Aster Veren

Aster Veren
Episode 137




-Ansel-


"Bisa-bisanya anakmu diskorsing saat ujian hari pertama dimulai." Ucapku tak bisa membayangkan masalah apa yang sudah dia perbuat sampai kepala sekolah memberikan hukuman skorsing padanya.


Ku lihat Victor hanya membisu mengendarai mobilnya selagi aku memperhatikannya dari pantulan kaca spion bagian dalam. Dan saat ini aku tengah duduk di kursi belakang.


Ku hela napas dalam saat mengingat jadwalku hari ini, harusnya kami pergi menemui Ian untuk mendiskusikan pekerjaan kami. Tapi ditengah perjalanan Justin menghubunginya, mau tak mau kami pun putar arah dan membatalkan pertemuan kami dengan Ian.


"Yah, bukan masalah besar. Aku jadi bisa menemui putriku." Gumamku sambil memperhatikan pemandangan di luar mobil. Mengingat semua momen kebersamaan kami.


Sesampainya di akademi, Victor langsung memarkirkan mobilnya di parkiran. "Anda bisa menunggu saya di dalam mobil tuan, ini tidak akan lama." Tuturnya membuatku geli saat mendengarnya berbicara sesopan itu padaku.


"Tidak, aku akan keluar." Tolak ku segera keluar dari dalam mobil diikuti oleh Victor.


"Tapi–"


"Aku akan pergi menemui putriku, kau selesaikan saja urusanmu." Jelasku segera pergi kearah asrama perempuan. Namun langkahku terhenti saat melihat Aster di halaman akademi bersama dengan Kalea dan Nadin.


***


-Kalea-


"Lea!" Suara papa membuatku menoleh ke arah kedatangannya, "apa yang terjadi?" Lanjutnya terlihat khawatir.


"Itu sebenarnya–" Ucapku terhenti saat melihat sosok ayah berjalan menghampiri papa bersamaan dengan ekspresi terkejut papa saat melihat wajah Aster.


"Kan! Sudah ku duga ini akan terjadi." Gumam Nadin terlihat cemas.


"Habislah kau Carel ...," lanjut Teo ikut bergumam membuatku bingung. Ku lihat dia sudah berkeringat dingin.


Kenapa dengannya?


"Aster, wajah mu?" Tanya papa bersamaan dengan ayah yang sudah berdiri tegap diantara kami.


"Tidak apa-apa paman, ini–" Jawab Aster terpotong saat tangan ayah meraih wajahnya dengan tatapan predatornya. Sudah lama aku tidak melihatnya, dulu aku sering melihatnya saat ayah berdebat dengan nenek dan ibu.


"Siapa yang melakukannya?" Tanyanya terdengar berat dan dingin, suaranya sangat menusuk.


"Pa–papa ini ...," Gumam Aster sedikit gemetar.


"Aku tanya sekali lagi Aster, siapa yang melakukan ini padamu?" Tekan ayah membuat Aster tak bisa berkata-kata saat melihat kemarahan diwajah ayahnya.


"Tenanglah Ansel, kau membuat putrimu ketakutan." Ucap papa tak meredakan emosi ayah sedikitpun.


"Hah~ Lea sudah memberikannya pelajaran ayah. Jangan khawatir, Nadin juga ikut membantu Lea. Itulah alasan kenapa aku diskorsing selama tiga hari." Jelasku setelah menghela napas panjang, tak tega melihat Aster ketakutan pada ayahnya sendiri.


"Jadi ... papa dipanggil ke sekolah karena–"


"Ya. Lea menampar balik anak itu." Ucapku menjawab pertanyaan papa dengan malas.


"Anak mana yang berani menyentuh putriku?" Geram ayah sedikit meredakan emosinya.


"... aku tidak tau mereka berasal dari keluarga mana, yang aku tau mereka adalah teman-temannya Lusy. Cucu pemilik akademi ini." Jelas Nadin membuat emosi ayah kembali memuncak.


"Mereka? Jadi bukan satu orang yang sudah melakukan hal ini pada putriku?" Tanya ayah menoleh pada Aster, meminta jawaban darinya. Namun dengan cepat dia bersembunyi dibalik punggungku.


"Ya, yang satunya menjambak rambut Aster dengan sangat kuat." Jawab Nadin terlihat memanas-manasi ayah.


"Apa yang kau lakukan? Bukankah kau khawatir akan ada perang keluarga jika ayah mengetahui kondisi Aster? Kenapa sekarang malah memanas-manasi ayah?" Bisik ku sambil menyikut tangannya.


"Biar saja, ini sangat menarik. Aku ingin lihat apa mereka masih bisa menyentuh Aster jika paman Ansel sudah bertindak? Dan lagi paman Ansel terlihat sangat keren sekarang." Jelasnya ikut berbisik dengan sorot mata berbinarnya, berlawanan dengan beberapa menit lalu.


