Aster Veren

Aster Veren
Episode 28




-Ansel-


Pagi ini Arsel pulang dari pekerjaannya bersama dengan Eric. Dengan cepat aku menarik tangan Arsel dan membawanya ke ruang kerjanya untuk membahas soal Aster.


Baru semalam aku memikirkan banyak hal untuk ditanyakan padanya, tak ku sangka dia akan pulang secepat ini. Batinku.


"Kau benar-benar–" Ucapnya segera ku hentikan dengan melepaskan tangannya dan menutup pintu ruang kerjanya serapat mungkin.


"Kenapa kau tidak memberitauku soal penyakit Aster yang mirip dengan penyakit ayah?" Tanyaku tak ingin banyak berbasa-basi dengannya.


Ku lihat pupil matanya melebar dan ekspresi terkejutnya juga tergambar jelas diwajahnya.


"Kau? Apa Aster–" Tanyanya segera ku potong dengan anggukan cepatku.


"Kemarin penyakitnya kambuh dan aku membawanya ke rumah sakit. Tapi kenapa kau tidak memberitauku hal sepenting ini?" Jelasku tak bisa terima dengan tindakannya.


"Aku memang berniat memberitaumu, tapi melihatmu yang tak bisa menganggap Aster sebagai putrimu ... apa aku bisa memberitaumu? Apa kau akan bersikap iba padanya?" Tuturnya terdengar kesal sambil melipat kedua tangannya dan menatapku dengan sinis.


"Aku tak bisa membuat Aster terluka lagi setelah dia mendengar pembicaraan kita di rumah ibu. Anak sekecil dia ... kenapa harus merasakan penolakan seperti itu dari orang tuanya? Padahal kebanyakan anak menerima kasih sayang dari orang tuanya. Dan lagi kau malah menyayangi putri orang lain dan terang-terangan menunjukan keperdulianmu dihadapan putrimu sendiri. Ayah macam apa kau ini?!" Lanjutnya lagi mengeluarkan isi pikirannya tentangku.


Yah dia benar ... aku tak bisa menyangkal ucapannya itu. Aku memang sudah menyayangi Kalea seperti putriku sendiri karena sejak kecil aku sudah membantu Claretta membesarkan Kalea. Batinku mengingat semua kenanganku saat bermain bersama Kalea.


"Maaf ...." Ucapku sambil menundukan kepalaku dan mengepalkan kedua tanganku, entah kenapa aku merasa kesal pada diriku sendiri saat mengingat semua penolakanku pada Aster.


"Hah?" Gumamnya dengan suara terkejutnya.


"Aku sangat bodoh sampai-sampai tak bisa melihat kenyataan didepan mataku sendiri." Lanjutku sambil mengingat cincin pernikahan Helen yang dikalungkan dileher Aster, album foto yang ku lihat semalam, lalu surat hasil tes DNA yang sudah disiapkan beberapa tahun lalu.


Bahkan manik ungu dan rambut hitam yang dimilikinya sudah cukup bagiku untuk mengakuinya sebagai putriku, tapi aku tidak melakukannya .... Batinku merasa sakit jauh didalam hatiku.


"Kau baru menyadari dirimu bodoh kakak?" Sindir Arsel membuatku kesal saat tersadar dari lamunanku.


"Jadi bagaimana sekarang? Kau mau mengakuinya sebagai putrimu?" Lanjutnya bertanya.


"Sebelum itu aku harus memberitaunya soal rencana pernikahanku dengan Claretta." Tuturku merasa ragu.


"Kau! Apa kau berniat menikahi wanita itu?" Tanya Arsel lebih terkejut dari sebelumnya.


"Aku sudah berjanji akan menjaga mereka jadi–" Jelasku segera dihentikan oleh cengkraman tangannya yang mencengkram erat kerah kemejaku.


"Kau ingin menjadikan Kalea sebagai saudara tiri Aster?" Tanyanya dengan suara beratnya.


"Kau ingin membagi kasih sayangmu dengan anak orang lain?" Lanjutnya lagi membuatku tak bisa berkutik. Apalagi saat mengingat cerita Arsel soal Aster yang sudah hidup sendirian semenjak Helen dan ibunya meninggal.


"Ku pikir dia akan senang karena memiliki saudara. Dan lagi ... bukankah anak seusianya masih membutuhkan sosok seorang ibu?" Gumamku membuatnya melepaskan kerah kemejaku dengan kasar.


"Eric! Masuklah." Ucapnya membuatku bingung.


Kemudian aku melihat Eric yang berjalan masuk mendekati Arsel setelah menutup pintu ruangannya.


"Berikan informasi yang kau tau soal Claretta dan anaknya itu." Tutur Arsel sambil duduk diatas sofa yang tak jauh dari tempatku berdiri.


"Seperti yang tuan minta. Saya sudah menyelidiki latar belakang nona Claretta baru-baru ini. Selain itu saya juga mendapat informasi penting dari nyonya Marta soal keluarga nona Claretta." Ucapnya membuatku kesal tanpa sebab.


"Semua informasi yang saya dapat dari hasil pencarian saya semuanya cocok dengan informasi yang diberikan nyonya pada tuan. Intinya nona Claretta ingin memanfaatkan nama keluarga Veren untuk memperbaiki reputasinya," jelas Eric terhenti saat mendengar Arsel menghela napas letihnya.


