Aster Veren

Aster Veren
Episode 27




-Ansel-


"Jangan berteriak, kau bisa membangunkan paman Ansel loh!" Suara Carel terdengar samar ditelingaku.


"Sudah malam, sebaiknya kalian pergi tidur." Lanjut Hana dengan suara lembutnya membuat mataku terbuka.


"Kalau gitu Aster mau tidur sama kak Hana lagi." Kali ini suara Aster yang menarik perhatianku dan ku lirik sosoknya yang sedang serius menatap mata Hana.


"Ada apa ini?" Tanyaku mengejutkan mereka. Sepertinya mereka tidak menyadariku yang sudah terbangun berkat suara berisik mereka.


"Tu–tuan! Maafkan atas keributan yang ...." Ucap Hana bersamaan dengan tangan Aster yang meraih pakaian Hana dan menggenggamnya dengan erat.


Sepertinya dia masih takut padaku. Batinku saat melihat Aster menghindari tatapanku.


"Kenapa kau sudah bangun?" Tanyaku memperhatikan manik ungu yang diam-diam mencuri pandang padaku.


"Eh, itu ... Aster ...." Jawabnya tergugup.


"Aku tak sengaja membangunkannya." Lanjut Carel sambil meletakan album foto ditangannya ke tempat semula.


"Membangunkan?" Tanyaku menatap Carel penuh selidik.


"Itu ... aku masuk ke kamarnya dan membuka jendela kamarnya. Sepertinya Aster terbangun karena udara kamarnya ...." Jelasnya menghindari tatapan langsungku.


"Ternyata kau masih saja belum berubah," gumamku setelah menghela napas.


"Hhehe ...." Tawanya terdengar dipaksakan.


Carel Alterio ... aku tak pernah bisa melupakan kenakalannya selama ini. Dia benar-benar berbeda dengan Alterio yang ku kenal. Batinku mengingat sosok ayahnya yang sangat pendiam dan tegas dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan anak yang berdiri dihadapanku.


"Nona, mari saya antar ke kamar. Saya akan menemani nona sampai tertidur." Suara Hana meruntuhkan lamunanku saat memperhatikan cincin dikalung Aster barang sesaat.


Sepertinya Arsel benar soal mimpi buruk Aster. Melihatnya yang begitu enggan untuk pergi tidur seperti ini .... Batinku mencemaskan Aster tanpa sebab.


"Tapi ...." Ucapnya terhenti saat melihat senyuman Hana.


"Kalau begitu, kami permisi dulu tuan." Lanjut Hana sambil membungkukan tubuhnya sebelum pergi dari hadapanku.


"Hana. Buatkan aku coklat panas dan antarkan ke kamarku." Pinta Carel menghentikan langkah Hana dan Aster yang hampir meninggalkan ruang keluarga.


"He? Tapi den ...." Tutur Hana terhenti saat melihat wajah Carel yang tak bisa ku lihat karena dia sudah membelakangiku.


"Baik, akan saya buatkan." Lanjut Hana segera pergi ke dapur dan meninggalkan Aster diruang keluarga.


"Ka–kak Hana?" Gumam Aster tak bisa mencegah kepergiannya.


Kemudian aku melihat Carel yang berjalan mendekati Aster dan tangan kirinya langsung menepuk bahu Aster sebelum pergi ke kamarnya.


Ku hela napasku saat melihat sosok Aster yang mematung, berdiri tak jauh dari hadapanku. Tangan kanannya terlihat gemetar memegang cincin yang dikalungkan dilehernya.


Sesekali mataku bertemu tatap dengannya, namun dengan cepat dia mengalihkan pandangannya dariku. Apa dia takut padaku?


Tik... tok... tik... tok...


Suara jarum jam mengisi keheningan diantara kami, aku yang kembali terlarut memperhatikan foto Helen yang menggendong bayinya pun tak kuasa menahan rasa rinduku padanya. Rasanya dadaku sangat sesak sekarang.


"Kau sudah minum obat?" Tanyaku berusaha memecah keheningan diantara kami, mencoba untuk mengalihkan rasa rinduku pada sosok Helen.


