
-Aster-
"Minumlah!" Seru Teo membuatku melirik kearahnya saat aku merasakan suhu dingin di pipiku akibat minuman kaleng dingin yang dia tempelkan di pipiku.
"Bukankah tidak baik minum air dingin setelah olahraga?" Tanyaku sambil menerima minuman kaleng ditangan Teo.
"Kalau begitu mau ku ganti dengan air panas?" Tanyanya membuatku mendengus kesal dengan candaan garingnya itu.
"Akan ku minum, terima kasih." Ucapku setelah menghela napas letih dan mengacungkan minuman kaleng ditanganku ke wajah Teo sebelum membukanya. Berusaha melupakan candaannya.
"Ya, minumlah. Kau pasti lelah setelah praktek tadi." Gumamnya tak ku perdulikan karena perhatianku sudah tertuju pada sosok Nadin yang tengah melakukan praktek di tengah lapang.
Gerakannya sangat bagus dan terlihat sangat atletis, tidak kaku seperti tubuhku. Batinku sambil berdecak kagum padanya.
"... ku dengar hari ini ada kunjungan orang tua, apa benar?" Suara Hendric menarik perhatianku. Ku lihat dia sudah berdiri disamping Sean, tak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
"Kau mendengarnya darimana?" Tanya Sean membuatku semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Tadi ... aku tidak sengaja mendengar percakapan pak Justin dengan salah satu guru akademi. Mereka membahas soal kunjungan orang tua." Jelasnya sebelum meneguk air minum ditangannya.
"Memangnya iya ya?" Gumamku menarik perhatian Teo yang sejak tadi ku abaikan.
"Apanya?" Tanyanya membuatku menoleh kearahnya sekilas.
"Kunjungan orang tua," ucapku membuatnya mengernyit.
"... mungkin maksudnya kunjungan tiga keluarga besar untuk membahas sistem pendidikan di akademi sebagai perwakilan para wali siswa?" gumamnya membuatku bingung.
Perwakilan? Itu artinya mereka akan menjelaskan hasil pembahasan sistem pendidikan kepada orang tua siswa lainnya? Batinku menyimpulkan apa yang dimaksud oleh Teo.
"... kau tau keluarga Ravindra? Mereka salah satu keluarga yang bergerak dibidang pendidikan, lalu baru-baru ini keluarga Alterio juga bergabung dengan keluarga Ravindra, khususnya kakeknya Carel. Lalu yang terakhir ... aku tidak diberitau oleh Carel. Tapi setelah kunjungan mereka selesai, mereka akan melakukan pertemuan lagi bersama para orang tua siswa untuk menyampaikan hasil pembahasan mereka." Lanjutnya membuatku tak bisa mengatakan apapun, hanya bisa bertanya-tanya dengan anggota keluarga terakhir yang misterius itu. Teo bahkan tidak mengetahui keluarga mana yang akan datang hari ini.
"Jadi intinya kau sudah mendapat bocoran dari Carel?!" Dengusku merasa kesal tanpa sebab.
"Tapi Teo? Kalau benar hari ini ada kunjungan tiga keluarga besar. Apa Carel akan baik-baik saja?" Tanyaku saat mengingat penjelasan Teo yang mengatakan kakeknya Carel baru bergabung dengan keluarga Ravindra. Itu berarti ... mungkin saja kakeknya Carel akan datang hari ini kan?
Ku lihat Teo hanya membisu tak menjawab pertanyaanku, dan tak lama kemudian bel istirahat pun berdering mengakhiri pelajaran olahraga kelas ku, lalu pak Tirta membubarkan kami setelah mengisi nilai praktek kami dibukunya.
"Aster, mau ke kantin? Mari pergi bersama!" Ucap Tia tiba-tiba merangkul pundak ku dan memimpin perjalananku menuju kantin. Meninggalkan Teo yang masih berdiri di tempatnya.
"Kau membuatnya tidak nyaman Tia!" Ucap Nadin tak diperdulikannya, dan aku hanya bisa memasang senyum kaku ku.
Ternyata Nadin mengikutiku dan Tia dari belakang ya? Batinku merasa sedikit gembira karena aku memang bermimpi memiliki banyak teman. Tapi perlakuan Tia padaku ... aku belum terbiasa. Namun begitu, aku sudah berhasil mendapatkan tiga orang teman kan? Kalea, Nadin dan Tia.
"Jangan mengabaikanku!" Ucap Nadin nyaris berteriak membuat Tia melepaskan rangkulannya dan refleks menutup dua lubang telinganya saat langkah kami dibuat terhenti oleh suara Nadin.
"Ka–kalian jangan bertengkar ya," gumamku membuat mereka berdua melirik kearahku secara bersamaan.
"Hah~ ayo pergi!" Seru Nadin setelah menghela napas dalam sambil meraih tangan kananku dan digenggamnya.
"Curang! Aku juga mau bergandengan tangan denganmu Aster! Tunggu aku!" Teriak Tia saat langkah kami sudah cukup jauh meninggalkannya dari belakang karena dia terlalu fokus melamun. Mungkin terkejut dengan reaksi Nadin yang tiba-tiba menggandeng tanganku.
