Aster Veren

Aster Veren
Episode 33




-Arsel-


Tok, tok!


Terdengar Suara pintu kamarku yang diketuk dari luar.


"Masuk." Ucapku nyaris berteriak membuat pintu kamarku terbuka dan menampilkan sosok Eric disana.


Ku lihat dia mulai berjalan mendekatiku yang masih berdiri di dekat jendela kamarku yang terbuka.


"Maaf sudah mengganggu anda malam-malam begini." Ucapnya setelah sampai disampingku.


Ku lirik Eric yang baru selesai membungkukan tubuhnya padaku, "apa sudah ada informasi dari kakak?" Tanyaku tak ingin banyak berbasa-basi karena saat ini aku benar-benar tak bisa mengendalikan amarahku sejak Aster pulang dengan kondisi telinganya yang diperban, bahkan wajahnya terlihat merah seperti sudah ditampar oleh seseorang.


"Masih belum." Jawabnya membuat amarahku semakin meluap, "saya datang kesini untuk memberitau kondisi nona yang sudah membaik. Hana bilang demamnya sudah turun–" Lanjutnya menjelaskan maksud kedatangannya namun segera ku hentikan dengan memalingkan wajahku kearah jendela kamar yang terbuka.


"Ah, ya. Aku akan melihatnya nanti." Ucapku berusaha meredam amarahku sedikit demi sedikit.


Ah sial! Aku tidak bisa melupakan pembicaraanku dengan kakak, aku benar-benar ingin membalas perbuatan b*debah itu. Batinku mengingat semua penjelasan kakak soal kondisi Aster dan kenapa dia bisa mendapat luka seperti itu.


"Kalau begitu saya sekalian izin undur diri–" Ucapnya membuatku segera melirik kearahnya dan langsung memotong ucapannya.


"Eric ... apa kau pikir aku bisa membantu kakak menemukan si brengs*k itu?" Tanyaku membuatnya menengadah saat tubuhnya masih membungkuk dihadapanku, lalu dengan cepat dia kembali menegapkan tubuhnya dan menatapku serius.


"Sebaiknya tuan muda serahkan masalah ini pada tuan Ansel," tuturnya membuatku berdecak kesal saat melihat sorot mata seriusnya, serius akan menghentikanku jika aku ikut campur dalam penangkapan orang itu.


Biar bagaimanapun Eric adalah teman kecilku, dia tau benar apa yang bisa aku lakukan dalam kondisi seperti ini. Dan dia tidak ingin aku mendapat masalah karena tak bisa mengontrol emosiku.


Tapi ... aku benar-benar ingin menghajar b*debah itu sekarang! Batinku tanpa sadar aku sudah menekan gigiku dan mengepal kedua tanganku dengan kesal.


Kenapa aku tidak bisa melakukan apapun? Apanya yang akan melindungi dan membuat Aster bahagia? Lanjutku lagi dalam hati.


"Tenanglah tuan, untuk saat ini anda hanya perlu berada disamping nona. Semua masalah ini harus diselesaikan oleh tuan Ansel, dia harus memperbaiki hubungannya dengan nona. Melihatnya begitu kesal saat kembali bersama nona yang terluka, bukankah itu artinya tuan mulai memperdulikan nona? Dia sampai melarang tuan muda untuk ikut campur, bahkan nyonya yang menawarkan bantuan padanya juga ditolak olehnya. Saya mohon tenanglah tuan." Tuturnya panjang lebar sambil memegangi bahuku dengan tangan kanannya.


"Eric ... jika ingin memberiku nasehat jangan gunakan status sekertarismu. Gunakan statusmu sebagai sahabatku, dan berhenti memanggilku tuan muda, bukankah sering ku ingatkan?" Jelasku setelah menghela napas letih.


"Ah, kau benar." Gumamnya sambil melepas tangannya dari bahuku.


"Pft ...." Ucapku berusaha menaha tawaku saat melihat ekspresi bodohnya.


***


Setelah berbincang dengan Eric, aku pun langsung pergi ke kamar Aster bersamaan dengan kepergian Eric dari rumahku.


Ku lihat Hana sedang duduk dipinggiran tempat tidur Aster dengan ekspresi khawatirnya.


"Bagaimana kondisinya?" Ucapku sambil menutup pintu kamar Aster.


"Tuan? Demamnya sudah turun, tapi ... sepertinya nona sedang bermimpi buruk lagi." Jelasnya membuat perhatianku teralihkan pada wajah pucat Aster, bahkan keringat dinginnya sudah membasahi wajahnya.


"Kau boleh pergi sekarang, aku akan menjaganya malam ini." Ucapku membuatnya bangkit dan segera undur diri setelah membungkukan tubuhnya kearahku.


"Tenanglah Aster, aku ada disini." Gumamku sambil duduk disampingnya dan segera meraih handuk dikeningnya, lalu memasukannya kedalam air didalam wadah diatas meja.


"Tidurlah dengan tenang ...." Lanjutku setelah memeras handuk kecil ditanganku dan kembali meletakan handuk itu dikeningnya.


