Aster Veren

Aster Veren
Episode 22




-Aster-


"Non?" Suara pak supir meruntuhkan lamunanku.


"Ya?" Tanyaku sambil mengulas senyum saat melihat sorot matanya dipantulan kaca spion.


"Kita sudah sampai non." Jawab pak supir sambil tersenyum membuatku menoleh kearah kaca mobil bagianku, dan benar saja kami sudah sampai di depan rumah paman.


Berapa lama aku melamun? Batinku tak bisa berhenti memikirkan perkataan tante Claretta.


"Terima kasih sudah jemput Aster hari ini ya pak." Tuturku sebelum keluar dari dalam mobil.


Saudara tiri ya? Batinku lagi sambil berjalan kearah pintu.


"Selamat datang nona." Terdengar suara kak Hana menyambutku saat aku membuka pintu rumah.


Aku juga melihat kak Hana sudah tersenyum lebar kepadaku, entah kenapa aku jadi ikut tersenyum juga saat melihat ekspresi kak Hana yang terlihat berbeda. Seperti lebih–ceria dari biasanya.


"Aku pulang." Ucapku sambil menutup pintu rumah dan berjalan kearah kak Hana berdiri.


"Ternyata Tomi benar ...." Suara seorang anak laki-laki yang tak asing menarik perhatianku, dengan cepat aku menoleh kearahnya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Ka–kakak yang waktu itu?!" Ucapku saat melihatnya tersenyum tipis, jadi namanya Carel .... Lanjutku dalam hati yang lupa menanyakan namanya.


"Eh? Nona sudah mengenal den Carel?" Tanya kak Hana membuatku mengangguk cepat. Lalu dengan cepat aku berlari mendekati anak itu dan berdiri dihadapannya.


Meski sudah lama tidak bertemu, tapi ekspresinya itu masih saja terlihat dingin ya ... padahal baru saja dia tersenyum. Batinku tak bisa berpaling dari wajah tampannya.


"Hallo Aster, sudah lama ya ... bagaimana kabarmu sekarang?" Tuturnya segera bangkit dari posisi duduknya.


"Ba–baik." Jawabku.


"Kalau begitu sebaiknya nona ganti pakaian dulu, setelah itu nona bisa bermain dengan den Carel." Tutur kak Hana membuatku menoleh kearahnya.


"Ka–kalau gitu Aster ganti baju dulu. Kak Carel tunggu Aster ya." Ucapku sebelum berlari meninggalkan ruang tamu.


***


Beberapa minggu sebelumnya setelah kepergian nenek, aku menangis di taman kompleks saat hujan sedang deras-derasnya.


Sore itu aku menangis histeris karena kehilangan kucing peliharaanku yang sudah lama ku pelihara bersama dengan nenek. Hatiku rasanya hancur saat melihatnya sekarat didepan mataku. Air mataku tak bisa berhenti mengalir, tubuhku juga sudah basah kuyup akibat guyuran hujan.


Entah berapa lama aku berjongkok dan menangisi kucing peliharaanku, saat itu disela-sela tangisanku aku terus mengoceh meminta kucingku untuk bangun. Tapi hewan itu tak memperdulikan panggilanku.


Kenapa? padahal biasanya kamu selalu menjawab panggilanku, kenapa ... tubuhmu juga dingin. Batinku saat menyadari sesuatu yang tidak bisa ku terima.


"Huwaaaa ... Bertahanlah, hiks ... jangan tinggalkan Aster sendirian. Tetaplah bersama Aster hiks," ocehku saat melihat kucingku berhenti bergerak.


"Kalau kamu pergi juga, Aster benar-benar akan sendirian hiks." Lanjutku kembali mengingat hari kepergian ibu dan nenek secara bergantian bersamaan dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahku yang sudah basah akibat guyuran hujan.


"Berhentilah menangis." Suara seorang anak laki-laki yang sudah berdiri disampingku dan memayungi tubuhku dari rintik hujan.


"Hiks ...." Isak ku sambil menengadah melihat sosok anak laki-laki disampingku itu.


Postur tinggi dengan rambut seputih salju dan manik merah yang terlihat bercahaya membuatku tak bisa berpaling darinya selama beberapa saat.


"Haa... kucingnya ...." Ucapnya sambil melirik kucing dihadapanku.


"Hiks ... bangunlah! Jangan tinggalkan Aster sendirian, hiks ... bangun! Ku bilang bangun!" Pintaku lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuh kucing itu, tapi tetap saja dia tak mau menuruti perintahku.


"Dia sudah mati, sebaiknya kita kuburkan." Ucap anak itu sambil berjongkok disampingku, membuat payung besar itu menutupi tubuh bagian belakang kami dari cipratan air hujan.


"Tidak mau, jangan kuburkan dia. Dia pasti bangun lagi hiks ...." Tolak ku merasa kesal dengan ucapannya.


