
-Aster-
Setelah sesi berdansa dengan ayah selesai, semua perempuan mulai mendatangiku satu persatu, mereka datang kehadapan ku dan mengucapkan selamat ulang tahun sampai aku tak menyadari bahwa tubuhku sudah tenggelam diantara mereka.
"Selamat ulang tahun ya Aster," Ucap Nadin bersamaan dengan Tia. Ku lihat mereka tersenyum lebar, membuatku merasa sedikit tenang meski dikerumuni banyak orang. Tapi tetap saja, aku berharap bisa terlepas dari mereka. Bukan apa-apa, hanya saja berdiri ditengah-tengah mereka membuatku sulit bernafas.
Apalagi mereka semua terus menanyakan soal hubunganku dengan Carel, memangnya ada apa dengan hubunganku dengan Carel? Apa terlihat aneh jika kami dekat?
"... sekarang usiamu sudah genap 14 tahun ya?" Ucap Kalea yang sudah berdiri disampingku, padahal beberapa detik lalu aku melihatnya sedang berbincang dengan Teo di dekat Sean.
"Kalea," gumamku.
"Kau terlihat cocok dengan gaunmu, tapi sepertinya kau kesulitan." Ucapnya membuatku menunduk, memperhatikan gaun bawahku yang menyapu pantai.
"Ya, sejujurnya memang sulit. Ini pertama kalinya aku mengenakan gaun panjang seperti ini hehe." Jelasku sambil menggaruk tengkuk ku. Rasanya sedikit memalukan.
"Tapi kau hebat bisa berdansa sebagus itu dengan ayahmu. Ayahmu juga tampan." Ucap Tia membuat semua perempuan disekelilingku mengangguk menyetujui ucapannya.
"Benar sekali,"
"Eh itu?" Ucap seorang perempuan yang tidak ku ketahui namanya, tapi aku tau dia satu kelas denganku. Sepertinya aku juga harus mulai bergaul dan menghapal nama teman-teman sekelas ku.
"Apa?" Jawab semua perempuan disekelilingku.
"Lihat! Perempuan itu ... aku baru pertama kali melihatnya. Anak pindahan kah?"
"Benar, aku juga baru pertama kali melihatnya. Di asrama juga tidak ada anak sepertinya kan?"
"Siapa dia?"
"Apa dia memang sedekat itu dengan Carel?"
Ku lihat Carel tengah berbincang bersama perempuan yang dimaksud oleh teman-temanku. Tidak apa-apa kan aku sudah menganggap mereka sebagai temanku?
"Tapi benar juga ... memangnya Carel pernah memiliki teman perempuan selain–" Gumamku terhenti saat merasakan tepukan lembut Kalea dibahu ku.
"Ada apa?" Tanyanya membuatku bingung.
"Ada apa? Apanya?" Tanyaku balik membuatnya menghela napas dalam.
Eh? Apa aku salah menjawab? Batinku, merasa tidak enak dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Kalea. Tapi kalau dilihat-lihat, semenjak dia menjalin hubungan dengan Teo. Rasanya aku banyak melihat ekspresi Kalea yang beragam. Seolah-olah Kalea yang dulu sudah kembali.
"Syukurlah." Ucapku refleks.
"Ha? Syu–syukur?" Ucap Tia dengan ekspresi terkejutnya, ku lihat semua anak perempuan disekitarku juga sudah menoleh ke arahku dengan ekspresi yang sama dengan Tia.
"Kau serius bilang begitu saat melihat Carel dekat dengan perempuan itu?" Lanjutnya bertanya.
"E–eh? Apa maksudnya?" Tanyaku merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tia.
... sepertinya mereka salah paham. Lanjutku dalam hati, tak bisa berpaling dari raut wajah mereka.
"Hah~ sepertinya kau tidak menyadari perasaanmu sendiri ya?" Tanya Nadin setelah menghela napas berat.
"Apa?"
Apa yang seperti itu kelihatan dekat? Lanjutku dalam hati, kembali memperhatikan Carel dan seorang perempuan berambut hitam disampingnya.
Perempuan itu terlihat canggung dan memaksakan diri untuk mengobrol dengan Carel yang terlihat bosan? Anak itu, ingin ku pukul kepalanya. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu pada seorang perempuan. Batinku merasa kesal.
"Wah wah, putriku terlihat sangat cantik ya." Suara seorang perempuan yang tak asing, ku alihkan perhatianku pada sosoknya yang terlihat cantik dan anggun.
"Ibu." Gumamku saat melihat sosok ibunya Carel yang tersenyum manis padaku.
"Ibu?" Ucap Kalea bersamaan dengan Tia dan Nadin yang terlihat bingung dan mengernyitkan keningnya.
"Ah–itu, dia ibunya Carel." Jawabku merasa bingung harus memperkenalkannya dengan cara seperti apa, apalagi ibu tidak memberitahukan namanya padaku. Dia hanya memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan "Ibu".
"Ah, salam kenal." Ucap mereka semua sambil membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada ibunya Carel.
