
-Aster-
"Hahaha, sudah cukup! Aku menyerah hahaha ...," ucapku pada Yuna dan Sarah. Berusaha menghentikan mereka supaya tidak memukuliku dengan bantal lagi.
Kami memutuskan untuk tidur bersama malam ini dan bermain perang bantal. Lalu mereka berdua bekerja sama dan dengan kompak menyerang ku. Sungguh tidak adil.
"Apa? Aku tidak dengar?" Tanya Sarah di sela-sela tawanya.
"Aku bilang menyerah." Ucapku segera membaringkan tubuhku di atas kasur. Lalu dengan lemah Yuna mulai melepaskan bantalnya dan duduk di sampingku.
"Tidak asik. Padahal baru main beberapa menit." Dengusnya membuatku kembali terkekeh.
"Benar. Sangat tidak seru, padahal kamu sendiri yang mengusulkan perang bantal ini. Tapi kamu juga yang duluan menyerah."
"Sudahlah jangan mengejek ku, aku benar-benar lelah sekarang. Tidurlah." Tuturku sambil meraih tubuh Yuna dan memeluknya dalam dekapanku.
"Eh? Aku masih ingin bermain." Tolaknya melepaskan pelukanku.
"Tidak boleh. Anak kecil harus tidur cepat."
"Benar anak kecil tidak boleh bergadang. Nanti tubuhmu tidak akan bertumbuh, kamu kau tinggi badanmu terus sependek ini?" Lanjut Sarah berusaha meyakinkan Yuna untuk pergi tidur dengan caranya sendiri.
Kalau harus dibicarakan, bukankah aku juga masih termasuk sebagai anak kecil di mata ayah dan paman? Bahkan saat usiaku lebih muda dari Yuna dan Khael, aku juga beberapa kali tidur larut malam karena diam-diam membaca buku sampai dimarahi ibu saat aku ketahuan bergadang.
"... aku tidak mau jadi pendek!" Seru Yuna meruntuhkan lamunanku. Ku lihat matanya sudah berkaca-kaca menatap Sarah dengan ekspresi seriusnya.
"Hahaha, iya-iya kalau begitu kita tidur sekarang oke." Tawa Sarah sambil meraih puncak kepala Yuna sebelum anak itu mengangguk dengan patuh.
Tak lama kemudian Yuna langsung membaringkan tubuhnya di antara aku dan Sarah, mengambil tempat di tengah-tengah kami.
"Selamat malam Yuna." Ucapku bersamaan dengan Sarah.
Sejujurnya aku masih belum mengantuk, tapi jika aku pergi keluar sekarang. Aku merasa mereka berdua akan mengikutiku, jadi ku putuskan untuk menunggu mereka sampai benar-benar tertidur lelap. Aku juga akan berpura-pura tidur.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 11:00 malam saat aku keluar dari kamarku, aku berniat untuk pergi ke dapur dan membuat coklat panas untuk ku. Tapi, siapa sangka aku akan bertemu dengan ayah di sana?
"Kau belum tidur?" Tanya ayah dengan suara rendahnya yang terdengar menenangkan.
"Aku tidak bisa tidur." Jawabku berjalan ke arah lemari dan menyiapkan beberapa bahan untuk membuat coklat panas.
"Apa karena tidur bersama dengan mereka?"
"Ti—tidak, itu sangat menyenangkan. Tapi setelah melihat mereka tertidur karena kelelahan, aku—"
"Begitukah?" Potong ayah sambil meraih puncak kepalaku.
Ah, rasa hangat yang sangat ku rindukan .... Batinku merasakan kehangatan sentuhan ayah.
"Anu ayah?"
"Hmm?"
"Bi—bisakah kita tidur be—bersama?" Tanyaku dengan tergugup.
Aku tau ini sangat tiba-tiba, apalagi setelah aku memutuskan untuk tidur bersama dengan Sarah dan Yuna. Tapi saat aku melihat ayah, entah kenapa aku sangat merindukan kebersamaan kami. Aku ingin tidur dengannya lagi setelah sekian lama.
Ku lihat pupil mata ayah sedikit membesar, apa dia terkejut dengan apa yang ku katakan?
"Mana mungkin aku keberatan?" Potong ayah segera memeluk tubuhku dengan erat.
