Aster Veren

Aster Veren
Episode 14




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 10:15 pagi, acara pentas seni hampir selesai tapi paman sudah mengajak ku pulang. Jadi aku ikut pulang bersamanya, lagipula aku belum pernah diantar jemput ke sekolah oleh paman.


Aku juga ingin tau rasanya pulang bersama paman, perasaanku jadi campur aduk sekarang dan lagi paman menggandeng tanganku dengan erat. Tangan besarnya benar-benar membuatku nyaman. Mungkin tangan ayah juga sehangat ini .... Batinku membayangkan tangan ayahku.


"Psst... lihat deh, si Aster sama siapa tuh? Dia kan gak punya ayah." Bisik seorang anak laki-laki berjalan melewatiku.


"Apa kali ini dia datang bersama kerabat jauhnya?" Lanjut yang lainnya ikut berbisik.


"Tapi kan dia gak punya kerabat, lagian apa-apaan itu kerabat jauh?" Balas yang satunya membuatku teringat kembali dengan kehidupanku dengan pria itu.


"Ada apa?" Suara paman mengalihkan perhatianku.


"Tidak ada," jawabku berusaha untuk memberikan senyuman terbaik ku.


Kenapa diluar banyak anak-anak dari kelasku? Mereka terus memperhatikanku .... Lanjutku dalam hati sambil memperhatikan langkahku berusaha untuk menghindari tatapan anak-anak nakal itu. Bahkan tanpa sadar tanganku mulai gemetar sekarang.


Mereka pasti akan mengerjaiku lagi saat masuk sekolah nanti. Kalea dan Nadin juga akan mengejek ku ... ibu ....


"Jalanmu lambat sekali." Ucap paman mengejutkanku saat tangannya meraih tubuhku dan menggendongku.


"Pa–paman? Tu–turunkan aku." Pintaku merasa malu diperlakukan seperti ini oleh paman.


"Tidak mau," tolak paman sambil tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya, "sekarang katakan padaku ada masalah apa? Tidak boleh ada yang disembunyikan dari pamanmu ini." Lanjutnya membuatku memeluk paman dengan erat.


"Paman mau dengar ceritaku?" Tanyaku sedikit ragu.


"Tentu saja." Jawabnya terdengar lembut.


"Sebenarnya hari ini Aster sangat bahagia karena paman datang, padahal Aster kira tahun ini tidak akan ada yang datang sebagai wali Aster. Jadi ... terima kasih karena sudah datang paman ...." Tuturku berbohong, entah kenapa hatiku memintaku untuk tidak meceritakan kebenarannya. Mungkin aku terlalu takut untuk membuat paman khawatir.


"Jangan berbohong padaku, katakan yang sebenarnya." Suara paman mengejutkanku dan membuatku melepaskan pelukanku untuk melihat ekspresinya.


Sorot mata paman terlihat begitu serius namun terlihat hangat juga, rasanya aku ingin menangis sekarang namun sebisa mungkin ku tahan.


"Ah, Aster ingat ... tadi pagi Aster sempat bertemu dengan bi Siti, dia menunggu Aster di depan gerbang sekolah dan memberikan album foto dan kalung Aster yang tertinggal di laci rumah Aster dulu. Paman mau lihat?" Tuturku mengalihkan topik pembicaraan.


"Hee... kamu punya album foto juga toh ...." Gumam paman terdengar mengejek.


"Kalau album foto siapapun pasti punya kan?" Tanyaku dengan kesal.


"Hhaha iya iya maaf, nah sekarang masuk dulu." Jawab paman sambil membukakan pintu mobil bagian belakangnya dan mendudukanku didalam saat kami sudah sampai di tempat parkir, lalu paman ikut masuk melalui pintu lainnya.


Ku lihat paman Eric sedang memperhatikanku dari pantulan kaca spion mobil, lalu senyumannya mengembang saat aku balik memperhatikannya.


"Kita pulang sekarang tuan muda?" Tanya paman Eric setelah paman merah menutup pintu mobil disampingnya.


"Ya, dan berhenti memanggilku tuan muda." Jawab paman membuatku terkekeh dan paman Eric juga ikut terkekeh bersamaku sebelum dia melajukan mobilnya.


"Berhenti mentertawakanku." Gumam paman merah terlihat kesal bersamaan dengan laju mobil yang mulai menjauhi sekolah.


"Maaf-maaf ...." Ucapku berusaha melepaskan tangan paman yang mencubit pipiku dengan gemas.


"Jadi dimana albumnya?" Tanya paman setelah menghela napas lelah dan melepaskan cubitannya.


Dengan cepat aku membuka tas sekolahku dan mengeluarkan album itu untuk ditunjukan pada paman merah.


"Boleh ku lihat?" Tanya paman membuatku mengangguk cepat.