"Dia berencana mendapatkan nama Veren melalui pernikahan ya ... bagi keluarga yang tak memiliki nama marga sepertinya. Bukankah dia terlalu menganggap remeh keluarga Veren?" Gumamnya sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa.


"Lanjutkan." Lanjutnya meminta Eric untuk melanjutkan pejelasannya.


".... Ibu tenang saja, aku sudah bisa mengendalikan Ansel. Dan dia setuju untuk menikah denganku demi Kalea." Suara Claretta mengejutkan Arsel begitupun denganku.


Mengendalikan? Dia? Maksudnya mengendalikanku? Batinku bertanya-tanya dengan apa yang ku dengar.


"Kau harus begerak cepat sebelum dia menyayangi anaknya ...." Kali ini aku mendengar suara yang dia panggil sebagai ibu.


"Aku sedang mengusahakannya, ibu tidak perlu khawatir soal itu ... lagipula sifat Ansel sangat dingin pada anak itu."


"Jadi soal dia yang tidak mengakui putrinya itu benar ya? Baguslah kalau begitu, kesempatanmu untuk menjadikan Kalea sebagai penerus keluarga Veren bisa berjalan dengan mulus."


"Yah semoga saja mulus sampai akhir ...."


"Tapi aku masih tidak percaya dengan kemunculan anak itu ... Helen benar-benar menyembunyikannya dengan baik ya."


"Begitulah yang saya dengar saat sedang mengikuti mereka." Ucap Eric setelah rekamannya habis.


"Jadi dia berniat menjadikan anaknya sebagai penerus keluarga Veren?" Guman Arsel terlihat kesal.


Dia sudah merencanakan semuanya? Selama ini? Batinku merasa terkejut sampai tak bisa berkata-kata.


"Selama ini nyonya sudah mengetahui rencana keluarga Claretta yang terus menempel pada tuan Ansel. Itulah kenapa nyonya selalu mendesak tuan untuk segera menikah dengan wanita pilihannya. Tapi tuan selalu menolaknya dan memilih untuk melindungi nona Claretta." Tutur Eric sambil meraih ponselnya dan memasukannya kembali kedalam saku jas abu yang dikenakannya.


"Jadi karena itu ibu tiba-tiba menerima Aster sebagai cucunya? Yah, tidak salah juga." Gumam Arsel sambil memijat keningnya.


"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? Menikah dengan wanita itu? Atau merawat putrimu?" Lanjutnya bertanya membuatku semakin bingung dengan keputusan yang akan ku ambil.


"Jika tuan Ansel tetap kukuh untuk menikah dengan nona Claretta, maka nyonya akan mencabut nama Veren dari tuan. Itulah pesan yang saya terima dari nyonya sebelum kembali kesini bersama dengan tuan Arsel." Tutur Eric membuatku berpikir keras, pasalnya aku sudah terlanjur menyayangi Kalea. Anak yang menginginkanku menjadi ayahnya.


"Aku ragu wanita itu mau melanjutkan pernikahan denganmu setelah nama Veren menghilang darimu." Gumam Arsel sambil menghela napas dan menumpangkan salah satu kakinya pada kaki lainnya.


"Berikan aku waktu untuk memikirkan semuanya." Ucapku setelah susah payah mencari jawaban yang masih buram dikepalaku.


"Terakhir, sepertinya ... nona Aster tidak akur dengan nona Kalea." Ucap Eric mengejutkanku dan langsung melirik kearahnya yang masih berdiri disamping Arsel.


"Aku sudah meminta supir tuan muda untuk mengawasi nona Aster sejak nona mendapatkan luka dilututnya. Sejak melihat nona yang selalu terluka seperti itu, saya mulai merasa curiga ada yang disembunyikan oleh nona dari tuan muda. Jadi saya melakukan tindakan ini," jelasnya terlihat begitu serius.


"Jadi apa yang kau tau?" Tanya Arsel mewakili rasa penasaranku.


"Sepertinya nona diganggu oleh anak-anak di kelasnya, dan semua itu disebabkan oleh nona Kalea yang merasa iri pada bakat nona Aster. Baru-baru ini Hana memberitauku kalau nona terluka lagi saat kembali dari sekolah." Jawabnya membuatku terkejut setengah mati.


"Omong kosong macam apa itu? Bagaimana bisa Kalea bersikap jahat seperti itu? Kau pasti salah orang." Tuturku merasa tak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Ck, kau masih saja membela anak itu. Tidak bisakah kau tunjukan sedikit rasa khawatirmu pada putrimu sendiri?" Decak Arsel yang langsung bangkit dari posisi duduknya.


"Aku akan menanyakannya langsung pada Hana." Lanjutnya sambil berjalan meninggalkan ruang kerjanya.


"Sebaiknya tuan juga mengawasi tindakan nona Kalea diam-diam. Jika tuan muda mengetahui memar di punggung nona Aster, saya tidak tau apa yang akan dia lakukan pada nona Kalea." Tutur Eric sebelum meninggalkanku di ruang kerja Arsel.


"Memar di–punggung? Aster ... apa yang anak itu lakukan sampai melukai Aster seperti itu?" Gumamku merasa kesal karena tidak mengetahui sifat asli Kalea, selain itu aku juga merasa kesal karena putriku diperlakukan buruk olehnya meski aku tidak begitu mempercayai ucapan Eric.


Tapi ... apa itu semua benar Kalea? Batinku bertanya-tanya.


.


.


.


Thanks for reading...