Aster Veren

Aster Veren
Episode 107




-Hendric-


Ku langkahkan kaki ku menuju pintu keluar akademi dengan perasaan bosanku yang melanda karena di tinggalkan oleh Sean yang sibuk melakukan pendekatan dengan Aster.


Meski bukan pertama kalinya aku diperlakukan seperti orang yang dibuang saat dia senang, tapi rasanya tetap saja menyakitkan.


"Hem ... sepertinya aku memang melakukan kesalahan. Seharusnya aku meminta bayaran lebih pada anak itu. Karena informasi dariku, dia jadi kembali bersemangat seperti itu ...," gumamku sambil mengelus daguku, mempertimbangkan bayaran apa yang harus ku dapatkan dari anak itu selagi kedua kaki ku sibuk berjalan kearah asrama laki-laki.


"... sudahlah menyerah saja, kita semua juga tau kalau Aster di kelilingi oleh Carel dan Teo. Mereka tidak akan pernah membiarkan kita mendekati Aster,"


"Benar! Kakak kelas yang pernah menyatakan perasaannya pada Aster saja sampai di labrak sama Carel."


"Seriusan?"


"Jadi gosip itu benar?"


Hee... ternyata beritanya sudah tersebar ya? Tidak ku sangka kalau kakak kelas itu akan berurusan dengan si pembuat onar itu. Apa Sean akan berurusan dengannya juga? Batinku bertanya-tanya sambil melewati ketiga pria yang tengah mengobrol di hadapanku.


"Entah kenapa aku merasa kasihan pada orang-orang yang menyukai Aster, kenapa? Karena mereka hanya bisa mengagumi sosok Aster dari jauh." Lanjutku sambil menggaruk tengkuk ku dengan malas dan tersenyum miris saat mengingat sosok Carel.


"Sudah ku katakan kan? Lempar bolanya seperti ini!" Suara Sean menghentikan langkahku dan ku balikan tubuhku kearah lapangan olahraga yang memang lokasinya berada tepat di depan gedung akademi.


Ku lihat anak itu sedang memberikan contoh cara melempar bola yang benar pada Aster, dan perempuan itu hanya bisa memperhatikan Sean dengan tatapan malas–tidak, tatapannya terlihat kesal? ekspresinya juga terlihat menggemaskan.


Apa dia kesal pada Sean yang terus mengkritik permainannya? Batinku menyimpulkan apa yang ku lihat. Tapi anak itu memang menyebalkan, padahal dia sedang mengajari teman perempuannya tapi perlakuannya tidak membedakannya dengan anak laki-laki sejenisnya.


"Dia memang tidak cocok mengajari orang lain ya?" Gumamku masih memperhatikan Sean yang mulai memberikan bola basket di tangannya pada Aster. Dan perempuan itu mulai menirukan apa yang dicontohkan oleh Sean, masih dengan ekspresi kesalnya. Tapi detik berikutnya Sean mulai memegangi kedua tangan Aster dari belakang tubuh perempuan itu, lalu mulai membimbingnya memasukan bola di tangannya.


"Hhaha, lihatlah anak itu! Dia sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, padahal waktu pelajaran olahraga dia tidak melakukan hal seperti itu ... berterima kasihlah padaku." Ucapku merasa bangga pada diriku sendiri yang sudah memberikan informasi berharga pada Sean dan menciptakan situasi seperti yang dia inginkan.


Ya, karena informasi itu dia jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Aku sempat khawatir karena masalah keluarganya membuatnya merasa terbebani dan surat itu datang memperburuk suasana hatinya. Tapi saat mendengar Aster bukan pacarnya Teo ataupun Carel, dia jadi bersemangat seperti itu. Apalagi saat tau kakak kelas itu di tolak oleh Aster, dia seperti merasakan sebuah kesempatan untuk dirinya.


Ternyata tebakanku soalnya benar ya! Batinku kembali menganggukan kepalaku, merasa bangga dengan kepekaanku yang sudah berfirasat soal isi hati Sean.


"Kalau gitu ... mari kita tinggalkan mereka dan pergi ke asrama." Lanjutku kembali melangkahkan kakiku, meninggalkan pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Tapi aku juga tidak bisa terus tinggal disaat perutku merengek minta di isi.


***


-Carel-


Ku langkahkan kaki ku menuju ruang rawat ibu dengan perasaan campur aduk yang ku rasakan sejak siang tadi.


Aku sudah menahan diri selama beberapa jam untuk pergi dari akademi setelah menerima surat izin keluar dari kepala sekolah. Alhasil sore ini aku baru tiba di rumah sakit. Padahal Dwi sudah menghubungiku beberapa jam yang lalu, tentu saja ayah melarangku untuk datang menemui ibu.


"... aku baik-baik saja," suara ibu saat aku membuka pintu ruang rawatnya. Ku lihat ayah dan ibu sudah menoleh kearahku. Dengan cepat ku langkahkan kaki ku untuk mendekati mereka.


