Aster Veren

Aster Veren
Episode 17



"Terus apa hubungannya dengan ibu mengakui Aster sebagai cucu ibu?" Tanyaku memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa detik yang lalu.


"Dia memang cucu ibu kan? Dilihat darimanapun dia memang mirip dengan Helen dan Ansel." Jawab ibu dengan percaya diri.


"Padahal dulu ibu menyuruh kak Helen untuk pergi dari kehidupan kakak, tapi sekarang malah mengakui Aster sebagai cucu ibu." Tuturku segera mendapat tatapan sinis darinya.


"Lebih baik mengakui cucu kandung ibu daripada mengakui anak orang lain sebagai cucuku kan?" Ucap ibu membuatku tersentak.


"Ya memang benar semuanya terjadi karena kesalahan ibu, jika saja dulu ibu tidak meminta Helen untuk pergi. Mungkin Ansel tidak akan bertindak sejauh ini untuk membantu wanita itu, Aster juga bisa mendapatkan kasih sayang penuh dari ayahnya ...." Lanjutnya sambil memperhatikan cangkir teh dihadapannya dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Jadi ibu menyesalinya?" Tanyaku tak bisa mengalihkan perhatianku dari ekspresi sedihnya itu.


"Pokoknya ibu akan menyadarkan Ansel dan membuatnya mengakui Aster sebagai putri kandungnya. Dia juga harus tau kalau dia sedang dimanfaatkan oleh Claretta." Tutur ibu kembali bersemangat.


"Terserah saja ...." Gumamku merasa lelah sendiri setelah mengingat semua momen saat aku memberitau kakak soal Aster.


Dia benar-benar tidak menganggap anak itu sebagai putrinya sendiri. Bahkan mungkin dia tak pernah memikirkan kemungkinan kak Helen hamil saat pergi meninggalkannya. Yang dia pikirkan kak Helen mengandung anak pria lain.


Benar-benar kekanak-kanakan. Batinku bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dari luar, lalu tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang mendekatiku setelah pintu itu kembali tertutup.


Tak perlu melihat siapa yang datang, sudah dipastikan yang datang itu adalah kakak ku yang menyebalkan itu. Tercium dari aroma parfumnya yang familiar.


"Kenapa kamu membawanya?" Tanya ibu membuatku refleks menoleh ke arah kakak, dan ku dapati seorang anak kecil disampingnya. Anak kecil bermanik biru dengan rambut coklat dan pakaian merah selutut.


"Claretta tak bisa menjaganya hari ini, jadi aku membawanya. Dia bilang akan menjemputnya malam nanti–" Jawab kakak terpotong.


"Kau bilang apa? Wanita itu tidak bisa menjaga anaknya sendiri dan menitipkannya padamu? Apa kau pengasuhnya?!" Ucap ibu benar-benar kesal.


"Ayah, kenapa nenek marah? Apa nenek tidak suka melihatku." Suara anak itu terdengar gemetar.


Yah memangnya siapa yang tahan jika mendengar suara keras ibuku ini? Bahkan ekspresi marahnya itu lebih menakutkan dari hantu. Aku sendiri tak berani berhadapan dengan ibu yang sedang marah, makanya aku tak pernah mau pulang ke rumah jika ibu menelpon dengan marah-marah. Tapi ibu selalu mengirim Tomi untuk menggeretku kehadapannya. Menyedihkan ....


"Siapa yang kau panggil nenek?" Tanya ibu penuh penekanan dengan sorot mata tajamnya membuat anak itu bersembunyi dibalik tubuh kakak ku.


"Sudahlah bu, jangan membuatnya ketakutan seperti itu. Bukankah ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan?" Tuturku sambil bangkit dari posisi duduk ku.


"Hans!" Lanjutku sedikit berteriak, dan pelayan yang berjaga didepan ruang pribadi ibu pun segera masuk ke dalam ruangan.


"Ya tuan muda?" Ucapnya sambil membungkukan tubuhnya.


"Ajak anak ini berkeliling, ada hal penting yang harus kami bicarakan. Tolong jaga dia sampai pembicaraan kami selesai." Jelasku sambil melirik kearah anak itu.


"Mari nona." Ajak Hans membuat anak itu mengeratkan pegangannya pada tangan kakak.


"Pergilah, aku akan menjemputmu setelah selesai." Tutur kakak dengan senyum tipisnya membuat anak itu berjalan ke arah Hans, dan mereka pun pergi meninggalkan kami bertiga.


***


-Aster-


"Paman Eric kemana ya? Rumah ini kenapa luas sekali? Lebih luas dari rumahnya paman." Gumamku sambil berjalan menyusuri lorong dilantai dua.


Harusnya aku menunggu paman saja dihalaman belakang .... Batinku merasa lelah karena berjalan kesana-kemari mengitari rumah seluas ini.


