Aster Veren

Aster Veren
Episode 188




-Aster-


Ku regangkan tubuhku saat merasakan otot-otot tubuhku yang kaku. Lalu segera kembali ke dapur untuk membantu Dean setelah selesai memindahkan semua barang ke gudang persediaan.


Sejujurnya aku sedikit terkejut dengan kedatangan truk pengantar barang yang tiba-tiba datang dan parkir di depan toko. Ku kira bahan persediaan untuk membuat roti akan tiba besok, ternyata lebih cepat dari dugaanku.


Paman juga belum kembali dari kota, jadi aku yang mengurus semuanya. Memindahkan dan memeriksa semua bahan yang dipesan, dan untuk pembayaran bibi yang mengurusnya. Benar-benar melelahkan. Batinku sambil menyeka keringat di keningku.


"Sudah selesai?" Tanya Dean saat aku memasuki dapur dan mencuci tanganku di wastafel.


"Ya."


"Istirahatlah sebentar, pasti melelahkan memindahkan semuanya sendirian kan?" Tuturnya membuatku menghela napas letih menyetujui ucapannya.


Karena tidak ada paman, aku jadi harus bekerja sendirian. Dean sibuk di dapur dan Sarah sibuk melayani pelanggan, lalu bibi sibuk menjamu tuan pemasok dan membicarakan harga semua bahan yang harus dia bayar.


Yah meski dibilang bekerja sendirian pun, ada supir truk yang membantuku. Jadi aku tidak terlalu lelah saat memindahkan barang, karena supir itu membantuku menurunkan semua barang di dalam truknya.


"Minumlah." Ucap Dean menyuguhkan air untuk ku, dengan senang hati aku menerimanya.


"Terima kasih." Balasku setelah meneguk air minumku.


"Hmm ...," gumamnya membuatku bingung saat matanya terus memperhatikanku. Ada apa dengannya?


"Kenapa?"


"Kamu ... mau coba berolahraga bersamaku?"


"Hah?"


"Untuk memperkuat otot-otot tubuhmu. Aku merasa ngeri melihat tubuh kurusmu itu, meski aku tau kamu cukup kuat. Tapi akan lebih baik jika kamu memiliki sedikit otot." Tuturnya membuatku tak bisa berkata-kata.


Memang benar, untuk ukuran anak laki-laki tubuhku terlihat sangat kurus di matanya dan lagi kalau harus membandingkannya dengan Dean. Tentu saja aku kalah, lihatlah tubuh tingginya yang terbentuk itu. Tidak heran jika para perempuan di sekitar sini begitu memujanya.


Ku dengar, dia sudah melakukan pekerjaan berat sejak kecil. Jadi mungkin karena itu tubuhnya terbentuk.


"Bagaimana? Aku biasa olahraga pagi dulu sebelum berangkat sekolah. Kamu bisa ikut bergabung denganku, kita bisa melakukan lari pagi bersama." Tuturnya sambil melipat kedua tangannya di atas dada bidangnya.


"Tidak." Tolak ku tanpa basa-basi.


"Ha? Kenapa?" Tanyanya begitu terkejut dengan jawabanku.


"Tidak ada alasan khusus. Hanya tidak mau melakukannya saja."


"Tapi—"


"Sudahlah, aku mau pergi mandi dulu. Lanjutkan pekerjaanmu." Potongku segera bangkit dari tempat duduk ku dan bergegas pergi meninggalkan Dean di dapur.


Rasanya tubuhku sangat lengket oleh keringat. Padahal waktu baru menunjukan pukul 09:00 pagi, tapi tubuhku sudah berkeringat sebanyak ini.


"Kau mau mandi Faren?" Tanya Sarah saat aku melewatinya.


"Ya, tubuhku tidak nyaman karena keringat." Jawabku tidak menghentikan langkahku menuju anak tangga yang menghubungkan toko dengan rumah paman di lantai atasnya.


"Haha, aku tau rasanya. Jadi mandilah yang bersih ya."


"Tanpa di mintapun aku akan mandi sebersih mungkin." Gumamku membuat Sarah mengeluarkan suara aneh saat aku menoleh kepadanya. Mungkin dia berusaha untuk menahan rasa ingin tertawanya.


Dia diam-diam mentertawakanku ya?


***


"Hah, segarnya ...," gumamku setelah keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut basahku dengan handuk dibahuku.


Entah sejak kapan dia sudah terbangun dari tidurnya, yang jelas dia sudah menangkap basah diriku. "Yu—yuna?"


"Kak Faren bisa suara perempuan?"


Aku ceroboh!


"Dan lagi ...," Lanjutnya menatap bagian dadaku yang belum ku tutupi dengan korset yang bisa mengecilkan dadaku supaya terlihat seperti anak laki-laki.