"Hah~ ternyata putriku tidak sepenuhnya berubah ya?" Lanjut ayah setelah menghela napas panjang saat sedang memeluk ku.
"Apa maksudnya itu?"
"Tidak. Aku hanya berpikir kau sudah tumbuh dewasa dengan cepat. Tapi ternyata aku salah ...,"
"Hah? Ap—apa yang ayah katakan?"
"Tidak, tidak apa-apa, tidak perlu dimengerti." Jawab ayah setelah melepaskan pelukannya, "kalau begitu, biarkan ayahmu ini membuatkan coklat panas kesukaanmu. Kamu datang untuk membuat minuman itu kan?" Lanjutnya segera mengambil alih bahan-bahan yang sudah ku siapkan.
"Benar." Angguk ku sebelum terkekeh karena melihat ekspresi ayah yang terlihat gembira.
"Ngomong-ngomong Aster ... maukah kamu pergi bersamaku ke tempat ibumu? Sudah lama kita tidak mengunjunginya." Tutur ayah membuatku terkejut. Bahkan ingatan terakhirku saat pergi mengunjungi makam ibu bersama dengan Hans kembali membayangiku.
Hari itu aku benar-benar ingin pergi dengan ayah, tapi karena kondisi ayah yang tidak memungkinkan. Akhirnya aku pergi bersama dengan Hans.
Lalu hari ini, aku tidak pernah menduga kalau ayah akan mengajak ku lebih dulu. Rasanya aku ingin menangis sekarang. Tapi sebisa mungkin ku coba tahan.
"Aster?" Suara ayah kembali menyadarkan ku pada kenyataan, lalu ku lihat ayah sudah menghidangkan satu cangkir coklat panas kehadapan ku.
"Ya ayah, ayo pergi bersama." Ucapku tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum padanya. Lalu ku lihat ayah juga sudah membalas senyumanku dengan tatapan hangatnya.
"Kalau begitu, aku akan menentukan tanggalnya."
"Iya."
***
-Ansel-
Ku tatap wajah tidur Aster yang tampak damai, tak ada kegelisahan di wajahnya. Lalu ku elus wajahnya selembut mungkin supaya tidak membangunkannya.
Padahal dulu, aku bisa melihat wajah gelisahnya saat tidur karena mimpi buruknya. Dan itulah satu-satunya alasan dia tidak bisa tidur jika sendirian. Tapi malam ini, aku tidak menemukan kegelisahan di wajah tidurnya itu. Batinku tak bisa mengalihkan pandanganku dari putriku.
"... apa traumanya sudah hilang? Jadi itulah alasannya dia bisa tinggal satu atap lagi dengan si Tesar?" Lanjutku bergumam masih mengelus wajahnya sebelum mengecup puncak kepalanya.
Ku raih handphoneku yang tersimpan di atas nakas, lalu ku lihat waktu sudah menunjukan pukul 02:00 malam saat aku memeriksa jam digital di layar handphoneku.
Rupanya waktu berjalan dengan sangat cepat tanpa ku sadari, padahal aku hanya terus memperhatikan Aster yang tertidur dalam pelukanku. Apa aku sangat menikmatinya sampai tidak menyadari waktu yang sudah berlalu?
Tidak, daripada menikmatinya. Aku malah merasa takut untuk tidur. Aku takut jika saat aku bangun pagi nanti, Aster tidak ada di sampingku, aku takut jika keberadaannya selama ini hanya mimpiku semata. Aku benar-benar takut kehilangannya lagi, aku hanya bisa berharap waktu bisa berjalan lebih lambat saat aku sedang bersamanya, atau akan lebih baik jika waktu berhenti di saat ini juga. Dengan begitu, aku bisa terus bersama dengan putriku. Ocehku dalam hati, mempererat pelukanku bersama dengan perasaan takut ku yang kembali menghantuiku.
"Ibu ...," gumam Aster mengigau dan memeluk tubuhku dengan erat.
"Kamu bertemu dengan ibumu dalam mimpi?" Bisik ku kembali mengecup puncak kepalanya untuk kesekian kalinya.
Teruslah bermimpi indah Aster. Lanjutku dalam hati, membayangkan sosok Helen yang muncul dalam mimpi Aster. Meski aku tidak yakin dengan apa yang ku bayangkan, tapi aku yakin dia masih secantik yang ku pikirkan. Helen istriku.
.
.
.
Thanks for reading...