Aster Veren

Aster Veren
Episode 75




-Mila-


Waktu sudah menunjukan pukul 11:00 malam, tapi nona masih saja terjaga di ruang tamu sambil memeluk bantal sofa dipangkuannya dengan ekspresi murungnya.


Aku yang menemaninya tak bisa berkata apapun setelah kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan nona yang kukuh tak mau pergi ke kamarnya saat aku membujuknya.


Mataku hanya bisa menatap kosong pada cangkir putih dihadapan nona, cangkir coklat panas yang sudah habis diminum oleh nona.


Ugh, aku merasakan firasat buruk jika nona tidak segera tidur. Batinku merasakan keringat dingin di punggungku, kepalaku benar-benar tidak bisa berhenti membayangkan ekspresi tuan Ansel yang memasuki pintu rumah dan mendapati nona yang belum tertidur sampai selarut ini.


"No–nona ...." Ucapku memecah keheningan, berusaha memberanikan diri untuk kembali membujuknya supaya nona mau pergi tidur.


"Hm?" Gumam nona sambil melirik malas kearahku yang masih berdiri disamping nona yang semakin mempererat pelukannya pada bantal sofa dipangkuannya.


"Sa–saya mohon pe–pergilah tidur nona. Jika tuan melihat nona masih terjaga, dia bisa memarahi saya karena tidak bisa menjaga nona. Saya tau nona sangat khawatir pada tuan, tapi nona juga harus ingat kalau besok pagi nona harus bersiap pergi ke asrama. Saya tidak ingin melihat nona jatuh sakit karena kurang tidur. Tuan juga bisa sedih jika melihat nona sakit, jadi saya mohon ...," tuturku tergugup setelah berhasil mengumpulkan seluruh keberanianku untuk mengutarakan isi pukiranku pada nona.


"Nona?" Lanjutku menelaah ekspresi nona yang semakin murung saat tak mendapati reaksi apapun.


Bagaimana ini? Aku jadi merasa bersalah pada nona, tapi jika dia tidak pergi tidur juga ... bisa-bisa hidupku dalam bahaya. Batinku sambil membayangkan ekspresi tak bersahabat tuan Ansel setiap kali dia pulang larut, aku bahkan sampai tak bisa mengenali sosoknya.


Tuan saat siang hari dan malam hari benar-benar berbeda, dan aku tidak suka jika harus melihat sisinya yang menyeramkan. Aku juga tidak ingin nona melihat sisi tuan yang menyeramkan seperti itu.


"An–anu nona–"


"Aku tau ... tapi aku tidak mau tidur sekarang. Jika kak Mila mengantuk kakak bisa pergi ke kamar kakak sekarang." Tegasnya membuatku tak bisa bersuara lagi untuk beberapa waktu.


"Bu–bukan seperti itu, lagian mana bisa saya meninggalkan nona sendirian disini." Jelasku sambil menggelengkan kepalaku bersamaan dengan nada suaraku yang semakin menurun.


"Yah~ kalau nona bersikeras, saya tidak akan banyak berbicara lagi. Izinkan saya untuk tetap disini menemani nona." Lanjutku setelah menghela napas dalam.


"Kalau begitu duduklah!" Titah nona mengejutkanku.


"Ma–mana bisa saya duduk dengan nona," tolak ku merasa tak enak dengan nona, namun tak ada jawaban berarti darinya.


Manik ungu itu terus memperhatikan dua pintu rumah disebelah kanannya yang masih tertutup rapat, tak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka dari luar. Bahkan suara jarum jam semakin terdengar saking sunyinya rumah tuan malam ini, karena semua pelayan sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing.


"Ya ampun!" Ucapku merasa terkejut saat melihat nona sudah terlelap ditempat duduknya sambil memeluk bantal sofa dipangkuannya.


"Padahal tadi sorot matanya tak terlihat mengantuk sedikitpun, apa nona memaksakan dirinya?" Lanjutku bergumam sambil membenarkan posisi tidur nona supaya lebih nyaman sebelum aku pergi memanggil orang yang bisa memindahkan nona ke kamarnya. Biar bagaimanapun tubuh nona terlalu berat untuk ku, meski kelihatannya tubuh nona kurus.


Jika diingat-ingat lagi, siang ini nona sudah banyak beraktifitas, sudah pasti tubuhnya sangat kelelahan sekarang. Batinku sambil berdiri dari posisi jongkok ku dan berniat pergi ke kamarnya pelayan pria untuk meminta bantuan dari mereka.


Namun belum sempat aku pergi, suara pintu rumah sudah terbuka menampilkan sosok tuan Ansel yang terlihat kelelahan dengan jas abu yang digengamnya, bahkan ujung kemejanya tampak kusut keluar dari dalam celana berbahannya.


