
-Aster-
Setelah berbincang cukup lama dengan kak Nathan, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit bersama kak Nathan.
Kami pergi bersama-sama tanpa banyak berbincang lagi, dan entah kenapa hal itu membuatku merasa sedikit canggung. Inginku memulai pembicaraan sambil berjalan menuju rumah sakit, tapi tidak ada hal yang terlintas di kepalaku, tak ada topik pembicaraan yang bisa ku bahas bersamanya.
Langkah kami kian mendekati rumah sakit, tapi mataku sudah menangkap sosok Hans yang berjalan cepat mendekatiku dengan ekspresi khawatirnya.
"Saya mencari nona kemana-mana, kenapa heandphone nona juga tidak aktif?" Tuturnya saat sampai dihadapanku.
"Eh itu, batrai heandphone ku habis jadi–"
"Syukurlah nona baik-baik saja." Gumamnya memotong ucapanku, ku lihat paman Hans sudah menghela napas leganya.
"Karena sudah ada Hans, aku pergi duluan ya." Ucap kak Nathan membuatku menoleh kearahnya.
"Iya, pergilah. Pasti nenek dan ibumu sudah menunggu di dalam." Tuturku membuatnya tersenyum tipis sebelum meninggalkanku.
Sekarang bagaimana? Haruskah aku pergi ke ruang rawat ayah lagi? Tapi kalau ayah mengusirku lagi bagaimana? Batinku merasa bimbang.
"Sebaiknya aku kembali ke hotel saja dan menyelesaikan pekerjaanku." Lanjutku bergumam saat mengingat ada beberapa pekerjaan yang belum ku selesaikan hari ini.
"Nona mau kembali?" Tanya paman Hans membuatku menganggukan kepalaku sebagai jawabanku.
"Iya, kita kembali ke hotel saja."
"Ti–tidak akan menemui tuan lagi?"
"Tidak, untuk hari ini cukup sampai di sini saja." Putusku berusaha menepis pikiranku yang kembali mengingat sosok ayah, ayah yang terlihat asing dan bersikap kasar padaku saat melepaskan pelukan rinduku.
"Kalau begitu akan saya siapkan mobilnya." Ucap Hans segera pergi menuju parkiran dan aku mengekorinya dari belakang. Tidak mau menunggu lama dihalaman rumah sakit sendirian. Jadi ku putuskan untuk ikut pergi ke parkiran bersama paman Hans.
***
-Carel-
Ku tatap jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 04:25 sore dengan perasaan kesalku. Entahlah, aku benar-benar merasa kesal sekarang, karena Teo belum menghubungiku sejak pergi dari akademi untuk mengunjungi rumah sakit. Melihat kondisi Aster yang sudah lama tidak ku dengar kabarnya, padahal aku sudah meminta si Hans untuk memberitauku jika Aster sudah siuman. Tapi tidak ada panggilan masuk darinya, bahkan pesan singkat pun tidak ada.
Benar-benar tidak berguna!
"Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?" Lanjutku menggerutu saat mengingat kepergian Teo beberapa jam yang lalu.
Harusnya dia sudah sampai kan? Jalanan pun masih ramai lancar belum macet. Tapi kenapa– batinku terhenti saat mendapat panggilan masuk dari Teo, dengan cepat ku angkat panggilannya.
"Kau sengaja membuatku menunggu ya?" Tanyaku sedikit membentaknya.
"Aku malas memberitahumu sebelum mendapatkan informasi lengkap." Dengusnya membuatku semakin kesal.
"Mau dengar tidak?" Lanjutnya membuatku menghela napas singkat.
"Katakan!" Titahku merasa sedikit deg-degan menunggu informasi yang akan diberitahukan Teo padaku.
Semoga kondisinya sudah membaik, semoga Aster–
"Jadi Aster sudah kembali ke rumahnya? Dan dia sudah terbang ke Singapura pagi tadi? Kenapa si Hans tidak memberitauku? Jika saja aku tau ...," Gumamku merasa kesal pada pekerja Veren yang satu itu. Padahal aku berharap bisa mengantar Aster ke kediamannya.
