Aster Veren

Aster Veren
Episode 202




-Carel-


"Jadi, bisa kau jelaskan padaku tuan?"


"Tidak ada alasan khusus, kau juga pasti tau nak." Jawabnya sambil meraih cangkir teh dihadapannya dan menyesapnya.


"Apa?" Gumamku benar-benar tak mengerti dengan ucapannya itu.


"Keluargamu lebih dekat dengan unit kepolisian daripada keluargaku yang lebih dekat dengan media kan? Tentu saja aku membutuhkan bantuan keluarga Alterio yang lebih profesional dibidang penyelidikan daripada keluargaku. Selain itu, aku yakin sudah memberitau ayahmu kalau Rigel sudah masuk ke wilayahku. Apa dia tidak memberitahumu?" Jelasnya membuatku membelalak, benar kalau keluargaku lebih dekat dengan unit kepolisian apalagi sejak kejadian beberapa bulan lalu.


Tapi, tetap saja asalannya tidak bisa di terima. Karena wilayah ini bukan tanggung jawab keluarga Alterio, dan lagi kenapa ayah dan kakek sangat keras kepala untuk memberikan bantuan pada Albert? Bahkan kakak juga.


"Yah, aku sempat melihatnya. Tapi dia berhasil melarikan diri." Ucapku setelah menghela napas panjang, berusaha untuk menenangkan diriku karena tidak sengaja membiarkan orang itu melarikan diri.


"Bukankah itu buruk?" Tanyanya membuatku mengernyit, apa maksudnya dengan buruk? Toh dimanapun dia, dia tidak akan bisa berbuat banyak untuk menyentuh keluarga Veren atau keluargaku.


"Kamu belum mendapatkan informasi ini?" Tanyanya lagi sambil memberikan berkas biru kehadapan ku. Dengan malas aku raih berkas itu untuk memastikan apa yang dia bicarakan.


Mataku kembali dibuat membelalak terkejut saat membaca informasi yang tertulis di dalamnya, lalu ku alihkan pandanganku pada pak tua dihadapanku. Ku lihat dia sudah menatapku dengan ekspresi datarnya yang tidak bisa ku pahami.


"Apa maksudnya ini?" Tanyaku menajamkan penglihatanku, bahkan tanpa sadar tanganku sudah meremas berkas ditanganku selagi tangan satunya menggebrak meja dihadapanku.


Bagaimana bisa informasi sebesar ini terlambat didapatkan oleh keluargaku? Dan apa maksudnya dengan cincin keluarga Veren yang tertulis di sana? Siapa yang mendapatkannya? Kenapa dia menjualnya? Kapan— Batinku bertanya-tanya dan terhenti saat melihat foto cincin yang dilampirkan di dalam berkas itu.


"Ini?"


"Benar. Itu cincin pernikahan Ansel." Ucapnya membuat pandanganku kembali teralihkan padanya.


"Bagaimana bisa? Apa pak tua itu menjualnya? Tidak ... disini dikatakan seorang perempuan muda yang menjualnya?" Tanyaku kembali memperhatikan tulisan di dalam berkas yang ku pegang.


Perempuan muda? Batinku tiba-tiba teringat dengan sosok Aster. Jika tidak salah ingat, aku pernah melihatnya mengenakan sebuah kalung dengan cincin yang—mirip?


"Hey pak tua. Bisa kau beritau aku kenapa kau hanya datang dengan potongan kain terbakar hari itu?" Tanyaku saat menemukan kejanggalan dalam kepalaku, benar kan? Jika dia mau dia bisa membawa bukti yang lebih kuat daripada sekedar kain sisa yang terbakar. Karena bagaimanapun cincin ini lebih bertahan lama dalam kobaran api, harusnya cincin itu masih ada dalam reruntuhan bangunan yang terbakar meski apinya sudah padam.


Belum lagi orang ini bilang hanya kain ini yang tersisa, aku yang sekarang memikirkannya saja merasa heran karena tidak ada jasad yang ditemukan dalam bangunan itu setelah kobaran api itu berhasil dipadamkan. Jika kain bisa bertahan, kenapa jasadnya tidak ada disana? Kemana perginya jasad itu? Itulah pertanyaan yang selama ini terus menghantuiku dan membuatku diam-diam menggali informasi kejadian hari itu tanpa sepengetahuan siapapun.


"Karena hanya itu yang bisa ku selamatkan." Jawabnya semakin memperkuat kecurigaan ku.


Sepertinya dugaanku selama ini benar. Si Albert ini ada hubungannya dengan hilangnya jasad Aster. Atau ... jangan-jangan selama ini Aster masih hidup? Dan dia menyembunyikannya dari semua orang? Tapi kena—pa? Batinku berhenti berpikir saat bayangan seorang pria kurus di toko roti itu berkelebat cepat dalam kepalaku.


