Aster Veren

Aster Veren
Episode 11



"Saat nona sudah terlelap, saya melihat raut wajahnya yang begitu mengkhawatirkan. Jika biasanya orang-orang akan terlelap dengan wajah damai mereka, nona Aster malah terlelap dengan wajah gelisahnya. Dan detik berikutnya dia kembali terbangun dengan sorot mata ketakutannya, mungkin tuan muda juga akan mengerti jika memperhatikan nona yang sedang tidur. Yang terlintas pasti nona Aster sedang bermimpi buruk tapi ...." Lanjutnya panjang lebar membuatku tak bisa mengabaikan apa yang ku dengar.


"Tapi itu ingatan buruk masa lalunya. Nona Aster langsung tersenyum miris saat melihat saya duduk disampingnya, lalu nona mulai menceritakan mimpi buruknya sambil menangis. Dia bilang setiap kali matanya terpejam bayangan tangan pria dewasa yang mencekik lehernya selalu hadir dalam ingatannya, itulah kenapa dia selalu takut untuk pergi tidur. Dan lagi dia bilang pria itu memang pernah ingin menghabisinya setelah kepergian neneknya, pria itu ... pernah tinggal bersamanya." Jelasnya lagi membuatku terkejut setengah mati dan mengingat soalnya yang terbangun kemarin malam.


"Jadi kemarin itu dia ...." Gumamku sambil memijat keningku yang mulai berdenyut.


"Tuan? Apa menurut tuan mimpi buruknya nona adalah jelmaan dari traumanya? Aku ... aku benar-benar tak bisa membayangkan ...." Tanya Hana mulai terisak.


Aku bahkan tak bisa berkata apapun sekarang, otak ku masih mencerna semua cerita yang ku dengar dari Hana. Dan sekarang mataku tertuju pada sosok Aster yang sudah keluar dari dalam kamarnya dengan sorot matanya yang tak bisa ku jelaskan.


"Aster." Gumamku membuat Hana segera menyeka air matanya dan menoleh kearah Aster berdiri, sepertinya kesadarannya belum pulih sepenuhnya.


"Aster?" Suara Hana membuatnya segera berjalan mendekati kami yang masih duduk di sofa ruang tengah.


"Ada apa? Mimpi buruk lagi?" Lanjut Hana dengan tatapan sendunya dan gadis kecil itu hanya bisa menganggukan kepalanya lemah.


Dilihat dari sudut manapun dia masih ngantuk dan mencoba untuk tetap terjaga. Aster ... apa yang kamu lalui selama ini? Batinku memperhatikannya.


"Hana, tolong buatkan coklat panas untuk Aster. Aster sini duduk." Ucapku sambil menepuk ruang kosong disampingku bersama kepergian Hana yang sudah menganggukan kepalanya.


"Paman belum tidur? Apa paman kerja lembur lagi?" Tanyanya setelah duduk disampingku.


"Tidak, hari ini pekerjaanku sudah selesai. Aster sendiri kenapa bangun jam segini?" Tanyaku sambil melirik jam dinding yang menunjukan pukul 09:15 malam.


"Aster mimpi buruk?" Lanjutku bertanya membuatnya mengangguk lesu.


"Mau tidur bersamaku malam ini?" Tanyaku membuatnya menengadah.


"Boleh?" Tanyanya dengan sorot mata berbinarnya membuatku tersenyum gemas melihatnya.


***


Setelah menghabiskan coklat panas buatan Hana dan berbincang bersamanya selama beberapa menit. Akhirnya aku mengajak Aster untuk pergi tidur mengingat dia harus pergi sekolah besok.


Ku elus kepalanya yang tertidur sambil memeluk tubuhku dengan erat, berharap bisa menghilangkan mimpi buruknya.


"Paman?" Suaranya membuatku menatapnya dan mengalihkan pandanganku dari langit-langit kamar.


"Tidurlah, aku tidak akan pergi. Besok kamu harus pergi ke sekolah kan? Eric bilang besok ada acara pentas seni di sekolahmu–" Tuturku terpotong.


"Paman Eric memberitau paman?" Tanyanya membuatku terkekeh.


"Iya, soalnya Aster tidak mau memberitauku, jadi aku menyuruh paman Eric mencaritaunya untuk ku. Dan lagi kenapa kamu tidak memberitauku? Apa kamu takut merepotkanku? Atau kamu takut aku tak bisa datang?" Jawabku sambil mencubit hidung mancungnya dengan gemas.


"Yah–aku memang takut ...." Tuturnya membuatku segera memeluk tubuhnya dengan erat dan itu membuatnya berhenti bicara.


