Aster Veren

Aster Veren
Episode 220




-Kalea-


Ku lihat Aster sudah mendudukan tubuhnya di kursi sebelumnya yang dia duduki sebelum pergi untuk pemeriksaan.


"... sepertinya ayah ingin membuat perasaanku lebih baik dengan caranya sendiri. Aku tidak tau kalau dia akan melarangmu untuk memanggilnya ayah lagi, tapi entah kenapa saat aku mendengar ucapan ayah. Aku merasa sedikit senang, karena ternyata ayah sudah mulai memikirkan ku lagi." Tuturnya sambil menunjukan senyuman lebarnya padaku yang masih berdiri disampingnya.


"Lalu sesuai dengan keinginanmu. Lea, berhentilah memanggil ayahku dengan sebutan ayah!" Lanjutnya membuatku tersentak saat aku melihat perubahan ekspresinya.


Benar, seperti itu. Kau harus mengatakannya dengan jelas. Batinku sambil menghapus air mataku yang akan kembali terjatuh.


"Ya." Angguk ku membalas tatapan Aster.


"Kalau begitu, sudah baikan? Perasaanmu?" Tanyanya membuatku terkejut untuk kesekian kalinya. Apa maksudnya dengan pertanyaannya itu? Kenapa dia menanyakan perasaanku? Bukankah itu tidak penting.


"Kau tau Lea, hari itu kau berteriak padaku untuk menceritakan lebih banyak tentang kesusahan ku padamu supaya kau mengerti. Kamu ingat?" Lanjutnya membuatku teringat kembali dengan hari di mana aku menghentikan aksi bunuh diri Aster yang berniat melukai dirinya dengan belati.


"Aku rasa aku akan mulai melakukannya sekarang. Kau mau mendengarkan ku?"


"Ap—tentu! Aku akan mendengarkanmu dengan baik." Jawabku segera meraih kursi ku dan duduk kembali di sana sambil memperhatikan sosok Aster dihadapanku.


Aku tidak begitu mengerti dengan situasiku sekarang. Tapi saat ini Aster sedang membutuhkanku sebagai pendengarnya, jadi aku harus mendengarkannya dengan baik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, sudah cukup lama aku menunggu hari dimana dia akan lebih terbuka padaku. Dan hari itu ternyata datang pada hari ini.


***


"Jadi kau tidak menyadari kehadiranku dan Teo sampai mendengar suara ayahmu?" Tanyaku merasa terkejut karena sebelumnya Aster sempat melihatku dengan tatapan kosong seolah-olah tidak memperdulikan kehadiranku. Padahal dia sempat merespon sapaanku.


"Dan itu karena sebelumnya kau mendengar ucapan Carel yang mengoceh mengenai perasaanya saat kamu tidur siang di tempat ini?" Lanjutku membuatnya mengangguk malu dengan rona merah di wajahnya.


Yang benar saja ...,


Padahal aku sudah mengira kalau pada akhirnya Aster bisa membenciku dengan benar kali ini. Apalagi setelah tuan Ansel mengatakan hal mengejutkan seperti itu, momen yang pas untuk menghancurkan perasaanku bukan?


"Ba—bagaimana aku tidak bingung dan kepikiran seperti itu. Dia—dia bilang jangan jauh-jauh darinya lagi dan dia tidak ingin melihatku terluka lagi. Suaranya juga, aku mendengar suaranya yang berbicara dengan lirih seperti itu. Aku—aku benar-benar merasa malu sekarang. Selain itu, aku juga merasa beberapa hari ini dia berubah. Katakan padaku apa yang harus ku lakukan Lea?" Jelasnya terlihat gelisah membuatku tak bisa menahan senyumanku saat melihatnya bereaksi seimut ini.


Bisa-bisanya si bodoh itu membuat Aster seperti ini. Apa dia tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan? Dia juga tidak berpikir kalau Aster tidak benar-benar tidur ya?


"Pft—bodoh." Gumamku berusaha menahan suara tawaku.


"Lea?" Tanya Aster yang menyadariku.


"I—itu, tunggu sebentar biar aku pikirkan ...," tuturku berusaha memikirkan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Jika anak itu sudah mengatakannya seperti itu, mungkin saja tak lama lagi dia akan mengambil langkah untuk mengutarakan perasaannya pada Aster.


