Aster Veren

Aster Veren
Episode 114




-Ansel-


"Lelahnya," gumamku berniat untuk masuk kedalam mobilku, tapi langkahku terhenti saat melihat sosok Ian yang tengah berdiri menyender pada bagian samping mobilku. Menatapku dengan tatapan malasnya sambil melipat kedua tangannya didada.


"Jadi kalian semua bersenang-senang bersama Ansel ya?" Ucapnya mulai menunjukan senyuman menyebalkannya, membuatku melirik pada orang-orang dibelakangku. Ku lihat mereka sudah menundukan kepalanya, mungkin merasa bersalah karena sudah membuat majikannya menyusul mereka.


"Ma–maafkan kami tuan!" Ucap mereka serempak sambil membungkukan tubuhnya memohon ampun.


"Hah~ kenapa kau harus menyusulku juga?" Tanyaku sambil menggaruk kepala bagian belakangku yang tak terasa gatal sedikutpun.


"Lucu sekali, padahal aku sudah mengirimkan surat padamu. Tapi kau langsung kabur dari rumahmu." Tuturnya masih memasang senyuman menyebalkannya.


"Cih, aku tidak berniat menyetujui perjodohan putriku dengan anakmu! Lagipula aku datang kesini untuk berlibur bukan kabur." Decihku sambil berjalan mendekati mobilku, berniat untuk masuk kedalam mobilku. Namun langkahku kembali dihentikan oleh Ian dengan tangan kanannya yang meraih bahuku, membuatku bertatapan dengan manik merahnya.


"Kau mau membantah keinginanku?" Tanyanya penuh penekanan.


"Heh~ kau mau mengancamku?" Ucapku balik bertanya, tak kuasa menahan senyuman sarkasku.


"Akhirnya aku menemukanmu Ansel!" Suara Albert membuatku menoleh kearahnya bersamaan dengan Ian.


"Kau?" Ucapku bersamaan dengan Ian.


"... kenapa orang ini harus menyusulku juga?" Gumamku merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat, padahal aku tidak pernah berpikir dia akan mencariku seperti Ian. Ternyata dia juga tipe orang yang merepotkan ya?


"Ada apa kau mencari Ansel?" Tanya Ian membuatku melirik padanya, sepertinya dia tidak tau kalau Albert juga berniat untuk menjodohkan putranya dengan putriku. Kira-kira bagaimana reaksinya jika dia tau Albert memiliki niatan yang sama dengannya?


"Kenapa aku harus memberitaumu?" Jawab Albert balik bertanya membuat Ian menajamkan manik merahnya.


"Kalian bicarakan saja masalah kalian, setelah selesai baru cari aku!" Seruku sambil membuka pintu mobil dihadapanku.


"Dan kalian, aku tidak memberi makan kalian secara gratis jadi ikut aku. Dan kau kemudikan mobilku!" Lanjutku sambil menunjuk salah satu anak buah Ian sebelum melemparkan kunci mobilku padanya.


Dengan cepat mereka ikut masuk kedalam mobilku tanpa banyak bertanya lagi, sangat pengertian.


"Tunggu Ansel! Aku datang karena memiliki urusan denganmu, kenapa aku harus meladeni Ian?" Tanya Albert tak ku perdulikan.


"Benar! Kenapa aku harus–" Lanjut Ian segera ku potong dengan tatapan malasku.


"Tidak, kalian harus menyelesaikan masalah kalian dulu. Karena kalian sama-sama ingin menjodohkan putra kalian dengan putriku, jadi selesaikan itu sana." Jelasku, "tapi, biar ku beritau satu hal pada kalian ... aku tidak akan pernah menyerahkan putriku pada kalian. Dan kalau kalian bersikeras, maka memohonlah dengan benar!" Lanjutku tak bisa berhenti menatap tajam pada mereka berdua yang terlihat terkejut dengan apa yang baru saja ku katakan.


"Kau juga berniat menjodohkan putramu dengan anaknya Ansel?" Tanya Ian langsung menoleh kesal pada Albert, jarang sekali melihatnya menunjukan rasa kesalnya secara terang-terangan begitu. Biasanya dia selalu menyembunyikan perasaannya dibalik senyuman manisnya yang menyebalkan.


"Ayo pergi!" Titahku membuat sipengemudi segera melajukan mobilku, meninggalkan Ian dan Albert di depan restoran.


***


-Teo-


Dia benar-benar menceritakan hal-hal yang tidak ku ketahui dan hal-hal yang tidak ku temukan jawabannya dari mulut Carel.


Siang tadi Carel hanya membenarkan pertanyaanku soal "apakah dia benar-benar menghajar semua anak yang mengeroyok ku sampai mereka cedera? Apa hubunganmu dengan kakekmu menjadi buruk karena tragedi itu?" dan dia mengiyakannya.


Tapi aku tidak mendengar cerita soal Carel yang dibawa ke kantor polisi karena dituduh sebagai penjahat dari kejadian tahun lalu. Bahkan Kalea juga bilang kalau berita tentang tragedi itu sempat menyebar dan membuat Carel dijauhi teman-teman di sekolahnya. Tapi keluarga Alterio berhasil menghentikan berita buruk itu.