Mata kami juga saling bertemu, dan ku lihat tatapannya semakin menajam sedikit demi sedikit. Apalagi saat melihat nona tertidur diatas sofa sambil memeluk bantal sofa.


"Se–selamat malam tuan." Ucapku tergugup sambil membungkukan tubuhku sedikit dan tak berani menatap manik merahnya karena merasa takut. Yang bisa ku lakukan hanya menunduk sambil menggenggam erat kedua tanganku.


"Itu ... nona ketiduran saat nenunggu kepulangan tuan. Sa–saya sudah membujuk nona untuk pergi tidur lebih awal, tap–tapi nona menolaknya. Mohon maafkan saya karena tidak bisa men–" Jelasku terhenti saat mendengar helaan napas tuan Ansel yang terdengar letih sebelum menggendong nona menuju kamarnya tanpa menungguku selesai berbicara.


Hah~ selamat! Batinku sambil mengelus dada setelah menghela napas lega karena tuan tidak menunjukan ekspresi yang ku takuti. Dia bahkan sampai menggendong nona ke kamarnya.


"Sebaiknya aku juga kembali ke kamarku untuk pergi tidur, lalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan pagi untuk nona dan tuan Ansel." Lanjutku bergumam sambil berjalan menuju kamarku, namun lagi-lagi langkahku kembali terhenti saat menyadari bercak merah di kemeja dan sepatu tuan Ansel, bahkan ada sedikit memar diwajahnya yang sempat ku lihat sekilas tadi.


"Tuan Ansel ... rasanya sudah lama aku tidak melihat penampilannya yang seperti itu. Kali ini apalagi yang membuatnya begitu? Tapi, syu–syukurlah nona ketiduran." Lanjutku kembali melanjutkan langkahku menuju kamarku.


***


-Ansel-


Waktu sudah menunjukan pukul 11:20 malam, aku baru sampai di rumah setelah melakukan percakapan panjang bersama Ian, Arsel, Eric dan Tomi.


"Melelahkan," gumamku sambil menyibak rambutku dan mengusap wajahku sebelum keluar dari dalam mobilku.


Ku tutup pintu mobilku dengan malas, lalu bersandar pada mobil itu sambil memperhatikan langit malam ini, langit berbintang dengan sinar bulan yang terang. Terlihat begitu cantik.


"Ibu maafkan aku." Gumamku saat mengingat isi SD Card yang sudah ku dengar bersama Arsel dan lainnya di rumah Ian.


Siapa sangka isinya adalah percakapan ibu dengan wanita tua itu, bahkan wanita itu memberitau ibu soal teh yang diminum oleh ibu, teh yang sengaja dia beri racun. Dia juga berani mengancam ibu tanpa rasa takut, lalu meminta ibu untuk berhati-hati saat perjalanan pulang dari kediaman keluarga Michelle.


"Benar-benar pembunuhan berencana ...." Gumamku sambil mengepalkan tangan kananku dengan erat, mencoba meredam semua amarahku disana.


"... tenanglah kak, kali ini biar aku yang mengurusnya. Kau tidak perlu mengurus semuanya sendirian, percayalah padaku. Aku juga bagian dari keluargamu kan? Untuk saat ini kau fokus pada Aster saja, bukankah besok dia harus pergi ke asrama? Kau harus mengantarnya kan?" Suara Arsel kembali terngiang dalam kepalaku, menyadarkanku pada kenyataan yang belum bisa ku terima sepenuhnya.


"Rasanya semakin sulit menerima kepergian ibu setelah mengetahui apa yang terjadi pada ibu ...."


"Kau gila?! Bagaimana bisa kau berpikir untuk membatalkan mengirim Aster ke asrama? Kau tidak berpikir kalau dia akan lebih aman disana?" Suara Arsel kembali terngiang dalam kepalaku saat aku memikirkan rencana untuk membatalkan kepergian Aster. Entah kenapa rasanya dia akan lebih aman jika berada dalam pengawasanku, tapi suara Arsel malah meledak dalam kepalaku.


Apa benar dia akan aman jika berjauhan denganku? Batinku bertanya-tanya sambil menghela napas letihku, memikirkan apa yang dikatakan Arsel mengenai keputusanku yang dia anggap salah.


"Yah, anggap saja dia berkata benar." Lanjutku sambil menggaruk kepala bagian belakangku dan berjalan menuju pintu rumah setelah puas memikirkan hal yang dikatakan oleh Arsel.


Ku putuskan untuk masuk kedalam rumah karena hari semakin larut dan angin malam semakin terasa dingin.


"... seharian ini aku benar-benar sangat sibuk ya sampai lupa dengan Aster. Apa dia tidur dengan nyenyak?" Gumamku sambil membuka pintu rumah setelah memutar kunci rumah yang ku masukan kedalam lubang kunci.


.


.


.


Thanks for reading...