
-Teo-
Setelah lama mencari Kalea, akhirnya aku bisa menemukannya di taman belakang akademi. Dia tengah berdiri dihadapan Nadin dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.
"Aku mencari ke kelasnya ternyata dia sedang berbicara dengan Nadin," gumamku tidak berani mendekati mereka.
... apa mereka sedang membicarakan sesuatu? Batinku tak bisa berpaling dari ekspresi serius Nadin dan Kalea.
***
-Kalea-
"... maaf," ucapku pada Nadin setelah kak Nathan pergi dari hadapanku.
Aku datang ke taman belakang akademi bersama dengan kak Nathan untuk memenuhi keinginannya beberapa hari lalu. Saat kami bertemu di depan pintu perpustakaan.
Dan saat ini aku tertangkap basah oleh Nadin, tapi yang membuatku bingung adalah reaksi Nadin saat ini. Bahkan dia sempat menunggu pembicaraanku selesai dan menunggu kepergian kak Nathan tanpa sepengetahuannya.
Apa Nadin mendengar semua pembicaraanku? Batinku bertanya-tanya, merasa was-was sendiri. Apalagi saat aku mendengar permintaan maaf dari kak Nathan dan cerita soal pertunangannya dengan Nadin bisa terjadi.
Intinya kak Nathan terpaksa melakukan perjodohan dengan Nadin, lalu dia berencana mengakhiri hubungannya dengan Nadin. Aku yang mendengarnya langsung lepas kendali dan memarahinya, kenapa? Tentu saja karena aku tidak suka sahabatku dipermainkan oleh orang labil sepertinya.
Aku tau dia labil, karena dihari pertama masuk akademi, aku melihat kak Nathan sangat dekat dengan Nadin dan mereka terlihat saling menyukai. Tapi saat dia memergokiku dengan tuan Albert dan Sean, dia mendadak berubah pikiran setelah mendengar pembicaraan kami.
... dilihat sekilas saja aku tau kalau kak Nathan hanya mengasihaniku. Batinku sambil mengepalkan kedua tanganku disamping rok hitamku.
"Memangnya siapa yang butuh dikasihani?" Lanjutku bergumam kesal.
Bodohnya aku masih menyukai orang sepertinya!
Ku lihat Nadin menghela napas panjang dan mulai menatap lekat mataku saat lamumanku buyar seutuhnya, "aku datang untuk meminta maaf padamu, aku sudah mengetahui kebenarannya. Maafkan aku Lea." Ucapnya membuatku terkesiap.
"Ke–kebenaran? Apa soal pembicaraanku dengan kak Nathan barusan?" Tanyaku mulai berkeringat dingin, merasa panik sendiri, "ja–jangan salah paham. Aku tidak ada hubungan apapun dengan kak Nathan, aku–aku hanya, itu–tadi ... pokoknya aku akan memberikan pelajaran pada kak Nathan kalau dia sampai benar-benar membatalkan pertunangannya dan melukaimu!" Lanjutku terbata-bata.
Tuh kan benar dia mendengar semua pembicaraanku dengan kak Nathan, bagaimana ini? Batinku bertanya-tanya.
"Aku tau kak Nathan menyukaimu dari zaman kita masih sekolah dasar, jangan khawatir." Ucapnya membuatku terkejut.
Tidak mungkin!
"Aku datang bukan untuk melabrakmu soal itu. Aku datang untuk meminta maaf,"
"Minta maaf?"
"Ya, untuk kejadian dimasa lalu." Jawabnya sambil tersenyum miris, "aku terlambat menyadarinya, semua kesalahpahaman itu." Lanjutnya.
"Nadin ...," gumamku merasakan panas di mataku, detik berikutnya aku tak bisa membendung air mataku.
"Le–lea?" Tanya Nadin terlihat salah tingkah saat melihatku menangis dihadapannya.
"Aku hiks, sudah lama ingin berbicara denganmu. Aku ingin meminta maaf padamu hiks ... tapi aku takut kau tidak mau berhadapan denganku. Aku hiks ...," tuturku berusaha mengatakan isi pikiranku saat ini, dengan cepat Nadin memeluk tubuhku dan membuat tangisku semakin pecah. Bagaimana tidak? Aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini dimana aku bisa berhadapan dengan sahabatku lagi. Merasakan pelukan hangatnya lagi.
"Maafkan aku Lea," bisiknya membuatku membalas pelukannya seerat mungkin.
***
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 07:05 malam, dan aku sudah siap menyantap makan malamku di kantin. Setelah selesai latihan basket bersama Sean, aku langsung pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa laparku.
"Kau sudah disini ternyata," suara Kalea menghentikan suapan pertamaku.
"Hallo Aster." Lanjut Nadin sambil tersenyum manis membuatku terkejut dan menjatuhkan sendok makanku kedalam mangkuk sup dihadapanku.
"Kalian?" Gumamku belum bisa mencerna situasiku saat ini.
