
-Sean-
"Kau salah makan?" Tanya Hendric membuatku mendelik sebal padanya, "ekspresimu terlihat gelisah, ada apa? Apa kau tidak berhasil membuat kesepakatan dengan saudara tirimu itu?" Lanjutnya bertanya, membuatku semakin kesal dibuatnya. Bagaimana tidak? Jelas-jelas dia sudah tau semuanya, masih saja menanyakan pertanyaan bodoh macam itu!
Kalau harus dibilang, ya aku memang sempat berniat membuat kesepakatan dengan Kalea. Aku akan menolongnya dan melindunginya dari berbagai macam gangguan di akademi. Dengan syarat, dia harus membantuku untuk bisa lebih dekat dengan Aster. Tapi si pirang menyebalkan itu malah menghalangi rencanaku dan entah bagaimana ceritanya, sekarang dia sudah menjadi kekasihnya Kalea. Tentu saja Kalea yang mengawali hubungan itu, membuatku tak bisa berkutik saat menyaksikan bagaimana dia mengungkapkan isi hatinya pada si pirang.
"Bisa-bisanya dia menjadikan Teo sebagai kekasihnya!" Gumamku merasa kesal sendiri.
"Kesepakatanmu tidak jadi dong ya?" Tanya Hendric sambil memainkan ponselnya membuatku refleks melemparkan buku paket ditanganku keatas kepalanya.
"Tutup mulutmu itu!" Seruku bersamaan dengan ringisannya.
"Semakin hari kau semakin kejam saja ya?" Dengusnya sambil mengusap puncak kepalanya.
***
-Aster-
"... kau serius?" Tanyaku setelah mematung cukup lama disamping Kalea yang terlihat malu-malu dengan rona merah diwajahnya saat dia selesai bercerita soal kejadian sore tadi.
Kejadian saat dia menemui kak Nathan ditemani oleh Teo dan Sean. Lalu tanpa diduga-duga, perempuan disampingku ini malah menyeret Teo kedalam masalahnya, mengakui anak itu sebagai kekasihnya dihadapan kak Nathan supaya dia bisa terbebas dari gangguan kak Nathan.
"Aku bahkan mengutarakan isi hatiku setelah si Nathan pergi dari hadapanku, dan ... entah bagaimana ceritanya, pokoknya Teo menerimaku sebagai kekasihnya. Aku sangat senang dan–" Jelasnya terpotong oleh suara pintu kamar yang sudah terbuka menampilkan sosok Nadin dan Tia diambang pintu. Lalu dengan cepat mereka melangkahkan kakinya mendekatiku dan Kalea setelah menutup kembali pintu kamar kami.
"Kau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Nadin membuatku mengernyit dengan pertanyaannya.
"Tidak! Aku sungguh–" Jawab Kalea kembali terhenti saat Nadin memeluk tubuhnya dengan tiba-tiba.
"Ini hebat! Baru-baru ini Kalea mengakui perasaannya pada Teo kepada kita. Lalu hari ini, tiba-tiba saja dia menjadi kekasihnya Teo. Kau sangat berani Lea!" Lanjut Tia sambil menepuk punggung Kalea selagi dia dipeluk oleh Nadin.
Apa yang dikatakan oleh Tia memang benar, aku bahkan tidak pernah berpikir hubungan Kalea dan Teo akan berjalan semudah ini. Bisa-bisanya Kalea mengutarakan isi hatinya segampang itu? Dan lagi anak itu, dia juga dengan mudahnya menerima Kalea sebagai kekasihnya.
... jadi dugaanku selama ini benar ya? Batinku kembali mengingat saat-saat Teo memperlakukan Kalea dengan begitu baik.
"Mereka sama-sama saling menyukai satu sama lain, hanya saja ekspresi mereka tidak mudah dibaca. Tapi sekarang ...," lanjutku bergumam mengingat ekspresi tembok Teo dan ekspresi dingin Kalea, lalu ku perhatikan ekspresi Kalea yang terlihat lebih manusiawi karena terlihat malu-malu. Entah kenapa aku merasa bersyukur karena bisa melihatnya berekspresi seperti itu.
Padahal ku kira dia tidak akan pernah menunjukan ekspresi seperti itu lagi karena ingatan masa lalunya. Tapi aku salah karena sudah menyimpulkannya dengan terburu-buru. Syukurlah sekarang Lea terlihat lebih baik setelah berbaikan dengan Nadin dan berteman dengan Tia.