Ku lihat paman mulai asik melihat foto-foto di dalam album itu, sedangkan aku sibuk memperhatikan kalung ditanganku. Sebenarnya kalung itu adalah kalung murah yang dibeli ibu dari toko aksesoris, yang membuatnya terlihat berharga dan mahal adalah sebuah cincin yang melingkar dikalung itu. Ada nama ibu dan ayah dibagian dalam cincinnya, dan aku sangat menyukai benda pemberian ibu ini.


Yah mungkin saat aku dewasa nanti aku bisa memakainya .... Lanjutku masih dalam hati dan kembali memperhatikan cincin digenggamanku.


"Itu apa?" Tanya paman membuatku menoleh padanya, dan ku lihat jari telunjuknya sudah menunjuk kearah kalung yang ku genggam.


"Ini?" Tanyaku kembali memperhatikan kalung ditanganku, "Kalung pemberian ibu, cantik kan?" Lanjutku sambil menunjukannya pada paman, dan paman langsung meraih kalung itu.


"Wah ... ada nama ayah dan ibumu ya ...." Gumam paman memperhatikan cincin yang melingkar dikalung itu, "ini kan cincin pernikahan kak Helen, kalau dengan ini mungkin kakak akan percaya padaku." Lanjutnya masih memperhatikan kalung ditangannya.


Kakak? Batinku tak mengerti dengan ucapannya.


"Tuan muda itu memiliki seorang kakak, dia itu pamanmu kan? Jadi kakaknya itu adalah ayahnya nona Aster." Jelas paman Eric membuatku melihat kearah kaca spion yang memperlihatkan sorot mata paman Eric yang memperhatikan paman merah.


"Hoo ... paman pernah bilang aku punya ayah dan satu nenek lagi. Jadi ayahku itu kakaknya paman ya?" Gumamku kembali menoleh pada paman merah.


"Sudah ku bilang kan? Aku ini benar-benar pamanmu. Lihat nama ini, kamu juga memilikinya kan?" Tutur paman menunjukan nama ayah yang tertulis dalam cincin itu.


"Ansel Veren," ucapku membaca nama yang tertera didalam cincin itu, "benar, namanya sama denganku, nama paman juga ...." Lanjutku sambil melirik kearah paman saat mengingat nama paman merah yang memiliki marga sama denganku.


"Benar kan?" Ucapnya sambil meraih puncak kepalaku dengan senyuman lebarnya.


***


-Arsel-


Sesampainya di rumah, aku meminta Hana untuk menemani Aster bermain di kamarnya. Sedangkan aku sibuk mengangkat panggilan masuk dari ibuku. Meski aku terpaksa menjawab panggilannya karena tidak mau bertemu dengan Tomi di depan pintu rumahku.


Karena jika dia datang, sudah pasti dia akan menggeretku ke hadapan ibu dan setelah itu aku tidak akan bisa pulang selama beberapa hari.


"Kau dengar? ibu mau kau datang ke rumah ibu bersama dengan anak itu besok." Suara ibu mengejutkanku setengah mati.


Kenapa tiba-tiba ibu ingin bertemu dengan Aster? Batinku bertanya-tanya.


"Ke–kenapa aku harus datang? dan lagi–" Tanyaku terpotong.


"Karena ibu ingin bertemu dengan cucu ibu, apa tidak boleh?" Tanyanya benar-benar memperparah rasa terkejutku.


"Cu–cucu?" Gumamku tergugup.


Jadi ibu sudah mengetahui identitas Aster yang sebenarnya? tapi ... kenapa dia mau mengakui Aster sebagai cucunya? bukankah harusnya kebalikannya? Lanjutku masih dalam hati tak bisa berhenti bertanya-tanya.


"Sebenarnya pagi ini ibu pergi ke sekolahnya Aster, awalnya ibu hanya ingin melihatnya secara langsung dan memastikan semuanya sendiri. Dan saat ibu melihatnya, ibu langsung menyukainya. Dia juga membantu ibu lolos dari satpam yang melarang ibu masuk ke sekolah, benar-benar manis ...." Jelas ibu membuat kepalaku berputar, apalagi suara hangatnya yang sudah lama tak ku dengar. Rasanya benar-benar ... malam ini tidak akan ada badai kan?


I–ibu bahkan sudah mengetahui namanya, a–ada apa ini sebenarnya? Batinku kembali bertanya-tanya.


"Arsel pokoknya kamu bawa Aster ke rumah ibu besok. kita akan bicara lebih jauh lagi di rumah ibu besok, sampai jumpa." Lanjut ibu begitu antusias dan langsung mematikan sambungan telponnya.


"Apa tidak apa‐apa mempertemukannya dengan ibu?" Gumamku sambil melihat foto Aster di dalam album yang terbuka, album yang tersimpan diatas tempat tidurku.


Entah kenapa rasanya hatiku menjadi damai saat melihat foto masa kecil Aster yang tersenyum manis seperti itu.



(Aster usia 4 tahun).


.


.


.


Thanks for reading...