Aster Veren

Aster Veren
Episode 214




-Carel-


Ku lihat Hans tampak kebingungan memperhatikan suasana sekitar yang terlihat gelap.


"Apa yang terjadi?" Tanyaku sambil menepuk bahunya, membuatnya menoleh kearahku dengan ekspresi khawatirnya.


Jadi tadi itu si Rigel berusaha untuk membidik Hans? Lanjutku dalam hati sambil menoleh sekilas kearah Rigel dan pak tua itu berkelahi.


"Tuan muda? Kenapa anda ada di sini?"


"Aku tidak ingin mendengarnya darimu. Aku datang karena mendengar teriakanmu. Apa kau sudah menemukan Aster?" Tuturku setelah menghela napas panjang.


"Tidak, tadi sepertinya saya salah lihat." Jawabnya sambil menunjukan senyuman tipisnya.


"Ck, kenapa semua orang lambat sekali? Padahal kita hanya mencari satu orang dalam wilayah kecil ini." Decak ku mulai tidak sabaran, lalu berjalan kembali keluar dari pinggiran hutan sambil menyibak rambutku frustrasi.


Saat aku kembali, aku melihat pak tua itu sudah berhasil membekuk Rigel. Dengan cepat dia mengamankannya pada orang-orang yang mengikutinya.


"Jangan lewatkan satu tempat pun untuk menemukan putriku. Lalu jika ada orang mencurigakan, segera amankan dia! Jangan sampai musuh-musuhku mendahuluiku untuk menemukan Aster." Titahnya dengan suara lantang, membuat mereka semua menjawab dengan lantang juga.


"Hmm, apa itu artinya dia sudah siap mengambil alih posisinya kembali?" Gumamku tak bisa melepaskan pandanganku pada sosok pak tua itu, namun tak lama kemudian aku kembali tersadar dengan apa yang harus ku lakukan.


Padahal aku sudah bertekad untuk menemukan Aster lebih dulu dari siapapun, tapi langkahku kalah melambat sejak bertemu dengan Eric dan melihat pak tua itu berkelahi dengan Rigel, lalu tiba-tiba mendengar suara Hans yang berteriak memanggil nama "nona".


***


-Aster-


"Ugh, ini sangat menyakitkan." Gumamku setelah berhasil melarikan diri dari Hans.


Aku tidak tau apakah dia melihatku saat terkena tembakan dari paman Rigel atau tidak? Yang jelas sebelum cahaya itu menyorot kearahku, aku langsung bergegas bersembunyi dan bergerak diam-diam saat mendengar suara Carel.


Jantungku benar-benar hampir keluar saat Hans tiba-tiba berteriak memanggil "nona" saat aku mengerang kesakitan karena peluru yang menembus dadaku.


Itu hampir saja, beruntungnya aku sempat menghindarinya meskipun terlambat. Jika tidak peluru itu pasti benar-benar mengenai bagian jantungku. Batinku sambil memegangi luka tembak di dadaku.


Tapi paman Rigel, kenapa dia bisa mengetahui lokasi ku dan begitu nekad menembak ku yang bersembunyi dibalik pohon? Padahal aku sangat yakin dia tidak mengetahui posisiku, tapi dalam sekali tembak, dia berhasil melukaiku.


"Aku ... harus pergi ke tempat aman, sebelum itu aku juga harus mengeluarkan pelurunya kan?" Gumamku dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahku.


Rasanya benar-benar sakit, tapi kalau aku berhenti mereka pasti akan menemukanku. Aku tidak mau tertangkap, aku belum siap untuk bertemu dengan Ayah lagi, aku takut jika berita soal ingatan ayah yang sudah kembali adalah kebohongan. Aku takut.


Haruskah aku kembali ke rumah paman dan meminta bantuan darinya? Tapi jika aku lakukan itu, apa paman akan menyerahkan ku pada ayah? Mengingat tuan Albert sudah membongkar kematian palsuku dan paman juga bekerja dengannya. Bukan hal aneh jika paman menuruti perintahnya untuk menangkap ku dan menyerahkanku pada ayah kan?


"Hah, hah hah~ aku tidak tahan lagi ...," ucapku menghentikan langkahku dibawah lampu penerangan jalan saat merasakan sakit yang semakin menjadi, ku lihat tangan kananku sudah berlumuran dengan darah, pandanganku juga mulai berbayang, kedua lututku rasanya sangat lemas dan tangan kiriku terlihat bergetar menahan berat badanku, mencoba untuk tetap berdiri dengan tegap sambil berpegangan pada tiang listri di sampingku.


"Hah~ apa aku akan kehilangan kesadaranku di sini? Apa aku ... akan baik-baik saja?" Lanjutku merasakan pusing di kepalaku.


