Aster Veren

Aster Veren
Episode 105




-Aster-


Sudah beberapa hari ini Kalea terlihat murung dan lebih pendiam dari biasanya. Awalnya aku juga tidak mengerti dengan perubahan sifatnya yang seperti itu, tapi saat aku mendengar soal ibunya Kalea yang tidak bersalah dan tidak terlibat dalam kasus pembunuhan berencana neneknya, aku pikir aku jadi mengerti kenapa Kalea bersikap seperti itu.


Padahal ibunya dinyatakan tidak bersalah, tapi dia tidak bisa menemui ibunya. Dan lagi neneknya dijatuhi hukuman penjara, ya sudah pasti kan? Dia harus membayar perbuatannya itu.


Padahal dia selalu bisa mengendalikan dirinya, batinku mengingat ketegaran Kalea saat mendengar semua berita buruk tentang keluarganya sambil memperhatikan layar heandphoneku yang masih menyala, menampilkan artikel hangat tentang kasus pembunuhan pada nenek.


Setiap mengingatnya aku malah menjadi semakin kesal, kenapa harus nenek? Kenapa bukan orang lain saja? Padahal, akhirnya aku memiliki keluarga dan tidak sendirian lagi. Tapi ... hentikan Aster! Semuanya sudah terjadi, dan lagi kamu sudah merelakannya kan? Jadi biarkan nenek beristirahat dengan tenang sekarang.


"Hah~ ku harap Kalea baik-baik saja." Gumamku sambil membuang pandanganku keluar jendela kelas, memperhatikan siswa-siswi lainnya yang sedang berolahraga di lapangan olahraga. Terlihat begitu menyenangkan. Lebih menyenangkan dari belajar sendiri karena pak Vito tidak bisa hadir siang ini.


"... apa, ada yang terjadi pada Kalea?" Suara Sean membuatku sedikit tersentak dan refleks menoleh kearahnya yang duduk di sampingku sebagai teman satu bangku ku.


Apa dia mendengar gumamanku? Padahal suasana kelas sangat ricuh. Batinku sambil memperhatikan sekitarku dan mendengar suara kericuhan teman-teman sekelasku. Lalu ku alihkan pandanganku pada Sean, dan ku lihat sorot matanya menatap lurus pada papan tulis di depan. Dan ada sedikit kabut kecemasan disana.


apa dia mengkhawatirkan Kalea?


"Itu–dia ... mendapat surat dari ibunya beberapa hari yang lalu. Lea terlihat begitu terkejut setelah membaca isinya dan sikapnya jadi lebih pendiam seperti itu," jelasku sambil mengalihkan perhatianku pada buku paket dihadapanku.


"Jadi dia juga mendapatkannya ya?" Gumamnya membuatku kembali menoleh padanya yang sudah menghela napas gusarnya.


"Kau juga mendapatkannya? Surat?" Tanyaku spontan.


"Ya,"


"Hmm ...,"


"Kenapa?" Tanyanya membuatku menoleh kearahnya lagi, membuat mataku bertemu tatap dengan manik hitamnya.


"Tidak." Singkatku tak ingin mengatakan apapun lagi saat melihat manik hitamnya yang terlihat kesepian itu. Apa dia merindukan ibu tirinya?


"Tidak mau bertanya mengenai isi suratnya?"


"Kenapa? Kan itu surat pribadi dari tan–ibunya Sean. Mana berani aku bertanya, lagian aku juga tidak bertanya isi surat yang diterima Kalea. Jadi kenapa aku harus bertanya isi surat yang kamu dapat?" Tuturku menjelaskan isi pikiranku.


"Selain itu ... aku kan tidak memiliki hubungan apapun dengan tante Claretta. Aku juga tidak menyukainya." Lanjutku mengingat kenangan buruk ku mengenai tante Claretta yang pernah mengajak ku bicara di dalam mobil saat pulang sekolah dulu.


"Hee... jadi cerita soal ibu yang mempunyai hubungan buruk dengan keluargamu itu benar ya? Ku kira ayah cuma mengatakan omong kosong belaka." Gumamnya membuatku merasa tersentak dan bersalah karena mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak ku katakan.


Pa–padahal aku tidak bermaksud buruk, tapi aku malah mengatakan hal tak terduga seperti itu. Batinku tak tau harus mengatakan apa untuk membalas ucapannya dan membenarkan perkataanku.


"So–soalnya dulu tante Claretta pernah membuatku takut. Dia menunjukan sikap tidak sukanya padaku secara terang-terangan hanya karena aku anaknya ibu Helen." Lanjutku tiba-tiba mengucapkan apa yang terlewat dalam pikiranku.


"Ah iya, ibu sempat hampir menikah dengan ayahmu ya?"


Rupanya dia sangat dekat dengan tante Claretta ya? Dia sampai memanggilnya dengan sebutan ibu juga.


"Ya," angguk ku tak bertenaga.


