
-Aster-
Ku rasakan hembusan angin yang menerpa tubuhku malam ini, bersamaan dengan itu letusan kembang api benar-benar memanjakan mataku. Apalagi suara tawa Khael dan Yuna, lalu keributan yang sejak tadi menarik perhatianku.
Entah apa yang sedang mereka lakukan sampai membuat Carel pergi, lalu bersamaan dengan itu Kalea, Nadin dan Tia berlari mendekatiku dengan suara tawa mereka yang terdengar sangat gembira.
"Kan, sudah ku bilang. Itu hal yang sangat bagus untuk mengganggu si pembuat onar itu." Tutur Tia.
"Hahaha, kau benar. Aku puas menggodanya haha ...," lanjut Nadin sambil merangkul bahu Tia.
"Hah~ perutku sampai sakit karena kalian." Timpal Kalea sebelum mereka berdiri di sampingku.
"Hay Aster, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak ikut bergabung bersama kami tadi?" Ucap Tia saat sampai di dekatku dan menyeka air mata di sudut matanya.
"Benar, harusnya kau bergabung bersama kami tadi." Lanjut Nadin.
"Kalian tampak bersenang-senang ya ...," tuturku sebelum tersenyum pada mereka.
"Sangat!" Ucap mereka bersamaan membuatku terkejut.
***
"Ku rasa tadi aku melihatnya pergi ke sekitar sini." Gumamku tidak menemukan Carel di manapun.
Aku berniat untuk mengajaknya kembali karena dia terlalu lama pergi dan membuat yang lainnya khawatir. Tapi aku belum menemukannya. Padahal aku sudah mencari ke semua tempat.
"Di kamarnya juga tidak ada ...," lanjutku masih bergumam berdiri di teras rumah sambil memperhatikan Sarah dan Dean yang menjauhkan dirinya dari yang lainnya, mereka berdua tampak bersenang-senang bermain bersama Yuna karena paman sudah membawa Khael pergi beberapa menit yang lalu.
Waktu juga sudah menunjukan pukul 09:00 malam, tapi letusan kembang api itu masih terus menghiasi langit. Harusnya aku merasa senang, tapi entah kenapa aku tidak merasa senang sedikitpun.
Apa karena perkataan Dean sore tadi? Rasanya aku tidak bisa berhenti memikirkan perkataannya yang itu. Batinku mengingat ucapan Dean sebelum dia meninggalkanku dengan Carel.
"Belum menemukannya?" Tanya Teo mengejutkanku. "Sudah memeriksa kamarnya?" Lanjutnya membuatku menoleh ke arahnya berdiri.
"Sudah, tapi dia tidak ada di kamarnya. Apa dia pulang ya?" Jawabku setelah menggelengkan kepalaku dengan lesu.
"Tidak mungkin. Aku yakin dia masih di sekitar sini. Apa mungkin dia pergi ke tempat sepi untuk merokok ya?" Gumamnya sambil memegangi dagunya dengan tangan kanannya.
"Tunggu! Apa? Tadi kau bilang apa?" Tanyaku saat menyadari kata merokok yang keluar dari mulut Teo. Aku benar-benar tidak salah dengar kan? Dia bilang Carel merokok?
"Eh—apa?"
"Carel pergi ke tempat sepi untuk merokok?" Ulangku menatapnya dengan serius.
"Itu ... hah~ benar aku mengatakan itu. Kau tidak salah dengar." Tuturnya setelah menjeda ucapannya dan menghela napas singkat dengan nada frustrasi?
"Kenapa? Sejak kapan anak itu merokok?" Tanyaku lagi benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Carel merokok? Orang yang bercita-cita ingin menjadi dokter—anak itu? Merokok?
"Tenanglah dulu Aster, aku akan menceritakannya." Ucap Teo berusaha menenangkan ku. Aku yang sudah terlanjut terkejut terpaksa untuk lebih bersabar untuk mendengarkan apa yang akan Teo ceritakan padaku.
Padahal saat ini aku ingin berlari untuk mencari Carel dan marahi anak itu. Bisa-bisanya dia jadi seorang perokok? Apa dia mau jadi anak nakal?
***
Alasan Carel merokok adalah karena aku? Dia menderita karena aku. Padahal saat itu belum lama ibunya meninggal, tapi aku sudah membuat luka baru dengan menyebarkan berita kematianku. Sudah pasti hatinya sangat terluka bukan?
