Aster Veren

Aster Veren
Episode 118




-Aster-


"Aster tolong bawa ini ke ruang guru ya," ucap pak Vito setelah suara bel istirahat berhenti berdering, menepuk setumpuk buku di mejanya sebelum dia keluar dari kelas.


Mau tak mau akupun berjalan mendekati meja guru untuk membawa semua buku catatan siswa untuk dipindahkan ke ruang guru sesuai perintah pak Vito.


"Mau ku bantu?" Tanya Sean yang sudah berdiri disampingku, membuatku sedikit terlonjak. Belum sempat aku menjawab, dia sudah meraih setengah buku ditanganku dan mulai berjalan kearah pintu mendahuluiku.


"Kami tunggu di kantin ya Aster!" Seru Tia dengan suara cukup keras membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri disamping Nadin, lalu detik berikutnya mereka pergi keluar kelas melalui pintu belakang kelas. Dan aku, aku segera melangkahkan kaki ku mengikuti Sean yang sudah menungguku diambang pintu sambil tersenyum tipis kearahku.


Sepertinya suasana hati Sean sedang baik ya? Batinku merasa sedikit heran dengan ekspresi berseri-serinya itu, padahal jika diingat lagi dia tidak pernah menunjukan ekspresinya yang seperti itu. Ekspresinya terlihat baru bagiku.


"Hmm ...," gumamku sambil memperhatikan langkahku menuju ruang guru, memikirkan perkataan Carel pagi tadi. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa penasaran dengan makanan yang Carel maksud. Kira-kira makanan apa yang dia bilang aku akan sangat menyukainya itu?


"Ada apa?" Tanya Sean membuatku melirik kearahnya, ku lihat dia sudah memperhatikanku dengan serius.


Ekspresinya kembali seperti semula, batinku berusaha menahan tawaku saat merasakan geli dibagian perutku. "Tidak ada." Lanjutku setelah menghela napas dalam.


"Sung–" Ucapnya terpotong saat mendengar sapaan beberapa anak perempuan yang berjalan melewatinya.


"Hallo Sean," sapa anak perempuan lainnya yang berjalan bersama temannya.


"Wah, sepertinya sekarang kau sudah diterima dengan baik ya?" Gumamku merasa terkejut dengan reaksi semua perempuan saat berpapasan dengan Sean, kebanyakan dari mereka memberikan senyuman ramah padanya.


Gosipnya juga sudah tak terdengar lagi, belakangan suasana akademi terasa sangat damai. Tapi ... kenapa ekspresinya begitu? Batinku memperhatikan ekspresi Sean yang terlihat tidak senang.


***


Setelah menyerahkan semua buku siswa pada pak Vito, aku pun bergegas pergi ke kantin bersama dengan Sean. Namun langkahku terhenti saat Carel muncul dihadapanku secara tiba-tiba.


Penyakitnya itu belum sembuh juga ternyata! Batinku sambil mengelus dadaku, berusaha untuk menenangkan detak jantungku yang berpacu karenanya.


"Ayo pergi!" Ucapnya sambil meraih pergelangan tanganku.


"Tunggu!" Cegah Sean yang sudah mencekal tanganku yang satunya, "dia akan pergi bersamaku," lanjutnya menatap Carel dengan tatapan tajamnya.


"Hah? Kau bilang apa? Mau berkelahi ya?" Tanya Carel penuh penekanan sambil membalas tatapan tajam Sean.


Me–mereka ini kenapa sih? Batinku merasa takut sendiri.


"Tu–" Ucapku terhenti saat melihat Teo berdiri dibelakang Carel sambil memegangi bahunya.


"Kau belum pergi?" Tanya pria berambut pirang itu, "maaf ya Sean, dia sudah membuat janji lebih dulu dengan Aster. Jadi, bisa kau lepaskan tanganmu dari Aster?" Lanjutnya sambil menunjukan senyum manisnya yang berhasil membuatku merinding saat melihatnya.


"Ternyata aku benar-benar tidak menyukai senyumannya itu!" Gumamku masih merasa merinding.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Tanya Sean membuatku terkejut dan refleks menoleh kearahnya, memperhatikan manik hitamnya.


"A–anu Sean–"


"Baku hantam aja sini!" Jawab Carel membuatku kesal karena lagi-lagi ucapanku dipotong.


"Dengarkan aku dulu!" Seruku tak diperdulikan oleh kedua anak menyebalkan dihadapanku, tidak lupa untuk berusaha melepaskan cengkraman tangan mereka juga.


"Kau mau menghancurkan kepercayaan kakekmu?" Tanya Teo membuat Carel mendelik dan berdecak kesal sebelum menghela napas dalam.


Apa? Ada apa? Kenapa anak menyebalkan yang satu ini bisa mengendalikan emosinya? Itupun hanya karena dia mendengar perkataan Teo? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan ekspresi yang dibuat oleh Carel.


"Ck, ayo pergi!" Ucap Carel kembali menarik tanganku, tapi Sean juga menarik tanganku yang satunya dan itu terasa sakit saat keduanya menarik tanganku kearah berlawanan secara bersamaan.


"Aduh!" Pekik ku sambil meringis.


"Sudah ku katakan dia akan pergi denganku!" Seru Sean semakin menatap tajam pada manik merah Carel.


