Aster Veren

Aster Veren
Episode 215




-Carel-


"Panggilkan dokter cepat!" Titahku memasuki kediaman Albert dengan tergesa-gesa.


Ku lihat beberapa pelayan mulai berlarian memasuki kediaman Albert, satu di antaranya mengantarku ke salah satu ruangan untuk membaringkan Aster. Yang lainnya mungkin sibuk menyiapkan pakaian ganti, air dan lainnya.


"Ada apa Carel?" Suara paman Arsel terdengar khawatir.


"Aster—" Jawabku terhenti saat paman sudah berjongkok di samping Aster yang terbaring di atas tempat tidur, ku lihat dia mulai berdiri menopang tubuhnya dengan kedua lututnya, lalu tangannya meraih tangan Aster dan menggenggamnya dengan erat.


"Apa ... apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Lanjutnya terdengar sedikit bergetar.


"Aku tidak tau, tapi seseorang sudah menemukannya dalam kondisi seperti ini." Jelasku sambil mengepalkan kedua tanganku dengan kesal.


Lagi-lagi, aku terlambat ...,


"Arsel!" Kali ini suara Albert memasuki ruangan diikuti oleh seorang dokter pria dibelakangnya.


"Apa yang—Aster?" Ucapnya kemudian, terlihat terkejut dengan apa yang dia lihat, "cepat periksa anak itu!" Lanjutnya memerintahkan dokter dibelakangnya.


"Kalau begitu, tolong kalian tunggu di luar sebentar. Biarkan saya memeriksa nona."


"Tidak! Biarkan aku di sini." Ucapku bersamaan dengan paman Arsel.


Ku lihat dokter itu tak membalas ucapan kami lagi, dia mulai fokus dengan pekerjaannya. Aku tidak tau dia dokter yang dipanggil dari luar atau dokter pribadi yang dipekerjakan Albert di kediamannya, yang pasti dia bekerja dengan cukup lihai.


***


Satu minggu sudah Aster di rawat di kediaman Veren, setelah hari itu. Besok paginya pak tua langsung membawa Aster kembali ke kediaman Veren dan memperkerjakan seorang dokter dan beberapa perawat untuk mengurus Aster di kediamannya.


Dan dalam waktu satu minggu, aku juga sudah mendengar kejadian sebenarnya dari paman Arsel. Dia bilang yang menembak Aster malam itu adalah Rigel, lalu Hans yang sempat salah mengira dan berteriak memanggil Aster dengan sebutan "nona" juga ternyata bukan halusinasi semata.


Kalea yang terlihat syok saat melihat kondisi Aster juga tak bisa mengatakan apapun, yang bisa dia lakukan hanya menangis sepanjang malam. Teo yang ada bersamanya langsung membawanya pergi untuk menenangkannya. Sedangkan pak tua itu, dia tidak beranjak dari tempatnya sedikitpun. Dengan setianya dia terus menemani Aster semalaman sampai dia membawa Aster kembali ke kediaman Veren.


Dilihat dari ekspresinya, ada sedikit rasa lega dan penyesalan yang begitu kentara. Mungkin otaknya sudah mulai berfungsi dengan baik setelah ingatannya pulih, dan sekarang setelah melihat Aster masih hidup, perasaan bersalahnya itu semakin menjadi, apalagi dengan kondisinya saat ini.


Aku tidak bisa mengatakan aku memahaminya, tapi aku juga merasakan hal yang sama karena gagal menyelamatkannya satu kali. Lalu hari ini pun, jika aku tidak berpapasan dengan Dean, mungkin aku akan gagal menyelamatkannya lagi. Meski begitu, aku juga tidak merasa puas dengan situasi saat ini, biar bagaimanapun aku terlambat menyelamatkannya lagi. Itulah kenapa Aster sampai terluka seperti ini.


Aku benar-benar tidak berguna, seandainya fokusku tidak teralihkan pada hal lain. Mungkin aku bisa menemukannya lebih cepat sebelum si br*ngsek Rigel itu berani melesatkan tembakannya pada Aster.