Dan lagi, kenapa mereka bisa pergi ke Singapura disaat kondisi Aster baru saja pulih. Tidak bisakah mereka menunggu satu dua hari sampai kondisi Aster benar-benar pulih sepenuhnya?
"Jika kau tau, kau mau apa? Kabur dari akademi dan tertangkap lagi?" Suara Teo menyadarkan ku dari lamuna. singkatku.
"Berisik! Tutup mulutmu!" Seruku sebelum mematikan sambungan telepon ku.
Apakah mereka pergi untuk urusan pekerjaan lagi? Atau pergi untuk menemui si pak tua itu? Dwi bilang dia tinggal disana untuk sementara sampai urusan pekerjaannya selesai.
"Hah~ ku harap tidak terjadi hal buruk lagi padanya." Gumamku setelah menghela napas panjang, mengingat kembali kondisi Aster pada siang itu. Saat dia kesakitan dan mencengkram erat tangan Hans dengan seluruh kekuatannya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 malam, dan aku masih terjaga selagi Teo sudah berkelana dalam mimpinya.
Ku perhatikan layar heandphoneku dengan seksama, mencoba menimbang keputusanku untuk menghubungi Dwi atau tidak. Entahlah, aku merasa dia harus mulai memberitauku kapan dia bisa menceritakan rahasianya itu padaku.
Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena rasanya aku sedang di kejar waktu. Aku merasa, jika waktunya terus diundur, maka aku akan melewatkan banyak hal. Dan itu membuatku dongkol sekarang.
Setelah mengumpulkan seluruh keberanian ku, akhirnya ku putuskan untuk menghubungi Dwi. Mengirimkan pesan singkat padanya.
...Dwi...
^^^Kapan kau akan mulai memberitauku?^^^
^^^¹⁰•⁰³^^^
^^^Soal rahasiamu itu.^^^
^^^¹⁰•⁰³^^^
Nanti.
¹⁰•⁰⁴
Ku lemparkan heandphone ku ke atas tempat tidurku saat membaca pesan balasan darinya. Bisa-bisanya dia cuma membalas pesanku dengan satu kata. Tidak bisakah dia membalasnya lebih panjang? Dan tentukan tanggalnya juga? Aku malas mengirimnya pesan lagi.
"Bodoh!" Dengusku sambil menghempaskan tubuhku keatas tempat tidurku dan menutup kepalaku dengan bantal. Mencoba untuk menghilangkan rasa penasaranku pada rahasia yang dimaksud oleh kakak ku yang menyebalkan itu.
"... pertama, aku diam-diam dijodohkan dengan Lusy sampai pertunangan kamipun aku tidak tau. Alasannya karena keluarga kakek tua itu mengancam keluargaku, mereka akan menyebarkan rumor buruk tentangku satu tahun lalu. Berencana menghancurkan kehidupanku di akademi." Gumamku sambil melepaskan bantal diwajahku dan menatap dalam langit-langit kamarku. Mencoba memikirkan kembali seluruh kejadian yang hampir ku lupakan.
"Kedua, Aster tiba-tiba berubah menjadi orang yang tidak ku kenali dan terus menghindari ku. Lalu tiba-tiba kedua temannya Lusy menjadi diam, padahal sebelumnya mereka terus mengganggu Aster. Apa Aster diancam untuk menjauhiku oleh mereka?" Lanjutku mengingat semua momen saat Aster terus menghindari ku, bahkan aku masih mengingat perkataannya yang membuat hatiku sakit saat aku meminta dia untuk pergi ke rumah sakit bersamaku, karena ibu ingin bertemu dengannya. Tapi dia menolaknya dengan cara yang tidak pernah ku duga dari seorang Aster.
"Ketiga ... aku bahkan baru tau kalau pak tua itu sudah lama tinggal di Singapura untuk urusan pekerjaannya. Padahal sebelumnya dia sempat sibuk mengurus masalah Aster yang dirundung oleh kedua temannya Lusy. Tapi setelah itu, tiba-tiba kabarnya hilang. Apa itu ada kaitannya dengan perkataan ayah dan kakek saat mereka memintaku untuk memahami situasi ku? Situasi apa yang mereka maksud? Apa mereka merencanakan sesuatu di belakangku? Tanpa memberitauku?"
.
.
.
Thanks for reading...