
-Aster-
Sudah lewat dua hari sejak kejadian malam itu, dan siang ini aku sudah mempersiapkan diri untuk melakukan praktek bermain bola basket. Sean juga sudah berdiri disampingku untuk melakukan pemanasan, dan Teo berdiri disisi lainnya membuatku diapit olehnya dan Sean.
"Sebelum melakukan praktek lakukan pemanasan terlebih dulu, Hendric dan Tia silahkan maju ke depan untuk memimpin pemanasan kalian!" Seru pak Tirta membuat kedua orang yang disebutkan namanya itu maju ke depan dan mulai memimpin pemanasan kami.
"Lakukan dengan benar! Jangan sampai kalian terluka karena asal-asalan melakukan pemanasan," lanjutnya membuat semua orang menjawab "Iya" dengan serempak.
"... bagaimana kondisi Lea sekarang?" Tanya Teo membuatku menoleh padanya disela-sela gerakan pemanasanku.
"Sudah membaik, dia bahkan sudah masuk kelas." Jawabku membuatnya menghela napas lega.
"Syukurlah," gumamnya membuatku ikut merasa bersyukur juga karena kondisi Kalea sudah membaik. Padahal dua hari yang lalu dia sangat kesakitan.
Aku juga sampai berkeliaran mencari air panas untuknya karena dispenser di asrama rusak dan dispenser lainnya belum diisi. Lalu aku berlari menuju kantin, tapi kantin sudah tutup dan membuatku nekat pergi ke asrama pria.
Sesampainya disana aku tak bisa langsung masuk karena ditahan oleh penjaga gerbang, padahal saat keluar dari asrama perempuan penjaga gerbang disana langsung membukakan pintu tanpa banyak bertanya. "Apa karena aku bilang akan pergi ke kantin ya?" Gumamku mengingat kejadian malam itu, masih melakukan gerakan pemanasan.
"Memangnya dia sakit apa?" Suara Sean membuyarkan lamunanku dan membuatku menoleh kearahnya. Ku lihat tatapannya lurus kedepan, memperhatikan Hendric yang tengah melakukan pemanasan.
"Itu ...," jawabku merasa ragu untuk memberitaunya, aku tidak tau apa hal itu boleh diberitaukan pada lawan jenis atau tidak. Dan jika diberitaukan, apa dia akan mengerti? Teo saja tidak ku beritau.
Tapi kalau ku beritau, mereka pasti langsung mengerti kan? Carel saja mengerti saat aku beritaukan soal sakitnya Kalea malam itu, masa mereka tidak mengerti? Mereka kan orang-orang berwawasan luas. Batinku mengingat kembali pembicaraanku dengan Carel malam itu, saat dia mengantarku kembali ke asrama perempuan.
Aku tidak bisa melupakan bagaimana reaksi Carel malam itu, dia terlihat menyesal karena sudah bertanya. Dan dengan polosnya aku menjawab Kalea sakit menstruasi.
Saat melihat rona merah diwajah Carel, aku pun jadi ikut merasa malu karena ucapanku sendiri. Dan dari sana aku tau, kalau aku tidak boleh sembarangan memberitau soal itu pada lawan jenis.
"Apa sakitnya serius?" Tanya Sean lagi mengejutkanku, mataku pun kembali bertemu tatap dengannya.
Kalau ku beritau, apa dia juga akan bereaksi yang sama seperti Carel? Aku tidak mau ikut malu lagi karena ucapanku sendiri, batinku mencoba mempertimbangkan apa yang harus ku katakan pada Sean supaya dia bisa berhenti menanyakan hal itu.
"Aster?" Tanyanya mengembalikan kesadaranku, ku lihat dia sudah menatap dalam mataku. Mencoba mencaritau apa yang sedang ku pikirkan, dengan cepat ku gelengkan kepalaku dan mencari jawaban lain untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Tidak, buktinya hari ini Lea sudah bisa masuk kelas." Jawabku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku.
"Begitukah?" Gumamnya kembali menatap lurus kedepan setelah mengusaikan tatapannya padaku. Syukurlah dia tidak bersikeras ingin tau soal sakit yang di derita Kalea.
Ada apa ini? Apa dia mengkhawatirkan saudaranya? Batinku saat menyadari rasa khawatir diwajahnya perlahan menghilang.
"Ku dengar dari Carel anak itu sakit menstruasi, apa itu benar?" Bisik Teo membuatku terkejut dan refleks menoleh kearahnya dengan rasa panas diwajahku.
Bagaimana bisa anak ini mengatakan hal memalukan seperti itu dengan wajah temboknya? Batinku tak bisa mengatakan apapun karena terkejut dengan reaksi aneh yang diberikan oleh Teo.