"Tidak mungkin kan?" Gumamku lagi berusaha menghentikan pikiran bodohku, tapi saat mengingat ekspresinya yang terlihat begitu ku kenali, perasaan akrab yang terasa aneh dari orang yang baru pertama kali ku temui dan maksud dari air matanya hari itu—apa maksudnya itu?


***


Ku langkahkan kaki ku di kediaman Veren membuat Hans dan Eric terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.


"Tuan muda?" Ucap Eric tak menghentikan ku.


"Di mana pak tua itu?" Tanyaku mencari keberadaan tuan Ansel. Aku benar-benar datang untuk memastikan cincin yang ada dalam foto yang ku bawa bersama dengan berkas yang ku minta secara paksa dari si Albert.


"Pak tua!" Teriak ku sambil membuka pintu ruang kerja keluarga Veren dan ku dapati paman Arsel di sana.


"Carel? Kenapa kau datang malam-malam begini?" Tanyanya membuatku melirik sekilas pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul 02:30 pagi. Aku bahkan tidak sadar waktu berlalu dengan cepat sejak aku pergi dari kediaman Albert.


"Kau tidak pantas bertanya seperti itu padaku disaat kau sendiri masih bekerja di jam selarut ini. Ini bahkan sudah hampir pagi." Dengusku diikuti oleh Eric dan Hans.


"Maafkan saya karena tidak bisa menghentikan tuan Carel tuan." Tutur Eric tampak menyesal begitupun dengan Hans yang tidak mengatakan apapun sejak kedatanganku.


"Lupakan dan panggilkan pak tua untuk ku. Aku akan menunggu di sini." Titahku segera menghempaskan tubuhku pada sofa disampingku.


"Pak tua?" Gumam paman Arsel terlihat bingung.


"Tuan Ansel masih tidur di kamarnya." Lanjut Eric menguji kesabaranku.


"Bangunkan saja."


"Tapi—"


"Apa aku harus mengulangi perkataanku lagi?" Tanyaku segera memotong ucapannya. Aku benar-benar tak sabaran saat ini, aku ingin memastikan sejelasnya dengan bertanya langsung pada orang yang bersangkutan supaya aku bisa mencerna situasiku lebih dalam dan mengambil langkah selanjutnya dalam keputusan yang akan aku ambil. tapi kenapa mereka sangat lamban?


"Pergi dan bangunkan saja." Ucap paman Arsel setelah menghela napas panjang membuat Hans bergegas ketika Eric menoleh kearahnya.


"Tapi Carel, kenapa kamu begitu terburu-buru seperti itu? Datang sepagi ini dan membuat keributan? Ku kira kau sudah banyak berubah, ternyata masih sama seperti dirimu yang dulu ya." Lanjutnya ikut duduk di sofa yang berhadapan denganku.


"Anggap saja seperti itu." Dengusku tak ingin berdebat lebih jauh lagi dengannya.


Cukup lama aku menunggu dalam keheningan, akhirnya Hans kembali bersama dengan pak tuan yang terlihat menyedihkan. Ku lihat dia sudah menatapku dengan tajam, apa dia marah karena aku mengganggu waktu tidurnya?


"Kenapa pembuat onar ini ingin menemuiku jam segini?" Tanyanya setelah mengambil tempat duduk disamping paman Arsel.


"Kau masih saja terlihat menyedihkan ya?" Sindirku membuatnya semakin mempertajam tatapannya, tapi anehnya hal itu tidak membuatku takut sedikitpun. Padahal kalau dulu, aku pasti akan segera menghindari tatapannya seperti orang bodoh.


"Aku datang karena ...," lanjutku kembali terhenti saat melihat cincin yang melingkar di jari manis pak tua itu, cincin yang terlihat sama dengan yang ku lihat dari foto.


"Itu! Apa itu cincin pernikahanmu pak tua?" Tanyaku kemudian membuat perhatian semua orang tertuju pada cincin yang dikenakan olehnya.


"Benar. Kenapa kau tertarik dengan ini?" Jawabnya balik bertanya dan segera menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi sofa yang didudukinya.


"Hah~ haha—hahahaha, gila! Hahaha, ini gila." Ucapku tak bisa menghentikan tawaku saat semua kecurigaanku mulai terbukti. Rasanya seperti menemukan setitik cahaya dalam kegelapan yang ku pijaki.


Aku yang selama ini merasa gila sendiri karena tidak bisa menerima kematian Aster, diam-diam mengerahkan beberapa orang untuk menyelidiki kembali kasus hari itu dan mencari petunjuk soal menghilangnya jasad Aster. Dan berpikir Aster masih hidup ketika semua orang mulai menerima kematiannya. Akhirnya, akhirnya aku menemukan petunjuk tentangnya—Aster.


.


.


.


Thanks for reading...