***
-Kalea-
Sangat lucu memperhatikan anak itu diperlakukan seperti itu oleh Nadin dan Tia, padahal dulu ... dia selalu berjalan sendirian karena ulahku. Batinku mengingat kembali perlakuan jahatku yang menghasut semua teman sekelasku untuk menjauhinya dan menjahilinya.
"Kau melamun?" Suara Nadin mengejutkanku, ku lihat mereka bertiga sudah berdiri dihadapanku dan segera mengisi kursi kosong yang tersisa.
Aster dan Tia duduk berhadapan denganku, sedangkan Nadin duduk disampingku. "Ada apa Lea?" Tanya Aster kemudian, terlihat mencemaskanku.
"Tidak ada, makanlah. Kalian pasti lelah karena baru selesai berolahraga." Jawabku berusaha menunjukan senyuman terbaik ku sambil meraih air minumku dan meneguknya. Lalu ku letakan kembali gelas ditanganku ke atas meja.
"Ya, aku sangat lelah. Mau tidak memijat bahuku?" Ucap Nadin terdengar manja sambil memijat-mijat bahunya sendiri, memberikan kode padaku sampai membuatku terkekeh. Sudah lama sekali aku tidak melihat sifatnya yang satu itu.
"Sini biar ku pijat." Ucapku setelah puas terkekeh.
"Nadin sangat hebat! Dia sangat pandai dalam bidang olahraga, aku terkejut dia bisa bermain basket sehebat itu." Lanjut Aster terdengar antusias, menarik perhatianku dan Nadin saat aku tengah memijat bahunya dengan hati-hati.
"Hhehe, aku memang hebat. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatanku!" Ucap perempuan yang sedang ku pijati bahunya. Menyombongkan dirinya dengan wajahnya yang terlihat begitu gembira saat mendengar pujian dari Aster.
Ternyata dia masih sama, belum berubah sedikitpun. sangat suka dengan pujian! Batinku kembali terkekeh dibuatnya.
"Sudah-sudah, berhenti memijatinya! Kau makanlah Lea! Biarkan saja anak itu!" Seru Tia setelah menelan makanan didalam mulutnya hingga membuat Nadin mendengus sebal.
"Benar juga, kita sedang makan siang ya? Aku lupa," Gumam Aster menarik perhatianku.
"Kau lupa?" Tanya Tia mewakili rasa penasaranku.
Rasanya aneh melihat Aster sampai lupa dia sedang makan siang. Padahal biasanya dia selalu menjadi orang pertama yang menikmati makan siangnya. Mau sedang kesal atau ngambek pun, dia selalu fokus pada makan siangnya. Tentunya dengan ekspresi menggemaskannya saat dia sedang ngambek.
Aku tidak bisa melupakan mulutnya yang sedang mengunyah makanan dengan ekspresi kesal dengan mulut penuhnya, lalu tangannya yang menusuk-nusuk daging dengan gemas menggunakan pisau makan, atau garpu yang ditusuk kan pada nugget dan makanan lainnya.
"Hhehe iya, mungkin karena merasa senang ...," jawabnya sambil terkekeh membuatku mengernyit bingung.
"Senang?" Tanya Nadin.
"Ya, rasanya lega melihat kalian sudah berbaikan. Jadi Kalea tidak sendirian lagi dan tidak menutup diri dari orang-orang sekitarnya lagi. Lalu Lea juga jadi lebih bersemangat dan banyak tersenyum," jelasnya membuatku terkesiap, nyentuh hatiku.
Entah kenapa ucapannya membuatku terharu. Aku tidak pernah berpikir kalau Aster selalu memperhatikanku selama ini, tapi dari ucapannya barusan. Aku bisa tau kalau dia selalu memperhatikanku dan mengkhawatirkanku lebih dari dia mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Kenapa kamu selalu seperti ini Aster? Selalu memikirkan orang lain dulu sebelum memikirkan dirimu sendiri? Padahal aku tidak pernah benar-benar memikirkanmu, tapi kamu .... Batinku berusaha menahan genangan air mataku yang mulai menghalangi pandanganku.
"... dan aku merasa senang, karena impianku untuk mendapatkan teman sudah terwujud. Aku senang bisa berteman dengan kalian bertiga." Lanjutnya sebelum menunjukan senyuman manisnya lengkap dengan tatapan hangatnya yang berhasil melelehkan hatiku bersama buliran air mata yang tak bisa ku bendung lagi.
"Aster ... hiks!" Ucap Nadin membuatku terkejut dan refleks menoleh kearahnya. Ku lihat dia sudah menangis lebih dulu dariku.
Jadi anak ini bisa cengeng juga ya? Batinku malah terkekeh disela-sela isak tangisku karena melihat ekspresi lucu yang ditunjukan oleh Nadin.
"Ka–kalian kenapa? Kenapa malah nangis?" Tanya Tia bersamaan dengan Aster, mereka berdua terlihat begitu panik saat mendengar tangisan Nadin semakin menjadi membuat perhatian semua orang tertuju pada meja kami. Sedangkan aku? Aku malah tidak bisa melanjutkan tangisanku karena merasa malu menjadi pusat perhatian.
"Be–berhentilah menangis! Jangan membuatku malu!" Ucapku sambil menghapus air mata Nadin dengan tisu yang ku ambil dari saku rok sekolahku.
.
.
.
Thanks for reading...