Aster Veren

Aster Veren
Episode 181




-Ansel-


Ku rasakan denyutan diwajahku akibat pukulan yang diberikan oleh Arsel sebelum dia pergi dari kediamanku.


Anak itu memukulku setelah mendengar alasanku begitu memperdulikan Kalea dibandingkan dengan Aster. Aku bahkan memberitahunya kalau aku hampir menembaknya jika Kalea tidak menghentikanku, dan detik itu juga Arsel langsung memukulku dengan seluruh kekuatannya.


"Sinting!" Geramnya sambil menyibak rambutnya ke belakang, air mukanya benar-benar penuh dengan kekesalan.


"Ku harap ingatanmu segera kembali agar kau tersiksa saat mengingat kau hampir menghabisi putrimu. Lalu aku juga ingin tau seberapa menyesalnya kau saat menyadari Aster menghilang karena ulahmu." Lanjutnya sebelum pergi meninggalkan kediaman Veren.


Aku yang mendengar sumpah serapahnya hanya bisa membisu, mematung di tempatku. Bahkan tanpa sadar rasa sakit di kepalaku mulai kembali terasa, entahlah, setiap kali aku memaksakan diri untuk mengingat anak itu. Kepalaku selalu berdenyut, dan hal itu membuatku tidak ingin mengingatnya lagi.


"Bagaimana ini, apa nona bisa ditemukan secepatnya?"


"Apa nona sudah makan?"


"Kemana nona pergi? Aku benar-benar mengkhawatirkannya."


"Cepatlah kembali nona ...,"


Suara beberapa pelayan rumah mencuri perhatianku. Ku lihat mereka segera kembali bekerja saat melihatku menatap ke arah mereka berdiri.


"Tu–tuan menatap ke arah kita!"


"Aku tau!"


***


Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 malam, dan aku masih mengurus semua pekerjaanku dengan serpihan ingatan tentang anak perempuan bermanik ungu yang tersenyum miris padaku, saat aku mengatakan pergi padanya kemarin.


Lalu bayang-bayang akan sosok anak kecil yang mirip dirinya datang silih berganti, memenuhi kepalaku.


"Papa,"


"Aster sayang papa ...,"


"Papa sangat keren."


"Aster takut!"


"Jangan tinggalkan Aster,"


"Papa jangan terlalu jahat pada paman Rigel!"


"Berhenti menjahili Khael Papa! Paman juga berhenti menggoda Khael!"


"Aster sudah besar loh, berhenti menganggapku sebagai anak kecil!"


"Papa ... masih sibuk?"


"... makanannya sudah siap loh Papa, ayo makan bersama."


"Aster, rindu Ibu dan Nenek ...,"


"Papa ... Terima kasih."


"... Selamat tinggal, Papa."


Suara anak itu terus berputar dalam kepalaku, bahkan ucapan perpisahan yang dia katakan tanpa bersuara pun merasuki kepalaku. Rasanya sangat sakit sampai mau mati rasanya. Kenapa tiba-tiba wajah anak itu menjadi begitu jelas tergambar dalam ingatanku? Ekspresinya yang seperti itu, benar-benar membuat hatiku sakit. Batinku sambil merasakan denyutan hebat di kepalaku.


Kemudian, ku putuskan untuk pergi ke kamarku dan beristirahat. Mengusaikan pekerjaanku malam ini setelah merasa tubuhku lambat laun melemah akibat sakit dikepalaku.


"Bawakan aku air minum ke kamarku!" Titahku pada seorang pelayang yang berpapasan denganku di depan ruang kerjaku.


"Ba–baik tuan!" Serunya bergegas.


Ku lanjutkan kembali langkahku menuju kamarku, namun belum ada tiga langkah, telingaku sudah mendengar keributan di luar rumah. Dari suaranya aku yakin itu suara Hans dan Rigel, apa mereka sedang berkelahi? Batinku mendengar suara pukulan dan erangan secara bersamaan.


"... Beraninya kau membuat Nona dan Tuan menjadi seperti itu!" Seru Hans terdengar lantang, menarik perhatianku.


"Kecilkan suaramu, atau kau mau menambah beberapa luka lagi di tubuhmu itu hah?" Timpal Rigel penuh penekanan saat aku mengintip mereka dari balik jendela.


"Akan ku peringatkan dirimu tuan, siapa tau anda lupa sedang berurusan dengan siapa? Jika tuan sampai mengetahui semuanya–"


"Sudah ku bilang tutup mulutmu bukan?"


"Aku tidak takut dengan ancamanmu! Cepat atau lambat ingatan tuan pasti akan kembali, dan saat itu bersiaplah untuk menerima hukumanmu."


