
-Carel-
"Berhenti mengikutiku!" Seru ku menghentikan langkah Lusy yang terus mengekoriku sejak pagi.
"Aku hanya–"
"Kau mau ikut masuk juga?" Potongku sambil melirik pintu toilet pria disampingku membuatnya membeku ditempat.
"Aku mau–"
"Menungguku? Apa kau gila?" Potongku lagi sedikit menaikan nada suaraku, "tidak bisakah kau pergi dengan teman-teman perempuanmu? Apa kau tidak punya teman? Tidak! Seingatku kau punya dua orang teman perempuan kan? Mereka yang sudah melukai Aster, dimana mereka?" Lanjutku mengingat dua sosok perempuan yang selalu bersama dengan Lusy.
"Mereka masih berjaga di stand." Jawabnya terlihat murung.
"Kalau begitu pergi dan bantu mereka sana!" Ucapku sambil meninggalkannya dan segera masuk ke toilet.
Ku hela napas letihku saat berhasil lepas dari perempuan itu. Dengan cepat aku berjalan ke dekat jendela dan memperhatikan keramaian dibawah sana.
Suasana festival semakin ramai karena hari semakin gelap dan peluncuran kembang api akan segera dimulai tepat pada pukul 08:00 malam setelah semua siswa dan siswi membersihkan lingkungan akademi. Acara festival sekolah tahunan di akademi memang selalu berlangsung selama satu hari penuh.
Haruskah aku melompat keluar? Batinku memperhatikan ranting pohon yang lumayan kokoh di depan jendela toilet.
Entahlah, yang ku pikirkan saat ini hanya terlepas dari perempuan itu. Aku ingin sedikit bernapas lega sambil berkeliling menikmati acara festival yang sejak pagi ini terasa tidak menyenangkan.
"... apa karena aku tidak bersama dengan Aster?" Gumamku, membayangkan sosok cerianya saat berkeliling festival.
Baru saja ku bicarakan, mataku sudah menangkap sosoknya yang tengah tertawa berjalan berdampingan dengan anak laki-laki itu. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Sean.
Mereka terlihat bahagia ya? Apa anak itu tidak memikirkan perasaanku sedikitpun? Apa dia tidak ada niatan untuk meminta maaf padaku? Batinku kembali bertanya-tanya.
Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi, ku buka kaca jendela dihadapanku sebelum benar-benar melompat keluar dan bergelantungan di dahan pohon. Untungnya aku tidak sedang berada di lantai paling atas, jadi nyawaku tidak akan terancam jika aku benar-benar jatuh dari ketinggian ini.
"Hap!" Seruku refleks saat berhasil mendarat dengan selamat menggunakan kedua pijakanku.
Ku rapikan pakaianku yang sedikit kusut dan ku bersihkan sedikit debu yang menempel dibahuku.
"Kemana anak itu pergi?" Ucapku sambil memperhatikan semua tempat dari tempatku berdiri saat ini.
***
Ku lihat semua orang mulai sibuk membereskan barang-barang mereka saat menyadari waktu sudah menunjukan pukul 07:00 malam. Mereka terlihat begitu terburu-buru karena ingin segera pergi ke tempat yang bisa melihat kembang api dengan pemandangan yang terlihat indah.
"Sepertinya atap gedung akademi dan lapangan olahraga akan dipenuhi oleh mereka ...," gumamku memperhatikan sekumpulan sisawa dan siswi yang tengah membenahi barang-barang mereka.
Ku rasakan tepukan seseorang dibahuku, membuatku menoleh ke arahnya. "Huh!" Dengusku saat menyadari seseorang yang sudah berdiri disampingku dengan senyuman menyebalkannya.
"Kenapa kau kemari?" Tanyaku segera menepis tangannya dari bahuku.
"Ayolah, jangan terlalu dingin pada kakakmu ini." Ucapnya membuatku mendelik sebal.
"Aku pergi!" Ucapku berniat meninggalkannya dan pergi mendekati Aster yang sudah berdiri didekat api unggun di tengah lapangan olahraga.
"Tunggu!" Cegahnya menghentikan langkahku.
"Ayah memintamu kembali ke rumah secepatnya."