"Kau datang? Bukankah aku sudah melarangmu untuk datang?" Tanya ayah setelah menghela napas panjang saat aku sudah berdiri disampingnya.


"Bagaimana kondisi ibu sekarang?" Tanyaku mengabaikan perkataan ayah.


"Sudah lebih baik. Kamu kenapa kesini? Bagaimana dengan sekolahmu?" Jawab ibu sambil meraih wajahku dan mengelusnya dengan lembut, buru-buru ku raih tangan ibu supaya sentuhannya tidak cepat berakhir.


"Harusnya kau belajar yang benar dan buktikan pada kakekmu kalau kau bisa–" Tutur ayah terhenti saat aku mendengus sebal.


"Kau! Mulutmu itu masih saja menyebalkan ya?!"


"Ayah juga menyebalkan!"


"Sudah, kalian ini. Kenapa malah bertengkar?" Ucap ibu berusaha melerai perdebatanku dengan ayah, perdebatan yang baru saja di mulai.


"Ibu, ibu kan sudah berjanji akan cepat sehat. Kenapa bisa kembali ke rumah sakit lagi? Apa ada yang sakit? Atau ada yang ibu pikirkan?" Tuturku merasa sangat khawatir dengan tubuh kurus ibu dan kulit putih pucatnya. Padahal terakhir kali aku melihatnya, tubuh ibu sudah sedikit lebih berisi.


"Ibumu baik-baik saja," jelas ayah membuatku mendelik kesal padanya, bagaimana bisa dia bicara seperti itu disaat kondisi ibu terlihat jelas dari fisiknya. Dan lagi aku bertanya pada ibu, kenapa malah dia yang menjawabnya?


"Ibu hanya kelelahan saja. Lusa juga sudah diperbolehkan pulang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan ibu. Belajar saja yang benar,"


"Tapi–"


"Inilah kenapa aku tidak bisa memberitaumu, tapi kakakmu itu malah menghubungimu." Ucap ayah sambil menggaruk kepala bagian belakangnya dengan frustasi.


"Ngomong-ngomong soal Dwi, dimana dia sekarang?" Tanyaku yang tak mendapatinya dimanapun.


"Dwi? Tidak kah kau mau memanggilnya kakak?" Gumam ayah tak ku perdulikan.


"Kakakmu sedang mengurusi pekerjaannya," jawab ibu membuatku menoleh kearahnya yang sudah tersenyum hangat padaku.


"... cepat sembuh bu, jangan kembali lagi ke tempat ini. Kalau ibu sehat terus, saat liburan smester nanti aku akan mengenalkan Aster pada ibu. Bukankah ibu ingin bertemu dengannya?" Tuturku berusaha memberikan semangat pada ibu.


"Benar juga, kau mengingatkanku pada hal penting yang harus ku lakukan." Ucap ayah mengejutkanku, ku lihat dia mulai sibuk merogoh heandphone di dalam saku celananya.


"Melakukan hal penting?" Gumamku tak bisa berhenti menatap dingin sosok ayahku yang terlihat sibuk sendiri itu.


"Kemana orang itu kabur ya?" Geramnya tak henti-hentinya melakukan panggilan, entah siapa yang dia panggil. Tapi ekspresinya mulai tak enak dilihat.


"... sebenarnya ayahmu sedang melakukan sesuatu untuk ibu." Suara ibu kembali menarik perhatianku.


"Melakukan apa?" Tanyaku membuat ibu tersenyum jahil.


"Apa?" Tanyaku lagi, merasa bingung dengan reaksi yang ditunjukan ibu.


"Rahasia. Untuk sekarang, pokoknya kamu harus rajin belajar, lalu ibu akan pegang janjimu untuk mengenalkan Aster pada ibu saat liburan smester nanti." Tuturnya kembali menunjukan senyuman lebarnya.


Rahasia?


Apa yang sedang disembunyikan ibu sampai dia terlihat begitu antusias begitu? Hal apa yang sedang ayah lakukan demi ibu? Apa mereka tidak bisa memberitauku?


"... apa ayah dan ibu mengira aku tidak akan bisa membantu mereka sampai ibu bilang hal yang dilakukan oleh ayah untuk ibu adalah rahasia? Memangnya hal apa yang tidak bisa ku lakukan untum ibu?" Gumamku menggerutu kesal karena tak diberitau rahasia yang dimaksud oleh ibu, dan lagi ayahku juga tidak memberitauku meskipun mata kami bertemu tatap selama beberapa detik. Padahal aku sudah menatapnya penuh tanya, berharap dia akan memberitauku mengenai rahasia yang ibu maksud. Tapi dia malah mendelik dan kembali sibuk dengan ponselnya, membuatku berdecih kesal dengan reaksinya itu.


.


.


.


Thanks for reading...