Aster Veren

Aster Veren
Episode 132




-Kalea-


"Bagaimana perutmu?" Tanyaku setelah keluar dari akademi, berjalan berdampingan dengan Aster yang terlihat letih.


"Lebih baik, tidak sesakit pagi tadi hehe ...," jawabnya sambil terkekeh.


"... itu camilan yang dibawakan putih?" Tanyaku membuat Aster mengernyit bingung saat bertemu tatap denganku.


"Si putih?"


"Carel si anak menyebalkan." Dengusku merasa kesal tanpa alasan saat menyebutkan namanya.


"Oh, haha ku kira siapa? Lea memang selalu memberikan julukan unik ya? Dulu juga pernah memanggil nama Teo dengan rambut jerami kan? Apa sekarang masih memanggilnya dengan sebutan rambut jerami?" Tuturnya membuatku malu saat mengingat hari itu.


Aku memang memanggilnya begitu karena refleks. Tapi, siapa sangka Aster akan mengingatnya sampai sekarang. Ternyata ingatan anak ini cukup tajam juga ya?


"Yah, wajar sih. Anak ini kan selalu mendapat peringkat teratas. Otaknya tidak bisa diremehkan kan?" Gumamku sambil melirik ke arah Aster yang masih berjalan disampingku.


"Kalian!" Suara Carel mengejutkanku, membuat langkahku dan Aster terhenti.


Ku lihat dia sudah berjalan cepat menghampiri kami yang sudah berdiri di luar gerbang akademi. Diikuti oleh Teo dibelakangnya. Entah kenapa aku jadi malu lagi saat mengingat kembali panggilan nama Teo yang ku bahas dengan Aster beberapa detik lalu.


"... ini ku bawakan buah kesukaanmu, ada buah lainnya juga. Dimakan ya, habiskan!" Tutur Carel memberikan satu kantung buah-buahan kerangan Aster.


"Eh? Tapi–"


"Tidak ada tapi-tapian! Selain itu ...," potong Carel sambil meraih kening Aster dengan telapak tangan kanannya. Membuat rona merah di wajah Aster mencuat.


"Ap–apa?" Tanya Aster tergugup.


"... aku heran kenapa mereka tidak pacaran saja?" Gumamku bersamaan dengan tangan Teo yang sudah meraih puncak kepalaku, membuat ku menoleh kearahnya.


"Tidak! Ku bilang aku tidak demam aku–"


"Tidak demam apanya? Wajahmu merah begitu."


"Dia bodoh ya?" Dengusku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok Carel yang terlihat polos atau bodoh ya? Rasanya aneh melihat ekspresinya yang seperti itu, padahal dia dikenal sebagai pria jenius. Tapi kenapa dimataku dia terlihat bodoh sekarang?


"Anak itu memang peka dan tumpul disaat yang bersamaan ya?" Tutur Teo membuatku menganggukan kepalaku, menyetujui ucapannya.


"Lama-lama aku gemas sendiri melihat hubungan mereka yang tak kunjung ada kemajuan, bagaimana kalau kita buat mereka sadar dengan perasaannya masing-masing?" Saranku masih memperhatikan sosok Carel dan Aster di hadapanku.


"Maksudmu kamu mau menjodohkan mereka?" Tanya Teo sambil mencubit pipiku dengan gemas, membuatku meringis sebelum akhirnya aku bisa melepaskan tangannya dari wajahku.


"Apa boleh buat kan?" Dengusku.


***


"... dasar Carel! Dia pikir aku bisa menghabiskan semua buah-buahan ini sendirian? Kenapa dia memberikan begitu banyak buah-buahan? Padahal satu macam buah saja sudah cukup." Tutur Aster sebelum menghel napas letih.


"Dia memang selalu perhatikan padamu ya ...," godaku membuat Aster menoleh padaku dengan ekspresi malunya, sangat menggemaskan.


"Bu–bukan begitu–"


"Benarpun tidak apa-apa."


"Itu dia kan? Perempuan yang selalu menempel pada Carel?"


"Iya benar, kasihan ya Lusy ...,"


"Namanya Aster kan?"


"Mau sampai kapan dia terus menempel pada Carel?"


Eh–apa? Apa maksud mereka berbisik-bisik seperti itu? Batinku bertanya-tanya dengan situasi disekelilingku.


"Ku dengar Lusy sampai dibuat menangis oleh Aster–"


"Benarkah?"


"Memangnya apa salahnya sampai dia dibuat nangis seperti itu?"


"Entahlah, mungkin Aster tidak suka jika Lusy dekat-dekat dengan Carel. Secara mereka kan sudah berteman sejak kecil."


"Ini–gosip sampah apalagi?" Gumamku merasa kesal saat mendengar ocehan mereka di depan pintu asrama. Ingin ku labrak mereka tapi tidak bisa karena Aster langsung menghentikan ku saat menyadari niat buruk ku.


"Tidak apa-apa Lea." Ucapnya dengan senyum tipisnya yang dipaksakan. Sangat terlihat kalau dia sedang berpura-pura tegar.


