
-Aster-
"Kita mau kemana?" Tanyaku saat Carel menarik tanganku dan membawaku keluar dari perpustakaan.
"Aku bosan, kita main di luar saja." Jawabnya sambil menoleh kearahku yang berjalan mengekorinya dari belakang.
"Hee... padahal aku masih mau membaca buku–" Rengek ku terhenti saat melihat lirikan mata Carel.
"Matamu bisa rusak kalau terus-terusan membaca buku." Ucapnya sambil mendengus kesal masih menggandeng tanganku.
"Memangnya bisa begitu? Kan aku bacanya bukan ditempat gelap–" Tanyaku kembali terhenti bersamaan dengan langkah kaki Carel yang berhenti melangkah membuatku ikut berhenti berjalan juga.
"Kau ini, mau sampai kapan membaca buku-buku sialan itu dan mengabaikanku?!" Ucapnya setelah berbalik badan menghadapku dan langsung mencubit pipiku dengan gemasnya.
"He–ee.... swakit Carel," rengek ku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku.
Jadi Carel kesal karena aku cuekin? Batinku mengingat wajah Carel yang terus ditekuk dan terus-terusan mendengus kesal saat aku sedang fokus membaca buku tadi.
"Kamu kan tau aku sudah bolos sekolah hampir satu minggu, aku harus banyak belajar untuk mengikuti ujian kenaikan kelas susulan." Lanjutku setelah berhasil melepaskan tangan Carel dari wajahku.
"Alasan! Masa belajar buat ujian kenaikan kelas baca bukunya novel petualangan?" Ucap Carel kembali mencubit pipiku dengan gemasnya.
"Itu ... swakit Carel, maaf ...." Rengek ku lagi tak bisa melepaskan cubitannya, dan ucapan Carel memang benar. Aku sibuk baca novel petualangan di perpustakaan tadi dan melupakan kehadiran Carel disampingku.
Habisnya aku sangat bosan karena terus-terusan beristirahat di kamar, jadi aku berbohong mau belajar di perpustakaan pada Carel.
Tapi aku tidak sepenuhnya berbohong, sebelum membaca novel petualangan aku sempat mempelajari beberapa rumus fisika.
"Ada apa ini?" Suara kak Hana menarik perhatianku dan Carel yang masih berdiri di depan pintu perpustakaan.
"Kak Hana ...." Rengek ku segera memeluk kak Hana setelah Carel melepaskan cubitannya dari pipiku.
"Carel nakal nyubit pipi Aster." Lanjutku sambil melepaskan pelukanku dari kak Hana dan langsung menengelus pipiku dengan kedua telapak tanganku, berusaha menghilangkan rasa sakit yang masih tersisa.
"Kalau kamu gak ngeselin aku juga gak akan nyubit pipimu tau!" Ucap Carel membela diri sambil melipat kedua tangannya diatas dadanya.
"Sepertinya den Carel sangat suka mencubit pipi nona ya." Tutur kak Hana sambil tersenyum geli membuatku sedikit kesal karena ucapanku tidak dianggap serius oleh kak Hana.
"Tapi kenapa den Carel mencubit pipi nona?" Lanjutnya bertanya.
"Aster nyuekin Carel tadi karena terlalu fokus baca buku." Jawabku sambil memalingkan wajahku kesembarang arah untuk menghindari tatapan tajam Carel yang menakutkan.
"Hhaha... jadi den Carel marah karena dicuekin nona?" Tutur kak Hana tak kuasa menahan tawanya, "nona memang sangat suka membaca buku ya ... saya saja sudah sering dicuekin nona kalau disuruh nemenin nona di perpustakaan oleh tuan Arsel." Lanjutnya menjelaskan sambil menyeka air matanya yang hampir menetes akibat tertawa.
"Benar kan? Buku-buku itu lebih menarik baginya. Padahal bilangnya mau belajar buat ujian kenaikan kelas susulan, tapi malah asik baca novel petualangan." Gerutu Carel masih terlihat kesal.
"Hhehe... habisnya Aster sudah ingat semua materinya, kalau belajar lagi malah bosan." Tuturku sambil terkekeh.
"Dasar!" Ucap Carel kembali mendengus kesal dan kembali mencubitku, kali ini dia malah mencubit hidungku dengan tangan kanannya.
"Aku gak bisa napas Carel!" Tuturku sambil melepaskan tangannya dari hidungku, sedangkan kak Hana malah mentertawakanku diam-diam saat Carel mencubit hidungku dengan gemas.
***
"Ini." Ucap Carel sambil memberikan jambu biji ketanganku dan langsung duduk dikursi kosong yang ada dihadapanku terhalang oleh meja bundar.