"Tidak perlu memberiku hormat seperti ini," ucap ibu terlihat terkejut dengan reaksi teman-temanku.
"Selain itu, bisa ku pinjam Aster?" Lanjutnya kembali menunjukan senyuman manisnya.
"Te–tentu, ayo pergi teman-teman." Ucap Tia membuat mereka semua bubar.
"Selamat ulang tahun ya Aster." Ucap Ibu tiba-tiba memeluk tubuhku dengan gembira.
"A–ah iya, terima kasih." Jawabku dalam pelukannya, mungkin terdengar tidak jelas oleh ibu.
"Aku sudah menyiapkan hadiah luar biasa untukmu, aku sudah meminta pelayan ayahmu untuk mengirimkan hadiahnya ke kamarmu." Tuturnya setelah melepaskan pelukannya.
"Te–terima kasih." Ucapku tergugup, entah kenapa aku merasa semua orang memperhatikanku. Terutama kerumunan para orang tua yang melirik ku diam-diam.
"Kak Aster!" Seru Khael yang tiba-tiba memeluk ku, membuatku terkejut dengan kedatangannya. Aku sampai tidak menyadarinya.
"Wah aku sampai melupakanmu." Ucap ibu membuatku bingung.
"Kakak sangat Cantik." Ucapnya dengan ekspresi berbinarnya, masih memeluk ku dengan menggemaskan. Tubuhnya mungilnya hampir ditelan oleh gaunku.
"Terima kasih Khael." Ucapku tak bisa menahan senyumanku saat melihat ekspresinya, ku raih kepalanya dengan telapan tangan kananku dan mengelusnya dengan gemas.
"Ah! Jangan seperti ini, rambut, rambut Khael bisa berantakan." Ucapnya melepaskan pelukannya dan meraih tanganku dengan kedua tangan mungilnya.
"Ahahaha, nanti kan bisa dirapikan lagi." Tawaku tak bisa mengindahkan permintaannya untuk tidak mengacak-ngacak rambutnya.
"Ah pokoknya tidak boleh!" Serunya berusaha melepaskan tanganku dari atas kepalanya.
"Ayolah jangan pelit, Khael kan anak baik."
"Pft, kalian bernar-benar terlihat dekat ya? Sangat menggemaskan." Ucap ibu membuatku tersadar dengan kehadirannya yang sempat ku lupakan karena anak kecil ini tiba-tiba muncul dihadapanku.
"Be–begitulah." Gumamku.
"Ayo berdansa satu lagu dengan Khael!" Serunya membuatku menunduk memperhatikan ekspresi seriusnya. Terlihat menggemaskan sampai-sampai aku tidak sadar sudah mencubit pipi tembemnya. Bagaimana anak selucu ini bisa memiliki keberanian mengajak ku berdansa bersamanya? Lucu sekali.
"Aduh! Kenapa hari ini kak Aster sangat menyebalkan? Jangan mencubitku." Ucapnya mengaduh.
"Habisnya Khael lucu," jelasku bersamaan dengan ibunya Carel yang sudah berjongkok dihadapan Khael.
"Benar, kau sangat lucu. Memangnya dengan tubuhmu kau bisa bergerak dengan bebas berdansa dengan kakakmu?" Tuturnya membuat ekspresi Khael berubah–terlihat syok.
"Wah, lihatlah ekspresinya. Sepertinya dia sangat syok menyadari kenyataan–" Lanjutnya terpotong.
"Kau mengganggu anak kecil lagi?" Suara Carel membuatku refleks menoleh kearah kedatangannya.
"Kagetnya, ku kira siapa?" Ucap Ibunya Carel kembali bangkit dari posisi jongkoknya.
"Po–pokoknya ayo berdansa denganku!" Ucap Khael kembali berseru membuatku menoleh padanya.
"Baiklah, ayo berdansa satu lagu." Ucapku merasa tak tega menjahilinya terus.
"Benarkah?" Tanyanya terlihat begitu senang.
"Tidak boleh!" Sangkal Carel membuat ekspresi Khael kembali berubah, tapi kali ini dia memasang ekspresi kesalnya.
"Kenapa?"
"Ca–carel?" Gumamku saat melihat ekspresi jahil diwajahnya.
Anak ini! Apa dia berniat membuat anak kecil menangis ditengah-tengah pesta? Lanjutku dalam hati merasa kesal pada sifatnya yang satu ini.
"Hoho, putriku sedang diperebutkan ya?" Ucap Ibunya Carel terlihat gembira.
"Anu–Aster?" Suara seorang perempuan disamping Carel yang entah sejak kapan dia berdiri disana. Aku tidak menyadarinya.
"Selamat ulang tahun." Lanjutnya.
"Ya terima kasih, itu–"
"Lusy, namaku Lusy dari kelas yang sama dengan Carel. Salam kenal." Ucapnya saat menyadari kebingunganku.
"Ah, salam kenal Lusy."
.
.
.
Thanks for reading...