
-Kalea-
Sore ini ayah menjemputku bersama dengan ibu, tapi yang tidak ku mengerti adalah kenapa ibu mengajak Aster untuk pulang bersama kami juga?
"Kita akan pergi ke rumah nenek, Aster dan Kalea bisa tidur kalau mau. Setelah sampai nanti akan ku bangunkan." Tutur ibu sambil menoleh kearahku dan Aster secara bergantian.
Kenapa kita harus pergi ke rumah wanita itu lagi? Batinku menggerutu kesal saat mengingat perlakuannya padaku.
"A–aster ikut ke rumah nenek juga?" Suara gugup Aster menarik perhatianku.
"Apa ibuku harus mengulangi ucapannya lagi?" Tanyaku membuatnya tersentak.
"Ma–maaf." Ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya yang sudah meremas celana olahraganya sejak tadi.
"Kalea, kamu tidak boleh bersikap seperti itu. Usiamu lebih tua dari Aster, harusnya kamu bisa menjadi kakak yang baik untuknya." Tutur ibu sambil tersenyum lebar padaku.
Kenapa aku harus menjadi kakaknya? Aku tidak berniat menjadi kakaknya. Batinku sambil mendengus kesal.
Kepalaku terasa berat sekarang, rasanya aku tak bisa menerima semua kenyataan ini. Bagaimana bisa Aster menjadi anak ayah? Kenapa aku harus mau menjadi saudara tirinya?
Meski ibu bilang akan melakukan pernikahan dengan ayah dan menjadikannya sebagai ayahku yang sesungguhnya ... tapi kalau aku dipaksa menjadi kakak tirinya, aku benar-benar tidak bisa menerimanya.
Sejak dulu aku sudah membencinya. Jika ditanya kenapa, mungkin karena dia selalu baik kepada siapapun dan bersabar atas perlakuan buruk semua orang padanya. Terlalu sabar untuk anak kecil seusianya, sampai membuatku kesal setengah mati saat melihatnya diam saja saat orang-orang menindasnya.
Bagaimana bisa dia menerima semua perlakuan buruk itu setiap hari? Bahkan tubuhnya selalu terluka setiap harinya. Kenapa? Kenapa dia tidak pernah marah? Kenapa dia tidak pernah mencoba untuk melawan orang-orang yang merundungnya? Kenapa dia bisa sesabar itu? Padahal usia kami tidak jauh berbeda, malah bisa dibilang aku dan Aster adalah siswi kelas 3 termuda diangkatan kami. Tapi kenapa dia sangat berbeda denganku?
Melihatnya seperti itu saja sudah membuatku kesal. Dan tanpa sadar aku mulai ikut merundungnya bersama dengan anak-anak lainnya.
Tapi hal yang paling tidak bisa ku terima adalah kepintarannya, rasanya semua kerja kerasku tak sebanding dengannya. Padahal usia kami sama-sama 7 tahun, materi sekolah yang dipelajari juga sama, tapi kenapa dia bisa lebih pintar dariku? Kenapa aku yang selalu menduduki peringkat dua di kelas? Padahal aku selalu bekerja keras lebih keras darinya, tapi kenapa aku masih kalah darinya? Bahkan kak Nathan pun sampai tertarik padanya.
Hah, menyebalkan! Batinku sambil menghela napas saat mengingat semua kenangan menyedihkan itu.
"Tapi kenapa dia diam saja?" Lanjutku bergumam sambil melirik kearahnya.
Ku lihat tangannya gemetaran, bahkan wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Ada apa dengannya? Aku tidak pernah melihatnya seperti ini? Batinku memperhatikannya yang terus menundukan kepalanya.
"A–aster?" Tanyaku mencoba untuk meraih pundaknya.
"Ada apa sayang?" Suara ibu membuatku menoleh kearahnya.
"A–ada yang aneh dengan Aster." Jawabku berkeringat dingin.
"Aneh?" Tanya ibu langsung menoleh kearah Aster, bahkan ayah juga langsung melihat Aster dari pantulan kaca spion mobilnya.
Ku lihat Aster sudah meremas pakaian didekat dadanya san segera menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi dengan napasnya yang tersendat-sendat.
Keringatnya banyak sekali. Batinku tak bisa berpaling dari wajah pucatnya.
"Aster?" Ucapku langsung memegangi tangannya setelah mengumpulkan semua keberanianku untuk menyentuhnya.
"Se–sesak ... da–dada Aster se–sak." Tuturnya dengan susah payah sambil melirik kearahku.
"Ansel!" Suara ibu terdengar panik.
