Aster Veren

Aster Veren
Episode 43




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 07:45 malam, makan malam baru saja berakhir dan sekarang aku sedang bermain di kamar ayah bersama dengan Carel.


Setelah menjemputku dari sekolah dan bermain musik bersama, anak itu semakin menempel padaku dan terus menggangguku.


"Carel?" Ucapku sambil melirik kearahnya yang terlihat asik dengan game diponselnya.


"Hem?" Gumamnya sambil tersenyum tipis dengan sorot mata yang terfokus pada layar ponselnya. Lalu ku lihat tangan kanannya mulai meraba sebuah toples kue dipelukannya.


"Haah... lupakan," gumamku setelah menghela napas lelah bersamaan dengan tangan Carel yang sudah meraih kue kering dari dalam toples, lalu dengan cepat dia memakan kue ditangannya dan tak mendengarkan ucapanku.


Padahal dia selalu marah saat aku mengabaikannya dan fokus pada buku ditanganku, tapi sekarang dia yang mengabaikanku dan fokus pada game diponselnya.


Lanjut baca aja deh. Batinku kembali fokus pada buku ditanganku dan kembali membacanya.


"Hey Aster ...." Suara Carel tak ku dengarkan.


"Aster!" Ucapnya lagi mulai bersikap menyebalkan.


Apa dia sudah bosan bermain game? Batinku bertanya-tanya saat meliriknya sekilas dan melihatnya yang sudah duduk bersila memperhatikanku yang sibuk dengan buku ditanganku.


Tanpa sadar aku sudah memperhatikannya diam-diam ....


"... Aster kau dengar tidak?" Tanyanya menguji kesabaranku.


"Kalau sudah begini, kau tidak akan berhenti menggangguku sampai aku melepaskan buku ditanganku ...." Gumamku sambil melirik kearahnya yang sudah menyeringai, terlihat puas saat melihatku menyerah padanya.


"Ada apa?" Lanjutku bertanya setelah menghela napas lelah.


"Buka mulutmu, aaa ....." Ucapnya membuatku bingung saat tangan kanannya menyodorkan kue kering kedekat mulutku.


"Kau selalu lupa makan kalau fokus dengan buku, jadi biar aku suapi selagi kau fokus membaca." Lanjutnya terdengar mengkhawatirkanku.


"Tapi tadi kita sudah makan malam, aku juga tidak lapar–" Jelasku segera dihentikan olehnya yang tiba-tiba memasukan kue ditangannya kedalam mulutku.


"Tinggal makan saja apa susahnya?!" Gerutunya sambil memasukan kue lainnya kedalam mulutnya.


Apa sih? Batinku merasa bingung dengan kelakuannya.


Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu kamar yang diketuk dari luar, ku lihat pintu itu terbuka secara perlahan dan menampilkan sosok ayah, nenek dan paman Tomi. Mereka mulai berjalan mendekatiku dan Carel yang sedang duduk bersebelahan dilantai.


Baru saja aku mau kembali fokus membaca buku .... Batinku sambil melirik buku tebal ditanganku setelah puas memperhatikan Carel yang tiba-tiba ngambek.


"Tuan muda, sudah saatnya kita kembali–" Tutur paman Tomi terhenti saat melihat lirikan tajam dari Carel.


"Tidak mau!" Ucapnya segera memeluk tubuhku dari samping, membuatku tak bisa berkata apapun saking terkejutnya dengan reaksi aneh Carel yang belum pernah ku lihat sebelumnya.


Padahal tadi dia lagi ngambek padaku kan? Batinku sambil memperhatikan ekspresi kesal Carel.


"Ta–tapi tuan–" Ucap paman Tomi terpotong.


"Haah... asal kau tau saja bocah, cucuku harus istirahat tepat waktu–" Lanjut nenek terlihat kesal setelah menghela napas beratnya, apalagi saat ucapannya dipotong oleh Carel.


"Bo–bocah?! Siapa yang kau panggil bocah nenek tua?" Teriak Carel tak terima dipanggil bocah oleh nenek, dia bahkan menyebut nenek dengan sebutan nenek tua dan mengacungkan jari telunjuknya pada nenek.


Padahal sebelumnya Carel terlihat pucat saat bertemu dengan nenek, tapi tiba-tiba dia jadi berani seperti ini. Bahkan ayah dan paman Tomi terlihat begitu terkejut dengan ucapan Carel. Ya, terserahlah ... ku harap anak ini segera melepaskan pelukannya.


"Ne–nenek tua?!" Ucap nenek dengan senyum tipisnya membuat tangan Carel semakin mengeratkan pelukannya, ku lihat tatapan tajamnya melunak dan melirik kesembarang arah untuk menghindari kontak mata dengan nenek.


Sepertinya keberanianmu sirna begitu saja setelah melihat tatapan nenek. Batinku tak bisa mengatakannya pada Carel, entah kenapa aku ingin tertawa sekarang.


"Pft..." Ucapku berusaha menahan tawaku, ku lihat semua orang sudah memperhatikanku dengan ekspresi bingungnya.


"Kenapa denganmu?" Tanya Carel masih memeluk tubuhku.


"Tidak ada." Jawabku sambil memalingkan pandanganku darinya, dan bertemu tatap dengan ayah yang sudah tersenyum tipis padaku.


"Kau bisa datang lagi besok Carel," ucap ayah mulai angkat bicara sambil melirik kearah paman Tomi dengan ekspresi kasihannya, "ayahmu sudah menelpon Tomi sejak sore, kau harus pulang sekarang." Lanjut ayah.


"Kau tidak ingin melihat Tomi kesulitan karenamu kan?" Tanya nenek ikut bicara.


