Aster Veren

Aster Veren
Episode 156




-Teo-


Aku benar-benar sangat terkejut dengan apa yang ku dengar. Mulutku sampai tak bisa berkata-kata saat tau alasan Aster tiba-tiba berhenti dari akademi dan memutuskan untuk mengambil home schooling lagi.


Ternyata tuan Ansel mengalami kecelakaan di hari yang sama dengan kepergian ibunya Carel? Jadi itu alasan kak Dwi membohongi Carel? Supaya anak itu tidak panik dan nekat pergi ke Singapura untuk menyusul Aster? Lalu saat ini tuan Ansel masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma?


Dan Aster ... anak ini sampai harus mengurus perusahaan ayahnya disaat kondisinya sedang tidak baik-baik saja? Seperti yang dikatakan oleh Hans ..., batinku melirik pergelangan tangan Aster yang terlihat kurus.


"Hah~ mau sebanyak apalagi hal yang mau kau rahasiakan dari Carel?" Ucapku kemudian setelah menghela napas panjang.


"Coba saja beritahu dia jika kau ingin kabarku hilang." Tuturnya membuatku berkeringat dingin.


"Apa maksudnya kau akan pergi menemui ayahmu lagi?" Tanyaku berusaha mencairkan suasana.


"Entahlah, perusahaan ayah kan bukan hanya ada di sini dan di Singapura saja." Gumamnya membuatku bungkam, dia memang benar.


"Kita sudah sampai nona." Ucap Hans membuatku melihat ke luar, menatap gerbang akademi yang sudah terkunci.


Ya, Aster meminta Hans untuk mengantarku kembali ke akademi. Dan saat ini waktu sudah menunjukan pukul 11:50 malam, entah Aster akan sampai pukul berapa di kediamannya. Dia bahkan terlihat sangat kelelahan sekarang.


"Kalau begitu, aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik." Ucapku sebelum keluar dari dalam mobil.


"Kau juga." Balasnya.


"... sekarang, bagaimana caraku bisa masuk?" Gumamku memperhatikan gerbang akademi yang menjulang tinggi dihadapanku.


"Mau saya bantu?" Tanya Hans yang ternyata sudah mengekoriku dari belakang. Sepertinya Aster memintanya untuk membantuku.


***


Ku buka pintu kamar dihadapanku dengan perlahan, berharap tidak mengeluarkan suara deritan sedikitpun. Bukan apa-apa, hanya saja aku masuk ke asrama secara diam-diam karena menolak tawaran Hans. Padahal dia menawarkan diri untuk bertemu dengan pemilik asrama untuk menjelaskan situasi ku.


"Akhirnya kau sampai juga." Dengus Carel yang tengah duduk di kursi belajarnya.


Dengan cepat aku masuk kedalam kamar dan menguncinya. "Kenapa kau meninggalkanku?" Tanyaku nyaris berteriak, namun dengan cepat ku pelankan suaraku saat menyadari hari masih cukup gelap untuk orang sepertiku berteriak. Bisa-bisa orang di kamar sebelah terbangun dan memarahiku.


"Mana heandphone ku?" Tanyanya membuatku segera melemparkan heandphone ditanganku kepadanya, dengan cekatan dia berhasil menangkapnya.


"Kau mau menggantinya jika heandphoneku rusak hah?" Dengusnya terlihat menyebalkan.


"Mana punyaku?" Tanyaku membuatnya membalas perbuatanku, dengan tatapan jahilnya anak itu melemparkan heandphone ku kearahku, nyaris tak tertangkap. Kekanakan memang.


Tapi jika melihatnya bersikap seperti itu, entah kenapa aku merasa sedikit lega. Mungkin karena aku bisa melihat amarahanya sedikit mereda setelah dibiarkan sendirian.


Tapi jika mengingat penjelasan Aster, rasanya tidak adil jika Carel tidak diberitahu dan menganggap dia sebagai orang jahat. Padahal di hari yang sama, mereka sama-sama merasakan sakit dan kehilangan.


Yang satu kehilangan ibunya untuk selamanya, dan yang satunya kehilangan sosok ayah yang sedang dalam keadaan koma dan tidak tau akan sadarkan diri kapan? Tapi semoga saja, tuan Ansel bisa segera bangun. Dengan begitu, Aster tidak perlu menambah kebohongannya pada Carel lagi.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Carel membuat lamunanku buyar.


"Tidak ada, aku sangat lelah sekarang. Jangan ganggu aku oke!" Ucapku sambil menghempaskan tubuhku keatas tempat tidurku.