"Kita pergi ke rumah sakit dulu." Ucap Ayah langsung menancap gas.
Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Batinku mulai merasakan dingin ditelapak tanganku, dan ku lihat buliran bening mulai berjatuhan dari matanya.
"Cobalah untuk mengatur napasmu Aster ... keringatnya banyak sekali." Tutur Ibu.
***
-Aster-
Kenapa Kalea terus menatapku seperti itu? Batinku langsung memalingkan pandanganku saat bertemu pandang dengannya.
Ku coba mengalihkan perhatianku pada pemandangan di luar jendela mobil dan membayangkan reaksi nenek saat aku datang berkunjung bersama dengan ayah. Tapi rasa sakitku tak kunjung reda.
Tanganku mulai gemetaran sekarang. Batinku memperhatikan kedua tanganku yang masih terkepal diatas pangkuanku.
"A–aster?" Suara Kalea terdengar aneh, membuatku melirik kearahnya.
Kenapa dia memasang ekspresi seperti itu? Batinku bertanya-tanya saat melihat ekspresi terkejutnya.
"Ada apa sayang?" Suara tante Claretta terdengar samar ditelingaku.
"A–ada yang aneh dengan Aster." Jawab Kalea dengan suara tergugup bersamaan dengan tanganku yang sudah meremas pakaian dibagian dadaku dan segera menyenderkan tubuhku pada senderan kursi mobil.
"Aneh?" Tanyanya.
Kenapa mereka memasang ekspresi seperti itu? Uh ... pandanganku mulai buram, napasku juga .... Batinku berusaha untuk mengatur napasku untuk mengurangi rasa sesak dan sakit didadaku.
"Aster?" Suara Kalea langsung meraih tanganku dan membuatku kembali melirik kearahnya.
Kalea ... dia mengkhawatirkanku? Batinku bertanya-tanya.
"Se–sesak ... da–dada Aster se–sak." Lanjutku dengan susah payah, mencoba untuk menjelaskan rasa sakit yang ku rasakan.
"Ansel!" Suara tante Claretta terdengar panik meski samar.
"Kita pergi ke rumah sakit dulu." Lanjut Ayah langsung menancap gas membuat buliran bening di mataku berjatuhan.
Apa ini artinya ayah mengkhawatirkanku juga? Batinku merasa terharu saat mendengar suaranya.
"Cobalah untuk mengatur napasmu Aster ... keringatnya banyak sekali." Suara tante Claretta semakin terdengar samar.
Setelah berusaha keras untuk mengatur napasku, akhirnya aku berhasil mengurangi sesak didadaku dan sekarang aku bisa bernapas lebih baik dari sebelumnya.
"Kita sudah sampai." Suara Ayah membuat tante Claretta dan Kalea bergegas keluar dari dalam mobil, mengikuti ayah yang sudah keluar lebih dulu.
"Aku juga ingin keluar ...." Gumamku merasa lemas.
Lalu ku lihat pintu mobil bagianku sudah terbuka, dan ayah langsung meraih tubuhku dengan menggendongku dipelukannya.
Hangat. Batinku merasakan kehangatan yang berbeda dari kehangatan yang ku dapatkan dari paman merah.
"As–ter bisa jalan sendiri." Tuturku setelah mengumpulkan semua tenagaku untuk berbicara, tapi tak ada jawaban dari ayah. Hanya tatapan dingin yang melirik ku sebentar selagi langkahnya terburu-buru memasuki rumah sakit.
"Kak Ansel?" Suara seorang wanita berjas putih yang menarik perhatianku, ku lihat kakak cantik itu sudah berdiri dihadapan ayah.
"Wanda?" Suara Ayah membuatku melirik kearahnya, memperhatikan raut wajah dinginnya. Namun ada sedikit rasa khawatir dari sorot matanya.
"Ah, Aster? Apa kau sesak lagi? Apa Arsel belum membawamu menemui dokter paru? Dia benar-benar tak bisa diandalkan ya," tutur kakak itu terdengar kesal.
"Dokter paru?" Tanya Ayah kembali melirik ku dan bertemu tatap denganku.
"Untuk sekarang, ikuti aku dulu." Pinta kakak berjas putih itu membuat ayah bergegas.
"Ayah apa yang terjadi pada Aster? apa dia akan baik-baik saja?" Suara Kalea benar-benar terdengar khawatir, seperti bukan dirinya yang ku kenal. Kenapa juga dia mengkhawatirkanku?
"Dokter akan memeriksanya sayang, tenanglah." Suara tante Claretta berusaha menenangkan putrinya yang berjalan mengikuti langkah ayah dari belakang.
.
.
.
Thanks for reading...