Aster Veren

Aster Veren
Episode 218




-Kalea-


"Hah~ menyebalkan." Gumamku merasa kesal karena papa tidak mengizinkanku untuk berkunjung ke rumah ayah.


Padahal aku sangat ingin menjenguk Aster, aku dengar dia sudah sadarkan diri satu minggu yang lalu. Tapi kenapa ayah tidak membiarkanku datang menemuinya?


Apa karena kejadian hari itu ya? Batinku mengingat hari di mana aku dan Aster berebut belati dan membuatku terluka.


"Lea." Suara Teo membuatku terkejut, ku lihat dia sudah berjalan mendekatiku yang sedang berdiri di teras samping rumahku.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Lanjutnya setelah sampai di hadapanku dan meraih rambutku, lalu menyalipkannya kebelakang telingaku dengan sentuhan lembutnya.


"Tidak ada, hanya menikmati udara panas siang ini." Singkatku kembali memperhatikan langit biru siang ini.


"Sungguh? Tapi aku tidak melihatmu menikmatinya, apa ada yang kamu pikirkan?"


"... ayo pergi!" Lanjutnya setelah membisu selama seperkian detik saat aku tidak memberinya jawaban.


Lalu dengan antusias Teo menggandeng tanganku, melangkah menuju pintu keluar rumah tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kita mau pergi ke mana?" Tanyaku tak menghentikan langkah kakinya.


"Kamu akan tau setelah kita sampai nanti." Singkatnya membuatku mengernyit bingung.


Aku tidak tau kemana kita akan pergi, tapi sepertinya Teo sedang berusaha untuk menghiburku. Dia pasti kesal karena aku tidak menyambut kedatangannya dengan gembira kan?


Yah, mau bagaimana lagi? Perasaanku hari ini benar-benar buruk, aku bahkan terus kepikiran Aster. Apalagi saat aku mengetahui pria cantik yang ku temui hari itu ternyata adalah Aster.


Dia benar-benar mengubah penampilannya seratus delapan puluh derajat menjadi seorang anak laki-laki, bahkan suara rendahnya yang lembut itu tak bisa hilang dari pikiranku.


Bisa-bisanya dia belajar menggunakan suara seperti itu, lalu tubuh kurusnya, apa-apaan dengan tubuhnya itu? Meski aku sempat terpesona padanya, tapi saat diingat-ingat lagi, tubuhnya tidak sebagus itu. Apa dia tidak makan dengan benar?


Sudah pasti begitu kan? Memangnya siapa yang bisa makan dengan benar di situasi sulit seperti itu?


***


Ku langkahkan kaki ku menuju rumah kaca kediaman Veren setelah sampai di sana bersama dengan Teo dan di sambut hangat oleh pelayan rumah ini.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kita akan berkunjung menemui Aster?"


"Kalau aku bilang, kamu pasti tidak akan ikut karena larangan ayahmu kan?"


"Itu ... aku akan tetap ikut." Dengusku sambil memalingkan wajahku darinya, berusaha menghindari tatapan langsungnya yang terlihat begitu mengenaliku.


"Apa kondisi Aster sudah lebih baik?" Lanjutku berusaha mencari topik lain sebelum kami benar-benar sampai di rumah kaca. Lalu ku raih tangan kirinya dan menggandengnya dengan erat.


"Ya, jangan khawatir." Jawabnya sambil meraih puncak kepalaku bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhku dengan lembut.


Ku lihat Teo sudah menunjukan senyuman tipisnya yang terlihat menenangkan. Lalu tak lama kemudian kami sampai di rumah kaca, dan aku lihat Carel sudah bergabung dengan Aster dan Khael di sana. Mereka terlihat begitu menikmati waktu camilan siang mereka.


"Kalian datang?" Tanya Carel mengejutkanku, lalu dengan gerak lambat Aster menoleh ke arah kedatanganku bersama dengan Teo.


"Kalea?" Ucapnya nyaris berbisik, membuatku mengernyit bingung dengan ekspresinya yang tidak bisa ku pahami.


"Selamat siang Aster, ma—maafkan aku karena datang tanpa pemberitahuan. Bagaimana kabarmu sekarang?" Tuturku sedikit gugup karena berbicara dengannya lagi setelah sekian lama.


"Aku baik. Duduklah." Ucapnya terdengar tak bersemangat, aku yang melihatnya hanya bisa memperhatikannya diam-diam. Tidak berani untuk menanyakan perasaannya hari ini.