"He? Be–belum." Jawabnya tergugup.


"Pergilah tidur setelah meminum obatmu." Ucapku sambil meraih sebuah foto yang tergeletak disamping album yang ku lihat.


"Baik." Ucapnya langsung pergi kearah kamarnya.


Ternyata ada cerita dibalik foto ini ya .... Batinku membalikan foto Aster yang menangis didekat sebuah piano.


Tanpa sadar aku mulai tersenyum setelah membaca tulisan tangan Helen, lalu tanganku mulai usil membuka semua foto di album itu untuk melihat tulisan dibalik masing-masing foto.


Lalu mataku tertuju pada sebuah amplop putih yang tersalip dibelakang album foto itu. Tanpa banyak berpikir, aku pun meraih amplop itu dan membukanya setelah membaca semua tulisan yang ada dibalik semua foto-foto itu.


"Ini kan ...." Gumamku saat melihat isi surat yang ada didalam amplop putih itu.


Kamu sudah menyiapkan semuanya dengan matang ya Helen, sepertinya kamu tau kalau aku tidak bisa mengakui Aster sebagai putriku tanpa bukti yang kuat. Tapi dengan bukti tes DNA ini .... Batinku masih memperhatikan kertas ditanganku.


"Data diri Aster, cincin pernikahanmu, album foto dan surat darimu, lalu surat hasil tes DNA ini ... kenapa aku begitu bodoh?" Gumamku tak bisa menepis bayangan wajah Helen yang tersenyum hangat padaku dihari pernikahan kami.


"Sepertinya aku terlalu dingin pada Aster." Lanjutku memperhatikan pintu kamar Aster dari ruang keluarga, lalu kembali memperhatikan kertas ditanganku.


Tapi bagaimana bisa dia melakukan tes DNA? bagaimana dia bisa mendapatkan DNA ku dan mencocokannya dengan DNA Aster? Batinku bertanya-tanya.


"Justin." Gumamku saat teringat dengan perkelahian kami.


Apa dia ada hubungannya dengan ini? Lagipula yang dekat dengan Helen hanya Justin. Mungkinkah dia membantu Helen untuk mendapatkan DNA ku? Tapi bagaimana caranya? Lanjutku dalam hati.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 07:45 pagi, hari ini kak Hana melarangku pergi ke sekolah dengan alasan kesehatanku. Lalu aku harus terjebak di rumah bersama dengan Carel yang super aktif.


Sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan dari mimpi buruk ku ... tapi semalam itu ... aku benar-benar tak bisa mengatakan apapun pada ayah. Kenapa Carel membuat situasi canggung seperti itu untuk ku? Batinku mengingat kejadian semalam sambil memperhatikan Carel yang sudah memanjat pohon mangga dihalaman belakang rumah.


Padahal paman baru pulang, tapi aku tidak bisa menemuinya karena ayah langsung membawa paman ke ruang kerjanya.


"Oii! Apa yang kamu lamunkan Aster?" Teriak Carel yang sudah duduk manis di dahan mangga itu.


"Kau masih memikirkan soal ulangan matematikamu hari ini?" Lanjutnya membuat rasa kesalku kembali hadir.


Seperti yang dia katakan, hari ini ada ulangan matematika di kelasku. Tapi aku tidak bisa mengikuti ulangan itu karena harus beristirahat di rumah.


Daripada beristirahat, ini lebih seperti bermain dengan orang menyebalkan seperti Carel. Batinku sambil mengingat semua kelakuannya pagi ini.


Anak itu benar-benar hiperaktif, pagi-pagi buta sudah menyusup ke kamarku dan menggangguku hanya untuk melihat matahari terbit dibukit belakang rumah. Alhasil kamipun menyelinap keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Meski pada akhirnya kami ketahuan pergi keluar oleh kak Hana.


"Ayolah kamu tidak akan bodoh hanya karena tidak masuk sekolah sehari Aster." Tutur Carel yang sudah berdiri disampingku dan membuatku terkejut saat mendengar suaranya.


"Entah kenapa aku merasa sifat Carel semakin menyebalkan saja ya." Gumamku sambil mendengus kesal.