"Tidak! Sudah ku katakan dia bukan anak ku!" Teriak seseorang membuatku terkejut setengah mati saat mendengar suaranya itu.


Apa yang terjadi? Apa mereka bertengkar? Batinku bertanya-tanya sambil berdiri didepan pintu salah satu ruangan yang ada di lantai itu.


"Harus berapa kali aku memberitaumu kalau Aster itu putrimu. Kak Helen meninggalkanmu saat dia sedang mengandung anakmu–" Suara paman merah membuatku kembali terkejut.


Mereka sedang membicarakanku? Batinku bertanya-tanya dengan telapak tanganku yang mulai berkeringat dingin.


"Omong kosong apa itu? Sudah jelas dia mengandung anaknya Justin." Kilahnya membuatku penasaran dengan suara misterius yang belum pernah ku dengar sebelumnya.


Dengan perlahan dan hati-hati ku buka pintu ruangan itu sedikit untuk melihat pemilik suara yang misterius itu, dan betapa terkejutnya aku saat melihat paman mencengkram kerah kemeja ayahnya Kalea.


"Itu kan ayahnya Kalea, kenapa dia ada di rumah nenek?" Gumamku saat sedang mengintip, memperhatikan wajah kesal paman merah yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Dan ku lihat ada sosok wanita cantik diantara paman dan ayahnya Kalea.


Ah, ibu yang waktu itu? Dia juga ada disini? Lanjutku dalam hati saat melihat wajah wanita cantik itu dengan jelas.


"Apanya yang anak Justin? Jelas-jelas Aster itu putrimu, cucuku." suara wanita itu membuatku tersadar kalau dia begitu mirip dengan paman merah. Yang tidak lain adalah ibunya paman, nenek ku. Tapi kenapa wajahnya tidak terlihat tua?


"Kalau kau bicara dia anaknya Justin sekali lagi, aku benar-benar akan menghajarmu sekarang!" Tutur paman membuatku tersentak saat mendengar nama paman Justin disebut-sebut.


"Eh? Apa aku anaknya paman Justin? paman Justin temannya ibu? Tapi bagaimana bisa?" Gumamku bertanya-tanya.


"Baca ini! Jika kau masih tidak mau mengakuinya, maka biar aku yang menjadi ayahnya Aster. Dan aku tak akan mengizinkanmu untuk menemuinya." Lanjut paman membuat buliran bening dimataku berjatuhan saat menyadari kalau pria dihadapan paman itu adalah kakaknya paman, ayahku juga.


Paman .... Batinku merasakan sakit didadaku.


Entah kenapa aku merasa tak diterima oleh orang yang katanya ayahku. Aku sendiri tak begitu mengerti bagaimana bisa ayah Kalea adalah ayahku?


"Untuk apa aku membacanya?" Suara ayah mengejutkanku bersamaan dengan tangan paman Eric yang menepuk bahuku, membuatku menoleh kearahnya.


"No–nona? Ada apa? Kenapa nona menangis?" Tanya paman Eric membuat air mataku semakin berjatuhan.


"Aku ... hiks, baik-baik saja." Jawabku sambil berlari menjauhinya dengan terisak.


"Nona!" Teriak paman Eric tak ku perdulikan.


Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya? Kenapa aku begitu bodoh? Meskipun paman bilang kakaknya adalah ayahku, meski aku memiliki nama yang sama dengan keluarga paman, meski paman menerimaku, bukan berarti ayah akan menerimaku kan?


Padahal aku sudah membayangkan pelukan hangat ayah yang menerimaku sebagai putrinya. Tapi ternyata apa yang ku bayangkan berkebalikan dengan kenyataannya. Batinku terus berlari tanpa arah sampai aku melihat sosok Kalea yang sedang berbincang dengan seorang pelayan rumah ini, terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh pria itu.


Dengan cepat aku masuk kedalam ruangan yang ada disampingku sebelum mereka melihatku. Lalu ku jatuhkan tubuhku kelantai setelah pintunya ku tutup.


Benar ... mungkin hanya namaku saja yang sama dengan keluarga ini. Lagipula tidak mungkin aku memiliki keluarga sekaya ini, hidupku selama ini jauh dari kata sederhana. Setiap hari ibu bekerja untuk nenek dan aku, bahkan aku tidak bisa masuk sekolah TK dan belajar privat dari ibu. Orang itu ... dia bukan ayahku. Dia ayahnya Kalea.


"Benar begitu, orang itu ayahnya Kalea ... hiks ... tapi kenapa aku sempat berharap kalau dia ayahku? Ibu ...." Tuturku kembali terisak dan memeluk lututku dengan tubuh yang menyender kepintu.


.


.


.


Thanks for reading...