
-Aster-
"Jadi ...," gumamku merasa sangat terkejut dengan informasi yang ku terima dari Dean.
Ibu yang orang-orang kira pergi dari rumah dan tidak diketahui keberadaannya, ternyata dia tinggal di rumah sakit jiwa karena mentalnya terganggu. Dan anak ini, Dean—dia menanggung semuanya sendiri dan tetap bungkam.
Dia ... sepertinya tidak ingin membuat ibunya dalam bahaya. Dan dia juga memutuskan untuk kabur dari rumah bersama dengan adiknya 3 tahun lalu. Lalu ku dengar dia diam-diam mulai aktif mengunjungi ibunya yang dikabarkan sudah membaik.
Betapa sulitnya menjadi Dean, menghadapi orang tua tempramen dengan kebiasaan buruk yang suka berjudi dan melakukan kekerasan pada istri dan anak-anaknya. Aku tidak bisa membayangkan kejadian mengerikan itu.
"Apa sebaiknya aku pergi ke kota lain ya?" Gumamnya terlihat gelisah.
"Tenanglah, kalau kamu pergi bagaimana dengan pendidikanmu yang belum selesai? Bagaimana dengan Yuna?" Tuturku segera menepuk pelan punggungnya. Membuatnya menoleh padaku sekilas sebelum kembali menatap jauh pada langit biru siang ini.
"Selama aku bisa menyelamatkan diriku dan Yuna. Aku tidak masalah jika harus berhenti sekolah, lagipula kau juga tidak bersekolah." Ceplosnya benar-benar membuatku tertohok dengan ucapan terakhirnya.
Ya mau bagaimana lagi? Jika aku sekolah maka aku harus menggunakan identitas kan? Sedangkan identitasku saja belum selesai di buat, atau tidak akan pernah di buat. Mengingat membuat identitas baru dengan membeli identitas yang sudah ada itu jauh lebih mahal. Aku tidak mau membuang uang paman dengan hal seperti itu, apalagi bibi sedang mengandung.
Aku juga tidak bisa meminta bantuan pada tuan Albert yang sudah banyak membantuku dengan menyarankanku untuk tinggal di wilayah sekitar sini dan memberikan satu dokter yang akan menangani ku, paman dan bibi jika kami sakit. Dokter itu tinggal di perbatasan, setiap bulannya dia menerima imbalan dari tuan Albert. Dan ku dengar dia mulai membuka praktik karena disekitar sana tidak ada dokter yang bisa membantu pada penduduk yang sakit.
Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Dean dan Yuna ya? Jika situasiku masih seperti dulu, mungkin aku bisa meminta bantuan dari ayah atau aku sendiri yang akan mengatasinya. Tapi karena posisiku juga sedang sulit, aku hanya bisa menghiburnya.
"Ngomong-ngomong bagaimana denganmu? Apa kau terluka?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
"Tidak parah, hanya satu pukulan di wajah dan perutku, setelah itu aku kabur menyusul Yuna." Jawabku sambil memegang perutku yang terasa sakit.
"Sekali lagi terima kasih, dan maaf karena Yuna kamu jadi harus terlibat dengan hal seperti ini. Aku benar-benar tidak pernah menduga kalau ayah akan menemukan kami sepat ini. Ku kira dia akan menemukan kami dua atau tiga tahun lagi." Tuturnya kembali dengan ekspresi murungnya.
"Bukan masalah, biarpun kurus begini aku cukup bisa menjaga diriku. Pukulan segini mah tidak ada apa-apanya." Ucapku kembali menepuk punggungnya dan berjalan kearah pintu toko, "sudahlah berhenti memasang ekspresi seperti itu. Yang penting sekarang Yuna tidak terluka sedikitpun, begitupun denganmu." Lanjutku meninggalkannya di luar.
***
"Aster?" Suara bibi mengejutkanku.
"Ya bibi?"
"Apa makanannya tidak enak?" Lanjut paman ikut bertanya.
