Aster Veren

Aster Veren
Episode 163




-Aster-


Setelah malam itu, aku disarankan untuk beristirahat selama beberapa hari lagi di rumah sakit. Lalu diperbolehkan pulang pada hari ini setelah melakukan pemeriksaan terakhir.


"Semuanya sudah selesai dikemasi nona." Ucap kak Mila setelah selesai memasukan semua pakaianku ke dalam tas besar yang ada disampingku.


"Hans juga sudah menunggu di bawah." Lanjutnya sambil melihat layar heandphonenya.


"Kalau begitu kita pergi sekarang." Ucapku sambil bangkit dari posisi duduk ku, lalu kak Mila mulai mengikutiku keluar dari ruangan tempatku di rawat.


"Soal tuan–" Ucapnya segera ku potong.


"Aku akan pergi besok pagi."


"Tapi, nona baru saja keluar dari rumah sakit. Bukankah lebih baik nona beristirahat dulu selama beberapa hari?" Tuturnya saat kami masuk ke dalam lift.


"Aku sudah banyak beristirahat selama di rumah sakit." Jawabku sambil menekan tombol lantai dasar.


Dan lagi, aku ingin segera bertemu dengan ayah. Aku benar-benar tidak sabaran sekarang karena sudah mendengar soal kondisi ayah yang sudah membaik. Apalagi saat aku tidak sadarkan diri, ayah sudah siuman. Dan itu membuat perasaan rinduku menjadi tak tertahankan.


Pintu lift terbuka membuatku bergegas keluar dari sana, diikuti oleh kak Mila. Lalu ku lihat paman Hans sudah menungguku di depan pintu masuk rumah sakit.


"Selamat pagi nona, selamat atas kesembuhannya." Tuturnya sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum mengambil alih tas besar di tangan kak Mila.


"Terima kasih." Ucapku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku sebelum paman berlari kebagian belakang mobil, untuk menyimpan tas besar ditangannya ke dalam bagasi mobil.


"Silahkan masuk nona." Lanjut kak Mila membukakan pintu mobil dihadapanku, padahal aku bisa membukanya sendiri. Tapi kak Mila tidak membiarkanku begitu saja.


Dengan cepat aku masuk ke dalam mobil, disusul oleh kak Mila dan paman Hans yang sudah berlari kebagian depan mobil. Bersiap untuk mengemudikan mobil sampai ke kediaman Veren.


"Apa nona ingin pergi ke suatu tempat dulu?" Tanya paman Hans saat mobil baru saja melaju, meninggalkan halaman rumah sakit.


"Tidak, aku ingin cepat sampai di rumah dan mempersiapkan diri untuk keberangkatan ku ke Singapura besok pagi." Jawabku tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagiaku saat membayangkan sosok Ayah yang sudah siuman.


Apa ayah akan terkejut saat melihatku datang mengunjunginya? Lanjutku dalam hati, bertanya-tanya dengan reaksi ayah yang tidak bisa ku duga.


***


-Carel-


Ku hela napas berat untuk ke sekian kalinya, memikirkan bagaimana caraku bisa kabur dari akademi untuk bisa bertemu dengan Aster.


Aku benar-benar khawatir sekarang, karena setelah kepulangan ku dari rumah sakit. Aku belum pernah mengunjunginya lagi, dan tidak ada kabar soalnya.


Ini bahkan sudah lewat beberapa hari, apa Aster masih belum sadarkan diri juga? Batinku tak bisa berhenti memikirkan tentangnya.


"Kau tidak sedang berpikir untuk kabur lagi kan?" Suara Teo mengejutkanku.


"Kau bisa membaca pikiran ya?" Dengusku merasa kesal dengan tebakannya yang selalu tepat sasaran itu.


"Wajahmu mudah ditebak." Jelasnya sambil duduk dikursi kosong disampingku.


"Hah~ mau seberapa keras aku berpikir. Sepertinya sudah tidak ada cara lain lagi supaya aku bisa pergi dari akademi." Gumamku setelah menghela napas lesu.


"Ya, menyerah saja. Kalau tidak, kau bisa mendapat hukuman lagi jika ketahuan kabur." Tutur Teo mengingatkanku pada pelarianku dua hari yang lalu. Aku berencana untuk pergi diam-diam dari akademi, dan kembali secepatnya. Tapi aku malah tertangkap basah oleh pak Justin.


