Aster Veren

Aster Veren
Episode 197




-Aster-


"Bibi apa yang terjadi?" Tanyaku benar-benar panik saat menemukan bibi yang kesakitan di persimpangan jalan tanpa seorang pun yang menemaninya di sana.


Aku tau hari sudah cukup sore dan jalanan ini memang sepi, tapi dari sekian banyak tempat kenapa bibi harus mengalami kejadian buruk ini di tempat sepi seperti ini?


Padahal bibi pergi belum lama ini untuk membeli sesuatu, tapi aku sudah mendapat telpon dari bibi. Jika tau hal ini akan terjadi, aku pasti akan melarang bibi untuk pergi keluar. Tapi dari semua pertanyaan yang menumpuk di kepalaku sekarang, aku hanya memikirkan kenapa bibi bisa mengalami pendarahan seperti ini?


Apa bibi terjatuh? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan lingkungan sekitarku, kemudian beralih pada tangan bibi yang semakin kuat mencengkram tanganku dengan ekspresi kesaktiannya.


"Aster ... bibi,"


"Ya bibi, bertahanlah aku akan ...," ucapku terhenti saat melihat Dean yang tengah mematung tak jauh dari tempatku berdiri, dengan cepat aku memanggilnya untuk mendekat dan membantuku mengangkat bibi.


"Dean!"


"Apa yang sebenarnya terjadi Faren?" Tanyanya segera membantuku mengangkat tubuh bibi, tapi karena tubuhnya yang lebih besar dan kuat dariku. Anak itu langsung mengambil alih dan memangku bibi seorang diri.


"Apa tidak ada satu kendaraan yang bisa membawa bibi ke rumah sakit terdekat?" Ocehku benar-benar tidak menemukan satu kendaraan pun disekitar kami.


Sekarang bagaimana? Apa kami harus berjalan ..., batinku terhenti saat melihat sosok Carel yang berjalan cepat mendekatiku dan Dean.


"Ikut aku!" Serunya sambil memasukan handphone ditangannya ke dalam saku celananya. Tak lama kemudian sebuah mobil hitam mendekat dengan kecepatan yang cukup cepat sebelum berhenti di hadapan kami.


"Masuklah." Lanjutnya membuat Dean bergegas, begitupun denganku.


Aku yang melihat bibi meringis menahan sakit hanya bisa memegang tangannya dengan kuat, keringat dingin sudah membanjiri tubuh bibi sekarang. Aku bahkan tidak tau harus berbuat apa?


"Paman, kamu sudah menghubunginya?" Suara Dean membuatku tersadar dan menggeleng cepat untuk menjawab pertanyaannya itu.


"Belum. Aku—"


"Biar aku hubungi." Potongnya segera mengeluarkan ponselnya.


***


Sesampainya di rumah sakit, bibi langsung dilarikan ke unit gawat darurat dan segera di tangani. Aku yang merasa cemas hanya bisa menunggu di ruang tunggu dengan perasaan campur aduk sekarang.


Pikiran mengenai bibi yang terduduk di pinggir jalan mulai kembali membayangiku. Bahkan sosok pria yang tak ingin ku lihat dan tak mau ku akui kehadirannya terus bermunculan di kelapaku. Siapa? Pria yang pernah mengikutiku dan Yuna hari itu, ayahnya Dean dan Yuna.


Tidak! Ayo buang pikiran buruk yang satu ini. Jangan memikirkan apapun oke. Batinku kembali menggelengkan kepalaku, berusaha menepis semua pikiran buruk itu.


Tapi, kalau harus dipikirkan, bukankah itu aneh? Kenapa dia terus memperhatikanku dan bibi dari jarak itu? Apa dia ada hubungannya dengan bibi yang terjatuh? Kalau benar begitu ... aku benar-benar tidak akan tinggal diam.


"Faren?" Suara Dean meruntuhkan lamunanku, "minumlah dulu." Lanjutnya sambil memberikan air minum ketanganku. Dengan tanganku yang sedikit bergetar, ku raih air minum itu dan memeganginya sampai tubuhku berhenti bergetar.


"Ke mana orang itu?" Tanyaku tak mendapati sosok Carel di manapun.


"Dia bilang akan mengurus semuanya dan memintaku untuk menemanimu." Jawabnya membuatku mengernyit bingung.


"Mengurus apa ...," gumamku tak bisa melanjutkan kata-kataku saat pikiranku sendiri tak bisa ku kendalikan. Sudah jelas kan kalau dia mengurus semua registrasi yang harusnya aku sendiri yang mengurusnya sebagai anggota keluarga bibi. Tapi kenapa malah anak itu yang mengurusnya?


