
-Aster-
Ku hela napas letih setelah selesai membereskan toko dan membuang sampah di belakang toko. Lalu bergegas meraih pintu belakang untuk masuk kembali ke dapur, namun langkahku terhenti saat melihat pria familiar yang mengikutiku dan Yuna kemarin.
"Apa dia tau Dean dan Yuna ada di sini? Kenapa orang itu terlihat seperti sedang mengintai?" Gumamku memperhatikan punggungnya yang menjauh saat dia menyadari kehadiranku yang tengah memperhatikannya.
Atau dia datang untuk membuat perhitungan denganku? Lanjutku dalam hati, mengingat pertengkaran ku dengannya siang itu.
"Sedang apa di sana? Cepat masuk, paman Tesar memanggilmu." Ucap Dean mengejutkanku, denga. cepat aku mendorongnya masuk karena takut orang itu melihat kehadirannya di tempatku.
"A—apa? Ada apa?" Tanyanya sambil memegangi tanganku yang mendorong tubuhnya mudur, kembali memasuki dapur.
"Sstt ...," ucapku sambil memberinya sinyal untuk memelankan suaranya, ku harap orang itu tidak melihat gerakan mencurigakan ku.
"Kenapa?" Tanyanya lagi melepaskan tanganku yang sudah menutupi mulutnya. Ku lihat manik hitam itu sudah menatapku dengan serius.
"Itu ... orang itu sepertinya sedang mengawasi sekitar." Jawabku sedikit menjeda ucapanku dan melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Orang itu?"
"Ayahmu."
"Apa? Di mana?"
"Tenanglah, aku juga belum yakin. Bisa saja dia berkeliaran di sekitar sini untuk membuat perhitungan denganku karena perkelahian kami kemarin."
"Kamu yakin kan tadi malam tidak ada yang mengikutimu sampai ke sini?" Lanjutku berusaha mengingatkan anak itu tentang kejadian semalam. Saat dia dengan paniknya menggedor pintu toko dan bergegas masuk saat paman membukakan pintu.
"Iya, aku yakin tidak ada yang mengikutiku." Angguknya membuatku tersenyum tipis padanya.
"Berarti benar, dia sedang mengawasi ku. Selama orang itu tidak tau kamu dan Yuna ada di rumah ini, kalian aman. Tenanglah ...."
"Tapi kamu—"
"Aku bisa mengatasinya." Potongku kembali memotong ucapannya, "emh, tadi kamu bilang paman menungguku? Di mana dia sekarang?" Lanjutku bertanya sambil memperhatikan sekitar, aku tidak menemukan paman di manapun.
"Dia pergi ke atas untuk mengambil sesuatu."
"Aku akan menyusulnya sebentar." Ucapku segera mendapat anggukan singkat dari pria itu.
Ku langkahkan kaki ku menuju lantai atas dengan semua pikiranku yang sudah berkelana jauh, memikirkan sosok pria yang ku lihat beberapa menit lalu.
Bagaimana caranya menemukan tempat ini? Padahal aku yakin sudah menghindari kejarannya. Tapi kenapa dia bisa ada di sekitar sini? Parahnya kami bertemu pandang, dan aku tidak bisa menghindarinya sekarang.
Apa dia akan masuk ke toko dengan berpura-pura menjadi pembeli? Atau menunggu kesempatan saat aku lengah di luar? Mana yang benar?
"Faren?"
"Ah paman? Aku dengar paman mencariku, ada apa?" Tanyaku saat melihat paman keluar dari kamarnya dengan tampilan yang cukup rapi.
"Apa ada pekerjaan di luar lagi?" Lanjutku bertanya.
"Benar. Dan soal pembicaraan kita semalam, aku sudah memikirkannya. Sepertinya ada satu cara untuk membantu anak itu." Jelas paman membuatku sedikit terkejut, ku kira paman tidak akan memikirkannya.
"Benarkah?"
"Jika rencana ini berhasil, aku akan memberitahumu. Jaga rumah dan toko selama aku pergi ya. Jangan berkeliaran terlalu jauh." Tutur paman sambil meraih puncak kepalaku sebelum melewatiku.
Apa paman akan berbicara pada paman Albert? Batinku bertanya-tanya dengan rencana yang paman bilang itu. Entahlah, tiba-tiba saja aku memikirkan hal itu. Lagipula setelah paman bebas dari penjara lebih cepat, dia mulai bekerja dengan paman Albert beberapa minggu setelah dia tinggal bersamaku.
