
-Aster-
"Akhirnya sampai, ayah ...," gumamku segera berjalan menuju ruang rawat ayah setelah keluar dari dalam lift.
"Pelan-pelan sedikit nona." Ucap paman Hans sedikit berteriak, tapi aku tidak memperdulikannya.
Ayah ..., batinku benar-benar sangat merindukannya, aku ingin memeluknya seerat mungkin. Aku ingin menangis dalam pelukannya dan bercerita banyak hal mengenai kesedihanku saat ayah tidak ada disampingku.
Ku buka pintu dihadapanku dan ku lihat ayah sedang memeriksa heandphone ditangannya sebelum menoleh kearahku yang masih berdiri diambang pintu. Merasa tidak percaya dengan apa yang saat ini ku lihat.
Syukurlah, syukurlah informasi yang ku dapatkan itu sungguhan, bukan informasi palsu untuk membuatku tenang.
Dengan cepat aku berlari mendekati ayah dan memeluk tubuhnya bersamaan dengan air mataku yang sudah tumpah lebih dulu.
"Ayah hiks, sykurlah ... syukurlah ayah sudah sadar. Aster hiks, Aster sangat takut kalau ayah pergi meninggalkan Aster juga." Tuturku sambil terisak dalam pelukan ayah.
"Apa yang kau lakukan?" Suara berat ayah membuatku semakin mengeratkan pelukanku, rasanya sudah lama aku tidak mendengar suaranya.
"Aster sangat merindukan ayah, jangan pergi tanpaku lagi. Jangan jauh-jauh dari Aster, jangan–"
"Siapa kau?" Tanya ayah memotong ucapanku.
Apa maksudnya? Aku kan putri ayah, kenapa ayah bertanya seperti itu? Batinku.
"Candaan ayah tidak lucu." Jawabku masih memeluk tubuh ayah dan mendengarkan degupan jantungnya. Rasanya sangat nyaman dan tenang.
"Ku tanya sekali lagi, siapa kau?" Tanya ayah sekali lagi, membuatku bingung. Dan dalam kebingungan itu, ayah langsung melepaskan pelukanku dengan kekuatan penuhnya. Mencengkram tanganku dengan sangat kuat, sampai membuatku meringis.
"Anu tuan–"
"Aku Aster, putri ayah." Jawabku memotong ucapan paman Hans, lalu ku tatap manik merah ayah yang terlihat dingin? Kenapa? Apa ayah tidak senang aku datang tiba-tiba? Ya, aku memang datang tanpa mengabari ayah dulu. Karena ku pikir ayah akan senang jika aku memberinya kejutan. Tapi, kenapa ekspresi ayah tidak menunjukan rasa bahagia sedikitpun?
"Jangan bercanda!" Seru ayah terlihat kesal sambil melepaskan cengkeramannya ditanganku.
"Ayah yang bercanda, masa tidak ingat padaku?"
"Ada apa dengan tuan?" Bisik paman Hans membuatku menoleh padanya yang sedang berbicara dengan paman Rigel, selagi ayah mencoba mengingatku terlihat dari ekspresinya.
"Aku juga tidak tau. Dokter bilang kondisinya sudah membaik, dan beberapa hari lagi tuan diperbolehkan untuk pulang." Jelas paman Rigel membalas bisikan paman Hans.
"Lalu itu apa? Masa dia tidak ingat dengan nona?"
"Ayah, ini aku Aster. Ayah bilang–"
"Tutup mulutmu!" Seru ayah sedikit membentak, memotong ucapanku, terlihat menyerah dengan ingatannya. "Aku tidak pernah memiliki anak dari siapapun. Jangan mengaku-ngaku sebagai anak ku." Lanjutnya membuatku terkejut, rasanya seperti hatiku dipukul dengan sangat keras sekarang.
"Tapi aku–"
"Pergi! Hans, Rigel bawa dia pergi!" Titah ayah membuat air mataku kembali jatuh.
Ada apa ini sebenarnya? Kenapa ayah tidak mengingatku? Batinku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok ayah yang terlihat asing di mataku. Ayah yang ku kenal tidak sedingin ini.
"Pa–panggilkan dokter!" Seru ku dengan suara gemetar membuat paman Hans bergegas.
"Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu keluar bukan memintamu untuk memanggilkan dokter!" Tutur ayah terlihat semakin asing di mataku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan siatuasiku sekarang.
Kenapa ayah tiba-tiba bersikap seperti melupakanku? Padahal ayah mengingat paman Hans dan paman Rigel, tapi padaku? Kenapa ayah tidak ingat? Apa ayah ..., batinku segera menggelengkan kepalaku, menepis pikiran buruk ku akan kondisi ayah saat ini.
"Rigel! Kau tuli? Ku bilang usir anak itu dari hadapanku!" Titah ayah lagi terlihat lebih kesal dari sebelumnya, bersamaan dengan itu paman Hans kembali bersama seorang dokter yang merawat ayah.