"Kalau begitu, kau gantikan aku. Pergi ke rumah sakit dan laporkan kondisi Aster padaku." Titahku setelah mendapatkan ide cemerlang, pasalnya anak ini jarang sekali pergi ke luar. Jadi tentu saja izin keluarnya masih banyak kan?


"Tidak mau!" Tolaknya membuatku mengernyit.


"Kenapa?"


"Merepotkan,"


"Kau–"


"Aku tidak tau kalau kau sudah tidak marah lagi pada Aster." Potongnya membuatku bungkam.


Aku bahkan baru sadar kalau terakhir kali aku bertemu dengan Aster, hubunganku dengannya menjadi kurang baik karena pembicaraan malam itu benar-benar membuatku kesal.


Lalu, tiba-tiba aku dimintai tolong oleh pria berambut pirang disampingku ini untuk menemani Kalea. Awalnya anak itu juga tidak memberitauku akan pergi ke mana. Tapi setelah sampai di kediaman Veren, aku baru sadar kalau dia berencana untuk mengunjungi Aster.


Kemudian kami berurusan dengan beberapa pelayan, mereka terus bilang kalau Aster sedang tidak bisa ditemui dan meminta kami untuk mengunjunginya dilain waktu. Tapi Kalea bersikukuh untuk menemui Aster sampai terdengar suara di kamar Aster, yang saat itu posisi kami berada di ruangan sebelah kamarnya. Lalu netraku menangkap sosok Hans dan Mila berlari ke kamar Aster dengan tergesa-gesa bersama wajah pucatnya yang membuatku bingung.


Saat itu Kalea mengambil kesempatan itu untuk pergi ke kamar Aster ketika perhatian para pelayan teralihkan pada sosok Hans dan Mila. Dan aku, aku mengikutinya dari belakang bersama para pelayan yang mengejar Kalea.


Dan disanalah aku melihat kondisi Aster yang tidak seperti biasanya, awalnya ku pikir sesak napasnya kambuh. Tapi saat mendengar dia meminum teh beracun, tiba-tiba saja aku merasa kesal. Bagaimana bisa pelayan sebanyak ini tidak bisa mengawasi apa yang dimakan dan diminum oleh majikannya?


"... aku masih marah padanya tuh." Ucapku setelah membisu cukup lama.


"Yakin?"


"Ya. Dia berhutang penjelasan padaku." Dengusku mengingat kembali pesan masuk dari Dwi.


Dia tidak akan berpura-pura lupa untuk menghindari ku kan? Lanjutku dalam hati, entahlah aku memang tidak bisa mempercayai kakak ku yang bodoh itu. Ucapannya saja tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa aku akan mempercayainya yang tiba-tiba mengirim pesan akan memberitaukan semua rahasia yang dia sembunyikan dariku. Padahal sebelumnya dia bersikukuh untuk memberitauku saat aku sudah lulus dari akademi.


"Hee... jadi kau berharap Aster akan memberikan penjelasannya padamu?"


"Tentu saja!" Dengusku sambil mendelik kesal pada Teo.


"Kau ... rupanya masih sangat menyukai Aster ya?" Ceplosnya membuatku semakin dongkol saat melihat ekspresi menggodanya. Dan alasan lainnya yang membuatku dongkol adalah diriku sendiri. Kenapa? Karena tiba-tiba saja ingatanku saat mencium Aster di ruang kesehatan kembali menghantuiku.


Kenapa ingatannya muncul diwaktu yang tidak tepat?


"Padahal kau sudah bertunangan dengan si Lusy. Tapi hatimu masih tertuju pada Aster. Bagaimana ini? Apa nantinya kau akan melukai hati seorang wanita lagi?" Lanjutnya benar-benar menusuk jantungku.


"Baru saja kemarin kau bilang akan melupakan Aster dan mau mencoba untuk dekat dengan si Lusy-Lusy itu. Tapi hari ini pikiranmu sudah berubah lagi, memang ya cinta itu tidak bisa–"


"Teo!" Ucapku penuh penekanan, memotong ocehannya yang semakin tidak jelas.


"Apa? Aku tidak takut dengan tatapanmu itu! Aku sudah kebal loh, hha-hahaha ...," ocehnya segera berlari menjauhiku sambil tertawa.


"Kembali kau! Jangan kabur, katanya tidak takut padaku!" Teriak ku sambil mengejarnya.


.


.


.


Thanks for reading...