Jangan-jangan perubahan sifatnya saat ini adalah karena ...,


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Darimana mereka mendapatkan gosip sampah seperti itu?" Ocehku sambil berjalan menaiki sekumpulan anak tangga menuju kamarku dan Aster.


"Itu mereka!" Suara Nadin menarik perhatianku, ku lihat dia sedang berdiri di depan pintu kamarku bersama dengan Tia disampingnya.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi Aster?" Lanjutnya bertanya saat kami sudah sampai dihadapannya.


"Ku dengar Lusy adalah tunangannya Carel, apa itu benar? Kenapa dia tidak pernah cerita?" Tanya Tia membuatku ikut mempertanyakan hal itu dalam kepalaku.


"Dan lagi, kenapa semua orang menilaimu sebagai orang yang menghalangi hubungan Carel dan Lusy? Mereka gila ya?!" Lanjut Nadin terlihat geram.


"Ahahaha, itu–sebenarnya ...,"


"Se–sebaiknya kita masuk dulu dan bicarakan di dalam." Saranku sambil membuka kunci pintu kamar setelah merasakan suasana canggung yang berlangsung selama beberapa detik.


Dengan cepat Nadin dan Tia masuk ke dalam kamarku mengekori Aster yang masuk lebih dulu.


"Jadi?" Tanya Tia terlihat begitu tidak sabaran sambil menarik kursi belajar Aster dari dalam meja belajarnya. Lalu dengan cepat dia duduki kursi itu dan memperhatikan sosok Aster yang terlihat bingung.


***


-Carel-


"Ada apa dengan wajah kusutmu itu?" Tanya Teo membuatku melirik kearahnya berbaring.


"Bukan urusanmu!" Dengusku kembali fokus pada kegiatan belajarku.


"Hee ... padahal sore tadi ekspresimu baik-baik saja. Apalagi saat berhadapan dengan Aster, tapi kenapa mendadak berubah?"


"Hah~ sudah ku bilang bukan urusanmu!"


"... cih! Kau pikir aku tidak tau apa masalahmu?" Decihnya membuatku mendelik padanya, mengalihkan perhatianku dari buku pelajaran dihadapan ku.


"Jangan sok tau."


"Tidak tuh. Aku bisa menilai masalahmu saat melihat perubahan ekspresimu di hari setelah pesta ulang tahun Aster usai. Malam itupun auramu berubah. Biasanya apapun kondisimu kau akan selalu menempel pada Aster, tapi yang ku lihat kau hanya bersamanya selama beberapa saat. Dan yang membuatku semakin aneh adalah kau tidak mengajak Aster berdansa. Seorang Carel–"


Ah, menyebalkan! Kenapa orang ini terus mengoceh yang tidak-tidak? Memangnya dia tau apa? Batinku merasa kesal sendiri saat mengingat kejadian malam itu.


Setelah pesta ulang tahun Aster usai, aku kembali ke kediaman ku. Dan tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Ayah dan Kakek di ruang kerjanya.


Mereka berdebat soal siapa yang lebih pantas untuk menjadi tunanganku. Benar-benar menyebalkan.


Rasanya hidupku tak pernah bebas, semuanya ditentukan oleh keputusan kakek atau ayah. Kenapa aku tidak bisa memilih jalan hidupku sendiri? Kenapa mereka selalu ikut campur?


"... sudah ku katakan Carel sudah ku jodohkan dengan Lusy cucu dari pemilik akademi itu. Bahkan kakeknya sudah menganggap mereka bertunangan. Jadi berhenti memprotes ku!" Suara kakek kembali terngiang dalam kepalaku. Dengan cepat ku tepis ingatan itu. Namun nihil, kepalaku tak bisa mengabaikannya.


Kejadian pagi tadi pun membuatku kesal. Kenapa perempuan itu terus-terusan menempel padaku? Dia bahkan terus-menerus menekankan kalau aku dan dia sudah bertunangan.


Memangnya ada pertunangan yang tidak diselenggaran? Aku bahkan tidak pernah bertukar cincin pertunangan dengannya. Lalu darimana dia menilai kalau kami sudah bertunangan? Bukankah kakeknya dan Kakek ku yang melakukan pertunangan? Ya–karena mereka mendiskusikan rencananya tanpa sepengetahuanku.


"Tunangan apanya? Jangan bercanda!" Gumamku sambil mengepalkan tangan kanan ku yang memegangi pena.


"Hee... jadi gosip itu benar ya?" Tanya Teo membuatku menoleh padanya.


"Gosip?" Tanyaku merasa bingung.


"Kau tidak dengar ada gosip tentangmu yang sudah bertunangan dengan Lusy? Bahkan ada gosip soal Aster yang menghalangi hubungan kalian karena cemburu. Tapi ya–"


"Apa maksudmu? Omong kosong macam itu?!" Geramku merasa semakin kesal saat mendengar nama perempuan itu.


.


.


.


Thanks for reading...