"Aku tidak tau sifat ibu yang seperti itu. Yang aku tau dia sangat menyayangi keluarganya, tapi aku salah menilai ibu saat mengetahui kenyataan soal Kalea yang statusnya adalah putri kandungnya. Tak pernah ku pikirkan kalau ibu berlaku sejahat itu pada Kalea, mencampakannya dan pergi ke keluarga Alaric dengan rahasia besarnya itu." Tuturnya masih dengan ekspresi murung, tapi ada segurat kekesalan yang tergambar diwajahnya.


"Aku juga terkejut saat mengetahui tante Claretta menikah lagi dengan tuan Albert dan memperlakukan Kalea seperti orang asing ... rupanya setelah aku kembali dari Singapura banyak hal yang sudah terjadi tanpa sepengetahuanku." Ucapku memikirkan seberapa sulitnya menjadi Kalea.


Dia tidak mengatakan apapun lagi? Batinku melirik Sean diam-diam dan kembali mengerjakan tugasku yang sempat tertunda karena pembicaraan kami. Anehnya aku merasa mulai akrab dengan Sean.


"... ba–bagaimana kalau sore nanti kita latihan basket?" Suara Sean membuatku berhenti mencatat dan kembali menolehkan kepalaku kearahnya, merasa tak percaya dengan apa yang dia katakan.


Kenapa dia terus-terusan membuatku terkejut?


"Kau pikir?"


"Ya–itu ...,"


Kenapa dia memiliki sisi menyebalkan juga? Kenapa aku harus dikelilingi oleh orang-orang menyebalkan seperti mereka? Batinku mengingat wajah Carel dan anak yang duduk dibelakangku, siapa lagi kalau bukan Teo?


"Kau harus banyak latihan supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus saat praktek nanti kan? Tes-nya tinggal beberapa hari lagi," ucapnya lebih lembut dari sebelumnya.


"Ah jadi kau mengkhawatirkanku?" Tanyaku tak kuasa menahan senyumanku, entahlah rasanya ada yang salah denganku. Mungkin karena orang yamg mengkhawatirkanku bertambah.


"Tidak, kalau kau tidak mau aku tidak akan memaksa. Yang akan kesulitan nantinya kan bukan aku."


"Kau mau latihan?" Suara Teo membuatku menoleh kebelakang.


Rupanya dia diam-diam menguping pembicaraanku ya?


"Kau mau mengajaknya berlatih juga?" Tanya Sean yang sudah menoleh kearah Teo juga. Ekspresinya tidak bersahabat.


"Kenapa? Kau keberatan?" Ucap Teo balik bertanya dengan ekspresj datar menyebalkannya.


"... asal kau tau saja, Aster menjadi pasangan berlatihku. Jadi dia harus berlatih denganku, kalau kau mau berlatih. Berlatihlah dengan pasanganmu!" Jelasnya memecah keheningan beberapa detik setelah Teo berbicara. Ku lihat ekspresi Teo mulai berubah menjadi sedikit sinis?


Aku merasakan sengatan listrik dari tatapan mereka berdua, sebelum situasinya semakin buruk aku harus menghentikan perdebatan mereka. "Kalau gitu mari kita berlatih bersama saja?" Ucapku memberi saran yang terlintas dalam kepalaku.


"Kau serius?" Tanya Sean.


"Kalau tidak mau aku akan meminta Carel menemaniku saja,"


"Ya itu lebih baik daripada kau harus berlatih dengannya." Ucap Teo dengan senyum manis yang tak kusukai.


"Jadi? Kalian mau berlatih denganku?" Tanyaku ingin memastikan niat mereka berdua.


"Tidak, aku harus mengerjakan sesuatu." Ucap Teo mengejutkanku dan Sean.


"Lalu kenapa kau bertanya dan bersikap seolah kau akan menemaninya berlatih?" Tanya Sean terlihat kesal begitupun denganku.


"Karena aku penasaran dan ingin bertanya saja, tidak boleh?" Jawabnya kembali memasang ekspresi datarnya.


"Jadi kau cuma menggoda Sean saja ya ...," gumamku berusaha meredam rasa kesalku pada sosok Teo yang terlihat tak berdosa itu.


"Iya," jawabnya kembali menunjukan senyuman manisnya yang menggoda. Lihatlah ekspresi yang dia tunjukan saat ini, wajah tanpa dosanya itu lebih membuatku kesal dari ucapannya.


"... kalau begitu kita latihan sore nanti. Aku akan menunggumu di lapangan olahraga." Ucap Sean yang sudah duduk nyaman sambil menggerakan tangannya untuk mencatat.


Aku sampai lupa kalau aku sedang mengerjakan tugas dari pak Vito. Batinku segera membenarkan posisi duduk ku dan kembali melanjutkan kegiatan menulisku.


"Kalau gitu mohon bantuannya untuk sore nanti," ucapku tanpa menoleh kearah Sean dan fokus pada pekerjaanku.


"Jangan terlalu memaksakan diri!" Seru Teo membuatku mendengus kesal karena lagi-lagi dia berbicara omong kosong.


Padahal aku tidak selemah dulu, kenapa semua orang berlebihan mengkhawatirkanku?


.


.


.


Thanks for reading...