"Ah, tidak! Aku hanya memikirkan hal lain dan lupa kalau aku sedang makan. Hahaha, ini sangat enak kok." Ucapku segera menyantap makananku saat tersadar dengan lamunanku yang tidak tau tempat itu.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" Tanya paman lagi setelah menelan makanan di dalam mulutnya.
"Itu—" Ucapku terhenti saat mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras sampai terdengar ke lantai atas. Ku lihat paman dan bibi juga sudah saling melemparkan pandangan penuh tanya.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Tanya paman segera bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju lantai bawah berniat untuk memeriksanya, aku yang juga merasa penasaran dan berniat untuk mengikutinya segera dihentikan oleh bibi.
"Kamu tidak boleh pergi. Tetaplah disini bersamaku." Ucapnya membuatku mengerti dengan kekhawatiran bibi. Mau tak mau akupun kembali duduk di tempatku dan menuruti perintah bibi.
"Apa yang terjadi?" Tanya bibi mendahuluiku.
"Dean? Jangan bilang—"
"Minumlah dulu." Potong paman yang sudah kembali dari dapur, memberikan air minum untuk pria itu.
"Kemarilah, biar aku bawa Yuna ke kamar Faren." Lanjut bibi meraih tubuh Yuna dengan hati-hati.
"Sekarang kamu bisa menceritakannya dengan perlahan." Tutur paman membuatku ikut duduk disampingnya, memperhatikan ekspresi Dean yang terlihat berantakan.
"Dia menemukan rumah kami. Aku ... aku lari dengan terburu-buru setelah memecahkan jendela kamar dan membawa Yuna pergi. Aku, aku benar-benar panik dan tidak tau harus pergi ke mana dan saat aku dalam pelarian tiba-tiba saja aku terpikirkan tempat ini. Ma—maafkan aku karena tiba-tiba datang." Tuturnya terlihat sangat berusaha untuk tetap tenang.
Ternyata benar. Dan lagi kenapa cepat sekali dia menemukan ... ah! Jangan-jangan yang aku lihat sore tadi itu pria yang mengikuti Yuna siang ini? Batinku mengingat sosok pria yang terus berdiri dipertigaan jalan saat aku membereskan toko di luar. Dan lagi penampilannya juga benar-benar sudah berubah, berbeda dari penampilannya saat dia mengikuti Yuna.
Mungkinkah saat dia tiba-tiba menyerah mengikutiku siang tadi, dia kembali untuk merubah penampilannya?
"... aku, mungkin untuk sementara akan berhenti pergi ke sekolah dan mencari tempat baru untuk melarikan diri dari tempat ini." Ucapnya meruntuhkan lamunanku.
"Apa maksudmu?" Tanyaku merasa terkejut dengan keputusannya itu.
"Aku akan pergi besok pagi, jadi—"
"Tetaplah tinggal disini sampai semuanya aman oke." Potong bibi yang baru keluar dari dalam kamarku, sepertinya bibi sudah berhasil menidurkan Yuna.
"Tapi—"
"Benar. Tetaplah tinggal disini sampai semuanya aman." Potong paman memotong ucapan Dean lagi.
Ku lihat Dean tak bisa berkata apapun untuk menolak kebaikan paman dan bibi, bahkan wajahnya tampak lelah. Pasti sulit berlari dalam kegelapan malam-malam begini, apalagi jalanan menuju toko paman minim penerangan, karena lampu jalan belum diperbaiki. Belum lagi jarak rumah satu dengan rumah lainnya berjauhan karena lahan pertanian padi, membuat peneranganya terbatas.
Ku lihat paman sudah mengangguk padaku sebelum pergi ke kamarnya bersama dengan bibi. Mungkin paman ingin memberi ruang untuk ku dan Dean supaya aku bisa menghiburnya dan Dean merasa sedikit tenang tanpa ada paman dan bibi.
Setelah melihat sosok Dean cukup lama, akhirnya aku bangkit dari tempatku dan membawa kotak P3K yang tersimpan di atas lemari gantung di dapur.
Ku raih tangannya yang terluka dan mulai membersihkannya sebelum mengobatinya.
"Sepertinya aku memang harus berhenti sekolah." Ucapnya memecah keheningan.
.
.
.
Thanks for reading...