Mungkin untuk menambah biaya hidupku dan dirinya, atau untuk membalas kebaikan yang diberikan tuan Albert saat kami membuat rencana gila itu. Aku tidak tau.
***
"Hari ini toko lebih sepi dari biasanya ya?" Gumam Dean yang duduk di sebelahku dengan tangannya yang bersedekap diatas meja kasir.
"Ngomong-ngomong Yuna belum bangun?"
"Saat aku ke atas, aku belum melihatnya dimanapun. Sepertinya dia masih tidur."
"Haruskah aku membangunkannya? Dia harus makan kan ...," gumamnya terlihat cemas.
"Biarkan saja. Semalam dia datang dengan ketakutan bersamamu, jadi biarkan dia beristirahat lebih lama. Kalau sudah bangun baru beri dia makan."
"Kamu benar."
"... kamu sudah menghubungi Sarah?" Tanyaku kemudian, berusaha memecah keheningan diantara kami.
Ku lihat Dean sudah menoleh kearahku, membuat pandangan kami bertemu tatap.
"Sudah." Jawabnya kembali memperhatikan pintu toko yang sempat menarik perhatianku karena tak kunjung terbuka.
"Bagaimana katanya?"
"Dia tidak protes saat aku memintanya untuk tidak datang ke rumahku dan rumahmu."
"Hmm ... sepertinya dia sudah tau situasimu dari pembicaraan kita kemarin. Dan lagi dia juga tidak mau merepotkan mu kan? Dilihat dari bagaimana dia mengkhawatirkan mu dan Yuna."
"Yah itu tidak salah. Aku dan Sarah sudah berteman cukup lama sebelum aku pindah ke wilayah sekitar sini. Dulu Sarah juga tinggal di kota yang sama denganku saat usianya 7 tahun. Lalu pindah rumah di usianya yang ke 12 tahun. Aku bahkan tidak pernah berharap kami akan dipertemukan kembali, tapi siapa sangka aku akan bertemu dengannya lagi.
"Jadi kamu senang?"
"Tentu saja. Tapi sepertinya sekarang aku harus menjauh darinya lagi ...," gumamnya terlihat murung.
"Itu tidak akan terjadi." Ucapku refleks memukul punggung pria itu hingga membuatnya meringis dan menatapku penuh tanya.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
"Entahlah ...,"
***
-Tesar-
"Kau datang?" Suara rendah itu membuatku menunduk, entah kenapa aku masih belum biasa menatap wajahnya saat bertemu dengan Albert.
"Bagaimana kondisi kalian sekarang? Semuanya baik-baik saja kan?" Lanjutnya membuatku mengangguk singkat.
"Tentu saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Baguslah kalau begitu. Lalu ada apa kamu datang ke sini jauh-jauh?" Tanyanya setelah duduk di sofanya, dan mempersilahkanku untuk duduk juga dengan isyarat tangannya yang menunjuk kursi disebelahnya.
"Sebenarnya aku sedikit ragu meminta bantuan darimu setelah apa yang kamu lakukan untuk ku dan Aster selama ini. Tapi karena anak itu terlihat sedih, aku akan memberanikan diri untuk meminta bantuanmu tuan." Jawabku setelah mengumpulkan seluruh keberanianku.
"Bantuan? Bantuan apa yang kamu inginkan?" Tanyanya lagi dengan ekspresi bingungnya.
"Ada seorang anak remaja di tempatku yang membutuhkan pekerjaan dan perlindungan darimu. Aku yakin tuan akan menyukai anak itu, dan lagi dia—"
"Kau ingin aku mempekerjakannya?" Potongnya terlihat sedikit—tidak suka?
"Be—benar. Dia anak yang baik, tapi karena masalah keluarganya. Anak itu kabur dari rumah tiga tahun lalu bersama adik perempuannya. Lalu—"
"Maaf Tesar, sepertinya aku tidak bisa membantumu. Di musim seperti ini sulit bagiku untuk menambah satu pekerja. Aku bahkan sudah memecat banyak pelayan bulan lalu." Potongnya membuatku tak bisa berkata-kata lagi, aku benar-benar tidak menyangka kalau seorang Albert bisa kesulitan juga karena perubahan musim yang tidak bisa di prediksi ini.
.
.
.
Thanks for reading...