"Kalian berdua!" Seru Teo sambil menepuk bahu keduanya cukup keras, "selesaikan masalah kalian dan lepaskan tangan Aster! Kalian membuatnya kesakitan." Lanjutnya membuat Sean dan Carel melirik kearah tanganku dan melepaskan tanganku dengan ragu.


"Ma–maaf," ucap Sean terlihat bersalah.


"Kau yakin meninggalkan mereka? Bagaimana kalau mereka benar-benar berkelahi?" Tanyaku merasa cemas sendiri.


"Tidak akan, aku bisa menjaminnya." Jawabnya penuh percaya diri dengan tangan kanannya yang sudqh meraih puncak kepalaku dan mengacak-acak rambutku sesukanya.


"Hentikan! Rambutku jadi kusut," ucapku berusaha melepaskan tangannya dari atas kepalaku.


"Tidak kusut, tenang saja."


"Teo!"


"Ya?"


"Jangan membuatku kesal!" Gumamku penuh penekanan setelah bertemu tatap dengannya.


"Hee... kau pikir aku akan takut dengan wajah kesalmu yang terlihat menggemaskan itu?" Tanyanya sambil tersenyum sarkas, membuatku tambah kesal dari sebelumnya.


"Kau–"


"Kalau mau marah coba belajar memasang ekspresi yang benar pada Kalea dan Nadin." Lanjutnya memotong ucapanku.


"Kau mau mati ya?!" Suara Carel mengejutkanku dan Teo, ku lihat dia sudah berdiri dibelakangku dan Teo saat kami menghentikan langkah kami secara refleks karena mendengar suaranya.


"Ca–carel?" Gumamku saat melihatnya menatap tajam pada Teo, sedangkan Teo hanya menatapnya dengan santai sambil tersenyum tipis pada Carel.


"Sudah selesai?" Tanya Teo terlihat mengalihkan topik. Meski aku tidak tau kenapa Carel tiba-tiba mengatakan hal mengerikan seperti itu pada Teo. Tapi sepertinya Teo paham betul dengan apa yang Carel ucapkan.


Tadi bertengkar dengan Sean, sekarang malah cari ribut dengan sahabat sendiri? Ini anak kenapa sih? Batinku bertanya-tanya.


"... kau marah? Sungguh? Apa itu artinya dugaanku benar ya?" Lanjut Teo membuatku bingung.


"Apa?" Tanyaku refleks.


"Tidak ada, ayo pergi. Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Kita tinggalkan saja si bodoh ini! Jangan perdulikan dia!" Jawab Carel langsung meraih pergelangan tanganku dan membawaku pergi ke kantin.


***


-Teo-


"Hah~ sampai kapan dia akan terus bersikap seperti itu? Tidak kah sebaiknya dia mulai jujur mengenai perasaannya pada Aster?" Gumamku sambil memperhatikan punggung Carel dan Aster yang sudah memasuki kantin.


"Sepertinya ... aku suka anak itu!" Suara Carel kembali terngiang dalam kepalaku, mengingat obrolanku dengannya malam itu


"Anak itu? Siapa? Yang menembakmu kemarin sore?" Tanyaku setelah mematung beberapa saat karena merasa terkejut dengan apa yang baru saja ku dengar. Bisa-bisanya anak seperti dia menyukai seseorang, dan dia bicara terang-terangan seperti ini saat sedang curhat padaku?


"*Bukan bodoh!" Ketusnya sambil menatapku dingin.


"Terus siapa*?"


"... Aster, siapa lagi?" Jawabnya balik bertanya. Memang terlihat sih, sangat terlihat. Dari gerak-gerik dan perlakuan yang dia tunjukan pada Aster selama ini, semuanya sangat terlihat jelas kalau dia menyukai anak itu lebih dari seorang teman. Tapi ini benar-benar membuatku terkejut, seorang Carel mengakui dirinya menyukai Aster dengan wajahnya yang semu memerah.


"Te–terus apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Lanjutku bertanya, merasa sedikit penasaran dengan apa yang akan dia lakukan kedepannya. Apa mungkin dia akan mengutarakan perasaannya pada Aster?


Kalau begitu mereka bisa menjadi sepasang kekasih kan? Aster juga terlihat menyukai Carel, meski anak ini sangat menyebalkan. Batinku sambil memperhatikan sosok Carel yang duduk diatas kursi belajarnya, menghadap kearahku yang duduk diatas tempat tidurku.


"Apa ya? Tidak tau, aku belum memikirkan apa yang akan ku lakukan kedepannya. Yang ku tau, aku memang sudah lama menyukainya." Jawabnya dengan nada malas, membuatku jengkel saat mendengarnya berbicara dengan nada seperti itu.


"Kau sangat menyebalkan ya?!" Dengusku membuatnya mendelik kesal. Ingin rasanya memberitau dia kalau Aster juga sepertinya menyukainya, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kenapa? Aku pikir Carel harus menyadarinya sendiri, dan Aster juga harus menyadari perasaan Carel dengan sendirinya.


"... tapi, kalau kau terus menundanya, bisa-bisa Aster direbut anak itu!" Lanjutku sambil melirik kearah Sean dan Hendric saat aku tersadar dari lamunanku, ku lihat mereka berjalan menuju kantin sambil mengobrol.


.


.


.


Thanks for reading...