"Dimana Teo dan Carel? Kenapa kau sendirian?" Tanya Kalea yang sudah duduk dihadapanku bersama dengan Nadin.
"Ada apa dengan wajahmu?" Suara Teo membuatku menoleh kearah kedatangannya saat aku membisu mendengar pertanyaan Kalea, entahlah aku tidak tau harus mengatakan apa saat melihat pemandangan yang tak masuk akal ini.
"Benarkah?" Tanyaku ingin memastikan kembali apa yang baru saja ku dengar.
"Ya." Jawab Nadin dan Kalea bersamaan, bahkan mereka sudah menunjukan senyuman lebarnya padaku.
"... syu–syukurlah kalau memang begitu," gumamku tak bisa mengatakan hal lain untuk menyelamati mereka. Mungkin karena terlalu mendadak, aku jadi tidak tau harus mengatakan apa untuk mereka berdua.
"Ada apa Aster?" Tanya Kalea membuatku menggeleng cepat dan ku tunjukan senyuman terbaik ku padanya.
"Kau pasti terkejut ya?" Lanjut Teo membuatku mengangguk.
"Ya ... sudah pasti begitu," ucap Nadin terdengar lesu, "aku juga ingin meminta maaf padamu untuk semua hal yang sudah menyakitimu dimasa lalu. Maafkan aku Aster." Lanjutnya membuatku menatap dalam pada matanya, berusaha melihat ketulusan dari ucapannya.
"... sudah ku maafkan sebelum kamu meminta maaf." Ucapku kembali meraih sendok makanku, berusaha menghilangkan situasi canggungku saat ini.
"Benarkah? Kalau begitu sekarang kau bisa menerimaku sebagai temanmu kan?" Tanyanya terdengar gembira.
"Aku juga! Kau bisa menerimaku sebagai temanmu kan Aster?" Lanjut Tia yang tiba-tiba muncul dibelakang Nadin, membuatku terkejut.
"Kau!" Ketus Nadin sambil melirik kearah Tia yang sudah duduk disampingnya tanpa diminta, mengisi kursi kosong disisi kirinya.
"Ngomong-ngomong, Carel mana? Kau tidak bersamanya?" Tanya Kalea kepada Teo.
Benar juga, sejak tadi aku belum melihatnya. Tumben sekali dia tidak datang bersama Teo, biasanya dia datang bersama Teo lebih dulu dariku.
"Dia ... sebentar lagi tiba." Jawabnya terdengar meragukan, apalagi jeda yang dia buat.
"Apa ada yang terjadi padanya?" Tanyaku menatap manik hijaunya penuh selidik. Entahlah, aku merasa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Tidak ada." Jawabnya langsung memalingkan pandangannya dariku, membuatku semakin mencurigainya.
"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tanyaku sedikit menekannya.
"Tidak Aster,"
"Serius?"
"Hmm ...,"
"Teo?" Tanyaku lagi saat melihatnya tak juga membalas tatapanku. Padahal dia selalu menatap mataku jika sedang berbicara denganku. tapi sekarang? Dia malah menghindari tatapanku, apa itu artinya dia sedang berbohong?
"Sudahlah Aster, mungkin dia sedang ditahan lagi sama anak perempuan lain." Ucap Kalea tak menghilangkan rasa curigaku pada Teo.
"Anak itu memang populer ya?" Gumam Nadin setelah menelan makanan didalam mulutnya.
"Ya, aku juga mengangguminya." Lanjut Tia sambil tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putihnya.
"Memangnya apa yang bagus dari anak itu? Kenapa harus mengagumi orang sepertinya?" Suara Hendric membuatku menoleh kearahnya, begitupun dengan Kalea dan yang lainnya.
Ku lihat dia sudah berdiri disampingku bersama dengan Sean, "karena mejanya sudah terisi penuh, bisakah kami ikut bergabung disini?" Tanya Sean membuatku memperhatikan sekitarku.
"Tentu saja, duduklah." Ucap Tia mendahuluiku dan membuat mereka duduk, mengisi tempat kosong yang ada.
Entah kenapa aku merasa diriku menjadi lebih lambat sekarang. Apa karena sekarang kepalaku terlalu sibuk mencerna situasi dihadapanku? Sampai-sampai mulutku tak bisa mengatakan banyak hal seperti biasanya.
"Sejak kapan kalian sedekat itu?" Tanya Sean pada Nadin dan Kalea.
Ku lihat mereka berdua menoleh pada Sean, "sejak sore tadi." Jawab Nadin mewakili Kalea.
... sebenarnya ini situasi macam apa? Batinku tak bisa fokus pada makan malamku karena dikelilingi banyak orang, padahal biasanya aku selalu dikelilingi Kalea, Carel dan Teo saja. Tapi malam ini? Anggotanya bertambah, dan Carel menghilang.
.
.
.
Thanks for reading...