"Ini—"


"Kakak Faren perempuan?" Tanyanya memotong ucapanku, dengan cepat aku meraih bahu Yuna dan berjongkok dihadapannya dengan detak jantungku yang berpacu.


"Yu—yuna, bisakah kamu berjanji padaku? Tolong rahasiakan apa yang kamu lihat hari ini ya." Tutuku berusaha untuk tetap tenang dan berbicara selembut mungkin pada anak itu.


"Kenapa?"


"Itu ... karena kakak lagi bermain petak umpet. Jadi kakak harus menyamar supaya tidak ketahuan, kalau sampai semua orang tau, nanti kakak bisa tertangkap." Jelasku berusaha memikirkan hal lain yang lebih bagus untuk menjelaskan situasi ku, tapi otak ku tidak bisa bekerja dengan benar karena rasa panik ku.


Aku tidak tau apakah nantinya aku bisa tetap tinggal bersama paman dan bibi? Atau aku harus pergi meninggalkan mereka untuk keamanan ku dan mereka. Yang pasti, bukan hal baik yang akan datang padaku nantinya kan? Apalagi aku sudah dikabarkan meninggal dalam tragedi hari itu. Jika aku tiba-tiba ketahuan masih hidup dan menyamar menjadi anak laki-laki, bisa-bisa semua orang mulai bergerak untuk mencariku lagi. Baik musuh keluarga Veren, maupun orang-orang dari keluarga Veren.


"... kakak tertangkap?" Suara mungil itu kembali menyadarkan ku pada kenyataan, dan dengan lesu ku anggukan kepalaku sampai tanpa sadar aku sudah mencengkram bahu Yuna dengan cukup keras sampai dia meringis.


"Ma—maafkan aku." Ucapku segera melepaskannya.


"Tidak apa-apa, kakak pasti terkejut kan? Yuna janji akan merahasiakannya dari semua orang. Kakak kan sudah membantu Yuna saat diganggu oleh anak-anak nakal itu." Tuturnya sambil tersenyum lebar yang entah kenapa aku merasa sedikit lebih tenang saat mendengar ucapannya.


"Dan lagi, ini rahasia. Yuna dan kakak juga sedang bermain petak umpet. Jadi sstt... jangan bilang siapa-siapa ya." Lanjutnya membuatku sedikit terkejut saat mendengarnya. Entah kenapa pikiran soal Dean dan Yuna yang kabur dari rumahnya 3 tahun lalu kembali mengusik ku.


"Ba—baiklah. Terima kasih Yuna ... kalau begitu, aku akan membelikanmu es krim."


"Benarkah?"


"Iya, kamu suka rasa apa?"


"Yuna suka rasa vanilla." Ucapnya penuh semangat dengan binar matanya yang menggemaskan.


"Baiklah, aku akan membelikanmu. Kalau begitu aku akan bersiap dulu." Angguk ku sambil meraih puncak kepala Yuna sebelum berjalan pergi ke arah lemari pakaian.


Ku raih korset yang akan ku kenakan hari ini dan mengganti bra yang ku kenakan. Lalu memakai jeans dan kemeja hitam berukuran besar supaya bisa menutupi bentuk tubuhku. Setelah selesai bersiap dan menyisir rapi rambutku, aku segera pergi menemui Yuna yang menungguku di luar kamar.


Ku harap semua kekhawatiranku tidak pernah terjadi. Batinku sambil membuka pintu kamar dihadapanku, dan ku dapati sosok Yuna yang sudah tersenyum lebar menyambutku.


"Apa kamu menunggu lama?" Tanyaku membuat binar matanya kembali bercahaya, kali ini apa lagi? Lanjutku bertanya-tanya dengan reaksinya.


"Woah, suara kakak kembali lagi. Dan kakak juga terlihat sangat keren." Ucapnya membuatku sedikit tersentak.


"Hha—haha, apa terlihat seperti itu?" Tanyaku sambil mengusap tengkuk ku, dan entah kenapa aku merasa malu saat mendapat pujian dari anak kecil sepertinya. Rasanya di puji cantik dan tampan itu berbeda dengan pujian keren. Dan aku menyukai pujiannya itu.


"Ayo pergi. Aku mau makan es krim." Ajaknya setelah memeluk tubuhku dengan erat.


"Baiklah. Kita pergi sekarang." Angguk ku menatap binar matanya yang bertemu tatap denganku. Dengan cepat anak itu berlari menuruni anak tangga dihadapannya.


"Jangan berlari di tangga! Kamu bisa terjatuh Yuna." Teriak ku tidak di dengarkan olehnya. Yang ku dengar malah suara tawanya yang tampak kegirangan.


.


.


.


Thanks for reading...