Ah soal aku mengetahui Rigel yang menembak Aster, aku mendengar rinciannya dari Hans dan orang-orang yang datang bersama dengan pak tua itu. Tapi Hans tidak terlalu jelas melihat sosok Aster dalam kegelapan di pinggiran hutan, itulah kenapa dia mengatakan mungkin salah lihat padaku saat aku menemuinya.


"Cepatlah sadar Aster ...," gumamku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya dengan hati-hati, lalu mulai mencium telapak tangannya selembut mungkin. Sebelum beralih mengelus wajah pucatnya.


"Bagaimana kondisinya sekarang?" Suara kak Wanda mengejutkanku, ku lihat dia sudah berdiri di sampingku dengan sorot mata khawatirnya—menatap Aster dengan serius.


"Belum ada tanda-tanda akan bangun." Jawabku setelah menggelengkan kepala dengan lesu, lalu menyenderkan tubuhku pada senderan kursi yang ku duduki.


Seandainya ada cara untuk menukar posisiku denganmu sekarang. Aku pasti sudah menukarnya ... aku benar-benar tidak tahan melihatnya yang terus terbaring tak sadarkan diri seperti ini. Tidak kah kamu ingin segera sadar dan bertemu denganku Aster?


***


-Dean-


"Ada apa dengan ekspresimu itu Sarah?" Tanyaku saat melihat ekspresi murungnya itu.


"Aku ... tidak kah kau merasa kesal pada Faren Dean? Dia sudah membohongi kita, menyamar menjadi anak laki-laki seperti itu dan ...,"


"Dan?" Kernyitku karena tidak bisa mendengar kelanjutan dari ucapannya.


"Di—dia putri Veren yang memalsukan kematiannya itu. Lalu tiba-tiba dia menghilang dan kembali ke keluarganya tanpa berpamitan dulu pada kita. Bisa-bisanya dia bersikap sejahat itu. Padahal aku, aku ...," Lanjutnya sebelum Isak tangisnya tumpah.


Aku mengerti kenapa dia bisa bereaksi seperti itu, aku juga tidak menyukainya karena aku terlambat mengetahui identitasnya. Lalu dalam kedilemaan ingin memastikan semuanya, tiba-tiba aku melihat Faren—tidak maksudku Aster, aku melihatnya dalam kondisi yang mengerikan. Dan saat aku berniat untuk menolongnya tiba-tiba anak itu muncul dan merebut Aster dariku.


Kemudian dia bilang kekasihnya ... kenapa aku malah kesal sekarang? Batinku merasa kesal sendiri dengan ekspresi pria yang ku lihat malam itu.


"Aku juga tidak menyangka kalau Yuna mengetahui identitas Faren yang sebenarnya. Bisa-bisanya dia merahasiakannya seorang diri seperti itu. Rasanya benar-benar tidak adil." Ocehnya sambil menghapus air matanya.


"Benar, aku juga sangat terkejut saat mendengar cerita Yuna malam itu. Pantas saja dia sangat lengket dengan Faren daripada denganku, ternyata dia tau kalau Faren itu perempuan. Padahal selama ini dia tidak pernah sedekat itu dengan teman-teman priaku yang lainnya." Sambunganku setelah menghela napas panjang dan memperhatikan langit cerah siang ini.


Kalau harus diingat, kira-kira sudah satu minggu aku tidak melihat Aster, paman Tesar dan bibi Nina. Tokonya juga terus tutup selama satu minggu itu ... kira-kira bagaimana kondisimu sekarang ya Aster? Batinku tak bisa membayangkan kondisinya setelah melihatnya tumbang dengan luka dibagian dadanya malam itu.


Aku juga merahasiakannya dari Sarah supaya dia tidak merasa khawatir. Untungnya tidak ada berita soal malam itu yang beredar, mungkin keluarganya tidak ingin berita soal kondisi putrinya beredar.


"Ngomong-ngomong kemana perginya paman Tesar dan bi Nina? Apa mereka ikut pergi bersama Faren? Maksudku Aster?" Tanya Sarah membuat pandangan kami bertemu tatap bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuh kami.


Aku yang sudah lelah duduk di rumput langsung membaringkan tubuhku dan menjadikan kedua tanganku sebagai bantalan kepalaku. "Aku tidak tau."


"Begitu ya?" Gumamnya kembali memasang ekspresi murungnya.


.


.


.


Thanks for reading...