Aster Veren

Aster Veren
Episode 35




-Aster-


"Ha~ah... kenapa kita malah terdampar di perpustakaan? Padahal aku pengen main diluar ...." Oceh Carel menghancurkan konsentrasiku pada buku ditanganku.


"Mau bagaimana lagi? Paman merah tidak mengizinkanku main diluar." Jelasku setelah menghela napas lelah menanggapi sikap malas Carel yang duduk dihadapanku dengan dagu yang ditempelkan pada meja.


"Tapi ya ... aku masih belum percaya kalau Carel sekolah di sekolah musik yang sama dengan kak Nathan." Lanjutku bergumam, teringat kembali dengan perkataan Carel yang mengaku satu sekolah dengan kak Nathan.


"Tidak, aku tidak masuk sekolah musik disana. Ya aku memang satu sekolah dengannya, tapi aku tidak masuk jurusan musik. Lagian sekolah itu bukan sekolah khusus musik." Jelasnya masih dengan nada malasnya.


"He? Bukankah sekolah kak Nathan itu khusus sekolah musik?" Tanyaku tak mengerti.


"Tidak, sekolah itu memang dikenal sebagai sekolah musik karena prestasinya yang mencolok mengalahkan jurusan lain yang ada disana ... nyatanya disana ada berbagai pilihan jurusan selain musik kok." Tuturnya kembali menjelaskan sambil mengangkat dagunya dari atas meja dan meregangkan tubuhnya.


"Hee ...." Gumamku tak bisa membayangkan jurusan lain yang ada di sekolah itu, karena sejak awal aku hanya tau kalau sekolah tempat kak Nathan itu adalah sekolah khusus musik.


"Ngomong-ngomong, si Nathan itu kelas 6 SD loh." Ucap Carel sambil menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi yang didudukinya.


"6 SD? Be–berarti usianya sudah 12 tahun," ucapku merasa tak percaya dengan ucapan Carel.


"Yup, benar sekali." Gumamnya sambil menganggukan kepalanya dengan mantap.


Hee... kak Nathan sudah berusia 12 tahun ya? Aku baru tau ... ternyata Kalea suka sama yang lebih tua ya. Batinku malah terbayang dengan wajah Kalea yang memintaku untuk menjauhi kak Nathan.


"Kalau Carel, usia Carel berapa tahun?" Tanyaku ingin memastikan ucapan paman yang bilang usia Carel 9 tahun dan duduk di kelas tiga SD sama sepertiku. Paman pernah mengatakannya sebelum pergi ke luar kota hari itu.


"Aku? 9 tahun." Jawabnya sambil melirik kearahku.


"Le–lebih tua dariku?!" Gumamku tak bisa berkata-kata lagi, ya memang sejak awal aku juga sudah mengetahuinya makanya aku langsung memanggilnya kak Carel, tapi Carel melarangku memanggilnya kak Carel.


"Hhaha... kau harus nurut apa kataku." Ucapnya terlihat gembira.


"He? Kenapa?" Tanyaku tak bisa mengartikan senyuman angkuhnya itu.


"Karena aku lebih tua darimu." Jawabnya sambil melipat kedua tangannya diatas dada.


"Ah, emh." Gumamku sambil mengulas senyum tipis padanya karena tak bisa berkata-kata lagi.


"Sudah jam segini ya?" Gumamnya sambil melirik jam dinding yang ada di perpustakaan, membuatku ikut melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 12:20 siang.


"Cari Hana yuk, kamu harus makan dan istirahat." Lanjutnya sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Hee... padahal aku masih mau baca buku." Ucapku merasa sedih karena harus berpisah dengan tumpukan buku di perpustakaan.


"Buku-buku ini tidak akan lari dari tempatnya, ayo pergi." Ucap Carel langsung menggeretku keluar dari perpustakaan. Dengan berat hati, aku pun mengikuti langkahnya menuju dapur.


"Hana tolong buatkan makanan untuk Aster, sudah waktunya dia minum obat." Tuturnya saat sampai di dapur.


Ku lihat kak Hana masih sibuk di depan kompor, "kak Hana buat apa?" Tanyaku sambil melepaskan tangan Carel dan berjalan mendekati kak Hana.


"Tunggu sebentar ya, buburnya akan siap sebentar lagi." Tutur kak Hana sambil tersenyum ke arahku.


"He? Kenapa bubur lagi?" Tanyaku merasa terkejut dengan menu makan siangku.


"Kau kan masih sakit, jadi harus makan makanan yang mudah dicerna." Jelas Carel yang sudah duduk dikursinya dengan tangan kanannya yang sudah meraih toples kue diatas meja makan.


