Aster Veren

Aster Veren
Episode 208




-Aster-


Ku hentikan langkahku saat merasakan tanganku di cekal. Refleks aku menoleh pada orang yang sudah menghentikan ku, padahal aku sedang buru-buru meski sempat melamun memikirkan Carel yang menjaga toko sendirian bersama bibi.


Ka—lea? Batinku merasa sangat terkejut dengan sosoknya yang ada di hadapanku.


Bagaimana bisa? Kemarin Carel, sekarang Kalea juga? Sebenarnya ada apa ini? Lanjutku masih dalam hati, merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang. Bisa-bisanya aku bertemu dengan Kalea di tempat seperti ini?


Bukankah aku sudah kabur cukup jauh? Tapi kenapa aku masih bisa melihat wajah orang-orang yang ku kenali di tempat seperti ini?


"Ma—maafkan aku." Ucapnya mengejutkanku yang sempat hilang fokus, aku lihat dia sudah membungkukkan tubuhnya sedikit membuatku tidak nyaman.


"Tidak—tidak masalah, apa kamu penduduk baru? Atau wisatawan? Aku baru pertama kali melihatmu di sekitar sini." Tuturku sambil melambaikan kedua tanganku dan berusaha untuk menunjukan senyum terbaik ku saat dia sudah menegakan tubunya kembali.


"Itu, aku ...,"


"Ya?"


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Eh?"


Jangan bilang anak ini juga merasa mengenalku seperti Carel? Tidak mungkin kan? Padahal saat aku bercermin, penampilanku benar-benar berubah total. Gaya berpakaian ku, gaya rambutku, bahkan warna softlens yang ku gunakan, semuanya sempurna. Tapi kenapa?


"Sepertinya aku salah orang, maafkan aku." Ucapnya sambil menunjukan senyuman tipisnya.


"Tidak masalah."


"Namaku Kalea, siapa namamu?"


"Aku—Faren."


"Salam kenal ya. Aku dengar akan ada festival besok malam di sekitar sini makanya aku datang lebih awal untuk melihatnya.". Tuturnya membuatku mengangguk paham, rupanya dia jauh-jauh datang ke sini untuk melihat festival tahunan di sini. Apa itu artinya Carel juga?


"Tapi sepanjang perjalanan menuju kesini, aku belum melihat tempat festivalnya. Bukankah biasanya orang-orang akan sibuk menghias suatu tempat untuk acara festivalnya? Atau tempatnya masih jauh ya?" Lanjutnya membuatku berpikir keras karena aku juga tidak tau tempat yang akan dijadikan tempat festival besok. Biar bagaimanapu aku baru tinggal disini sekitar setengah tahun, banyak acara yang tidak ku ketahui.


"Mu—mungkin, aku juga kurang tau karena belum lama tinggal di sekitar sini. Maaf ya tidak bisa membantumu." Ucapku sambil mengelus tengkuk ku.


"Ah—ah begitu, maafkan aku."


***


"Kau kembali?" Suara Carel saat aku masuk ke toko.


Ku lihat dia sudah menatapku dengan bingung. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, yang jelas aku baru saja kembali setelah berpisah dengan Kalea. Aku bahkan sampai lupa kenapa aku pergi ke daerah sekitar ladang.


Hanya karena merasa terkejut dengan sosok Kalea, ingatanku langsung terganggu. Sepanjang perjalanan pulang aku terus mempertanyakan kenapa aku pergi keluar? Tapi tidak ku temukan jawabannya. Padahal aku yakin ada hal penting yang harus ku periksa.


Lalu sejak pergi keluar, aku merasa terganggu dengan suatu hal. Entahlah, aku tidak tau firasatku benar atau salah? Yang jelas aku merasa seseorang terus memperhatikanku, bahkan saat ini aku merasa ada orang lain yang terus memperhatikanku di luar toko.


Mungkin hanya perasaanku saja ... tapi—


"Ada apa dengan wajahmu?" Suara Carel membuyarkan pikiranku. Ku lihat dia sudah mendudukan tubuhnya di kursi kayu depan meja kasir.


"Kenapa dengan wajahku?" Tanyaku balik sambil berjalan mendekatinya.


"Terlihat pucat. Kau habis melihat hantu?"


"Yah anggaplah seperti itu, aku lelah jadi aku akan pergi beristirahat sebentar. Titip toko ya." Ucapku sebelum pergi ke lantai atas.


