
-Carel-
"Apa kepalamu terbentur di suatu tempat?" Suara paman Arsel di sela-sela tawaku. Ku lihat semua orang sudah menatapku dengan bingung, tapi aku tidak memperdulikan pandangan mereka tentangku.
"Haha, maafkan aku ... aku hanya merasa sedikit bahagia." Tuturku setelah berhasil mengendalikan diriku dan menyeka air mata disudut mataku.
"Bahagia?" Ulang paman Arsel membuatku mengangguk.
"Berterima kasihlah padaku karena sudah datang secepat yang ku bisa." Tuturku sambil menyerahkan berkas biru di tanganku kehadapan mereka, "aku bahkan belum memberitaukan hal ini pada keluargaku." Lanjutku saat paman Arsel meraih berkas itu dan mulai membacanya dengan serius.
Sangat menyenangkan melihat perubahan ekspresinya yang terlihat mendadak itu. Padahal awalnya dia membaca dengan malas tanpa niat, tapi tiba-tiba air mukanya berubah jadi sangat serius.
"Ini?" Ucapnya segera menatapku dengan penuh tanya.
"Ya. Aku mendapatkannya dari tuan Albert sebagai imbalan. Tapi ... bukankah itu aneh? Kita bahkan sudah berusaha sangat keras mencari jejak kematian Aster setelah Albert membawa sepotong kain yang terbakar. Tapi sekarang tiba-tiba ada orang yang menjual barang keluarga Veren?" Tuturku dengan sedikit jeda saat melihat pak tua itu merebut berkas di tangan adiknya.
"Bagaimana bisa?" Gumamnya membuatku tersenyum tipis.
"Benar kan? Aku juga bingung kenapa bisa seperti itu?"
"Kau bilang Albert memberikan berkas ini sebagai imbalan?" Tanya paman Arsel lagi membuatku mengangguk singkat.
"Benar."
"... sepertinya aku harus menanyakannya langsung." Gumamnya sambil mengepalkan kedua tangannya sampai urat-urat tangannya terlihat.
Dilihat dari situasinya, sepertinya paman Arsel memikirkan hal yang sama denganku.
"Aster ...," gumam pak tua itu dengan mata berkaca-kacanya sambil meremas berkas ditangannya.
***
-Aster-
Ku regangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku karena terus bekerja sepanjang hari. Sejak tertangkapnya kepala desa, semua orang kembali disibukan dengan aktifitas mereka. Bahkan festival yang sempat di undur kini mulai direncanakan kembali oleh kepala desa baru yang di tunjuk oleh penduduk beberapa hari yang lalu.
Bibi juga sudah kembali dari rumah sakit tiga hari yang lalu, dan paman mulai bekerja kembali di toko diselingi dengan pekerjaan luar yang diberikan oleh tuan Albert.
Ayahnya Dean juga sudah dipenjarakan oleh orang-orang yang meminjaminya uang. Aku tidak terlalu mengikuti kasusnya, tapi yang ku ingat Dean sibuk bolak-balik kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan. Mungkin untuk mengkonfirmasi beberapa hal.
Lalu saat ini Sarah begitu kegirangan dengan acara festival yang akan segera di adakan di akhir bulan ini. Yuna juga ikut bergembira bersamanya di depan meja kasir.
"Ngomong-ngomong Faren? Bagaimana dengan kondisi bi Nina?" Tanya Sarah menarik perhatianku yang sedang memeriksa sisa roti yang belum terjual.
Dengan lesu ku gelengkan kepalaku, "bibi masih sangat terpukul dengan kehilangan janinnya."
"Kamu sudah dengar alasan bibi keguguran?" Lanjutnya lagi kembali membuatku menggeleng.
"Belum, aku bahkan tidak berani menanyakannya saat melihat kondisi bibi yang masih seperti itu. Paman juga tidak mengatakan apapun." Tuturku sambil berjalan mendekatinya dan Yuna.
"Aku turut bersedih dengan musibah yang diterima bi Nina."
Cling!
Suara lonceng pintu menarik perhatianku dan Sarah, ku lihat beberapa anak pria memasuki toko dengan gelak tawa mereka. Melihat mereka membuatku merasa senang karena toko kembali ramai pengunjung.
"Emh ... kamu bolos sekolah Sarah?" Tanyaku melirik anak perempuan di sampingku saat menyadari seragam sekolah para anak laki-laki yang berkunjung ke toko.
"Ma—mana mungkin." Jawabnya gelagapan sambil memalingkan wajahnya dariku.
"Hah~ Yuna saat besar nanti jangan pernah bolos sekolah kecuali sakit ya." Tuturku setelah menghela napas singkat dan meraih puncak kepala anak itu.