"Besok lusa aku sudah ada di rumah."
"Tidak! Kau harus pulang malam ini!" Kilahnya membuatku mengernyit bingung saat melihat tatapan seriusnya.
"Apa ada masalah?" Tanyaku kemudian setelah menghela napas pasrah.
"Ayo pergi!" Seruku segera memutar arah menuju gedung asramaku. Tidak ingin membuang-buang waktu.
"Parkiran ada disebelah sana loh!" Teriak Dwi membuatku menoleh sebal padanya dan ku lihat dia sudah menunjuk tempat parkir yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Kau bodoh ya? Aku harus mengemasi barang-barang ku dulu," tuturku kembali melanjutkan langkahku dan meninggalkannya disana.
Ibu ... ku harap ibu baik-baik saja, batinku terus meyakinkan diriku kalau ibu akan baik-baik saja.
***
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 08:00 malam tepat, suara kembang api pun mulai bersahutan di atas langit. Menunjukan keindahan mereka saat meletus dengan berbagai macam warna dan bentuk di atas langit.
Semua orang tampak terhanyut dalam pemandangan indah malam ini, apalagi suasana malam ini sangat mendukung dengan bintang-bintang yang berkelip indah menghiasi langit.
Carel ..., batinku, tiba-tiba sangat merindukan anak itu.
Ku lihat sosok Lusy yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri, dia tampak murung sendirian. Tidak ada Carel disampingnya, "kemana anak itu pergi? Kenapa meninggalkan Lusy sendirian?"
"Benar-benar indah ya ...,"
"Aku harap festival tahun depan akan seindah tahun ini juga."
Suara beberapa orang yang berdiri di depanku, lalu ku dengar suara alunan musik piano yang mulai mengudara membangkitkan ingatanku saat aku bermain piano bersama Carel dulu.
Dengan cepat aku berjalan mendekati sumber suara itu, ku lihat Kalea tengah bermain piano di atas panggung kecil yang berada dibagian selatan lapangan olahraga.
Aku bahkan tidak tau kalau pihak sekolah menyediakan panggung kecil untuk sesi penutupan malam ini, apa mereka ingin memfasilitasi siswa-siswinya untuk menunjukan bakat mereka?
"Permainannya berubah ya ...," ucap Teo yang sudah berdiri disampingku, membuatku sedikit terkejut dengan kedatangannya.
"Berubah?" Tanyaku mengernyit bingung.
"Lebih lembut dan berperasaan." Jelasnya sambil tersenyum tipis menatapku.
Ku dengarkan permainan Kalea dengan seksama, dan apa yang dikatakan Teo memang benar. Permainannya lebih lembut dan berperasaan. Terakhir kali aku mendengar Kalea bermain piano saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar, dan permainannya belum seperti malam ini.
"Ngomong-ngomong Teo, apa kau melihat Carel?" Tanyaku refleks, entah kenapa rasa penasaranku semakin memuncak saat melihat Lusy sudah bergabung dengan teman-teman dikelasnya. Dan lagi mataku tidak menemukan sosok Carel dimanapun.
"Anak itu sudah kembali ke kediaman Alterio."
"Eh? Kapan?"
"Satu jam yang lalu, Dwi menjemputnya. Aku tidak sengaja berpapasan dengan Carel di gerbang asrama. Dan dia bilang harus segera pulang."
Apa ada masalah yang terjadi?
"Tak masalah, besok lusa kita juga bisa kembali ke rumah masing-masing karena liburan sekolah sudah dimulai." Tutur Teo sambil meraih puncak kepalaku dengan tangan kanannya, entah kenapa aku merasa dia mengetahui isi pikiranku sekarang.
"... ya," singkatku merasa tidak bersemangat saat menyadari paman Arsel, Khael dan bibi Wanda tidak ada di negara ini. Belum lagi, ayah baru-baru ini terbang lagi ke Singapura untuk mengurus perusahaannya yang di sana. Dan aku? Aku akan melewati liburanku seorang diri karena aku dan Carel masih marahan.
Bisa ku bayangkan sebosan apa aku liburan tahun ini, dan lagi aku benar-benar sendirian kali ini ...,
.
.
.
Thanks for reading...