***
-Ian-
"Kau sudah menemukannya Tomi?" Tanyaku saat melihat dia masuk ke dalam ruang kerjaku dengan berkas ditangannya.
Padahal aku sudah mendapatkan petunjuk kemana orang itu pergi dari pelayan rumahnya, Hans. Tapi tak ada satupun bawahanku yang melaporkan keberadaan Ansel padaku sekarang.
"Bagaimana bisa mereka belum melapor sampai sekarang? Apakah kota itu seluas kota tempat kita tinggal sekarang?" Gerutuku merasa kesal sendiri karena belum menemukan pria menyebalkan itu.
Bagaimana bisa dia kabur disaat aku sedang lengah sedikit karena mengurusi istriku? Dan lagi, Arsel juga tidak mengetahui kemana kakaknya pergi. Sudah pasti dia pergi diam-diam supaya tidak ada orang yang bisa menemukan jejaknya.
Tapi anehnya, kenapa dia meminta bantuan Hans untuk mencarikan tiket pesawat? Sudah begitu anak itu memberitau Tomi kemana majikannya pergi, tapi saat diselidiki oleh anak buahku yang ku kirim untuk menyeretnya kehadapanku ... tak satupun dari mereka yang melapor dan kembali. Batinku sambil memegangi daguku, berusaha berfikir dari sudut pandang Ansel.
"Hah~ sepertinya aku tau apa yang terjadi, Tomi pesankan aku tiket pesawat untuk keberangkatan malam ini. Aku akan menemuinya!" Titahku setelah menghela napas panjang saat memikirkan nasib anak-anak buahku yang dihajar habis-habisan oleh Ansel.
Aku sampai lupa kalau pria itu sangat gila berkelahi. Dan bodohnya aku sampai mempercayakan penangkapan Ansel pada mereka.
"Baik tuan." Ucap Tomi sambil bergegas setelah menyimpan berkas ditangannya di atas meja kerjaku.
***
-Ansel-
"... jangan tegang seperti itu, aku tidak akan memakan kalian. Rileks saja." Ucapku pada kelima pria dihadapanku.
"Makanlah, aku sengaja mentraktir kalian. Kalian pasti lelah karena perjalanan jauh kan?" Lanjutku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku.
"Tapi tuan–" Ucap salah satu dari mereka membuatku refleks memotong ucapannya.
"Kalian tidak mau memakannya?" Tanyaku sedikit memberikan tekanan pada mereka.
"A–akan kami makan!" Ucap mereka semua bersamaan dan langsung menyantap makanan yang terhidang dihadapan mereka.
"Terima kasih untuk kebaikanmu tuan, ini sangat enak." Lanjut yang lainnya dengan mata berkaca-kacanya, terlihat sekali mereka menderita selama mengikutiku di kota asing ini.
Sudah berapa hari ya aku di kota ini? Aku juga terus-terusan mengerjai mereka dengan bepergian ke tempat-tempat sulit supaya mereka tidak bisa menghubungi Ian. Hatiku juga sampai tergerak saat melihat keteguhan hati mereka untuk menemuiku dan berbicara denganku. Tapi, aku selalu menghindari mereka dan memberikan tekanan yang tak bisa mereka hadapi. Sampai akhirnya aku menyerah dan membuat mereka berada dipihak ku.
Ya! Aku membuat mereka berkhianat pada Ian dengan caraku. Cara apa? Tentu saja dengan mengajak mereka bergabung dalam liburanku, jalan-jalan, berbelanja, makan dan bersenang-senang. Tawaran bagus untuk mereka bukan? Apalagi mereka belum memiliki pasangan hidup.
"A–anu tuan, apa anda tidak ada niatan untuk kembali?" Tanya seorang pria yang duduk berhadapan denganku.
"Ya? Apa anda tidak ada niatan untuk kembali? Tuan Ian pasti sudah menunggumu." Lanjut pria yang duduk disampingku.
"Kalian berani bertanya hal itu padaku sekarang? Setelah kalian bersenang-senang dengan uangku?" Tanyaku membuat mereka bungkam dan saling melirik satu sama lain.
"... hmm, bagaimana ya? Aku masih betah disini ... apa kalau aku tidak kembali kalian akan berada dalam masalah? Tapi, bukankah kalian sudah berkhianat pada Ian?" Tanyaku membuat ekspresi mereka berubah dalam sekejap, wajah mereka terlihat pucat pasi dengan tatapan kosongnya. Sangat menyenangkan melihat ekspresi mereka yang terlihat ketakutan seperti itu, sudah lama aku tidak mengerjai orang-orang seperti mereka.
.
.
.
Thanks for reading...