... kenapa dia sampai dituduh sebagai penjahatnya? Padahal dia cuma menolongku, dan bukankah aku yang menjadi korbannya? Kenapa tidak ada yang menanyaiku? Kenapa seenaknya– Batinku terhenti saat mengingat ucapan Kalea saat aku menanyakan hal yang sama padanya.


"Bukankah hari itu kau tidak sadarkan diri? Kalau kau ditanyai, memangnya apa yang bisa kau jawab? Apa kau bisa membantu Carel?" Suara Kalea kembali terngiang dalam kepalaku bersama dengan ekspresi seriusnya.


"Benar, memang tak ada yang bisa ku bantu untuknya ... kenapa hari itu aku harus hilang kesadaran?" Gumamku merasa kesal sendiri saat menyadari betapa tidak bergunanya aku.


Dengan perasaan kesal ku, ku hentikan langkahku dan refleks meninju dinding disampingku sampai tanganku terluka.


"Kau bodoh ya?" Suara mungil yang sangat familiar mulai terngiang bersama ingatan akan pertemuan pertamaku dengan Carel.


"Kalau mau memukul, pukul mereka jangan memukul tembok! Kau bisa membalas–tidak ya? Kau tidak berani membalas mereka ya? Lanjutnya dengan ekspresi sarkasnya yang membuatku semakin kesal.


"Mau ku balaskan untukmu? Kebetulan sekali hari ini aku sangat ingin menghajar seseorang." Lanjutnya lagi mengubah ekspresinya menjadi serius, tatapan tajam dengan senyum tipis yang terasa begitu menusuk memperhatikan punggung orang-orang yang baru saja menghajarku. Membuatku bergidik saat melihatnya.


"Dia ... anak ini tidak normal!" Bagitulah kesan pertamaku saat bertemu dengan Carel.


Ya, hari itu aku juga melakukan hal yang sama dengan apa yang ku lakukan saat ini. Memukul dinding karena merasa kesal dan frustasi dengan diriku sendiri. Frustasi karena tidak bisa membalas perbuatan anak-anak yang memukuliku karena merasa iri dengan kepintaranku. Tapi anak itu muncul dan menawarkan diri untuk membalas perbuatan mereka untuk ku.


Padahal aku berbeda dengan diriku dimasa lalu. Tahun lalu aku bisa membalas pukulan orang-orang yang sudah mengeroyok ku, melindungi diriku dari hajaran mereka meski aku tetap kalah. Tapi setidaknya aku bisa melawan mereka, melindungi diriku sendiri dan tidak suka rela dipukuli seperti dulu. Tapi kenapa rasa kesalnya sama dengan saat itu?


Padahal aku benar-benar berubah setelah bertemu dengan Carel, saat pertama melihatnya, aku sangat tidak suka dengan orang menyebalkan sepertinya. Tapi saat melihat kemampuan berkelahinya, entah kenapa aku mulai mengaguminya dan bertekad untuk berubah.


Diam-diam mengikuti kelas bela diri tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku yang sangat melarangku untuk mempelajarinya. Karena mereka pikir aku akan mulai sering berkelahi jika tau caranya memukul. Mereka takut aku akan terlibat dengan hal-hal berbahaya. Padahal niatku mempelajarinya hanya untuk melindungi diriku, bukan untuk menghajar sembarang orang.


Ternyata aku pernah sepayah itu ya? Batinku saat melihat gambaran diriku yang menyedihkan sekilas, diriku yang belum pernah bertemu dengan Carel. Hanya bisa menahan rasa sakit setelah menerima pukulan diseluruh tubuhku, lalu diam-diam mengumpat dan memukuli dinding untuk menyalurkan rasa kesalku.


"Padahal aku sudah mengikuti kelas bela diri dikelas tiga, tapi ... kemampuanku tidak berguna saat tubuhku sedang sakit," gumamku saat mengingat bagaimana pertemuanku dengan para berandalan itu.


Seingatku, aku bertemu dengan mereka setelah pulang dari apotik untuk membeli obat, kondisi tubuhku saat itu sedang panas-panasnya. Tidak ada orang yang bisa ku mintai tolong karena kedua orang tuaku berada diluar kota untuk urusan pekerjaan, pembantu di rumahku sedang mengambil cuti.


Dan entah apa pemicu dari perkelahianku hari itu, tiba-tiba saja hal itu terjadi. Ingatanku terputus setelah menerima panggilan telpon dari Carel dan tak lama kemudian mataku melihat sosok anak menyebalkan itu berlari mendekatiku dengan ekspresi yang sulit untuk ku gambarkan saat tubuhku sudah terkapar ditanah dengan kesadaranku yang hampir hilang.


"Siapa sangka kejadiannya akan jadi seperti itu?" Gumamku tak bisa melupakan ucapan Kalea soal Carel yang dibawa ke kantor polisi dan menerima perlakuan buruk dari teman-teman sekolahnya, lalu hubungannya dengan kakeknya memburuk.


.


.


.


Thanks for reading...