"... Carel merokok untuk mencari ketenangan saat dia tidak bisa tidur. Awalnya dia hanya coba-coba karena tidak bisa terus bergantung pada obat tidur, tapi lama kelamaan hal itu menjadi kebiasaannya. Di tambah lagi, dia mati-matian menolak kenyataan kematianmu hari itu, sampai orang-orang mengira dirinya sudah gila karena ditinggalkan oleh orang yang sangat dia sayangi." Suara Teo kembali terngiang di kepalaku dalam perjalananku menuju halaman belakang rumah.
"Orang yang sangat dia sayangi?"
"Benar. Semua orang tau kalau Carel sangat menyayangimu."
"Carel menyayangiku?"
Apa maksudnya itu? Apa perasaan sayang sebagai seorang teman? Saudara? Atau lawan jenis? Aku benar-benar tidak mengerti. Tapi jika perasaan sayang yang di maksud Teo adalah sesuatu yang sama dengan apa yang ku pikirkan, mungkinkah ... mungkinkah Carel juga memiliki perasaan yang sama denganku? Batinku setelah menepis pikiranku akan pembicaraanku dengan Teo.
"Tapi aku tidak ingin salah paham dan senang sendirian seperti orang bodoh. Aku harus memastikannya langsung." Lanjutku saat sampai di halaman belakang.
Ku tatap punggung Carel yang terlihat merosot, padahal biasanya dia selalu menunjukan tubuh tegapnya. Tapi sekarang, aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat, tidak aku pernah melihatnya sekali saat ibunya meninggal.
Hembusan angin kembali bertiup malam ini, membuat tubuhku sedikit menggigil karena suhu dinginnya. Lalu samar-samar ku cium asap rokok di sekitarku sebelum aku melihat kepulan asap keluar dari mulut Carel.
"Dia benar-benar merokok." Gumamku merasa sangat bersalah padanya. Karena rencana nekatku, semua orang menderita karenaku.
Kondisi ayah saat aku bertemu dengannya juga terlihat sangat menyedihkan. Lalu sekarang, aku melihat sosok Carel yang juga terlihat menyedihkan. Berdiri sendirian dengan rokok di tangannya, entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang?
Aku ingin mendekatinya, aku sangat ingin menemuinya. Tapi entah kenapa kedua kakiku tidak ingin bergerak, seolah-olah aku tau, jika aku bergerak maka saat itu juga Carel akan menjauh dariku. Tidak mau! Aku tidak mau hal itu terjadi. Tapi aku juga ingin menghiburnya.
... baiklah, sudah ku putuskan! Batinku menguatkan tekad ku sebelum menghapus air mataku yang sempat menetes karena terus memandangi punggung Carel.
"Hah~ menyebalkan!" Gumam Carel terdengar ke telingaku, lalu ku lihat dia membuang kuntum rokok ditangannya dan menginjaknya sambil mengusap rambutnya frustrasi dengan tangan kirinya.
"Carel?" Ucapku setelah mengumpulkan seluruh keberanianku, ku lihat Carel sudah terperajat karena mendengar suaraku. Dengan perlahan dia menoleh padaku yang masih berdiri mematung di tempatku memperhatikannya sejak tadi.
"Aster? Kamu sedang apa di sini? Dimana yang lainnya?" Tanyanya segera berbalik badan menghadap ku, dengan cepat aku berlari mendekatinya dan terjun kedalam pelukannya.
"A—Aster?"
"Maafkan aku Carel ...,"
"Hah? Maaf? Untuk apa?" Tanyanya terdengar gelagapan, dari suaranya aku bisa tau kalau dia sangat kebingungan. Bahkan kedua tangannya berusaha untuk melepaskan pelukanku darinya, tapi aku malah semakin erat memeluknya.
"Lihat aku sebentar Aster." Ucapnya masih berusaha melepaskanku dalam pelukannya.
"Tidak mau. Biarkan aku seperti ini sebentar saja ... boleh?" Tuturku berusaha untuk berbicara sebaik mungkin supaya Carel tidak curiga dengan suaraku yang sedikit bergetar karena menahan isak tangis.
.
.
.
Thanks for reading...