Aster Veren

Aster Veren
Episode 19




-Ansel-


Waktu sudah menunjukan pukul 09:30 malam sekarang, semua tamu undangan mulai meninggalkan kediaman ibu satu persatu.


"Ansel, aku pamit sekarang ya. Selamat ulang tahun ...." Tutur Claretta yang berdiri dihadapanku.


"Maaf tidak bisa mengantarmu pulang." Ucapku merasa sedikit bersalah karena siang tadi aku mengantarkan Kalea ke rumah neneknya karena aku tidak bisa menjaganya.


"Jangan khawatir, aku pulang bersama Ellene." Ucapnya sambil tersenyum dan pergi menemui sahabatnya itu.


Ku alihkan pandanganku kearah Arsel yang berjalan cepat menaiki anak tangga, sepertinya dia sudah bosan berbincang dengan para tamu.


Aster Veren ... bagaimana bisa anak itu memiliki marga yang sama dengan keluargaku? Bukankah dia anaknya Justin? Berani sekali dia memberikan nama keluargaku pada putrinya. Batinku merasa kesal dengan nama yang dimiliki oleh anak yang katanya adalah anak ku.


Tapi kenapa ibu ikut-ikutan mengakui anak itu sebagai cucunya? Apa dia ... sepertinya aku memang harus membaca surat itu. Lanjutku dalam hati sambil memegangi saku jas di dadaku. Aku memang menyimpan surat itu didalam saku jas bagian dalam, tadinya aku ingin menyimpannya di rumah tapi aku urungkan.


"Ansel," suara ibu menghancurkan lamunanku.


"Malam ini tidurlah di rumah ibu, besok pagi baru pulang ke rumahmu." Lanjutnya sambil memegangi bahuku dengan tangan kanannya.


"Tidak bisa, aku akan pulang setelah semua tamu undangan pulang." Tolak ku sambil melihat tamu undangan yang tinggal setengahnya.


"Ansel." Ucap ibu tak ku dengarkan.


"Aku permisi dulu." Tuturku sambil melihat layar heandphoneku yang baru menerima pesan masuk dari Rigel sekertaris pribadiku.


Sepertinya dia sudah menemukan petunjuk mengenai anak yang diadopsi oleh Arsel. Dengan cepat aku membuka pesan masuk itu.


"Sudah saya kirimkan datanya ke email tuan, silahkan di cek." Gumamku saat membaca isi pesannya.


Tanpa membuang-buang waktu akupun langsung memeriksa email masuk yang dikirimkan oleh Rigel. Mataku membelalak terkejut saat melihat data diri Aster dan Helen.


Jadi .... Batinku langsung mengambil surat didalam saku jas ku dan langsung ku baca sampai habis.


Helen ... pantas saja aku tak bisa menemukanmu setahun terakhir ini, ternyata kamu .... Lanjutku dalam hati saat melihat pesan terakhir yang ditulis olehnya dalam sebuah kertas.


"Tapi saat itu kau dan Justin? Bagaimana bisa anak itu ... kau pergi saat sedang mengandung Aster?" Gumamku mencoba untuk mencerna semua tulisan yang ada didalam surat yang ku genggam.


Padahal saat itu jelas-jelas aku melihatmu bersama dengan Justin. Dan sejak aku tau kamu sering bersama pria itu, aku mengirimkan beberapa orang untuk mengawasimu. Tapi informasi yang ku dapatkan kamu sudah menjalin hubungan dengan pria itu.


Lalu semua ini? Apa-apaan surat ini? Kenapa saat itu kamu tidak bilang kalau kamu sedang mengandung? Kenapa kamu merahasiakannya dariku? Kenapa?! Batinku merasa kesal sendiri karena tak terima dengan apa yang ku ketahui sekarang.


Jraaass...


Hujan mulai turun dengan deras, ku lihat para tamu sudah meninggalkan rumah ibu dan menyisakan para pelayan yang sibuk membersihkan ruangan itu. Entah sudah berapa lama aku berdiri diberanda rumah untuk membaca surat ditanganku, aku bahkan tak menyadari kepergian semua orang.


JDAR!


Suara petir terdengar menggelegar bersama cahaya kilat yang menghiasi langit malam ini.


"Sepertinya kamu harus tinggal disini sampai besok pagi, ibu tidak akan mengizinkanmu pulang saat hujan deras seperti ini." Tutur ibu yang sudah berdiri disampingku.


"Kalau begitu aku pergi ke kamarku." Tuturku sambil meremas kertas surat ditanganku dan segera melangkahkan kakiku menjauhi ibu yang berdiri diberanda rumah.


"Kamarmu? Kamu, tunggu Ansel!" Teriak ibu tak ku dengarkan, saat ini aku ingin pergi beristirahat.


Entah kenapa aku merasa kesal lagi padanya saat mengingat kejadian itu, hari dimana ibu mengusirku dengan Helen dari rumahnya. Setelah itu ingatan di hari itu, saat Helen pergi dari rumah tanpa sepatah kata dan meninggalkan sepucuk surat di ruang kerjaku. Aku benar-benar bertambah kesal dua kali lipat karena merasa dikhianati.


Kau bilang akan terus bersamaku apapun yang terjadi, tapi pada akhirnya kau meninggalkanku! Batinku mengeratkan kepalan tanganku yang sudah meremas surat ditanganku hingga tak berbentuk lagi.


"Dan sekarang ... kau meninggalkan seorang anak untuk ku? Kau ingin aku menerima anakmu itu setelah semua yang kau lakukan padaku?" Lanjutku bergumam setelah sampai di depan pintu kamarku.