"Yang benar saja?"


Ayo pastikan kecurigaanku. Batinku tak memperdulikan Carel yang terlihat kesal.


Sesampainya di lantai atas, aku langsung memeriksa beberapa tempat melalui jendela. Memastikan di tempat-tempat itu tidak ada orang yang menguntitku.


"Siapa?" Gumamku sambil meremas tirai jendela dihadapanku, tak bisa memalingkan pandanganku dari sosok itu.


Rasanya belakangan ini banyak orang yang tertarik dengan tempat tinggalku semenjak aku berurusan dengan ayahnya Dean. Tapi, kenapa kali ini suasananya terasa lebih menakutkan? Bahkan tubuhku terasa merinding sekarang.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" Suara bibi mengejutkanku.


"Hanya melihat—bibi mau kemana?" Jawabku segera mengalihkan pembicaraan saat melihat penampilan bibi yang terlihat rapi.


"Aku akan pergi keluar sebentar."


"Apa ada yang mau bibi beli? Bilang saja padaku, biar aku yang membelikannya."


"Tidak-tidak, bibi cuma mau pergi ke tempat festival yang belum selesai di dekorasi. Bibinya Tami mengajak bibi." Jelasnya sambil menunjukan layar ponselnya yang menunjukan pesan masuk dari Bella—bibinya Tami yang bibi maksud.


"Ah, kalau begitu biar aku temani juga."


"Tidak perlu, kalau kamu ikut bibi. Siapa yang akan menemani anak itu?" Tolak bibi mengingatkanku pada sosok Carel.


"Itu ...,"


Yah, bibi mungkin merasa sumpek terus berasa di rumah dan tidak melakukan papun karena aku yang melarangnya ini itu. Ku pikir ide bagus bibi pergi keluar untuk menghirup udara segar sore ini. Tapi, aku masih kepikiran dengan tragedi hari itu, aku takut sesuatu akan terjadi lagi pada bibi jika aku tidak ada di sampingnya.


Apa semuanya akan baik-baik saja?


"Semuanya akan baik-baik saja. Bibi juga sudah menghubungi pamanmu supaya dia bisa pulang besok. Jadi kita bisa bersenang-senang di malam festival besok." Tutur bibi membawaku kembali pada kenyataan.


"Benarkah?"


"Ya, jadi kamu jangan khawatir ya. Aku akan pulang sebelum makan malam nanti. Jangan bekerja terlalu keras dan tutuplah toko lebih cepat, lalu pergilah beristirahat oke." Jawab bibi sambil meraih puncak kepalaku dengan lembut, senang rasanya bisa melihat senyuman bibi lagi.


"Ya baiklah, selamat bersenang-senang dan hati-hati di jalan."


"Iya, sampai nanti." Ucap bibi sebelum berlalu dari hadapanku.


Ku lihat waktu sudah menunjukan pukul 03:40 sore saat bibi pergi, aku juga memutuskan untuk pergi mandi lebih awal supaya bisa bergantian berjaga toko dengan Carel. Tapi sebelum itu, aku harus memperhatikan bibi keluar dengan aman.


Kalau pria itu mengikuti bibi, aku akan langsung turun dan mengejarnya. Tapi jika tidak, berarti memang akulah targetnya.


"Dia tidak mengikuti bibi?" Gumamku saat melihat pria itu berjalan kearah berlawanan dan pergi dari tempat persembunyiannya.


***


"Ayo bertukar dengan—ku?" Ucapku saat sampai di lantai bawah, ku lihat Carel baru selesai merapikan toko dan menutup toko lebih awal. Padahal ini belum waktunya tutup, tapi kenapa dia seenaknya menutup toko?


"Kenapa kau menutup toko lebih cepat?" Lanjutku menghentikan aktivitas menyapunya.


"Bibimu yang menyuruhku menutup toko lebih cepat."


"Ya tapikan ini belum jam lima—"


"Hah~ aku lelah, jadi biarkan aku pergi cari angin dan kau pergi istirahat saja sana."


"Hah?" Gumamku saat melihatnya pergi keluar toko dengan langkah ringannya, bahkan dia sempat menghentikan langkahnya di depan pintu dan menoleh padaku sekilas.


Apa-apaan itu? Kenapa dia menatapku seperti itu?" Batinku bertanya-tanya dengan tatapan prihatinnya itu.


.


.


.


Thanks for reading...