
-Carel-
Syukurlah aku membawanya ke sini, batinku tak bisa berpaling dari ekspresi gembira Aster yang tengah menikmati permen kapas ditangannya.
Rasanya sangat melegakan melihat ekspresi murungnya telah pergi dari wajah menggemaskannya itu. Lalu ku alihkan perhatianku pada pemandangan dihadapanku, memperhatikan suasana festival siang ini. Benar-benar sangat ramai.
"Kau mau?" Suara Aster kembali menarik perhatianku, ku lihat dia sudah mendekatkan setengah permen kapas ditangannya kehadapan wajahku.
"Tidak." Jawabku mendorong tangannya dengan perlahan, menjauhkan permen kapas itu dari hadapanku.
"Ya sudah." Ucapnya kembali menikmati permen kapasnya sambil bersenandung.
"Sepertinya perasaanmu sudah membaik ya?" Gumamku merasakan kedua sudut bibirku tertarik keatas saat melihat Aster melahap sisa permen kapasnya dengan riang.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya, sontak membuatku terperajat dan menjauh darinya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapku berusaha menutupi wajahku yang terasa memanas, namun dengan cepat Aster meraih pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya selagi tangan kirinya menggenggam tusuk permen kapas.
"Aku hanya bertanya apa kau mengatakan sesuatu?" Ucapnya didekat telingaku, "aku tidak dengar karena disini terlalu berisik." Lanjutnya membuatku merasa malu setengah mati karena dia berbicara didekat telingaku dengan tanganku yang digenggam olehnya.
Iya sih, suasananya semakin ramai karena hari semakin sore. Kami juga harus segera kembali ke akademi sebelum ketahuan menghilang dari asrama. Tapi entah kenapa, aku masih ingin berlama-lama dengan Aster.
"... ti–tidak ada. Apa ada yang mau kau beli lagi? Kalau tidak ada kita kembali sekarang." Tuturku tak bisa membalas tatapan Aster yang terlihat begitu menggoda.
"Hee... kembali sekarang?" Teriaknya membuatku terkejut sambil melepaskan tanganku.
"Apa? Tentu saja kita harus kembali kan?" Tanyaku terhenti saat melihatnya tersenyum jahil padaku, "ada apa dengan senyum jahilmu itu?" Lanjutku merasa ada yang tidak beres dengannya.
"Tidak ada. Ayo kembali." Jawabnya sambil meraih tanganku lagi dan menggandengnya.
Tanpa banyak bertanya lagi, akupun mengikuti langkah ringannya. "Kemarikan benda itu!" Ucapku merebut tusuk permen kapas ditangannya, lalu membuangnya kedalam tempat sampah yang ku lewati.
"Ha~ah, aku merasa lega sekarang." Ucapnya membuatku melirik kearahnya, memperhatikan manik ungunya yang kembali berkabut. "Terima kasih karena sudah membawaku kesini Carel." Lanjutnya saat bertemu tatap denganku. Lalu senyum lebarnya kembali merekah menghiasi wajah cantiknya.
"Lain kali aku akan mengajakmu melihat kembang apinya." Ucapku segera membuang pandanganku dari manik ungu itu.
Sial, ada apa denganku? Batinku merasakan degupan jantungku yang tak biasanya berpacu secepat ini saat melihat ekspresi yang dibuat oleh Aster.
"... kau dengar aku Carel?" Suara Aster mengejutkanku.
"Ya–apa?"
"Ma–maaf, hehe ... jadi, apa yang kau katakan?"
"... soal kecelakaan nenek waktu itu, apa beritanya benar seperti yang diucapkan Kalea?" Tanyanya tiba-tiba mengubah topik pembicaraan sambil menatap dalam pada mataku, ku lihat matanya memancarkan sedikit harapan bahwa dia menginginkan ketidak benaran dari apa yang didengarnya.
"Aku harap apa yang ku dengar itu tidak benar. Tapi semua artikel yang ku lihat ...." Lanjutnya terdengar lirih, sesuai dengan dugaanku. Dia tidak mau mengakui kebenaran dihadapannya.
"Sayangnya semua itu benar adanya," ucapku setelah mengumpulkan seluruh keberanianku, meruntuhkan secuil harapannya.
"Tapi kenapa? Nenek salah apa pada tante Claretta dan ibunya? Kenapa mereka merencanakan hal sejahat itu pada nenek? Aku ... aku benar-benar tidak bisa mengerti." Tuturnya sambil menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu masuk festival. Kami berhasil keluar dari kerumunan dan menepi dari tengah-tengah jalan.
