Aster Veren

Aster Veren
Episode 06




-Aster-


Malam ini suasana di rumah paman terasa lebih sunyi dari rumahku sebelumnya, mungkin karena rumah ini terlalu luas untuk dihuni oleh kak Hana, paman Eric, paman merah dan pak supir.


Dan sekarang aku juga ikut tinggal di dalam rumah mewah ini, memiliki sebuah kamar yang lebih luas dari sebelumnya bahkan tempat tidurnya juga sangat empuk dan selimutnya sangat tebal.


“Paman merah kapan pulang ya? Kak Hana bilang, paman akan pulang besok atau lusa. Tapi ini sudah lebih dari dua hari paman tidak pulang.” Gumamku sambil meremas selimut tebal yang sudah menutupi hampir seluruh tubuhku.


Hari ini kak Hana juga pergi dari rumah untuk mengunjungi ibunya yang sedang sakit, dan aku harus tidur sendirian di dalam kamar luas ini.


Mataku benar-benar tak bisa terpejam sekarang, rasanya sangat takut untuk pergi tidur saat diluar sedang hujan deras dengan suara kilat petir yang selalu membuatku takut.


Nenek, ibu .... Batinku mengingat hari dimana nenek dan ibu meninggalkanku.


Tanpa sadar air mataku terjatuh bersamaan dengan suara kilat petir yang mengejutkanku. Ku harap hujan dan kilat petir ini segera berakhir.


Ku lirik jam dinding di dekat pintu kamar, waktu sudah menunjukan pukul 09:30 malam dan hujan belum juga menunjukan tanda-tanda akan reda.


“Uh kapan hujan dan suara petirnya menghilang?” Gumamku segera mengerubuni tubuhku dengan selimut tebal ditanganku, mencoba untuk menenangkan diriku dengan memejamkan mataku.


Tenang Aster tenang, semuanya baik-baik saja. Hujannya akan segera reda, begitupun dengan suara petirnya. Ayo tenangkan dirimu Aster, tenang. Batinku terus berkomat-kamit mencoba untuk menenangkan diriku.


Saat perasaanku sedikit lebih tenang, tiba-tiba saja suara petir kembali mengejutkanku membuatku refleks terbangun dari posisi tidurku dan ku lihat seluruh ruangan di kamarku menjadi gelap gulita.


“He? Pe—pemadaman listrik kah?” Ucapku langsung berlari kearah pintu kamar saat kilat petir terlihat dibalik jendela kamarku.


Namun belum sempat meraih knop pintu, kakiku tersandung sesuatu dan membuat tubuhku tersungkur dilantai.


“Aduh, Ibu hiks. Aster takut ....” Ringisku sambil berderai air mata tak kuasa menahan rasa takut yang sejak tadi coba ku redam.


“Aster?” Suara seseorang dibalik pintu segera menampilkan sosoknya saat pintu kamarku terbuka.


Ku lihat paman merah berdiri diambang pintu sambil menyorotkan cahaya kearahku, dengan cepat aku berlari kearahnya dan memeluknya dengan sangat erat bersama dengan suara petir yang kembali mengejutkanku.


“Paman hiks ... aku takut ....” Jelasku tak mau melepaskan pelukanku.


“Kamu belum tidur?” Tanyanya setelah menghela napas lega.


“Aster gak bisa tidur sendiri. Petirnya–” Jawabku terhenti saat mendengar lagi suara petir yang lumayan keras.


“Aster takut suara petir ya?” Tanya paman membuatku menengadah dan menganggukan kepalaku bersama buliran bening yang kembali jatuh membasahi pipiku.


“Kalau begitu paman temani Aster sampai Aster tidur ya.” Tuturnya sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut.


***


-Arsel-


Setelah mendengar Hana pulang ke rumahnya, aku langsung bergegas kembali ke rumahku tak perduli dengan kemarahan ibu jika dia tau aku meninggalkan Michelle di restoran seorang diri. Yang ku khawatirkan saat ini adalah keponakanku.


Aku benar-benar ingin memeluknya sekarang, aku juga ingin memberitau kakak soal Aster secepatnya. Tapi sebelum itu aku harus menemui Aster. Batinku sambil memperhatikan amplop putih berisi surat dari kak Helen.


