Aster Veren

Aster Veren
Episode 212




-Kalea-


"Ada apa Teo?" Tanyaku saat melihatnya yang begitu gelisah memperhatikan lingkungan sekitar, terlihat seperti sedang mencari seseorang?


"Itu mereka." Ucapnya segera berjalan mendekati rombongan Sarah.


"Di mana Faren?" Tanyanya kemudian saat aku berhasil mengikutinya dengan susah payah karena banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitarku.


Kenapa Teo mencari Faren? Dan lagi kenapa ekspresinya seperti itu setelah menerima panggilan dari Carel? Jangan-jangan ..., Batinku mulai berpikiran gila, bahkan bayangan Faren mulai tergambar jelas dalam ingatanku, lalu berganti dengan ekspresi bahagia Aster saat dia sedang tersenyum.


"Dia pergi dengan Tami, kenapa kau mencarinya?" Jawab Sarah mendengus sebal saat menyebutkan nama Tami, lalu balik bertanya dengan ekspresi bingungnya.


"Ke arah mana mereka pergi?" Tanyanya lagi membuatku segera meraih tangan Teo, berusaha untuk memberikan sedikit ketenangan padanya.


"Cepat cari di sekitar sini!" Suara seseorang yang begitu tegas mengejutkanku dan Teo, ku lihat beberapa orang berjas hitam segera memenuhi tempat festival.


Aku yang merasa yakin dengan orang-orang itu segera menoleh pada Teo, membuat pandangan kami bertemu tatap. "Kenapa orang-orang Veren ada di sini?" Tanyaku kembali memperhatikan semua orang itu.


"Orang-orang Veren?" Tanya Sarah.


"Cari dengan teliti dan temukan nona secepatnya!" Serunya lagi membuatku terperajat, apa katanya tadi? Nona? Nona siapa? Aku tidak salah dengar kan?


"Ah kakak ... kak Faren!" Suara mungil itu membuatku menoleh kearahnya, ku lihat ekspresinya sudah berkaca-kaca mencengkram pakaian pria yang menggendongnya dengan kuat.


"Ada apa dengan Faren?" Tanyanya membuatku ikut bingung.


"Itu—"


"Lea!" Kali ini suara ayah? Ku lihat ayah sudah berjalan dengan cepat kearahku dan segera memegangi bahuku dengan kuat.


"Dengarkan aku dan kembalilah ke penginapan."


"Apa yang terjadi sebenarnya ayah?"


"Musuh Veren mulai berkeliaran di sekitar sini. Jadi—"


"Kenapa?"


"Itu ...,"


"Aster di temukan kan?" Tanya Teo membuatku refleks menoleh kearahnya, "pantas saja aku merasa aneh dengan sikap anak itu. Ternyata dia tau kalau anak laki-laki itu adalah Aster." Lanjutnya terlihat frustrasi.


"Anak laki-laki?" Tanyaku benar-benar tidak memahami situasiku.


"Faren, dia itu Aster." Ucap Teo menatapku dengan serius.


"Apa?"


***


-Aster-


Ku atur napasku yang terasa sesak karena terus berlari menghindari kejaran tuan Rigel, sampai aku tidak sadar sudah berlari masuk ke dalam hutan yang berada di belakang bukit tempat gudang penyimpanan waktu itu.


Padahal niatku hanya pergi ke tempat gelap untuk bersembunyi dan pergi ke tempat lain saat paman Rigel lengah. Tapi sepertinya tidak semudah itu, apalagi medan yang ku pijaki tak bisa ku lihat karena tidak ada penerangan.


Berkali-kali kakiku tersandung akar pohon dan nyaris terjatuh, namun dengan cepat aku bangkit dan menyeimbangkan tubuhku kembali sambil berlari dengan tertatih-tatih.


"Aster! Aku tau kau di sana, keluarlah dan menyerahlah. Aku tau kau anak yang baik dan pintar, jika kau menyerahkan diri sekarang, aku tidak akan melukaimu dan mengantarmu pada ayahmu itu." Suara paman Rigel sedikit berteriak membuatku refleks bersembunyi dibalik semak-semak di dekat pohon besar yang ada dihadapanku.


"Ah aku lupa, kau kan tidak mempercayaiku makanya kau lari kan? Hahaha ... sepertinya instingmu itu sangat tajam ya? Dia tau kalau aku tidak akan mengantarkanmu pada Ansel begitu saja." Lanjutnya benar-benar membuatku terkejut.