"Aster ... aku sudah bilang kan kalau sekarang aku walimu? Jadi kita adalah keluarga, kamu tidak perlu sungkan untuk merepotkanku. Dan lagi ... begini-begini aku ini pamanmu." Jelasku membuatnya menengadah bersama tangan mungilnya yang meremas pakaianku.


Lalu ku lihat buliran bening di matanya mulai berjatuhan, "A–ada apa? Kenapa kamu menangis?" Lanjutku merasa salah bicara.


"Paman? Jadi sekarang Aster punya paman?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Tentu saja ... ka–kamu juga punya seorang ayah dan satu nenek lagi." Jawabku sambil mengalihkan pandanganku kesembarang arah.


"Benarkah?" Tanyanya membuat pandanganku kembali tertuju pada sorot matanya yang berbinar.


"Benarkah Aster punya ayah juga seperti teman-teman Aster yang lainnya? Paman tidak bohong kan?" Lanjutnya menatapku penuh harap membuatku tak bisa berbohong padanya.


"Apa Aster bisa bertemu dengan ayah Aster?" Tanyanya lebih antusias dari yang ku duga.


"Hem ... bagaimana ya?" Gumamku sambil melirik jahil kearahnya, ku lihat wajahnya penuh dengan rasa ingin tau yang tak bisa ku gambarkan.


"Sayangnya kalau kamu tidak cepat-cepat tidur, ayahmu mungkin tak mau menemuimu ...." Lanjutku membuat sorot matanya kembali meredup.


"Kenapa? Apa ayah membenci Aster?" Tanyanya membuatku tertohok.


"Bu–bukan begitu, maksudku itu. Ayahmu tak mau menemuimu karena kamu tidak mau pergi tidur sekarang, dan jika kamu semakin larut tidurnya bisa-bisa nanti kamu punya lingkaran hitam dibawah matamu, seperti panda. Nanti ayahmu tidak bisa mengenalimu." Jelasku melantur.


"Benarkah? Kalau begitu Aster harus tidur sekarang ... tapi paman tidak akan pergi kan?" Tuturnya sedikit bersemangat dan kembali membenamkan wajahnya di dada bidangku yang memang tidur dengan posisi menyamping menghadapnya.


"Tidurlah ...." Bisik ku kembali memeluk tubuh mungilnya itu sambil menciumi puncak kepalanya.


***


-Aster-


Malam ini aku kembali terbangun karena mimpi buruk ku, lalu aku memutuskan untuk pergi mengambil air minum di dapur. Namun saat keluar dari kamar, aku melihat paman merah sedang berbincang dengan kak Hana di ruang tengah.


Kemudian aku menghampiri mereka saat mendengar kak Hana memanggil namaku dengan sorot mata khawatirnya, bahkan paman merah juga menatapku dengan tatapan yang sama seperti yang ditunjukan kak Hana.


"Ada apa? Mimpi buruk lagi?" Tanya kak Hana membuatku mengangguk lesu.


"Hana, tolong buatkan coklat panas untuk Aster. Aster sini duduk." Ucap paman merah sambil menepuk ruang kosong disampingnya bersamaan dengan kepergian kak Hana.


"Paman belum tidur? Apa paman kerja lembur lagi?" Tanyaku setelah duduk disamping paman merah.


"Tidak, hari ini pekerjaanku sudah selesai. Aster sendiri kenapa bangun jam segini?" Tanya paman merah membuatku melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 09:15 malam.


"Aster mimpi buruk?" Lanjut paman bertanya membuatku mengangguk lesu tak bisa menyembunyikannya seperti kemarin malam.


"Mau tidur bersamaku malam ini?" Tanya paman membuatku sedikit terkejut dan refleks menengadahkan kepalaku untuk melihat wajah paman.


"Boleh?" Tanyaku merasa sedikit gembira saat melihat senyum hangat paman yang mengembang.


Tak lama kemudian kak Hana kembali bersama cangkir putih berisi coklat panas ditangannya, lalu meninggalkanku bersama paman di ruang tengah.


Setelah menghabiskan coklat panas buatan kak Hana dan berbincang bersama paman selama beberapa menit. Akhirnya paman mengajakku untuk pergi tidur karena hari semakin larut dan aku harus pergi sekolah besok.


Di atas tempat tidur besar nan empuk ini aku tidak tidur sendirian lagi, kali ini aku tidur bersama paman. dan ku rasakan tangannya yang mengelus kepalaku dengan lembut membuatku mengeratkan pelukanku karena tak kuasa menahan perasaan bahagia ini. Rasanya seperti paman merah ini menjadi ayahku malam ini.


.


.


.


Thanks for reading...