Tak ku sangka hubungan kak Helen dan kakak akan menjadi serumit ini dan meninggalkan Aster sendirian. Seandainya saat itu kak Helen berkata jujur soal kehamilannya pada kakak, mungkinkah mereka bisa hidup bahagia dengan Aster?


Saat mengingat kak Helen meninggalkan kakak tanpa sepatah katapun, aku tak bisa membayangkan perasaan kak Helen yang dipaksa meninggalkan kakak oleh keadaan. Bahkan saat itu dia sedang mengandung Aster, lalu membesarkannya tanpa sosok seorang suami disampingnya.


Dulu ibu tak merestui pernikahan kakak dan kak Helen jadi mereka diam-diam menikah. Dan kakak membawa kak Helen ke rumah saat dia pikir ibu mungkin akan menerima kak Helen jika dia tau mereka sudah terlanjur menikah. Tapi ibuku tak sebaik itu, dia mengusir putranya dan istrinya dari rumahnya.


Ku dengar mereka hidup bahagia dan itu membuatku merasa lega karena pada akhirnya kakak bisa terbebas dari tekanan ibu yang memaksanya untuk melakukan pernikahan bisnis. Namun sesuatu terjadi, tiba-tiba saja kak Helen meninggalkan kakak dengan sepucuk surat permintaan maaf karena tak bisa hidup dengannya lagi.


Yang ku tau sebelum kak Helen memutuskan untuk pergi, dia sempat bertemu dengan ibu. Aku tau karena saat itu tak sengaja bertemu dengan mereka disebuah restoran keluarga. Tapi aku tak tau apa yang ibu katakan pada kak Helen sampai dia harus memutuskan untuk pergi dari hidup orang yang dicintainya, orang yang juga mencintainya sampai detik ini.


Dan sejak kepergian kak Helen, kakak dijemput paksa oleh ibu dan beberapa pelayan pribadinya. Sejak saat itu juga kakak berubah menjadi pria dingin dan menjadi sangat penurut pada ibu, hanya soal bisnis yang harus di kelola olehnya. Jika soal perjodohan, kakak selalu menolaknya dengan tegas lalu sekarang aku harus menggantikan kakak dan melakukan perjodohan dengan Michelle.


Tapi sekarang aku merasa penasaran dengan reaksi kakak saat dia tau kak Helen sudah meninggal dan meninggalkan seorang putri cantik untuknya. Batinku bertanya-tanya.


“Sudah sampai tuan muda.” Ucap supir pribadiku meruntuhkan lamunanku, dengan cepat aku keluar dari dalam mobilku dan berlari memasuki rumah dengan perasaan campur aduk.


Suara petir kembali bergemuruh setelah meninggalkan cahaya kilat yang terpantul dari jendela ruang tamu yang mana gordennya tak ditutup. Lalu detik berikutnya suara petir kembali menggelegar bersama dengan pemadaman listrik yang membuat seisi rumah menjadi gelap gulita.


Ku harap dia sudah tidur, batinku sambil berjalan kearah kamar yang ditempati Aster dengan senter di heandphoneku untuk menerangi perjalananku menuju kamarnya.


Duk!


Terdengar suara di dalam kamar membuatku segera membuka pintu kamar dihadapanku, ku lihat Aster sudah terduduk dilantai sambil menangis.


“Aster?” Ucapku membuatnya segera bangkit dan berlari karahku.


“Paman hiks ... aku takut ....” Jelasnya sambil memeluk tubuhku dengan erat.


“Kamu belum tidur?” Tanyaku merasa lega karena sudah mengambil keputusan tepat untuk pulang ke rumah dan memeriksa Aster.


“Aster gak bisa tidur sendiri. Petirnya–” Jawabnya terhenti bersamaan dengan suara petir yang kembali bergemuruh.


Sepertinya dia takut dengan petir, batinku memperhatikannya yang masih memeluk tubuhku dengan erat diambang pintu kamarnya.


“Aster takut suara petir ya?” Tanyaku membuatnya menengadah dan menganggukan kepalanya bersama dengan buliran bening yang berjatuhan membasahi pipinya.


“Kalau begitu paman temani Aster sampai Aster tidur ya.” Tuturku sambil mengelus puncak kepalanya berusaha untuk memberikan ketenangan padanya.


“Um.” Ucapnya sambil mengangguk dan melepaskan pelukannya.


.


.


.


Thanks for reading...