"Den Carel benar nona." Lanjut kak Hana sambil tersenyum manis kearahku.


"Hee... tapi Aster sudah sembuh loh, Aster mau makan yang lain. Aster gak suka bubur." Tuturku sambil mengerucutkan bibirku.


"Wajahmu jelek loh." Ejek Carel dengan mulutnya yang penuh dengan kue dan membuatku mendelik kesal kearahnya.


"Hah... padahal aku mau makan pudding." Gumamku setelah menghela napas pasrah dan langsung duduk disamping Carel.


"Anak pintar." Ucap Carel dengan tangannya yang sudah mendarat diatas puncak kepalaku, lalu dengan enaknya dia mengacak-ngacak rambutku sesuka hatinya dan membuatku kesal. Sedangkan kak Hana malah mentertawakanku diam-diam.


"Mau sampai kapan mengacak-ngacak rambutku?" Tanyaku sambil melirik kearah Carel dan tersenyum kesal padanya, tapi dia mengabaikanku dan malah semakin asik mengacak-ngacak rambutku.


"Aku tidak bisa makan tau!" Lanjutku sedikit membentak dan membuatnya melepaskan tangannya dari kepalaku.


"Hhehe... maaf-maaf." Ucapnya sambil menyeringai dengan ekspresi ... senang?


"Hemph." Gumamku langsung mengalihkan pandanganku pada mangkuk bubur dihadapanku, lalu dengan malas aku pun mulai memakan bubur itu sedikit demi sedikit.


"Silahkan es krimnya den," ucap kak Hana sambil menghidangkan es krim coklat kehadapan Carel.


"Curang! Aster juga mau es krim." Protesku segera mendapat gelengan cepat dari kak Hana.


"Nona belum boleh makan es krim." Jelas kak Hana membuatku kembali mengerucutkan bibirku.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Karena nona baru pulih dari demam nona, saya harus memastikan demam nona tidak akan naik lagi seperti kemarin. Jadi untuk sementara nona tidak boleh makan es krim dulu, sebagai gantinya saya akan buatkan pudding untuk nona." Tuturnya membuatku senang.


"Pudding ...." Gumamku tak bisa melupakan rasa pudding buatan ibu, aku sampai lupa kapan terakhir kali aku makan puding dan tanpa sadar senyumanku sudah mengembang.


"Kalau gitu makan yang banyak ya nona." Tutur kak Hana menarik perhatianku, dan ku lihat kak Hana sudah tersenyum lebar padaku sebelum melanjutkan pekerjaannya.


"Hem ...." Gumam Carel membuatku melirik kearahnya yang sedang menopang dagu dengan tangan kirinya dan manik merahnya terus menatapku bersama senyum tipisnya itu.


Sekarang apalagi yang dia pikirkan? Batinku bertanya-tanya dan kembali melahap bubur dihadapanku.


"Hey hey Aster, hey hey ...," bisik Carel tak ku perdulikan.


"As–ter!" Lanjutnya mengejutkanku saat dia menarik rambutku dengan suaranya yang penuh penekanan namun masih berbisik.


"Apa?!" Tanyaku berusaha menahan emosiku yang sejak tadi sudah menggunduk karena terus-terusan dibuat kesal oleh anak disampingku ini.


"Aaaa..." Bisiknya sambil mengangkat sendok berisi es krim kedekat mulutku.


Ku lihat Carel tersenyum lebar padaku sebelum menoleh kearah kak Hana yang membelakangi kami.


"Cepatlah!" Lanjutnya terlihat was-was membuat perutku geli saat melihat ekspresi takutnya itu.


"Pft..." Gumamku berusaha menahan tawaku, lalu dengan cepat aku melahap es krim disendok Carel, dan ku lihat senyuman lebarnya kembali mengembang sebelum dia melanjutkan makan es krimnya dengan tenang.


"Nanti kalau udah sehat, aku akan memberikan banyak es krim untukmu." Ucapnya kembali menoleh kearahku dan tersenyum manis dengan manik merah yang terlihat hangat dari biasanya.


"Sebelum itu habiskan dulu buburnya." Lanjutnya membuatku terkekeh, padahal tanpa dimintapun aku akan menghabiskannya. Karena bubur buatan kak Hana ternyata sangat enak.


"Haha... den Carel terlihat seperti kakaknya nona Aster ya." Tutur kak Hana membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri disampingku sambil menuangkan air minum untuk ku.


"Hihi ...." Gumam Carel sambil menyeringai sumringah.


.


.


.


Thanks for reading...