"Sebelum itu terjadi, aku akan menyingkirkannya bersama denganmu! Terima kasih atas perhatiannya." Tuturnya membuatku sedikit tersentak, apalagi saat ini aku sudah berdiri dibelakangnya.


Ya, aku langsung pergi menemui mereka saat mendengar ocehan mereka. Tapi saat sampai di dekat mereka, aku malah mendengar sesuatu yang mengejutkan.


"Kau!" Geram Hans terlihat menahan diri.


"Itu, apa maksudnya dengan menyingkirkan?" Tanyaku membuat mereka berdua terperajat, ku lihat Rigel langsung melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja Hans sebelum berbalik badan menghadapku.


"Kau berniat menyingkirkan ku?" Lanjutku bersamaan dengan senyuman lebar yang ditunjukan oleh asistenku itu. Sekilas senyumannya terlihat tulus, tapi jika diperhatikan lagi, senyuman itu hanya senyuman yang dia paksakan.


"Mana mungkin saya berani tuan," ucapnya terdengar meragukan. Aneh, padahal biasanya aku tidak pernah mencurigainya. Tapi setelah mendengar ucapannya yang barusan, tiba-tiba aku merasa curiga akan suatu hal. Apalagi saat melihat ekspresi Hans yang jarang sekali ku lihat, anak itu terlihat begitu kesal memandangi punggung Rigel secara terang-terangan.


Anehnya kepalaku yang sempat berdenyut hebat, kini menjadi baik-baik saja. Apa karena pikiranku teralihkan pada hal lain?


"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu tuan. Saya akan segera menemukan nona sesuai perintah anda." Ucapnya tiba-tiba.


"Ah benar, aku memintamu untuk mencari anak itu ya?" Gumamku mengingat diriku yang memberikan perintah untuk menemukan Aster pada semua anak buahku.


"Kalau begitu, Hans. Semoga beruntung, berusahalah untuk menemukan nona Aster lebih cepat dariku jika kau memang ingin menyelamatkannya. Sampai jumpa ...," tuturnya sebelum pergi dari hadapanku.


Jadi mereka berselisih karena anak itu? Tidak heran sih, toh selama ini Hans selalu berada disamping Aster. Dia pasti tidak ingin anak itu terluka, tapi aku malah memberikan perintah untuk menyeret anak itu kembali supaya aku bisa menghabisinya.


Tapi yang membuatku bingung, kenapa Hans berkata seperti itu tadi? "Beraninya kau membuat Nona dan Tuan menjadi seperti itu!" Suara lantangnya Kembali terngiang dalam kepalaku. Lalu Rigel, orang itu juga akhir-akhir ini selalu membuatku bingung.


Ku perhatikan kembali sosok Hans yang terlihat berantakan setelah kepergian Rigel, sesekali dia mencuri-curi pandang padaku, sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Namun dia terlihat masih ragu-ragu untuk memulai pembicaraan denganku.


"... ada yang ingin kau katakan?" Tanyaku kemudian, membuat anak itu bertemu tatap denganku.


"I–itu ...,"


***


Waktu berlalu dengan cepat, entah sudah berapa Minggu semua orang bekerja keras untuk menemukan Aster. Tak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukannya. Kira-kira kemana perginya anak itu? Tidak mungkin kan dia melarikan diri sampai ke luar negri dengan kondisinya yang seperti itu?


Tok tok tok!


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, dengan malas ku persilahkan seseorang di balik pintu itu masuk ke ruang kerjaku.


Ku lihat Hans memasuki ruangan dengan berkas di tangannya, sepertinya dia mendapat tugas memberikan berkas itu padaku.


"Anu tuan–"


"Letakan di sana!" Titahku sambil melirik ke sisi sebelah kiri meja kerjaku, memotong ucapannya. Aku lihat dia langsung meletakan berkas di tangannya tanpa banyak bicara. Meski ku lihat wajah gelisahnya sangat mengganggu.


"Hah~" Ku hela napas letihku saat melihat ekspresi menyebalkan itu.


"Perintahkan–"


Brak!


Suara pintu terbuka cukup keras menampilkan sosok Mila yang terlihat begitu panik dengan air mata yang membasahi wajahnya. "Tuan! No–nona Aster ...," ucapnya memotong ucapanku, membuat perasaanku tidak karuan, ku lihat Hans juga terkejut saat pelayan itu menyebutkan nama Aster.


"Itu ... nona–"


"Apa yang terjadi padanya? Katakan padaku dengan jelas Mila!" Seru Hans mengguncangkan bahu pelayan itu, memaksanya untuk membuka mulut.


"Nona hiks, dia ...,"


.


.


.


Thanks for reading...