Tidak, meski aku harus mati pun. Itu bukan hal yang buruk bukan? Aku pernah mengharapkannya beberapa bulan yang lalu, jadi kalau aku mati sekarang memangnya kenapa? Bukankah itu bagus karena akhirnya aku bisa pergi ke tempat ibu dan nenek?


Ku rasakan hembusan angin mulai menerpa tubuhku bersamaan dengan bayangan seseorang yang berlari mendekatiku. Dilihat dari perawakannya, sepertinya dia—Dean? Aku tidak yakin karena pandanganku benar-benar buram, bahkan aku tidak bisa mendengar suaranya. Yang bisa ku rasakan hanyalah sentuhan hangatnya sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.


***


"Faren?" Gumamku saat melihatnya dibawah lampu penerangan jalan.


Apa yang dia lakukan? Lanjutku bertanya-tanya dengan sosoknya yang tak kunjung beranjak dari sana, sampai mataku melihat ekspresi pucatnya yang terlihat mengkhawatirkan, bahkan pandanganku mulai beralih pada tangan satunya yang terlihat belumuran darah, memegangi dada sebelah kirinya.


"Tidak mungkin kan?" Ucapku segera berlari mendekatinya dengan perasaan campur aduk yang tak bisa ku jelaskan.


Padahal aku berniat pergi mencarinya setelah mengantarkan Sarah dan menitipkan Yuna padanya, aku ingin memastikan secara langsung mengenai apa yang ku dengar dari Teo malam ini. Aku ingin tau apakah dia sungguh seorang perempuan? Lalu kenapa dia harus mengubah penampilannya sampai seperti itu? Kenapa dia juga harus memalsukan kematiannya? Padahal setauku keluarga Veren sangat menyayangi putrinya.


Setidaknya itu yang aku tau dari beberapa berita yang beredar beberapa tahun lalu sebelum berita soal kondisi tuan Veren beredar. Aku hanya tau kondisinya tidak baik, setelah itu tiba-tiba muncul berita kematian putri Veren yang tidak masuk akal.


"Aku ingin memastikannya, tapi ... Faren! Apa yang terjadi? Sadarlah!" Tuturku saat sampai didekatnya sebelum dia tumbang. Dengan cepat aku memperhatikan lingkungan sekitarku, berusaha mencari seseorang yang bisa membantuku membawa Faren ke rumah sakit. Tapi sepertinya tidak ada. Mau tak mau akupun menggendongnya dan berlari menuju klinik terdekat untuk menolong Faren.


"Semoga masih sempat, bertahanlah sedikit Faren!"


Ku hentikan langkahku saat melihat pegawai sementara di toko roti paman Tesar berdiri dihadapanku dengan penampilannya yang terlihat kacau, bahkan suara napasnya yang tak beraturan itu terdengar sampai ketelingaku.


"Kau!" Serunya mengejutkanku.


Ku lihat manik merahnya sudah menatap tajam padaku, lalu beralih pada sosok Faren dalam pangkuanku. "Apa yang kau lakukan padanya?" Lanjutnya terlihat begitu kesal membuatku refleks mundur satu langkah darinya.


"Tidak, ini ... aku bertemu dengan Faren di dekat sini. Dia sudah seperti ini saat aku menemukannya, aku harus segera membawanya ke klinik, jadi—"


"Biar aku saja. Ada dokter yang bisa menolongnya di kediaman Albert." Potongnya segera merebut Faren dari tanganku.


"Kediaman Albert? Maksudnya Albert yang itu?" Gumamku tak bisa berhenti memikirkan sosok pria yang begitu terkenal itu.


"Kamu! Sebenarnya siapa kamu?" Lanjutku menghentikan langkahnya, ku lihat dia sudah menoleh padaku dan menatapku dengan sinis.


"Bukan urusanmu. Jangan hentikan aku lagi!"


"Tentu saja urusanku, aku juga temannya Faren. Biarkan aku ikut denganmu, aku—"


"Faren? Kau salah, dia bukan Faren tapi Aster Veren kekasihku!" Potongnya membuatku mematung saking terkejutnya dengan apa yang ku dengar.


Ku lihat dia sudah membawa Faren pergi dari hadapanku dengan langkah lebarnya, aku yang berniat menolongnya dan ingin memastikan semuanya dihentikan oleh anak itu hanya dengan satu kalimat?


... dia bukan Faren tapi Aster Veren kekasihku! Suaranya kembali terngiang dalam kepalaku, bahkan tatapan sinisnya juga masih tergambar jelas dalam ingatanku.


"Jadi ... apa itu artinya Faren itu benar putri keluarga Veren yang itu?"


.


.


.


Thanks for reading...