerimanya.


Untuk sekarang, aku hanya bisa melindunginya dan membuatnya merasakan kebahagiaan yang tak bisa didapatkannya dari sosok ayahnya. Batinku sambil beranjak dari ruang keluarga setelah mematikan televisi dan kembali ke ruang kerjaku untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda.


.


.


.


Thanks for reading...