Apa maksudnya itu? Batinku bertanya-tanya dengan apa yang ku dengar selagi kedua tanganku menutup mulutku sekuat mungkin. Bahkan degupan jantungku lebih cepat dari sebelumnya.


Di saat seperti ini, aku malah tidak bisa memikirkan kejadian paling buruk jika aku berhasil di temukan olehnya. Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa jika paman Rigel menggunakan pistolnya.


Ada kemungkinan dia akan menembak ku, tidak seperti sebelumnya saat dia membiarkanku melarikan diri darinya. Alasannya sederhana, karena kami berada di tempat yang dekat dengan tempat festival. Jika dia ceroboh menembak ku disana, maka semua orang akan segera berkumpul setelah mendengar suara tembakan yang dilesatkannya.


Ah~ padahal aku datang untuk melihat kembang api ..., batinku memikirkan sosok Dean, Sarah dan Yuna yang mungkin sedang menungguku.


"Kau masih tidak mau keluar? Apa dia sudah pergi jauh?" Suara itu kembali membawaku pada kenyataan, dari yang ku dengar, sepertinya posisi paman Rigel tak jauh dari tempatku bersembunyi.


"Bagaimana bisa tuan memerintahkan kita untuk menyusuri seisi hutan semalaman?" Suara asing itu menarik perhatianku, ku lihat ada begitu banyak cahaya yang menyoroti area sekitar.


Mereka semua memakai pakaian formal?


"Sial! Mereka pasti orang-orang yang dikirim untuk mencari anak itu." Ucap paman Rigel menarik perhatianku lagi, ku lihat dia sudah mematikan cahaya ponselnya dan mulai berjalan menjauhi tempatnya.


Aku yang mendengar ucapannya langsung bergerak lagi menuju pinggiran hutan, berniat keluar dengan aman secara diam-diam. Musuh yang harus ku waspadai sekarang bukan hanya paman Rigel, tapi juga semua orang yang memegang lampu senter itu.


***


-Sarah-


"Apa maksudnya itu? Kenapa orang-orang itu mengacaukan suasana festival?" Geramku merasa kesal karena kesenangan festival malam ini dihancurkan oleh kedatangan orang-orang berseragam itu.


"Aku bahkan tidak pernah menyangkan kalau Faren adalah putri dari keluarga Veren yang meninggal itu." Lanjut Dean membuatku menoleh padanya yang berjalan disampingku dengan menggendong Yuna dalam pelukannya.


Benar, karena keributan itu aku jadi mengetahui satu hal mengenai Faren. Faren yang ku kira seorang pria ternyata adalah anak perempuan dari keluarga Veren yang dikabarkan mati dalam tragedi kebakaran setengah tahun lalu.


Aku tidak percaya dia membohongi semua orang dengan penampilannya itu, aku bahkan sampai dibuat suka padanya begitupun dengan si Tami.


Kalau harus mengingat kenapa Faren sangat dilindungi oleh paman Tesar, sepertinya aku sedikit mengerti. Aster adalah putri Veren yang diincar banyak musuh keluarga Veren sejak berita kondisi tuan Ansel tersebar, aku sempat mengikuti berita itu beberapa kali sampai aku mendengar berita kematiannya setengah tahun lalu.


Tapi, aku tidak pernah menduga kalau berita itu adalah berita palsu. Aku tidak percaya kalau dia memalsukan kematiannya. Aku juga tidak tau alasannya apa, yang ku tau Faren adalah seorang anak laki-laki, tapi sekarang tiba-tiba dia menjadi anak perempuan—identitasnya terungkap.


"Apa kakak Faren baik-baik saja? Aku belum melihatnya, kak Tami juga datang sendirian. Padahal mereka pergi berdua ...," suara mungil Yuna membawaku kembali pada kenyataan.


"Mungkin dia sudah pulang lebih dulu karena tidak enak badan?" Jawab Dean terdengar begitu asal-asalan.


"Aku ... aku benar-benar tidak tau kalau Faren ternyata seorang perempuan. Apa kau mengetahuinya?" Tuturku, tiba-tiba ingin membahasnya dengan Dean. Tapi dilihat dari reaksinya, sepertinya dia juga tidak mengetahuinya.


"Ah!"


"Ada apa Yuna?" Tanyaku saat melihatnya tiba-tiba berpaling setelah mengeluarkan suara yang cukup keras karena terkejut?


"Itu ...,"


.


.


.


Thanks for reading...