"Apa?"


"Kamu lihat kan pria yang memperhatikan kita dibalik pemberhentian bus?" Lanjutnya membuatku mengangguk singkat.


"Jadi apa yang aku lihat itu bukan halusinasi?" Gumamku merasa frustrasi.


"... sepertinya ini ada hubungannya dengan bibimu. Lalu, karena dia sudah melihatku. Aku—"


"Semuanya sudah aku urus, jadi kalian—" Ucapnya menghentikan ucapan Dean dan tak lama ucapannya juga terhenti saat mendengar suara dering ponsel Dean. Dengan cepat anak itu menjawab panggilan masuk yang dia terima.


"Yuna!" Suara Sarah cukup keras sampai terdengar olehku, ku lihat Dean sudah menoleh kearahku dengan wajah pucatnya yang hampir hilang.


"Aku akan ke sana. Tunggu aku!" Serunya segera bangkit dari posisi duduknya.


"Apa yang terjadi?" Tanyaku ikut bangkit dari posisi duduk ku, menghentikan langkahnya.


"Aku akan segera kembali, jadi kamu tunggu di sini sampai pamanmu datang."


"Tapi—Dean?" Ucapku tak di dengarkan. Orang itu sudah berlalu dari hadapanku, meninggalkanku bersama dengan Carel.


"Sepertinya kalian mengalami hari yang cukup sulit hari ini ya?" Gumamnya membuatku meraih keningku dan memijat pangkal hidungku, berusaha menghilangkan denyutan di keningku.


"Jadi berapa yang harus aku ganti?" Tanyaku kemudian bersamaan dengannya yang sudah duduk di sampingku. Ku lihat dia hanya menatapku datar sebelum sibuk kembali dengan handphone di tangannya.


"Kamu tidak mendengarku?" Lanjutku masih tak digubris.


Terserahlah, aku hanya bisa berharap bibi dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Semoga tidak ada .... Batinku terhenti saat melihat paman berlari kearahku dengan tergesa-gesa, terlihat sangat panik dan penuh rasa khawatir.


"Apa yang terjadi? Bagaimana kondisi Nina sekarang? Apa dia baik-baik saja?" Tuturnya sambil memegangi bahuku dengan cukup kuat.


"Dokter masih memeriksanya, tenanglah dulu paman. Aku—"


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa pendarahan dan ...," potongnya tak melanjutkan ucapannya, aku lihat perhatian paman sudah teralihkan pada sosok Carel yang masih duduk manis di sampingku. Dia bahkan sudah menatap paman dengan cukup tajam. Entah apa yang dia pikirkan saat melihat paman, yang jelas tatapannya itu benar-benar menakutkan.


***


"Maafkan aku ... anak kita hiks ... aku—hwaaaa...," suara Isak tangis bibi benar-benar menyayat hatiku. Aku yang mendengar kondisi bibi dari dokter yang menangani bibi dibuat tak berdaya. Begitupun dengan paman yang mendengar bibi mengalami keguguran akibat pendarahan hebat itu.


Aku yang masih berdiri dibalik pintu ruang rawat bibi hanya bisa mengepalkan kedua tanganku dengan erat, mencoba mencerna semua situasi yang terjadi hari ini. Bahkan bayangan pria misterius yang diakui sebagai ayahnya Dean kembali bermunculan dalam kepalaku.


Kenapa pria itu memperhatikan kami? Apa dia yang melakukan hal ini pada bibi? Atau dia kebetulan mengikuti Dean sampai ke tempatku menemui bibi? Kalau begitu, apa bibi terjatuh? Tapi bibi bukan orang yang ceroboh, lalu kenapa? Batinku tak bisa berhenti memikirkan alasan masuk akal untuk membenarkan kondisi bibi saat ini.


"... apa, apa mungkin hal ini berhubungan dengan kepergian Dean juga? Maksudku, Sarah langsung menelpon Dean beberapa menit ketika kami sampai di rumah sakit. Apa itu artinya orang itu sengaja memisahkan Dean dan Yuna dari pengawasanku, paman dan bibi? Dengan mengorbankan bibi?" Lanjutku bergumam saat menemukan potongan puzzle dalam kepalaku. Meski aku tidak yakin kenapa bibi sudah terduduk kesakitan seperti itu di pinggir jalan.


.


.


.


Thanks for reading...