"Apa kakak tidak suka dengan anak yang suka bolos sekolah?" Tanyanya membuatku terkekeh saat melihat ekspresi polosnya itu, apalagi noda coklat disudut bibirnya.
"Tentu saja. Memangnya siapa yang suka dengan anak bandel seperti itu?" Jawabku sambil mengangguk mantap dengan kedua tangan yang sudah berkacak pinggang.
Kalau dipikir-pikir Carel juga sering bolos waktu kecil. Dia sering main ke rumah nenek untuk bertemu denganku dan membuat keributan bersama paman Arsel dan ayah. Benar-benar hari yang menyenangkan, rasanya tidak pernah merasa kesepian jika bersama dengan anak itu.
Dengan cepat aku menghitung semua roti yang mereka beli dan membungkusnya dalam satu kantong, seperti yang dia minta. Lalu Sarah memberikan uang kembalian kepada pria dihadapanku yang sudah menerima kantong plastik berisik roti yang ku berikan padanya.
"Jadi malam ini kita akan berpesta?"
"Pesta apanya? Hanya bergadang bersama karena besok libur sekolah."
"Haha, bodoh."
"Kau yang bodoh. Menginap untuk bergadang?"
Begitulah obrolan mereka sebelum meninggalkan toko roti. Lalu detik berikutnya aku melihat Dean masuk kedalam toko dengan Ekspresi lelahnya.
"Kamu sudah kembali? Bagaimana? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" Tanya Sarah segera berjalan menghampiri pria itu.
"Yah, tadi pertemuan terakhir. Jadi aku tidak harus datang ke kantor polisi lagi." Jawabnya setelah menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya.
"Benarkah?" Tanya Sarah lagi sambil mengipasi wajah Dean dengan tangannya, terlihat menggemaskan.
"Syukurlah kalau begitu." Lanjutnya membuatku tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum. Bahkan Yuna sudah berdiri diantara mereka sekarang.
Aku jadi penasaran dengan apa yang terjadi malam itu? Saat Dean mengantar Sarah pulang, kira-kira apa yang mereka bicarakan? Sejak hari itu mereka terlihat lebih dekat dari sebelumnya.
Apa hubungan mereka sudah berjalan lebih jauh dari sekedar pertemanan biasa? Batinku bertanya-tanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Lanjutku bertanya, tidak beranjak dari tempatku. Ku lihat mereka berdua sudah menoleh kearahku.
"Biar bagaimanapun dia ayahmu kan? Pasti kamu—"
"Aku baik-baik saja." Potongnya membuatku tak berani melanjutkan ucapanku. Apalagi saat melihat ekspresinya yang sulit untuk ku pahami. Entah itu sedih atau marah, aku tidak tau.
"Baiklah ... kemarilah Yuna, biar aku bersihkan mulutmu." Lanjutku berusaha mengalihkan pembicaraan, dan lagi aku merasa gemas ingin membersihkan sisa coklat di mulut Yuna yang tadi ku abaikan.
"Hee... apa Yuna makan dengan belepotan?" Tanyanya sambil berjalan mendekatiku dan berniat untuk menyusutnya dengan lengan bajunya, namun dengan cepat aku menghentikannya.
"Tidak boleh. Jangan pernah membersihkan noda apapun dengan pakaian."
"Kenapa?"
"Jorok." Jawabku sambil menunjukan ekspresi jijik ku dan membuatnya terkejut.
"Bersihkan dengan tisu atau saputangan." Lanjutku segera meraih wajahnya dan membersihkan noda coklat di dekat mulutnya dengan hati-hati menggunakan saputanganku.
"Yuna tidak punya saputangan." Ceplosnya membuatku terkekeh.
"Kalau begitu aku akan memberikan saputanganku untukmu."
"Boleh?" Tanyanya dengan mata berbinar.
"Tentu saja."
"Woah, terima kasih."
"Sama-sama. Tapi Yuna, sepertinya lebih baik aku mencucinya terlebih dulu." Tuturku mengurungkan niatku untuk memberikan saputanganku pada anak itu saat melihat noda coklat disana.
"Pft... kamu benar-benar maniak kebersihan ya ...," suara Sarah membuatku terkejut. Ku lihat dia berusaha untuk menahan suara tawanya, begitupun dengan Dean.
"Memangnya apa yang salah dari suka kebersihan? Berhenti mentertawakanku diam-diam seperti itu! Kalau mau tertawa maka tertawalah. Kalian benar-benar membuatku kesal, menyebalkan." Tuturku merasa sebal dengan sikap mereka yang seperti itu, tapi bukannya meminta maaf, mereka malah mentertawakanku.
.
.
.
Thanks for reading...