Aster Veren

Aster Veren
Episode 247




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 pagi saat aku sampai di rumah bersama Carel, Teo, Hans dan Mila.


Ku lihat ayah juga sudah menyambut kedatanganku, bahkan tuan Ian dan paman Arsel juga ada di rumah?


"Kalian sudah tiba?" Ucap paman Arsel dengan senyum lembutnya sambil berjalan mendekatiku, lalu ku rasakan pelukan hangatnya yang sudah lama tidak ku rasakan.


"Bagaimana dengan perjalananmu?" Suara tuan Ian di dekat Carel.


"Melelahkan." Dengus Carel membuat ayahnya menghela napas dalam saat mendengar jawaban tak terduga dari putranya itu.


"Kau ini, apa tidak ada hal lain yang bisa kau katakan selain kata melelahkan?" Lanjut tuan Ian bergumam bersamaan dengan paman Arsel yang melepaskan pelukannya dariku.


"Pergilah istirahat, kamu pasti lelah kan?" Tutur ayah meraih puncak kepalaku membuatku refleks memeluk tubuh ayah dengan erat saat mencium aroma parfum yang sangat ku rindukan.


"Apa ayah baik-baik saja selama aku pergi?" Tanyaku sambil menengadah menatap manik merah ayah yang terlihat lembut saat membalas tatapanku.


"Tentu saja. Memangnya kamu berharap apa?"


"Haha, tidak. Syukurlah kalau ayah baik-baik saja."


"Aster!" Suara Kalea mengejutkanku, dengan perlahan ku lepaskan pelukanku dari ayah saat mendengar teriakan Kalea yang memasuki rumah diikuti oleh langkah tuan Victor di belakangnya.


"Lama tidak bertemu. Aku benar-benar merindukanmu ...," lanjutnya segera terjun ke dalam pelukanku.


"Yang benar saja? Aku kan hanya pergi selama tiga hari kau tau? Dan lagi, bukankah harusnya kau terjun ke dalam pelukan Teo?" Tuturku membuatnya refleks melepaskan pelukannya dan menoleh kearah Teo.


"Teo?"


"Lama tidak bertemu Lea." Ucap pria itu membuat air mata Kalea tumpah, dan dengan cepat dia terjun ke dalam pelukannya.


Benar. Harusnya seperti itu, bukannya terjun ke dalam pelukanku. Batinku merasa senang karena melihat mereka bisa kembali bertemu setelah sekian lama.


"Mila siapkan kamar untuk semua orang, biarkan mereka beristirahat dengan tenang setelah perjalanan jauh mereka." Titah ayah membuat Mila mengangguk dan memberi hormat sebelum pergi meninggalkan semua orang di ruang tamu.


Apa hari ini semua orang akan menginap di kediaman Veren? Batinku bertanya-tanya melihat sosok Kalea, tuan Victor, Teo dan yang lainnya secara bergantian.


***


"Baiklah karena semua orang sudah berkumpul, sebelum acara makan malam di mulai. Aku dan Ian akan memberitahu kan kabar bahagia untuk kita semua." Tutur ayah membuatku mengernyit bingung saat mendengar ucapannya, aku bahkan tidak tau kabar gembira apa yang akan ayah katakan. Dan kenapa juga ayah tidak memberitauku dulu sebelumnya? Apa itu kejutan?


"Kabar bahagia?" Tanya Carel mendahuluiku dengan ekspresi bingung yang sama denganku.


Lalu ku lihat ayah mengangguk pada tuan Ian dan tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya, "karena Carel sudah kembali, kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian berdua." Ucap ayah membuatku terkejut begitupun dengan Carel.


"E—eh? Tanggal pernikahan?" Tanyaku tergugup, rasanya jantungku berdetak lebih cepat sekarang. Aku bahkan merasakan keringat dingin di punggungku saat mendengar ucapan ayah, apalagi saat tatapan kami bertemu dan aku melihat senyuman hangat ayah yang terlihat bahagia?


"Benar. Usia kalian juga sudah dewasa, sudah waktunya kalian melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius. Dan lagi, usiaku juga sudah cukup tua untuk terus menjadi pemimpin keluarga Alterio. Jadi aku memutuskan untuk pensiun lebih awal, setelah kalian menikah semua tanggung jawab keluarga akan berpindah pada Carel. Aku tau ini sulit untuk pembuat onar sepertinya, makanya aku mengusulkan untuk menikahkan kalian berdua sebelum aku pensiun, dengan begitu kamu juga bisa membantunya." Tutur tuan Ian dengan suara lembutnya.