"Tuan muda ...." Tutur paman Tomi terlihat memelas pada anak kecil disampingku.


Dalam situasi seperti ini Carel benar-benar terlihat seperti anak kecil, padahal sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini jika di rumah paman merah.


Anehnya kenapa paman Tomi memelas pada Carel? Tidak kah itu terbalik?


"... gak mau pulang, mau sama Aster!" Ucapnya kukuh membuat kesabaranku habis, apalagi saat pipinya bersentuhan dengan pipiku.


"Pulang sana! Kau mengganggu waktu membacaku tau!" Ucapku sambil melirik kearahnya dengan kesal.


"Tidak mau!" Tegasnya.


-Arsel-


Setelah kembali dari rumah ibu, aku berniat pergi ke ruang kerjaku. Namun langkahku terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang duduk disofa ruang tamuku.


"Ah... aku ingat!" Gumamku saat mengingat Hana menelponku beberapa menit yang lalu.


Tapi dia tidak bilang kalau Wanda yang datang. Lanjutku dalam hati saat mengingat ucapan Hana di telpon.


"Kau sudah pulang?" Ucap wanita itu saat melihatku berjalan menghampirinya yang sedang duduk ditempatnya, bahkan cangkir teh ditangannya langsung diletakan pada meja dihadapannya.


"Ada angin apa kau datang ke rumahku jam segini?" Tanyaku sambil duduk disofa yang berhadapan dengannya.


"Itu ... aku ingin bertemu dengan Aster, ku dengar dia akan pindah ke Singapura bersama dengan kak Ansel. Jadi aku datang kesini ...." Jelasnya terdengar meragukan, apalagi saat dia terus-terusan menghindari tatapanku.


"Malam-malam begini?" Tanyaku membuatnya sedikit terkejut terlihat dari tatapan matanya yang berhasil ku lihat.


"Pasti Eric yang memberitaumu kan ... iya sih kakak berniat membawa Aster ke Singapura, tapi aku tidak pernah tau kau dekat dengan keponakanku sampai membuatmu harus datang kesini untuk menemuinya." Lanjutku sambil menyenderkan tubuhku kesandaran sofa dibelakangku.


Tentu saja aku merasa aneh pada wanita dihadapanku ini, biar bagaimanapun Wanda tidak pernah berkunjung ke rumahku untuk menemui Aster, kecuali aku yang memintanya datang untuk memeriksa kondisi Aster. Dia juga tidak pernah mau menemuiku sejak tau aku dijodohkan dengan Wanita pengadu itu.


"Hah ... ketahuan ya?" Gumamnya setelah menghela napas beratnya.


"A–apa?" Tanyaku tak mengerti dengan tatapannya itu.


"Sebenarnya aku datang untuk menemuimu, tapi aku juga ingin bertemu dengan Aster bukan sebuah kebohongan." Jelasnya membuatku melongo dan menciptakan keheningan.


"Kenapa kau ingin menemuiku?" Tanyaku memecah keheningan yang sempat memenuhi ruang tamu.


"Aku sudah menemukan jawabannya," jawabnya dengan tatapan seriusnya, "lebih tepatnya, aku akan memberikan jawabanku." Lanjutnya membuatku semakin bingung.


"Jawaban?" Tanyaku benar-benar tak mengerti dengan perkataannya.


"Sepertinya kau lupa ...," gumamnya setelah menghela napas letihnya, "baiklah, ku beri waktu kau untuk mengingatnya. Jika sudah ingat, segera hubungi aku dan temui aku besok di tempat biasanya." Lanjutnya sambil meraih tas selempang kecilnya yang tersimpan diatas meja.


"A–apa maksudmu?" Tanyaku bersamaan dengan tubuhnya yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


"Sepertinya Aster tidak ada di rumah ya, mungkin dia ada di rumah tante Marta atau di rumah kak Ansel?" Tuturnya sambil tersenyum tipis padaku.


Apa yang dia maksud? aku melupakan sesuatu? apa? apa yang ku lupakan? jawaban apa yang dimaksud oleh Wanda? Batinku bertanya-tanya berusaha mengingat semua pembicaraanku dengan wanita dihadapanku ini.


"Kalau begitu aku pulang sekarang, jangan lupa! besok di tempat biasa. Selamat malam ...." Tuturnya meruntuhkan lamunanku.


"Tu–tunggu dulu Wanda!" Teriak ku tak diperdulikan olehnya, wanita itu sudah pergi dari hadapanku.


"Sebenarnya apa yang dia maksud? dia sengaja membuatku tidak bisa tidur semalaman ya?" Lanjutku sambil menggaruk kepalaku.


.


.


.


Thanks for reading...


Ada bonus gambar untuk kalian yang selalu setia nunggu update-tan Aster Veren yang selalu ngaaaaaaaret!! loh 😅🤭


Sebelumnya maaf ya aku selalu telat update... 🙇‍♀️


Padahal udah diniatin update 2 hari sekali, tapi makin kesini malah makin sering update sakahayang (sesukaku) 😂


Tapi ya, meski begitu semangatku buat lanjutin karyaku ini masih tinggi loh, meski alurnya lambat 🙂👉👈 Jadi ku harap kalian selalu bersabar dan setia menungguku :') soalnya perjalanan Aster masih panjaaang, apalagi genre romantisnya belum muncul 🙈🙈🙈


Langsung aja deh...


Ini dia Bonusnya!!



Gimana-gimana? Gemoy ya 🤭


Iya dong, aku buat khusus untuk kalian. Biar betah nunggu update-tan karyaku 😄


.......


.......


.......


Dan begitulah... bonusnya udah ku kasih ya, udah ku kasih. Sekarang saatnya aku pamit see you next time 😘


Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan ya 👋😊