"Kau tau? Dulu keluarga Veren memiliki masalah dengan keluarga mereka. Masalah yang begitu besar sampai keluarga Kalea menyimpan dendam pada keluarga Veren. Aku sendiri tidak tau apa masalahnya, tapi kau ingat saat ayahmu hampir menikah dengan wanita itu? Anggap saja mereka membalaskan dendam mereka yang itu." Jelasku tidak bisa menjelaskan seluruh kebenarannya. Aku hanya tidak ingin dia memikirkan hal yang seharusnya tidak dipikirkan oleh anak seusianya.
Selain itu, aku juga tidak mau mendapat masalah dari pak tua itu, dia sendiri memintaku untuk menutup mulut sebisaku. Dan aku sudah berjanji padanya, kalau sampai dia tau aku membeberkan semuanya pada Aster. Dia pasti akan menghabisiku. Jadi ku pikir, belum saatnya Aster mengetahui hal itu. Dan jikapan dia harus tau, bukan aku yang berhak memberitaunya.
"Hanya karena tidak jadi menikah? Bukankah itu terlalu jahat? Lagipula tante Claretta sudah menikah dan bahagia bersama tuan Albert kan? Dia sampai mencampakan putrinya juga. Lalu kenapa membalaskan dendamnya sekarang? Harusnya kalau mau membalas dendam ya saat papa membatalkan pernikahannya kan? Tapi, bukankah aneh jika mereka membalaskan dendamnya pada nenek? Bukankah seharusnya mereka membalaskan dendamnya pada ayah? Dan sekarang orang-orang bilang keluarga Veren menjebak tante Claretta untuk menghancurkan keluarga Alaric. Tidak kah itu terdengar konyol? Padahal korbannya disini adalah salah satu anggota keluarga Veren. Tapi yang ku dengar ... apa mereka menganggap keluarga Veren itu bodoh? Untuk apa kami melakukan hal sejauh itu sampai mengorbankan nyawa nenek untuk menjebak tante Claretta, apa mereka tidak berpikiran sampai kesana? Benar-benar sekumpulan orang-orang bodoh!" Tuturnya panjang lebar dengan suara naik-turunnya, terlihat sangat kesal dan perlahan manik ungunya mulai berkaca-kaca, bibir bawahnya pun mulai digigitnya dengan gemas untuk menyembunyikan tubuhnya yang mulai gemetaran.
"... aku tidak bisa terima kalau mereka melakukan hal sejahat ini pada keluargaku. Aku–hiks, seandainya aku tidak pernah bertemu dengan keluargaku. Mungkin saat ini nenek–" lanjutnya bersama air matanya yang mulai tumpah, tubuhnya pun semakin gemetaran karena isak tangisnya.
Ku raih bahu mungilnya dengan kedua tanganku dan menatapnya dengan lekat, "Aster, jangan pernah mengatakan seadainya kau tidak pernah bertemu dengan keluargamu. Jika ayahmu sampai mendengar hal ini, dia pasti akan merasa sangat sedih. Ibumu juga tidak akan suka mendengar hal itu. Kalau kau tidak bertemu dengan keluargamu, bukankah kita juga tidak akan pernah bertemu?" Tuturku sebelum memeluk tubuhnya yang terlihat begitu rapuh saat mengetahui hal mengejutkan ini.
Padahal aku mengajaknya kesini untuk menghiburnya, ku pikir akhirnya dia bisa kembali seceria biasanya. Tapi ... siapa sangka dia akan meledak di tengah perjalanan pulang menuju akademi. Lanjutku dalam hati sambil menepuk-nepuk pelan punggung Aster, berusaha memberikan ketenangan padanya. Meski hatiku pun ikut merasa kesal pada kedua wanita itu.
***
-Kalea-
Waktu sudah menunjukan pukul 03:45 sore. Tapi belum ada tanda-tanda Aster akan kembali ke kamar. Jika tau situasinya akan seperti ini, lebih baik dia mengetahui kebenarannya dari orang lain.
Tidak, aku sudah membuat keputusan yang benar. Batinku mempercayai tindakan yang sudah ku ambil.
"... aku akan mencarinya sekali lagi." Putusku sambil pergi dari kamar, berjalan cepat menuruni anak tangga dan pergi dari asrama.
.
.
.
Thanks for reading...