Prang...


Suara benda jatuh terdengar dari dalam kamarku, dengan cepat aku masuk kedalam untuk memastikan suara yang ku dengar barusan.


"Paman hiks ... paman merah ...." Suara seorang anak yang terduduk dilantai bersama dengan mangkuk bubur dan cangkir yang berserakan di lantai saat aku menyorotnya dengan cahaya.


"Paman!" Ucapnya langsung terjun kedalam pelukanku tanpa melihat siapa yang ada dihadapannya.


"Paman, jangan tinggalin Aster lagi." Lanjutnya dengan tubuh gemetar mengeratkan pelukannya.


Anak ini .... Batinku tak bisa melepaskan pelukannya.


"Paman." Ucapnya lagi saat mendengar suara petir yang menggelegar, "malam ini tidur dengan Aster lagi ya. Aster takut hiks ...." Lanjutnya.


Ku rasakan tubuhnya masih gemetar ketakutan memeluk tubuhku ditambah lagi suhu tubuhnya lumayan panas. Apa dia demam? Batinku bertanya-tanya.


Padahal aku sedang kesal sekarang, tapi kenapa anak ini berada di kamarku? Lanjutku masih dalam hati, dengan ragu ku raih tubuhnya dan menggendongnya, lalu ku langkahkan kakiku menuju tempat tidurku dan membaringkannya diatas tempat tidur itu.


"Paman jangan pergi ...." Lirihnya meraih tangan kananku dan memeluknya dengan erat saat aku berniat untuk pergi mengambil lilin.


"Aster," suara ibu sambil membawa lilin, "Ansel?" Lanjutnya saat melihatku yang sudah duduk disamping tempat tidurku sendiri dengan tangan Aster yang memeluk tangan kananku.


"Ibu tinggalkan lilinnya disini ya." Bisik ibu dengan senyum tipisnya yang terlihat seperti sedang menggodaku dan langsung pergi begitu saja tanpa banyak bicara.


Sekarang apa yang harus ku lakukan? Bicara padanya? Batinku setelah menghela napas lelah.


"Ugh ...." Gumamnya saat mendengar suara petir.


Sepertinya dia takut dengan suara petir. Batinku kembali merasakan tangannya yang gemetaran dan mempererat pelukannya.


"Paman kapan hujannya berhenti?" Tanyanya dengan mata tertutup, "Aster ...." Lanjutnya terhenti membuatku penasaran dengan apa yang akan dikatakannya.


Lalu dengan ragu ku elus keningnya selembut mungkin, mencoba untuk menghilangkan rasa takutnya dengan caraku. Tiba-tiba saja aku ingin melakukan hal itu.


Untuk sekarang kesampingkan dulu rasa kesalku ... tapi kenapa? Padahal aku tak berniat untuk menerimanya sebagai putriku, aku juga belum bisa percaya kalau anak ini adalah anak kandungku dengan Helen, tapi perasaan ini? Batinku bertanya-tanya dengan apa yang ku rasakan sekarang.


"Paman ... apa–ayah membenci Aster?" Tanyanya membuatku terkejut, "A–apa Aster bukan anak ayah? Apa ... Aster anaknya paman Justin?" Lanjutnya masih dengan mata terpejamnya.


"As–ter ...." Gumamku terhenti saat merasakan tangannya semakin erat memeluk tanganku ketika suara petir itu kembali menggelegar.


"Apa itu artinya paman merah bukan paman Aster lagi? Ayah yang paman bilang adalah ayahku, dia tidak mau mengakuiku. Itu artinya Aster bukan putrinya kan? Lagipula Kalea itu putrinya ayah kan? Hha–ha... padahal ayah bukan ayahku tapi aku masih memanggilnya ayah, bukankah itu aneh? Paman ... apa paman mau mengantarkan Aster ke rumah bi Siti lagi? Tapi kalau Aster kembali, Aster akan merepotkan bi Siti dan paman Zaenal lagi. Rumah tempat Aster tinggal juga sudah dijual, ibu dan nenek sudah pergi jauh meninggalkan Aster ... Aster tidak tau harus pergi kemana sekarang. Aster tidak bisa tinggal dengan paman lagi kan? Meski Aster senang karena paman bilang mau menjadi ayah Aster, Tapi ...." Ocehnya panjang lebar dengan sorot mata ungunya yang sempat menatap lurus kearah pintu kamar, lalu kembali memejamkan matanya saat buliran bening itu keluar dari matanya.


Helen .... Batinku saat melihat manik ungu yang dimiliki anak itu, bahkan aku merasa sesak sekarang saat mendengar penuturannya dan air matanya yang membasahi lengan jasku, untuk sesaat aku ingin memeluknya tapi kesadaranku masih berfungsi dengan baik, jadi aku tidak melakukannya dan terus menahan diriku.


Dia bukan putriku. Batinku kembali mengingatkanku yang masih ragu untuk mempercayainya sebagai anak ku.


Hening ... aku tak bisa mengatakan apapun padanya dan malah sibuk bergelut dengan pikiranku sendiri.


Entah sudah berapa lama kami terdiam. Mungkin saja anak ini sudah tertidur, suara hujan samar-samar mulai mereda. Suara petir pun sudah hilang, hanya tersisa cahaya kilatnya saja.


"Paman? Kenapa paman diam saja?" Tanyanya membuatku terkejut.


.


.


.


Thanks for reading...