"Huwaaa... Aster gak mau tinggal sendirian." Teriak ku tak memperdulikan kehadiran anak laki-laki disampingku dan kembali mengguncangkan tubuh kucingku.


"Tenanglah, jangan menangis. Bantu aku menguburkannya dulu, jika kau menangis terus. Kucingmu akan merasa sedih, kau harus merelakannya pergi supaya dia bahagia." Tuturnya sambil meraih puncak kepalaku, dan ku lihat sorot matanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.


"Hiks... benarkah dia akan bahagia?" Tanyaku langsung mendapatkan anggukan cepat darinya sekaligus senyuman tipisnya.


Bagaimana bisa dia bahagia meninggalkanku? Apa ibu dan nenek juga bahagia setelah meninggalkanku sendirian? Batinku merasakan sakit didadaku.


"Tapi, Aster tidak bahagia ... kalau itu Aster, Aster tidak akan bahagia meninggalkan orang-orang yang menyayangi Aster." Ucapku sambil meremas pakaian dibagaian dadaku.


"Apa yang dia katakan?" Gumam anak itu sambil menggali tanah untuk menguburkan kucingku.


"Pasti karena Aster menyusahkan ya? Jadi nenek meninggalkan Aster?" Lanjutku saat mengingat hari-hariku yang selalu menyusahkan nenek, merengek ingin bertemu dengan ibu.


Lalu ku lirik manik merah itu, ternyata anak itu sudah memperhatikanku dengan sorot mata penuh tanya.


"Aster bantu kubur deh, biar kucingnya bisa bertemu ibu dan nenek disurga hiks ... kucingnya akan bahagia kan kalau Aster merelakan kepergiannya?" Tuturku ikut menggali tanah untuk menguburkan kucingku.


"A–" Suara anak itu terdengar berat, lalu detik berikutnya aku merasakan tangannya menarik tubuhku kedalam pelukannya, membiarkan payung hitamnya tergeletak.


"A–ada apa? payungnya ... pakaianmu basah." Tuturku merasa khawatir sekaligus tergugup saat dia memeluk ku dengan tiba-tiba, tapi tak ada jawaban darinya, hanya pelukannya yang semakin mengerat dan terasa hangat.


***


"Apa yang kau pikirkan?" Suara Carel mengejutkanku.


"Eh, ti–tidak ada." Jawabku sambil tersenyum tipis.


Kalau diingat-ingat lagi, Carel ini usianya lebih tua dariku kan? Meski kami sama-sama kelas 3 SD. Apa sebaiknya aku panggil dia kakak ya? Batinku bertanya-tanya sambil menopang daguku dengan kedua tanganku dan memperhatikan Carel yang duduk dihadapanku terhalang oleh meja bundar diantara kami.


"Aku tak menyangka kalau kamu keponakannya paman Arsel." Ucapnya sambil melirik ku dan menutup buku tebal dihadapannya, entahlah aku sendiri tidak tau buku apa yang dia baca sejak tadi.


"Ya–aku juga tidak pernah menyangka kalau aku masih memiliki keluarga ...." Tuturku sambil membenarkan posisi duduk ku dan menegakan tubuhku.


"Syukurlah ...." Ucapnya sambil mengulas senyum yang belum pernah ku lihat.


"Ah kak Carel–" Ucapku segera dipotong olehnya.


"Panggil Carel saja." Ucapnya.


"Ba–baik, Ca–carel tau hubungan saudara tiri itu seperti apa?" Tuturku bertanya, entah kenapa aku ingin menanyakannya saat mengingat pembicaraanku dengan tante Claretta lagi. Padahal aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi tidak berhasil.


"Saudara tiri?" Tanyanya.


"Itu ... Aster dengar kalau orang tua kita menikah lagi dengan seseorang yang sudah memiliki anak, maka anaknya akan menjadi saudara tiri kita. Tapi–apa memiliki saudara tiri itu menyenangkan?" Jelasku sedikit terbata-bata.


"Hem ... entahlah aku tidak tau. Ada yang bilang menyenangkan, ada juga yang bilang tidak. Lagipula aku tidak mengalaminya, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Jawabnya membuatku membuang pandangan dari tatapannya.


"Bu–bukan apa-apa sih ... te–temen Aster ada yang nanya gitu ke Aster, tapi Aster gak tau, jadi tanya Carel. Tadinya mau tanya paman tapi pamannya lagi di luar kota, hehe ...." Jelasku berbohong.


"Hee... jadi orang tuanya mau menikah lagi ya? Kalau temanmu itu anak tunggal, pasti senang karena memiliki saudara tiri. Apalagi saudara tirinya baik." Tuturnya sambil menyenderkan tubuhnya kesenderan kursi.


"Begitu ya ...." Gumamku mengingat semua perlakuan Kalea padaku selama ini.


Dia pasti tidak akan suka aku jadi saudara tirinya .... Lanjutku dalam hati.


.


.


.


Thanks for reading...