Ku lihat dokter itu langsung bergegas memeriksa ayah. "Ayah ... semoga pikiran buruk ku itu salah. Semoga ketakutan ku itu tidak terjadi. Semoga–"
"Apa yang kau lakukan?"
***
Kepalaku berdenyut hebat sekarang setelah mendengar penjelasan dokter yang memberitauku soal kondisi ayah.
Aku bahkan tidak terlalu fokus mendengarkan penjelasan dokter setelahnya, karena pikiranku langsung kacau. Memikirkan segala kemungkinan kenapa ayah bisa hilang ingatan, dan kenapa hanya aku yang tidak ayah ingat.
"... Aster?" Suara familiar seseorang membuatku menengadah, ku dapati kak Nathan sudah berdiri dihadapanku dengan ekspresi bingungnya.
"Kenapa sendirian? Dimana Carel?" Lanjutnya segera mengisi tempat kosong di sampingku.
"Aku datang bersama Hans." Ucapku sambil menghapus air mataku bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhku.
"Hans? Dimana dia sekarang?"
"Di sana." Ucapku menunjuk gedung rumah sakit dari tempatku duduk saat ini.
"Rumah sakit?"
"Iya, Hans sedang berbicara dengan paman Rigel. Aku keluar untuk mencari udara segar." Jelasku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku, meskipun suaraku tidak bisa dibohongi.
"... siapa yang sakit?"
"Itu ...," jawabku kembali menghapus air mataku yang kembali menetes, "ayah." Lanjutku setelah menghela napas dalam.
"Tuan Ansel?"
"Iya."
"Aku baru tau, sejak kapan dia sakit?"
"Cukup lama. Ngomong-ngomong, kenapa kak Nathan ada di sini?" Jawabku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tidak mau terus-terusan menangis karena membahas ayah.
"Aku datang untuk mengantar nenek, dia juga sedang mengunjungi rumah sakit dan sedang melakukan pemeriksaan."
"Hee, kenapa kakak tidak menemaninya?" Tanyaku merasa terkejut dengan jawabannya, bagaimana bisa dia meninggalkan neneknya sendirian dan berkeliaran di taman dekat rumah sakit? Ya, aku juga tidak pantas berpikiran buruk tentangnya.
"Ada ibu yang menemaninya." Jawabnya sambil menunjukan senyuman terbaiknya, senyuman yang sudah lama tidak ku lihat.
"Bagaimana kondisi ayahmu sekarang? Dia baik-baik saja kan?" Lanjutnya kembali pada pembicaraan awal.
Kenapa sulit sekali mengalihkan pembicaraan darinya? Batinku mengingat kemampuan kak Nathan dalam mengingat sesuatu.
"Ba–baik kok, sekarang kondisinya sudah baik. Dokter bilang ayah bisa pulang beberapa hari lagi setelah melakukan perawatan." Jelasku mengalihkan perhatianku pada sekumpulan anak kecil yang sedang bermain ditengah-tengah taman.
"Syukurlah, senang mendengarnya baik-baik saja. Lalu di kamar mana ayahmu di rawat? Aku ingin mengunjunginya sebelum kembali ke hotel bersama nenek dan ibuku." Tuturnya membuatku sedikit enggan memberitahunya.
"Kamar nomor 703." Singkatku kembali menunjukan senyuman terbaik ku.
"Terima kasih sudah memberitauku." Ucapnya membalas senyumanku.
"Ngomong-ngomong Aster, bagaimana kabar Kalea dan Nadin di akademi?" Lanjutnya bertanya, syukurlah kak Nathan tidak menanyakannya lebih jauh soal kondisi ayah. Dan dia percaya dengan jawabanku soal kondisi ayah yang sudah membaik. Ya, memang sudah membaik. Tapi tidak dengan ingatannya.
"Baik, mungkin. Aku sudah lama keluar dari akademi dan mengambil home schooling lagi. Jadi tidak terlalu mengetahui kondisi Lea dan Nadin." Jawabku bertemu tatap dengan kak Nathan.
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Satu bulan lalu mungkin, aku lupa hehe ...," jawabku sambil terkekeh. Aku bahkan sampai lupa berapa banyak waktu yang sudah ku lewati karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku, serta terlalu sibuk memikirkan kondisi ayah.
"Kenapa?" Tanyanya lagi membuatku harus berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat supaya tidak menguak soal kecelakaan yang ayah alami. Aku tidak mau kalau orang-orang sampai mengetahui kondisi ayah, apalagi kalau mereka sampai tau ayah tidak mengingatku.
Itu bisa menjadi kelemahan terbesar ayah, jadi aku harus bisa menutupinya sebaik mungkin.
"Apa sakitmu kambuh lagi?" Tanyanya lagi membuatku sedikit terkejut dengan ucapannya.
.
.
.
Thanks for reading...