"Tunggu—berubah bagaimana maksudmu?" Lanjutku saat menyadari ucapan akhir-akhirnya.


Lalu kenapa hanya di hadapan Aster dia bertingkah dewasa? Apa dia ingin menarik perhatian Aster dengan kedewasaannya itu? Menggelikan.


Tapi ya ... kalau untuk kedekatannya dengan Aster. Bukankah sejak dulu dia memang selalu lengket dengan Aster? Apa Aster tidak menyadarinya sampai hari ini? Batinku memperhatikan ekspresi Aster yang terlihat kebingungan.


"Lalu setelah mendengar ucapannya beberapa waktu yang lalu, bagaimana dengan perasaanmu padanya?" Tanyaku kemudian, masih memperhatikan Aster.


"Ja—jantungku berdebar sangat cepat. Padahal aku tidak menyukai ekspresi sedihnya saat dia mengatakan itu dengan lirih. Tapi aku malah berdebar setelah mendengarnya, a—apalagi saat tangannya menyentuh wajahku ...," tuturnya terlihat lebih malu-malu dari sebelumnya, tangannya juga sudah memegangi dadanya, merasakan degupan jantungnya sendiri.


"Ku rasa kamu sudah mengetahui jawabannya kenapa jantungmu berdebar seperti itu. Apalagi aku tau kamu membaca banyak buku, jadi setidaknya kamu memiliki informasi mengenai situasimu saat ini kan?" Godaku membuat wajahnya semakin merona.


"Itu ... aku tau kalau selama ini aku menyukainya. Saat aku mendengar kabar perjodohannya dengan putri pemilik akademi itu, hatiku merasa sakit. Lalu tiba-tiba aku diminta untuk menjauhinya oleh ayah karena ingin mengungkap sesuatu dari keluarga putri itu, setelah itu aku tidak terlalu memikirkan perasaanku terhadap Carel." Tuturnya.


"Tentu saja, karena setelah itu kamu mengalami banyak hal berat ... tapi sekarang semuanya sudah berlalu, ku pikir bagus untukmu untuk mulai memikirkan kembali perasaanmu padanya. Bagaimana menurutmu?" Jelasku memberikan saran padanya setelah menjeda ucapanku sesaat.


Tak ada jawaban, aku hanya bisa melihat Aster yang terlihat serius menatap vas bunga dihadapannya. Sepertinya dia sedang berpikir keras sebelum mengambil keputusan besar, matanya masih menunjukan kabut kebingungan di sana.


Ayo semangatlah untuk menemukan titik terangnya Aster. Batinku berusaha menyemangatinya.


Kalau dilihat seperti ini, aku merasa Aster seperti anak perempuan lainnya. Dia juga bisa kebingungan dengan masalah percintaannya, meski aku yakin dia belum terlalu yakin dengan perasaannya. Tapi setidaknya dia tidak bersikap sok tegar seperti sebelumnya.


"Aster ...," ucapku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Ku lihat manik ungunya sudah menatapku dengan serius.


"Iya?" Tanyanya sambil memiringkan kepalanya sedikit.


"Terima kasih ... karena sudah memikirkan ucapanku waktu itu, dan mau lebih terbuka padaku. Kedepannya aku juga berharap kamu bisa mengandalkan ku untuk hal lainnya. Lalu kalau ada hal yang membuatmu kesulitan, katakanlah sulit jangan menahannya sendirian." Jelasku tak bisa menatap manik ungunya yang terlihat indah itu.


"Kalau begitu, kamu akan datang jika aku memintamu untuk datang kan?" Ucapnya membuatku mengangkat kepalaku dan bertemu tatap dengannya.


"Tapi tuan Ansel—"


"Aku akan mengurus ayah, jadi jangan khawatirkan hal itu oke." Potongnya membuatku mengangguk bersamaan dengan genangan air mata yang kembali memenuhi pelupuk mataku.


Sepertinya aku akan benar-benar menangis lagi sekarang. Memikirkan kebaikannya membuat hatiku tersentuh, aku merasa Aster sengaja menghiburku sekarang dengan cerita mengenai Carel dan perasaannya.


Padahal aku siap untuk di benci, tapi kenapa dia selalu bersikap sebaliknya dari apa yang ku pikirkan? Kamu benar-benar membuatku merasa bodoh Aster.


.


.


.


To be continued...