Ku lirik jam dinding dikamar Aster dan kembali memperhatikan keponakanku setelah melihat jam dinding yang menunjukan pukul 10:47 malam.


"Ha~ah, sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur. Kakak, ku harap kau segera menemukannya dan memberinya pelajaran." Gumamku setelah menghela napas sambil melihat langit-langit kamar.


"Ibu ...." Gumam Aster membuatku menoleh kearahnya.


Mengigau? Batinku bertanya-tanya saat melihat raut wajah tidurnya yang berubah, "sepertinya kamu bermimpi indah sekarang, apa kamu bertemu dengan ibumu sekarang?" Lanjutku saat melihat wajah tidurnya yang tenang, tanpa sadar aku sudah tersenyum lega untuknya.


***


-Ansel-


Getar heandphoneku menghancurkan lamunan panjangku, dengan cepat ku raih heandphoneku dan membaca pesan masuk dari Rigel.


"Bagus Rigel." Gumamku saat melihat isi pesan yang menyatakan dia berhasil menangkap pria br*ngsek yang sudah melukai putriku.


Ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, batinku sambil berjalan keluar dari ruang kerjaku dan bergegas pergi menemui Rigel di ruang tamu.


Ku lihat dia sedang berdiri dibelakang pria itu dan menganggukan kepalanya padaku saat pandangan kami bertemu tatap. Lalu ku alihkan perhatianku pada sosok pria itu.


"Sepertinya kau kesulitan membawanya kemari," ucapku saat melihat memar dikening Rigel.


"Ah, ya. Kami sempat berkelahi dulu tadi." Jelasnya bersamaan dengan perhatianku yang sempat tertuju pada jam dinding yang menujukan pukul 02:32 malam.


"Ma–maafkan aku, aku benar-benar tidak berniat memukul anak itu." Tuturnya terdengar gemetar saat mataku menatap matanya dengan lekat.


"Tidak berniat?" Tanyaku berusaha menahan amarahku dan berjalan mendekatinya.


"Ini laporannya tuan." Ucap Rigel memberikan berkas ditangannya ketanganku.


Dengan cepat aku membuka berkas itu dan ku dapati data diri pria itu.


Tesar? jadi orang ini kerabat jauh keluarga Helen, kenapa dia bersikap sekasar itu pada putriku? Batinku bertanya-tanya.


Aku ingat sekarang, pria ini. Orang yang membuat putriku bermimpi buruk selama ini ... dia! orang yang sama dengan orang yang berniat menghabisi Aster. Lanjutku dalam hati saat mengingat cerita Arsel mengenai mimpi buruk Aster.


"Ku mohon ma–maafkan aku." Ucapnya mengalihkan perhatianku.


"Maaf? setelah melakukan hal kurang ajar seperti itu? maaf?" Tanyaku penuh penekanan sambil melempar berkas ditanganku keatas meja dihadapanku.


"I–itu saya–" Ucapnya terhenti saat pandangan kami kembali bertemu.


"Kau pikir aku akan memaafkanmu? setelah semua perbuatan burukmu pada putriku?" Lanjutku benar-benar habis kesabaran dan langsung meraih kerah bajunya, menariknya setinggi mungkin.


"Sungguh, saya hanya melakukan perintah. Tolong maafkan saya." Tuturnya terlihat begitu ketakutan.


"Perintah?" Tanyaku tak ingin melepaskan kerah pakaiannya.


"C–claretta! dia–dia yang meminta saya untuk–" Jelasnya membuatku melayangkan tinjuku pada wajahnya.


"Omong kosong!" Ucapku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Tesar yang sudah terduduk dilantai.


"Wanita itu? memerintahmu? bagaimana bisa kalian saling mengenal?" Lanjutku sambil mengepal kedua tanganku dengan kesal.


"I–itu, saya mengenalnya setelah mengawasi Aster selama beberapa hari terakhir ini didekat sekolahnya. Saat itu saya melihat Claretta, dan dia benar-benar terlihat tidak menyukai anak itu, jadi saya menawarkan diri untuk bekerja sama dengannya. Jadi ...." Jelasnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


"Ha, jadi dari awal kau memang berencana mengganggu putriku ya?" Ucapku membuatnya terperajat.


"Mohon maafkan saya." Ucapnya langsung bersujud dihadapanku.


"Saya memang tidak menyukainya karena dia anak Helen, tapi rencana itu. Claretta yang membuatnya dan memberikan imbalan untuk saya." Lanjutnya masih bersujud dihadapanku.


"Jadi rencana sebelumnya kau yang merencanakannya kan?" Tanyaku sambil berjongkok dihadapannya dan membuatnya menengadah.


"Sebelumnya?" Gumamnya terlihat bingung untuk beberapa detik.


"Bukankah kau pernah melakukan percobaan pembunuhan pada Aster?" Tanyaku segera meraih wajahnya dan menekannya dengan jari tanganku.


"Mana mungkin–" Jawabnya terhenti.


"Kau mencekiknya kan?" Tanyaku lagi penuh penekanan dan membuatnya bungkam.


.


.


.


Thanks for reading...