Tapi jika dilihat dari situasinya, sepertinya perasaannya sedang buruk. Apa karena kejahilan Carel? Atau hal lain? Aku tidak tau.


"Kakak mau coklat?" Suara mungil Khael menarik perhatianku, ku lihat dia sudah mengacungkan tangan kanannya yang memegang coklat dengan senyuman lebarnya. Sangat menggemaskan.


"Boleh?" Tanyaku kemudian sambil membalas senyumannya sebelum mengambil tempat di sampingnya.


"Tentu saja. Ambilah." Ucapnya lagi sambil memberikan coklat itu padaku.


"Kenapa kalian datang tiba-tiba seperti ini? Seingatku Kalea masih tidak di izinkan untuk berkunjung ke kediaman Veren. Kenapa kau membawanya?" Tutur Carel membuatku sedikit tersentak dengan apa yang ku dengar dari mulut menyebalkannya itu.


"Aku membawanya tanpa sepengetahuan tuan Victor. Lagipula dia hanya ingin bertemu dengan Aster dan menjenguknya. Kenapa juga tuan Victor melarangnya?" Jawab Teo setelah menghela napas panjang.


"Kau benar-benar tidak tau?"


"Apa?" Ucapku bersamaan dengan Teo, entah kenapa aku merasa sangat penasaran dengan ucapannya. Apakah ada alasan lain kenapa papa melarangku berkunjung sebelum Aster benar-benar pulih?


"Kalian di sini?" Suara ayah membuat perhatianku teralihkan, padahal beberapa saat lalu aku sangat tertarik dengan ucapan Carel, tapi saat mendengar suaranya. Entah kenapa aku sudah tidak begitu memikirkannya.


Lihatlah penampilannya yang masih belum berubah itu ... padahal Aster sudah kembali, tapi kenapa sosoknya masih terlihat menyedihkan seperti itu? Tidak kah ayah makan dan tidur dengan teratur? Batinku merasa khawatir dengan kondisi tubuh ayah, apalagi saat melihat tubuh kurusnya.


Anak dan ayah sama-sama kekurangan berat badan ya?


"Paman!" Seru Khael sambil tersenyum lebar pada paman yang sempat melirik kearahnya sekilas.


"Selamat siang tuan Ansel." Lanjut Teo menyapa ayah setelah bangkit dari posisi duduknya.


"Siang." Balas ayah tak memperhatikan sosok Teo sedikitpun, entah kenapa aku merasa ada yang aneh dari ayah dan Aster.


Sebenarnya ada apa dengan mereka? Aku belum pernah melihat ayah yang seperti itu, dan lagi aku juga pernah melihat sosok Aster yang terlihat begitu pendiam dan tenang seperti itu. Tapi hari ini, kenapa aku melihat sisi mereka yang baru seperti itu? Rasanya tidak biasa.


"A—apa ayah sudah makan?" Tanyaku kemudian, berusaha menguraikan situasi yang terasa semakin canggung. Bahkan Carel dan Teo pun mendadak diam saat melihat ayah datang. Sedangkan Khael, anak ini hanya fokus pada makanannya setelah menyapa ayah dengan cerianya.


"Lea, bisa kau hentikan itu?" Ucap ayah mengejutkanku, menghentikan apa?


"Apa?"


"Berhentilah memanggilku dengan sebutan ayah. Biasakan dirimu untuk memanggilku dengan tuan Ansel." Tuturnya benar-benar membuatku tersentak, ini pertama kalinya ayah berbicara seperti itu padaku. Padahal biasanya dia tidak perduli dengan panggilan yang dia terima, bahkan saat aku memanggilnya ayah dia tidak pernah protes sedikitpun.


Tapi hari ini? Kenapa mendadak ayah ingin aku berhenti memanggilnya dengan sebutan—ayah? Batinku melirik sosok Aster yang masih membisu menatap cangkir teh di hadapannya. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan, tapi aku merasa baik ayah maupun Aster, keduanya terlihat aneh.


Lalu aku dibuat terkejut dengan lirikan Aster yang terlihat kosong, menatap kearahku selama beberapa detik sebelum kembali pada cangkir teh dihadapannya.


Kenapa? Ada apa? Batinku bertanya-tanya dengan situasiku yang tidak bisa ku pahami.


.


.


.


Thanks for reading...