"Kamu baru tau ya kalau anak ini memang menyebalkan?" Suara paman merah mengejutkanku, bahkan telapak tangan paman sudah mendarat diatas puncak kepalaku, dan tangan satunya berada dipuncak kepala Carel.


"Lepaskan!" Geram Carel berusaha melepaskan tangan paman.


"Paman sudah selesai?" Tanyaku sambil memeluk paman merah.


"Selesai?" Tanya paman terdengar bingung.


"Kau kan pergi ke ruang kerjamu bersama paman Ansel. Bukankah kalian pergi kesana untuk membicarakan sesuatu yang penting?" Jelas Carel setelah berhasil melepaskan tangan paman dari kepalanya.


"Ah ... ya sudah selesai. Ngomong-ngomong kamu sudah makan obat kan Aster?" Tutur paman membuatku menengadah untuk melihat ekspresi paman.


"Sudah." Jawabku sambil tersenyum lebar padanya.


"Kau tidak pergi ke sekolah Carel?" Suara ayah membuatku menoleh kearah sumber suaranya.


Ku lihat ayah sudah melangkahkan kakinya menghampiri kami dihalaman belakang rumah paman dengan kemeja putih dan celana hitam yang dikenakannya.


"Kau bolos lagi?" Lanjut paman membuat Carel berdecak kesal.


"Bukan urusan paman." Jawabnya sambil membuang wajah kesembarang arah.


"Lagi?" Gumamku bertanya-tanya dengan ucapan paman merah.


"Kau tidak boleh merepotkan Tomi setiap saat Carel." Tutur ayah yang sudah berdiri didekat Carel.


"Hah ... aku tidak suka pergi ke sekolah karena membosankan." Ucap Carel setelah menghela napas lelahnya.


"Bagaimana bisa pergi ke sekolah jadi membosankan? Bukankah Carel bisa bertemu teman-teman Carel di sekolah?" Tuturku bertanya padanya.


"Aku tidak suka berteman dengan orang-orang bodoh–" Ucapnya segera dihentikan oleh cubitan paman merah dipipinya.


"Sakit! Lepaskan aku bodoh!" Ucap Carel berusaha melepaskan tangan paman dari wajahnya.


"Bagaimana bisa anak kecil sepertimu berbicara seperti itu? Kau benar-benar tidak akan mendapatkan teman jika bicaramu seperti itu tau!" Oceh paman merasa kesal dengan ucapan Carel yang mengatainya bodoh.


"Tapi aku benar, lagian semua materi sudah ku pelajari sampai ke tingkat SMP. Bagaimana bisa aku berteman dengan orang-orang yang belum selesai mempelajari materi SD yang segampang itu?" Gerutu Carel sebelum berhasil melepaskan tangan paman merah dari wajahnya.


"Kau ini benar-benar sangat pintar ya ...." Guman Ayah setelah menghela napas letihnya.


"Entah kenapa kau membuatku kesal, rasanya mengingatkanku pada seseorang," gumam paman sambil melirik kearah ayah berdiri.


Jadi Carel itu sangat pintar ya? Dia bilang sudah selesai mempelajari materi SD dan sekarang dia sudah berada di tingkat SMP?


"Kalau gitu Aster tidak bisa berteman dengan Carel juga dong ya ...." Tuturku sambil tersenyum tipis padanya.


"Kenapa?" Tanyanya sambil melirik kearahku selagi tangan kanannya sibuk mengelus pipinya yang memerah akibat cubitan paman.


"Aster kan belum selesai mempelajari materi SD." Jawabku mengejutkannya.


"A–aster ...." Guman paman terdengar khawatir.


"I–itu kan beda lagi." Lanjut Carel membuatku refleks tertawa saat melihatnya salah tingkah, bahkan paman dan ayah juga diam-diam ikut mentertawakan Carel.


Dan itu kali pertamaku melihat ekspresi ayah yang sedang tertawa. Entah kenapa aku merasa senang karena perasaan takutku pada ayah mulai menghilang sedikit demi sedikit.


.


.


.


Thanks for reading...