Saat ini kami sedang duduk dibangku taman dekat taman mawar, tempat paman dan ayah duduk saat sedang menikmati waktu istirahat mereka.
"Kenapa? Gak suka?" Tanyanya setelah menggigit jambu ditangannya dan membuatku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Carel dapat dari mana? Bukannya di rumah paman merah gak ada pohon jambu?" Tanyaku masih memperhatikan jambu ditanganku.
"Ada kok, pohonnya ada di halaman belakang rumah. Kamu gak tau?" Jawabnya mengejutkanku.
"Hee... aku baru tau ada pohon jambu dihalaman belakang rumah." Gumamku sebelum menggigit jambu biji ditanganku.
Padahal aku sudah lama tinggal di rumah paman, kalau diingat-ingat lagi aku memang belum berkeliling rumah sih. Aku hanya tau beberapa ruangan di dalam rumah, untuk tempat-tempat diluar ... aku hanya tau taman mawar disini. Batinku sambil memperhatikan bunga mawar yang tak jauh dari tempat duduk ku.
"Paman Ansel?" Gumam Carel membuatku menoleh kebelakang, dan ku dapati sosok ayah yang berjalan mendekati kami.
"Ada apa dengan wajahnya? Kenapa kusut sekali?" Lanjut Carel sebelum menggigit kembali jambu ditangannya.
Benar ... wajah ayah terlihat kusut, tidak! malah terlihat pucat. Apa ayah kurang tidur? Batinku bertanya-tanya tak bisa berpaling dari sosok ayah yang semakin mendekat.
"Kalian disini? Aku mencarimu kemana-mana, Arsel bilang kalian ada di perpustakaan. Tapi aku tidak menemukan kalian disana." Tutur ayah segera meraih puncak kepalaku membuatku terkejut dengan sentuhannya itu.
"Ca–carel ngajak Aster kesini tadi ...." Jelasku terhenti saat melihat sorot mata hangat yang ditunjukan ayah padaku.
"Sepertinya telingamu sudah baik-baik saja sekarang ... maaf, aku baru bisa menjengukmu." Lanjut ayah dengan suara lembutnya membuatku tak bisa berkutik selama beberapa detik.
Huh ada apa ini? Kenapa mataku terasa panas? Batinku mencoba untuk mengendalikan diriku saat merasakan sesuatu dalam hatiku.
"Aduh perutku sakit!" Suara Carel mengejutkanku, ku lihat dia sudah meringis kesakitan.
"Ada apa Carel?" Tanyaku merasa khawatir saat melihatnya kesakitan seperti itu.
"Aku–perutku sakit, aku mau ke toilet dulu!" Tuturnya langsung berlari meninggalkanku begitu saja.
"Eh?" Gumamku tak mengerti dengan kedipan matanya saat dia menoleh padaku sebelum berlari terbirit-birit menuju pintu rumah.
"Kau makan jambu biji?" Tanya ayah yang sudah duduk dikursi kosong yang ada dihadapanku.
"Carel memberikannya tadi." Jawabku sambil memperhatikan jambu biji yang sudah ku gigit ditanganku.
Apa ayah sedang sakit? wajahnya benar-benar pucat, batinku mengalihkan pandanganku pada ayah yang sedang memijat keningnya bersamaan dengan hembusan angin sore yang menyapa kami.
Ah, aku ingin memanggilnya ayah. apa ayah akan senang jika aku memanggilnya ayah? Lanjutku dalam hati mengingat hari dimana paman menamparku, saat itu aku memanggil ayah dengan sebutan papa. Meski sekali, rasanya aku sangat senang karena ayah tidak melarangku memanggilnya papa.
"A–anu ... itu–apa paman sakit? wa–wajah paman sangat pucat." Tanyaku setelah mengumpulkan semua keberanianku, meski aku bicara dengan tergugup.
"Paman?" Tanyanya sambil menatapku penuh tanya, "kenapa tidak panggil aku papa seperti sebelumnya saja?" Lanjutnya sambil menghentikan pijatan dikeningnya.
"Me–memangnya boleh?" Tanyaku berusaha menahan air mataku yang sudah menggenang dipelupuk mataku sekarang.
"Kau kan putriku, sudah sewajarnya kamu memanggilku ayah atau papa kan?" Jelas ayah berhasil membuat air mataku tumpah.
"Pa–pa Hiks ... Papa ...." Ucapku langsung terjun kedalam pelukan ayah setelah turun dari tempat duduk ku. Dan ku rasakan tangan ayah mengelus rambutku dengan lembut, bahkan aku bisa merasakan kecupannya di puncak kepalaku.
.
.
.
Thanks for reading...