"Aku bisa sendiri, kenapa harus melibatkan Aster untuk urusan pekerjaan?" Dengus Carel terlihat tidak suka dengan ucapan ayahnya itu.


"Sungguh? Kau sanggup menanggung beban yang cukup berat untuk memimpin kedua keluarga?" Tanya tuan Ian terlihat meremehkan putranya dan membuat Carel semakin kesal.


"Aku sanggup. Lagipula, aku hanya akan mengurus pekerjaan keluarga Veren sampai Khael siap menjadi penerus berikutnya kan?"


"Benar." Angguk ayah dan paman Arsel bersamaan.


"Kalau begitu kalian bisa mempercayaiku dan membiarkan Aster melakukan apa yang dia inginkan." Tuturnya sambil melirik kearahku sebelum menunjukan senyuman tipisnya.


"Yang Aster inginkan?" Gumam ayah dan Kalea bersamaan.


"Ya, dia pasti punya kan? Apa yang ingin dia lakukan setelah kami menikah nanti?" Lanjutnya dengan rona merah di wajahnya dan meraih air minum di hadapannya.


"Ah aku paham. Kau ingin menjadi sosok suami yang baik dengan tidak membiarkan istrinya ikut bekerja kan? Kau ingin membuat Aster fokus dengan urusan rumah tangga dan menjadi nyonya Alterio. Tidak ku sangka hal seperti itu dipikirkan oleh anak sepertimu." Tutur Kalea berhasil membuat Carel terbatuk saat dia sedang meneguk air minumnya.


"Pft ... jadi begitu ya? Ya itu bisa kalian putuskan bersama setelah kalian menikah." Ucap tuan Ian setelah batuk Carel mereda.


"Jadi kapan mereka akan menikah?" Tanya Teo mulai angkat bicara membuatku ikut bertanya-tanya juga.


"Akhir bulan ini." Jawab ayah membuatku terkejut.


"Secepat itu?" Tanyaku saat mengingat akhir bulan tinggal menghitung hari. Bagaimana bisa mereka merencanakan pernikahan secepat itu? Bukankah kami butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya?


"Tenanglah, semuanya sudah siap. Aku sudah menyiapkan pakaian kalian untuk hari pernikahan kalian nanti, urusan gedung sudah di urus oleh tuan Ian, dan sisanya sudah di urus oleh ayahmu dan istriku." Tutur paman Arsel membuatku tak bisa berkata-kata saat mendengar ucapannya.


Tidak pernah terpikirkan olehku kalau mereka semua akan menyiapkan semuanya untuk ku dan Carel, aku juga tidak bisa membayangkan berapa lama waktu yang sudah mereka habiskan untuk mempersiapkan semua itu tanpa sepengetahuan ku dan Carel? Apalagi kak Wanda yang sangat sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit, bagaimana bisa kak Wanda ikut andil dalam persiapan pernikahanku dan Carel?


"Berapa lama kalian mempersiapkan semuanya? Kenapa tidak memberitauku dulu?" Tanya Carel setelah menghela napas kasar dan memperhatikan paman Arsel dengan tatapan seriusnya.


"Aku tidak ingat, tapi ku pikir itu bukan waktu yang lama tapi juga bukan waktu yang cepat." Jawab paman dengan senyuman lebarnya.


"Haah~ kenapa kalian harus mempersiapkannya? Kenapa tidak membiarkan aku yang mempersiapkannya sendiri? Aku kan juga ingin mempersiapkan pernikahanku sendiri." Tuturnya setelah menghela napas panjang dengan tatapan sedihnya.


Yah aku juga merasa sedikit sedih karena tidak dilibatkan dalam persiapan pesta pernikahanku sendiri, jadi aku mengerti dengan perasaan yang dirasakan Carel sekarang. Tapi aku juga mengerti dengan besarnya perhatian semua orang padaku dan Carel, mereka tidak ingin kami kelelahan dengan semua itu kan? Jadi mereka mengurusnya tanpa sepengetahuan kami.


.


.


.


Thanks for reading...