"Terserah." Dengusnya kembali memperhatikan layar heandphonenya.


***


-Aster-


Ku hela napas panjang setelah berhasil menyelesaikan setengah pekerjaan, lalu ku sandarkan tubuhku pada sandaran kursi kerja ayah. Memperhatikan ruang kerja ayah yang terlihat sepi tanpa kehadirannya. Padahal biasanya aku selalu mengganggunya di ruangan ini. Tapi hari ini, aku sendirian di ruangan ini.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu membuatku kembali membenarkan posisi duduk ku, lalu ku lihat kak Mila masuk dengan satu cangkir teh yang mengepul ditangannya, dan satu piring sandwich yang terlihat menggoda.


"Saya membawakan sarapan pagi untuk nona, sebaiknya nona beristirahat dulu sebelum melanjutkan pekerjaan nona. Saya juga sudah menyiapkan air mandi untuk nona." Tuturnya membuatku melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 06:30 pagi.


Ternyata hari sudah pagi, ku kira hari masih gelap karena aku terlalu fokus dengan pekerjaanku. Hari ini aku memiliki jadwal pertemuan dengan beberapa orang di luar, dan tidak memiliki jadwal belajar atau mudahnya, aku memiliki waktu libur hari ini. Tapi tidak dengan pekerjaan ayah, jadi aku harus bergegas.


"Terima kasih, aku akan mandi setelah selesai sarapan." Ucapku segera meraih sandwich dihadapanku.


"Baik nona, kalau begitu saya pamit undur diri dulu." Tuturnya sebelum pergi dari hadapanku.


Ku regangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku dan pegal, lalu kembali menghabiskan sarapan pagi ku sebelum pergi mandi.


Setelah selesai sarapan, aku langsung pergi mandi dibantu oleh kak Mila.


Sebenarnya aku ingin mandi sendiri, tapi aku terlalu malas untuk melakukannya. Apalagi aku dalam keadaan sangat lelah sekarang, aku takut jika tanpa sadar aku ketiduran di kamar mandi, dan tenggelam saat aku sedang berendam. Tidak lucu kan jika aku harus dikabarkan mati saat sedang mandi.


"Aku suka aromanya ...," gumamku mencium aroma mawar yang menyeruak dari air mandiku.


"Aku akan pulang terlambat lagi, jadi tolong urus rumah dengan baik ya." Lanjutku pada kak Mila yang sedang memijat kepalaku, membuat rasa kantuk ku semakin menjadi.


"Baik nona, jangan khawatir. Saya pasti akan mengurus rumah dengan baik." Tuturnya masih memijat kepalaku dengan lembut.


"Apa ... lingkaran hitam dibawah mataku sangat terlihat jelas?" Lanjutku bertanya, membuat kan Mila menghentikan pijatannya dan fokus menatap mataku.


"Sedikit, akan saya tutupi dengan baik menggunakan make up nona." Jawabnya sambil menunjukan senyuman terbaiknya.


"Benar. Semuanya bisa diatasi." Gumamku lagi kembali memejamkan mataku, menikmati pijatan kak Mila. Ternyata basa-basiku tidak bertahan lama, padahal aku ingin banyak berbicara supaya rasa kantuk ku hilang. Tapi yang ku dapatkan hanya obrolan singkat.


Dan lagi, jika kita sedih, kita bisa menutupinya dengan kebahagiaan palsu, jika sakit kita bisa berpura-pura sehat juga. Bahkan untuk urusan wajahpun, semuanya bisa ditutupi oleh make up. Ibunya Carel pun, saat dia sakit. Dia menggunakan make up untuk menutupi wajah pucatnya kan?


Jadi kenapa aku harus khawatir hanya karena lingkaran hitam dibawah mataku?


***


"Sudah selesai nona." Ucap kak Mila setelah selesai membantuku bersiap.


Ku lihat pantulan diriku di cermin, terlihat cukup baik dengan pakaian formal dan rambut pendek sebahu ku. Apalagi lingkaran hitam dibawah mataku juga sudah menghilang karena make up yang diberikan oleh kak Mila.


Apa? Rambutku? Ya, aku memotongnya beberapa hari yang lalu karena merasa panas dan ribet.


"Memang ya, semuanya tidak ada hal yang tidak bisa ku atasi." Gumamku sambil meraih tas kecil hitam berisi heandphone di atas meja riasku.


"Aku pergi sekarang." Lanjutku pada kak Mila yang mengekoriku dari belakang.


"Selamat jalan nona, hati-hati di jalan." Tuturnya mengantar kepergian ku.


.


.


.


Thanks for reading...