"... aku punya rekamannya, paman mau lihat?" Tanya Sean yang sejak tadi membisu memperhatikan percakapan kami.


Ku lihat ayah sudah menoleh pada Sean, lalu segera merebut heandphone anak itu saat heandphonenya disodorkan pada ayah.


"Habis mereka!" Geram ayah saat melihat rekaman di heandphone Sean sebelum bergegas pergi ke ruang kepala sekolah.


"Ansel! Tu–tunggu!" Teriak papa segera mengikuti ayah.


"He–heandphoneku ...," gumam Sean saat melihat ayah membawa pergi heandphonenya.


"Tenanglah, sepertinya tuan Ansel meminjamnya sebagai barang bukti. Setelah selesai dia akan mengembalikannya padamu." Jelas Teo angkat bicara.


Rasakan itu! Ku harap ayah tidak mengembalikan heandphone mu. Batinku menatap kesal pada Sean, sedangkan anak itu terus memperhatikan kepergian ayah.


"Anu, Lea? Apa semuanya akan baik-baik saja?" Tanya Aster terlihat khawatir, membuatku refleks meraih puncak kepalanya dan mengelusnya dengan lembut.


"Ya, serahkan saja padaku." Jawabku sebelum menunjukan senyuman terbaik ku.


"Maksudmu pada kami kan?" Dengus Nadin membuatku terkekeh, entah sejak kapan dia jadi seperduli ini pada Aster. Ku kira hanya aku yang memperdulikannya.


"Ya ya, pada kami!" Seruku meralat ucapanku sebelumnya.


"Ayo pergi!" Lanjut Nadin mengajak ku pergi dengan rona merah diwajahnya. Sepertinya dia malu dengan apa yang dia katakan sendiri.


"Aster kami pergi dulu ya." Ucapku sebelum meninggalkan Aster yang mematung di tempatnya. Sepertinya dia bingung harus bereaksi seperti apa saat melihat Nadin menunjukan rasa peduli padanya.


***


-Aster-


"Kau baik-baik saja?" Tanya Teo membuat perhatianku teralihkan padanya saat sosok Nadin dan Kalea menghilang dalam pandanganku.


"Ya ... ini pertama kalinya aku melihat ayah semarah itu. Sangat menakutkan ...," jelasku bergidik ngeri saat mengingat ekspresi marah ayah.


Tunggu! Batinku berusaha mengingat kembali berapa kali ayah menunjukan kemarahannya seperti itu. Ingatanku agak kabur, tapi aku ingat ayah pernah marah untuk ku juga akan suatu hal. Apa ya?


Ah! Saat paman Tesar menamparku. Hari itu untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi marah ayah. Tapi ... rasanya tidak semenyeramkan tadi. Apa aku salah ingat? Lanjutku masih dalam hati.


"Sepertinya tuan Ansel sangat menyayangimu ya?" Tutur Sean membuatku menoleh padanya, ku lihat dia sudah menunjukan senyuman hangatnya.


"Tentu saja! Mana ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya kan?" Dengus Teo dengan ekspresi datarnya.


"Hhe–hehe ...," tawaku saat melihat ekspresi Teo sebelum ingatan kemarin kembali terbayang dalam kepalaku.


Aku benar-benar tidak pernah menduga kalau Nadin dan Kalea akan marah untuk ku saat melihatku ditampar oleh temannya Lusy. Aku bahkan tidak berharap seseorang akan menolongku dalam situasi seperti kemarin.


Bukannya pasrah, hanya saja ... aku tidak mau membuat keributan. Tapi, pada akhirnya kejadian kemarin malah lebih ribut daripada yang ku pikirkan.


"Harusnya kemarin aku tidak perlu meladeni mereka." Gumamku mengingat sebagian kecil percakapanku dengan Lusy dan kedua temannya.


"Seandainya kemarin aku bisa menghentikan kalian, mungkin kejadiannya tidak akan jadi seribut ini ya?" Lanjut Sean membuatku menoleh ke arahnya. Sepertinya dia juga menyesali tindakan lambatnya.


Lalu ekspresi merasa bersalahnya itu benar-benar terlihat lucu. Baru kali ini aku melihatnya menunjukan ekspresi seperti itu, biasanya Sean selalu memasang ekspresi juteknya yang membuat semua orang enggan mendekatinya.


"Untung ada Nadin dan Lea ya?" Godaku membuatnya sedikit terperajat.


"Lea sampai membalas perbuatan anak itu dan menampar wajahnya tanpa ampun." Lanjut Teo sambil menganggukan kepalanya.


"Mereka bahkan tidak perduli jika masalahnya bertambah besar, padahal Aster berusaha keras untuk menghentikan mereka supaya masalahnya tidak membesar. Tapi mereka malah mengabaikannya sampai dipanggil ke ruang guru dan diskorsing." Tutur Teo sambil melipat kedua tangannya diatas dada.


Benar! Gara-gara menolongku, mereka sampai harus diskorsing ...,


.


.


.


Thanks for reading...