"Lalu bagaimana dengan kak Nathan? Apa dia menemuimu?" Lanjutku bertanya, menghentikan pelukan Nadin dan Kalea.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Tia yang sudah duduk diatas kursi belajar Kalea yang dia seret dari dekat meja belajarnya.
***
-Kalea-
Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 malam, Nadin dan Tia sudah kembali ke kamar mereka, dan Aster juga sudah terlelap dalam tidurnya setelah ikut mengobrol bersama. Membicarakan soal hubungan Nadin dan kak Nathan yang entah akan dibawa kemana.
Yang jelas aku sangat puas karena sempat memarahi kak Nathan yang sudah berani-beraninya menorehkan luka di hati Nadin. Meski ujung-ujungnya Teo menghentikanku, tapi berkatnya aku jadi memiliki cara untuk menjauh dari kak Nathan.
Ya, tiba-tiba saja pikiran itu muncul dikepalaku! Apalagi kalau bukan mengakui Teo sebagai pacar bohonganku dan membuat pria itu terkejut, termasuk dengan Sean. Tapi setelah kepergian kak Nathan, aku sungguh-sungguh mengutarakan isi hatiku pada Teo. Dan tanpa pernah ku duga, ternyata Teo mau menerima perasaanku.
Entah kesambet apa? Aku sampai memiliki keberanian untuk mengutarakan isi hatiku pada pria tembok itu? Sangat memalukan, batinku sambil mengerubuni seluruh tubuhku dengan selimutku. Membayangkan ekspresi yang ditunjukan Teo padaku saja sudah membuat suhu tubuhku memanas.
Senyum tipis dengan manik hijaunya yang menatapku dengan hangat, lalu suara tawanya yang terdengar menggemaskan saat menerimaku sebagai kekasihnya. Aku tidak bisa membayangkan hal apa lagi yang akan terjadi kedepannya. Tapi, aku yakin aku sangat bahagia sekarang.
"Tidak apa-apa kan kalau aku bahagia?" Gumamku sambil membuka selimut yang menutupi wajahku, lalu ku lihat sosok Aster yang terlelap menghadap kearahku di tempat tidurnya.
Saat melihatnya tertidur dengan pulas seperti itu, entah kenapa aku selalu merasakan perasaan bersalah padanya ... dan hatiku tergerak ingin melindunginya, batinku mengingat semua hal buruk yang pernah ku lakukan pada Aster dimasa lalu. Entah akan ada hal buruk apa lagi yang akan terjadi kedepannya, yang pasti aku akan melindunginya. Pikiran itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku saat mengingat pembicaraanku dengan Sean sore tadi.
"Tidak akan ku biarkan anak itu merusak kebahagiaan Aster!" Lanjutku saat berusaha menepis suara Sean yang mulai memenuhi kepalaku, memintaku untuk mendekatkannya dengan Aster. Tentu saja aku menolaknya karena dilihat sekilas saja Aster lebih bebas jika bersama dengan Carel.
Tapi bukan berarti Aster tidak akan bahagia jika bersama dengan Sean, hanya saja ... anak itu. Penggemar perempuannya lebih menakutkan daripada penggemar perempuan yang menganggumi sosok Carel. Apa dia tidak menyadarinya? Batinku mengingat beberapa kejadian saat menangkap basah kelompok perempuan yang merundung perempuan lain yang berniat menyatakan perasaannya pada Sean sampai membuat orang yang dirundung membatalkan niatnya.
"Bisa-bisanya anak itu memiliki penggemar perempuan seagresif itu!" Gumamku merasa merinding sendiri, membayangkan hal menakutkan apa jika aku berada di posisi Sean.
Selain tidak bisa dekat dengan orang yang disukai secara bebas, mungkin hidupnya juga akan dibuat menderita dengan berbagai teror menakutkan dari para penggemarnya. Bahkan aku sempat mendengar Hendric membicarakan soal Sean yang dibuat stress oleh sekumpulan anak perempuan yang menjejalinya hadiah di depan lokernya.
Aku jadi ingin melihat ekspresinya, batinku tak bisa membayangkan ekspresi yang dibuat oleh Sean saat itu.
Selain itu, aku baru tau kalau anak itu sebegitu terkenalnya di akademi. Padahal pernah ada rumor buruk tentang dirinya dan keluarganya, tapi dengan ajaibnya semua rumor itu terlupakan. Seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.
.
.
.
Thanks for reading...